
Di ruang tunggu Aruna masih diam seribu bahasa duduk hanya berjarak tiga kursi dari Denis. Hira dan Erfan sudah pulang duluan. Kaos lengan pendek yang digunakannya tidak dapat menutupi sapuan dinginnya malam.
"Aru, masuk!" Titah Denis, Aruna mengerjap-ngerjap mendengar suara tidak bersahabat lelaki itu.
"Lo mau mati kedinginan di luar, hah!" Ujar Denis karena Aruna tidak bergerak. Sebenarnya kasihan pada Aruna, tidak seharusnya marah-marah ia dengan perempuan itu. Tapi emosinya kadung memuncak.
Aruna mengangguk sambil menunduk berjalan masuk ke ruangan Ressa, langsung menuju sofa tanpa melihat Tian yang sedang membujuk Ressa.
Hatinya sakit, bukan sakit karena melihat suaminya bersama sang adik. Tapi sakit karena melihat keadaan Ressa dan dia tidak bisa melakukan apa-apa selain merealisasikan perceraian mereka.
Denis datang membawakan selimut untuk Aruna. Selimut yang selalu ada di mobilnya karena dia punya alergi dingin.
Ia langsung menyelimuti Aruna dan membawanya dalam pelukan tanpa mempedulikan ada Tian di sana. "Dinginkan, sudah tidur." Ujar Denis dengan suara lebih lembut.
Aruna mengangguk, beringsut dalam pelukan Denis. "Kamu marah?" Cicitnya.
"Aku marah sama perbuatan kalian," jawab Denis singkat.
"Aku sudah menyuruh Tian pulang, tapi dia tidak mau pulang. Aku juga khawatir kalau Ressa ditinggal sendirian," ucap Aruna pelan.
__ADS_1
"Tidak perlu dijelaskan, sekarang tidur. Bisa tidur sambil duduk?"
"Badanku sakit," cicit Aruna sangat pelan.
"Dasar manusia gila! Dia menyiksamu." Umpat Denis pelan menatap tajam Tian, sekarang tidak ada lagi status asisten-atasan. Dia sudah benar-benar murka dengan sahabatnya itu.
"Berbaringlah," Denis membenarkan posisi duduknya memangku kepala Aruna.
"Kakimu nanti kesemutan," katanya dengan kepala sudah berada di pangkuan Denis.
"Kalau kesemutan nanti kulempar kau ke sungai amazon!" Denis berdecak menutup mata Aruna secara paksa dengan telapak tangannya.
Ressa yang belum tidur melihat pemandangan itu memutar badan menghadap Tian. "Kamu gak cemburu?" Tanyanya cengo, Tian bisa selempeng itu melihat istri yang baru dia tiduri dipeluk perempuan lain.
"Kalian gila!" Desis Ressa yang bisa di dengar Denis dan Aruna.
"Akukan sudah bilang, kami sudah membicarakan hal itu dengan kepala dingin. Agar Aru tidak merasa tersakiti, kamu pahamkan Sayang kenapa aku menemaninya malam ini. Kami membicarakan masalah pernikahan ini dan Dea kedepannya." Jelas Tian yang tidak sepenuhnya bohong, padahal mereka menghabiskan waktu lebih banyak untuk melewati malam yang panas bersama.
"Entahlah, aku tidak mengerti dengan susunan saraf otak kalian."
__ADS_1
"Aku dan Aru memikirkan keadaanmu dan bayi kita. Tapi aku terlambat, harusnya aku lebih awal memutuskan semua ini." Tian berusaha mengambil simpatik Ressa dengan bermain kata-kata.
"Kamu gak mikir kalau Aru sampai hamil gimana, main cerai-cerai aja. Kalau aku wajar minta cerai dari kamu." Seloroh Ressa menggebu-gebu.
"Aku pikir kamu sakit, Sayang. Ternyata masih bisa mengomel padaku. Aku bahagia bisa banyak mendengar suara emasmu malam ini." Tian tersenyum membelai lembut pipi Ressa.
"Dasar Tiana!" Seru Ressa kesal.
"Tian, jangan bikin ulah lagi!" Tegur Denis dingin, menyapu malam yang semakin dingin. Sedang Aruna membenamkan wajahnya di perut Denis dengan nyaman sambil melingkarkan tangan di pinggang.
"Asistenmu kenapa?" Tanya Ressa bingung, "kenapa suaranya seram begitu. Aku baru pernah mendengarnya."
"Dia marah padaku," Tian tersenyum senang. Senang karena Ressa mau bicara padanya lagi.
"Sejak kapan mereka dekat begitu?" Ressa menoleh ke belakang lagi melihat posisi keduanya yang begitu mesra.
"Sejak dulu, Aru lebih lengket pada Denis dibanding aku. Andai saja malam itu Denis yang mencari Aru ke club mungkin sekarang dia yang menjadi ayah Dea."
"Kepalaku pusing, tidak mengerti dengan hubungan rumit kalian."
__ADS_1
Tian terkekeh kecil, "jangan dipikirkan nanti kepalamu botak kalau terlalu banyak berpikir." Katanya seraya mengelus rambut Ressa.
"Hei Tuan, aku bicara padamu bukan berarti aku masih mau jadi istrimu!" Sarkas Ressa menghentikan tangan Tian yang sedari tadi mencari kesempatan.