Aksara Cinta

Aksara Cinta
181. Kebobolan


__ADS_3

“Kenapa kalian belum ada yang bergerak mencari Dea?” Jeri datang ke ruangan Erfan disambut tiga orang pria dengan wajah tegang. Mereka fokus pada laptop masing-masing.


“Keamanan Extnet diretas, kami tidak bisa meninggal perusahaan yang sedang kacau seperti ini.” Jawab Tian yang hati dan pikirannya sudah berlarian ke mana-mana.


“Bodoh,” gumam Jeri. “Kalian bisa memanggil pakarnya, sekarang Dea yang sedang dalam bahaya. Pasti semua ini sudah mereka rencanakan agar kalian lengah,” suami Audrey itu berdecak. Kenapa hanya dia yang bisa berpikir jernih di saat seperti ini.


“Matt, panggil pakar IT ke sini secepatnya.” Titah Jeri pada sang asisten, yang selalu ikut dengannya. Pria yang diperintahkan itu langsung mengangguk melakukan tugasnya.


Jeri menyarankan Erfan untuk tetap tinggal, cukup mereka bertiga yang mencari Dea. Sebenarnya mereka tidak tinggal diam, Denis sudah memerintahkan pengawalnya untuk mencari jejak Dea.


Tian membuka laptopnya kembali saat mengingat sesuatu.


"Mau apa lagi Tian?" Ujar Jeri tidak sabaran menunggu sepupunya itu.


Suami Ressa itu tidak menyahut, dia mengakses laptop dengan cepat. Tian sudah memasang chip di liontin Ressa, Dea dan Aruna. Setelah kejadian penculikan Ressa waktu itu. Ia langsung waspada takut kejadian itu terulang kembali.


Tian membulatkan mata melihat titik GPS yang tampil di layar laptop. Suami Ressa itu menatap Erfan dengan melotot.

__ADS_1


"Kenapa menatapku seperti itu Tian, aku tidak mungkin menculik Dea." Tukas Erfan, tidak terima dipelototi sahabatnya itu.


"Titik ini menunjukkan kediaman Om Wijaya, papi angkatmu." Jelas Tian, mendorong laptopnya ke hadapan Erfan.


"Denis, suruh orang-orangmu ke lokasi itu. Awasi pergerakan mereka jangan sampai melukai Dea. Bukan aku yang disasar Om Wijaya, tapi Erfan." Jelas Tian yang sudah mulai lancar berpikir setelah mengetahui keberadaan Dea.


Siapa lagi kalau bukan Erfan, karena disaat yang bersamaan Extnet juga kena bobol. Orang-orang hanya mengenal Erfan pendiri Extnet.


Erfan langsung menghubungi pengawalnya untuk memperketat penjagaan Hira dan Erra. Bisa saja setelah ini mereka yang dijadikan sasaran. Kemudian menanyakan keberadaan papi angkatnya pada sang mami.


"Baik, tumben kamu telpon Mami biasanya langsung ke rumah sama Erra dan Hira." Jawab nenek Erra itu, sudah lama Erfan tidak mengunjunginya.


"Maaf, Erfan lagi sibuk Mi. Papi ada di rumah?" Erfan ingin memastikan kalau bukan ayah angkatnya yang menculik Dea.


"Ada, mau bicara?"


"Boleh," Erfan menunggu ponsel itu berpindah ke tangan sang ayah.

__ADS_1


"Ada apa siang-siang mencari Papi, Erfan?" Ia tau pasti ada sesuatu yang membuat putra angkatnya itu mencarinya.


"Perusahaanku diretas Pi, aku hanya ingin memastikan kalau bukan Papi yang melakukannya." Tukas Erfan setengah bercanda.


"Dasar anak nakal!! Kau mau menuduh Papi yang melakukannya."


"Apa Papi merasa tertuduh?" Tanya Erfan dengan tawa kecil. Tian ingin sekali menghajar sahabatnya yang terlalu bertele-tele ini. Sekarang putrinya sedang dalam bahaya.


"Anak durhaka!!" Umpat Wijaya sekali lagi.


"Aku tidak ingin menuduh Papi. Tapi bagaimana lagi, disaat bersamaan putri Tian diculik dan lokasinya sekarang berada dikediaman Papi. Apa ada orang lain di sana selain kalian?"


"Mami, coba periksa paviliun sekarang!" Perintah Wijaya pada sang istri, hanya itu tempat yang tidak terkontrol olehnya. Bisa saja putra kandungnya yang berbuat nekat lagi.


"Cepatlah ke sini, Papi akan memeriksa seluruh rumah ini sekarang!!" Tukas Wijaya terburu-buru mematikan telepon menyusul istrinya.


Erfan mendesah lega setelah telepon itu terputus, "aku harus ikut. Karena ini urusanku." Ucapnya lalu menyuruh sang asisten untuk mengawasi perbaikan sistem keamanan Extnet. Suasana sudah tidak setegang tadi, mereka meninggalkan gedung Extnet menuju kediaman ayah angkat Erfan.

__ADS_1


__ADS_2