Aksara Cinta

Aksara Cinta
46. Ternistakan


__ADS_3

"Honey, kamu ngapain?" Tian mencari Ressa ke dapur, istrinya sedang memasak banyak makanan.


"Hei kamu ngapain?" Tian mematikan kompor dan melepaskan masker Ressa yang berlapis-lapis. Baru ia lepas, Ressa sudah muntah-muntah.


"Kalo gak bisa masak, gak usah masak. Kamu susah napas pake masker berlapis-lapis begini." Omel Tian seraya memijat tengkuk Ressa dengan minyak kayu putih.


"Aku mau jualan," jawab Ressa lemas setelah muntah berkali-kali.


"Mulai sekarang kamu gak usah masak lagi, aku akan bawa art ke sini. Berhenti jualan juga, suami kamu ini masih bisa ngasih nafkah." Tekan Tian geram, dia menggendong Ressa ke kamar. Jadi selama ini Ressa memasak sambil melawan muntah.


"Ganti baju dulu atau sekalian mandi. Aroma masakannya masih nempel nanti kamu muntah-muntah lagi."


Ressa menurut dengan wajah manyun.


"Gak usah dimanyun-manyunin juga, nanti aku sosor nyesal."


Ibu hamil itu semakin memajukan bibirnya karena kesal, ia melenggang ke kamar mandi. Tian beranjak ke dapur membereskan masakan Ressa lalu membagikannya ke tetangga. Sumber masalah harus disingkirkan.


"Tian masakanku tadi mana?" Ressa ke dapur tempat itu sudah bersih. Yang dipanggil datang dengan tubuh berkeringat saking semangatnya membagikan makanan.

__ADS_1


"Masakanku mana?" Tanya Resa lagi dengan ketus. Siapa lagi pelakunya kalau bukan suami satu harinya ini.


"Aku bagikan ke tetangga daripada mubazir." Jawab Tian tanpa dosa.


"Itukan mau aku jual, kenapa malah dibagikan. Dasar Tiana!" Teriak Ressa, saking kesalnya dia sampai menangis. Tian membulatkan mata seperti orang bingung. Salah lagi, batinnya.


"Uangnya aku ganti, Honey." Gerakan cepat Tian mengeluarkan dompet, memberikan beberapa lembar uang terakhir yang ada di dompet.


"Aku gak perlu uang kamu, aku maunya jualan. Aku mau uang dari pembeli!" Jelas Ressa sambil terisak.


"Oke, aku ambilin uang dari tetangga itu." Anggap mereka beli, gumam Tian. Baru satu hari mengurus ibu hamil, dia sudah dibuat pusing tujuh keliling.


Dengan menebalkan muka Tian mendatangi tetangga, meminta uang lima belas ribu sebagai gantinya dia memberikan satu lembar uang lima puluh ribuan.


"Nih!" Tian memberikan uang sembilan puluh ribu pada Ressa yang berkacak pinggang di depan pintu. Perempuan itu menggunakan daster rumahan, sangat menggemaskan. Tian jadi ingin memakannya lagi. Haah, ada yang berdenyut di bawah sana.


"Kok cuma segini?"


"Cuma itu, Sayang." Tau begini Tian tidak membagikan sayur-sayur itu ke tetangga. Uang di dompetnya sisa enam lembar berwarna biru, jadi cuma dapat sembilan puluh ribu.

__ADS_1


"Kamu bikin sarapan sendiri, salah sendiri makanan semuanya dibagikan!" Omel Ressa lalu meninggalkan Tian ke kamar.


"Iya," sahut Tian lemas. Dia benar-benar ternistakan. Setelah mondar-mandir tadi, tidak ada yang bisa dimakannya untuk mengganjal perut.


Sambil menunggu makanan yang dipesannya Tian membaringkan tubuh di sofa. Setelah mengisi tenaga dia baru membujuk Ressa lagi. Sekarang energinya sudah terkuras habis.


Tanpa sadar Tian tertidur, melupakan kalau dia sedang menunggu. Ressa berdecak saat bel rumahnya tak berhenti berbunyi. Ia terpaksa keluar kamar, netranya menemukan Tian yang tertidur di sofa.


Huft, salah siapa menyusahkan diri sendiri, gumamnya. Ressa mengambil makanan yang di pesan Tian, meletakkannya di meja.


Ia menyiapkan makanan itu sebelum membangunkan Tian. Bukan tidak kasihan, semua bahan makanannya sudah habis dimasaknya pagi tadi. Jadi dia tidak bisa memasak lagi kalau tidak ke pasar dulu belanja.


"Tian, bangun. Sarapan." Ressa menepuk-nepuk bahu Tian sampai terbangun. Sarapan yang kesiangan.


"Maaf ketiduran, kamu perlu apa?" Tanya Tian siaga.


"Makan dulu tuh, kalo gak dimakan aku kasihkan tetangga." Sindir Ressa, Tian mengulum senyum sambil menggaruk kepala salah tingkah.


"Bareng, kamu belum makan jugakan." Tian menguapi Ressa terlebih dahulu, karena perlengkapan makannya cuma satu yang ada di meja. "Gak mualkan, makan ini pagi-pagi?"

__ADS_1


Ressa menggeleng pelan, mereka akhirnya akur makan bersama. "Nanti temani belanja keperluan dapur ya."


"Of course, Honey." Tian mengelus pipi Ressa dengan punggung tangannya, "kalian sehat-sehat." Ujarnya tersenyum bahagia, walau galak istrinya ini tetap penyayang. Semua itu bisa Tian rasakan.


__ADS_2