
"Sayang bangun dulu sholat subuh," Tian membangun istrinya yang masih nyaman-nyamannya tidur.
"Lima belas menit lagi Mas," gumam Ressa malas.
"Kalau lima belas menit lagi sudah sholat dhuha Sayang." Tian membelai rambut Ressa, mungkin istrinya ini sedang berbadan dua jadi malas-malasan begini.
"Hoam," Ressa menguap seraya menutup mulut. Badannya hari ini terasa sangat lelah. Ia beranjak ke kamar mandi dengan mata terpejam lalu sholat. Setelahnya kembali ke tempat tidur lagi.
"Ada yang sakit Sayang?" Tanya Tian dengan penuh perhatian, "nanti siang kita periksa ke dokter ya. Kamu sering kelelahan akhir-akhir ini." Katanya seraya memijat kaki Ressa.
"Capek aja Mas," jawab Ressa malas membawa kepalanya ke pangkuan Tian.
"Gak mau sarapan dulu baru manja-manjanya, nanti kelaparan."
"Aku kayaknya masuk angin, perutnya gak enak. Gak nyaman kalau dibawa makan," keluh Ressa.
"Aku bikinkan susu dulu ya Sayang."
"Teh aja."
"Iya teh aja." Tian menurunkan kepala Ressa ke bantal kemudian beranjak ke dapur membuatkan teh dan Roti.
"Ressa gak sarapan bareng Mas?" Tanya Aruna yang sedang menyiapkan sarapan saat melihat Tian membuat teh sendiri.
"Lagi gak enak badan kayaknya, kalian sarapan duluan aja ya." Ujar Tian membawa nampan ke kamar. Aruna melirik Dea yang masih menatap punggung Tian menghilang di balik pintu.
"Ayo Dea sarapan dulu Sayang. Daddy Tian lagi ngurusin Bubamu yang sakit," ujar Rina.
"Daddy suapin makan ya," Denis berpindah duduk ke samping Dea untuk menyuapinya makan. Gadis remaja itu makan dalam diam.
__ADS_1
"Kalau Daddy Tian gak bisa menemani Dea kan ada Daddy Denis," suami Aruna itu tersenyum mengelus sayang rambut Deandra. Dea menanggapi dengan tersenyum, dia malas banyak bicara.
"Sayang minum dulu ini tehnya biar perutnya hangat." Tian membantu Ressa bangun dan minum teh, lalu menyuapi roti.
Baru tertelan satu suapan Ressa sudah mual. Perempuan itu berlari ke kamar mandi. Tian mengikuti, memijati tengkuknya. Ia sangat yakin kalau istrinya ini sedang berbadan dua.
"Mau tinggal berdua dulu Sayang, biar aku bisa fokus sama kamu."
Ressa menggeleng pelan, "kasihan Dea Mas. Dia butuh kamu selalu di sampingnya," jawabnya pelan.
Tian memeluk tubuh Ressa yang lemas sambil mengelus di perut. "Sayang pintar-pintar sama Mommy di dalam ya," gumamnya.
"Kamu yakin banget aku hamil," Ressa menyandarkan kepalanya dengan nyaman. Posisi seperti ini membuatnya lebih tenang.
"Siapa lagi yang suka membuat Mommy selalu lapar kalau bukan adek, Sayang." Jawab Tian dengan binar bahagia.
"Jangan terlalu berlebihan menunjukkan kebahagiaanmu di depan Dea, Sayang. Jangan sampai dia berpikir kamu lebih mencintai anak kita ini." Gumam Ressa lemah.
"Buba kenapa?"
"Buba sakit Sayang, Dea sudah sarapan. Kalau mau Daddy suapin bawa sini sarapannya." Ujar Tian lembut, berusaha menyeimbangkan perhatiannya untuk Dea dan Ressa.
"Dea sudah makan sama Daddy Denis," jawab Dea. "Buba sakit apa?" Tanyanya mendekati Ressa yang berbaring karena lemas.
"Sepertinya dedek lagi rewel Sayang," jawab Tian pelan. Ia langsung waspada takut putrinya itu merajuk, "tapi Daddy belum periksa sih."
"Apa Dea marah kalau Buba hamil?" Tanya Tian lembut saat Dea tidak menanggapi ucapannya.
Ressa bangun dengan perlahan lalu memeluk Dea. "Buba akan tetap sayang sama Dea walau nanti Buba punya anak. Jangan sedih ya Sayang. Maafin Buba sudah merebut kebahagian Dea," lirihnya.
__ADS_1
"Sayang, bukan salah kamu." Tian menggeleng pelan, memeluk dua orang yang sangat berarti untuknya itu. Dia tidak ingin Ressa stress berlebihan lagi karena kepikiran Dea.
"Dea jangan marah sama Buba, ini Daddy yang salah Sayang. Daddy sayang sama Dea sampai kapanpun. Daddy menyayangi kalian."
"Dea gak marah sama Buba," ucap gadis itu pelan. "Dea hanya takut kalian meninggalkan Dea."
"Jangan berpikir seperti itu Sayang, kami semua sangat menyayangi Dea. Kamu segalanya buat Daddy," Tian menciumi puncak kepala Dea. Siap tidak siap, dia harus siap menghadapi putrinya yang memang seorang perempuan. Mereka kaum yang labil dan pencemburu.
"Sampai Daddy rela bangkrut karena Dea."
"Itu bukan salah Dea Sayang, ayo sekarang Daddy antar Dea sekolah." Tian melepaskan Ressa mengelusnya di pipi.
"Dea bisa berangkat sama Daddy Denis, Daddy temani Buba aja."
"Thanks Honey," Denis tersenyum memberikan kecupan di kening Dea. "Sapa adek dulu Sayang."
Deandra mencium pipi kanan dan kiri Ressa kemudian beralih ke perut. "Dea sekolah dulu," katanya mengecup pipi Tian yang terakhir.
"Hati-hati Sayang."
Dea mengangguk dengan tersenyum, menggandeng tangan Denis keluar dari sana. Setelah Dea pergi barulah Rina mendekati putrinya. Mereka semua paham kalau harus menjaga perasaan Dea.
"Mual Sayang?" Tanya Rina lembut.
"Sedikit Bu, aku juga belum periksa. Belum pasti ini ada isinya." Ucap Ressa cemberut pada suaminya yang terlalu berlebihan mendeklarasikan kalau perutnya berisi janin.
Rina tertawa kecil, "suamimu itu gak sabar mau menimang bayi Sayang. Kamu sarapan dulu Tian, biar Ibu dan Aru menemani Ressa di sini."
"Tapi Ressa belum sarapan Bu..."
__ADS_1
"Sudah kamu sarapan dulu," Rina tersenyum pada menantunya yang selalu mau menempel dengan Ressa itu.
"Baiklah," sahut Tian lemas. Dia masih ingin memanjakan kesayangannya itu. Menyuapinya seperti tadi malam.