
"Buba sudah pulang dari rumah sakit?" Dea berlari mendatangi Ressa dan memeluknya dengan riang.
"Sudah Sayang, Dea menginap di rumah kakek?" Ressa balik bertanya melihat Dea datang bersama sang ayah. Perempuan itu langsung menyalami ayahnya setelah Dea melepaskan pelukan.
"Kenapa gak ada yang ngasih tau ayah kalau kamu masuk rumah sakit?" Sekalian mengantar Dea ke sekolah Amrin mampir mengunjungi putrinya.
"Ressa gak sakit Ayah, cuman luka dikit gini. Daripada bikin Ayah khawatirkan kalau dikasih tau," jawab Ressa manja melabuhkan pelukan pada sang ayah.
Tian tersenyum bahagia melihat interaksi ayah dan anak itu, menarik Deandra dalam pelukannya juga.
"Mau tinggal sama Daddy Sayang, temani Buba di rumah?"
"Aku mau, tapi mommy sendirian di rumah, Daddy." Jawab Dea sendu.
"Setelah mommy menikah sama Daddy Denis nanti Dea tinggal di sini ya." Tian merapikan rambut Dea sambil tersenyum. Gadis beranjak remaja itu mengangguk setuju. Ia juga sangat ingin bisa dekat dengan daddy-nya.
"Kita sarapan dulu yuk," ajak Ressa. Sudah lama dia tidak pernah makan bareng bersama sang ayah.
"Ayah sudah sarapan sama Dea. Kalian aja yang sarapan, Ayah antar Dea dulu." Tukas Amrin, membuat Ressa memajukan bibirnya sedikit. Ingin cemberut tapi tidak bisa sebab terkendala lukanya yang baru kering.
__ADS_1
"Biar Tian yang antar Dea Yah, Ayah tunggu di sini aja." Ujar Tian, melihat istrinya yang sedang bermanja-manja. Tidak mau melepaskan sang ayah.
"Ya sudah, Ayah yang temani istrimu. Kamu gak mau sarapan dulu?"
"Setelah antar Dea aja sarapannya Yah. Nanti Tian balik lagi." Lelaki itu pergi ke kamar untuk mengambil kunci mobil, kemudian kembali lagi. "Sayang salim dulu sama kakek dan buba."
Deandra langsung menuruti perintah sang daddy, berpamitan pada kakek dan ibu sambungnya.
"Gimana kabar ibu, Yah?" Tanya Ressa kala suaminya sudah pergi.
Ia sudah lama tau perihal ibu kandungnya, tapi Ressa lebih memilih diam. Sering dia mengunjungi makam ibunya sendirian tanpa sepengetahuan sang ayah.
Ressa tersenyum tipis, menganggukkan kepala. Ia sekarang mengerti bagaimana perasaan ibu sambungnya itu dulu saat dijadikan istri kedua. Pasti sangat menyiksa batin, bertahun-tahun berbagi suami. Makanya sang ibu tidak suka pada Ressa.
"Ayah ingin melihat anak-anak Ayah bahagia, terutama kamu." Sebut Amrin, karena tidak memiliki anak setelah lima tahun menikah dengan ibu kandung Ressa. Ia dipaksa orang tuanya untuk menikah lagi agar memiliki keturunan. Segala ikhtiar sudah mereka lakukan untuk mendapatkan buah hati. Namun Allah masih belum memberikan kepercayaan.
Awalnya Amrin menolak, tapi setelah istrinya membujuk dan setuju ia akhirnya mau menikah lagi dengan perempuan pilihan orang tuanya.
Tidak lama setelah menikah Amrin memiliki anak dari Rina, dialah Aruna. Saat Aruna berumur dua tahun, istri pertamanya dinyatakan hamil. Ikhtiar mereka selama enam tahun akhirnya membuahkan hasil. Namun naas, nyawa istrinya tidak dapat diselamatkan saat melahirkan Ressa.
__ADS_1
"Aku bahagia Ayah, ada Tian dan Ayah hidupku sudah lengkap sekarang." Ucap Ressa berkaca-kaca, membelai lembut pipi renta yang sudah keriput itu.
"Kalau Ayah tidak ada kamu harus tetap bahagia," Amrin mengecup kening putrinya lama.
"Ayaah, jangan bicara seperti itu. Ayah akan tetap di sini bersama Ressa." Ressa menggeleng pelan, air mata yang sudah berjatuhan. Ia takut ditinggalkan sang ayah lebih dulu menemui ibunya.
"Tidak ada manusia yang abadi Nak. Semua pasti akan kembali pada pemiliknya," nasehat Amrin sambil tersenyum.
"Stop! Jangan katakan apapun Ayah. Aku gak mau dengar Ayah bicara seperti itu lagi. Aku gak mau, aku gak mau Ayah pergi."
Lelaki paruh baya itu semakin tersenyum lebar melihat menantunya sudah datang. "Tian, titip putri Ayah ya."
"Aku akan jaga putri Ayah dengan baik." Tian mengusap belakang kepala Ressa yang masih menangis di pelukan sang ayah.
"Ayah sudah bilang, kamu harus bahagia. Kenapa jadi menangis," Amrin mengurai pelukannya menghapus air mata Ressa dengan pelan menggunakan tissue.
"Aku gak suka Ayah bicara seperti ini," Ressa beralih minta dipeluk Tian. "Sayang, tolong bilangin Ayah jangan bicara seperti itu lagi."
Tian selalu bisa menjadi tempat ternyaman untuknya menangis.
__ADS_1
"Ayah gak akan kemana-mana, Sayang. Kenapa nangis banget gini sih, malu noh dilihat cicak." Gurau Tian agar Ressa berhenti menangis. Tadi istrinya itu happy-happy saja.