
Denis menenangkan Aruna yang menangis, istrinya ini memang cengeng. Ada masalah sedikit saja langsung menangis, perasaannya sangat lembut.
“Dea pasti mengerti Sayang, dia hanya belum bisa mengontrol emosi. Tenanglah putrimu itu sangat pengertian.”
“Aku gak bisa ninggalin dia kalau begini Mas,” lirih Aruna.
“Ya sudah gak papa, aku telpon papa kalau kita gak bisa pulang malam ini. Jangan dijadikan beban pikiran.” Denis menopangkan dagu di atas kepala Aruna.
"Mommy, maafin Dea sudah marah-marah." Ucap Deandra dari depan pintu, gadis itu menyempil diantara pasangan yang tengah berpelukan.
Denis tersenyum geli membersihkan bekas air mata di pipi Dea lalu mengecupnya, "putri Daddy ini kenapa suka marah-marah, hm."
"Dea takut kalian tinggalkan," ucap Dea pelan.
"Kalau takut, ikut Daddy sama Mommy ya ke rumah kakek?" Ajak Denis.
"Nanti siapa yang menemani Buba dan adek kalau Daddy Tian kerja. Apalagi Buba lagi sakit. Pergilah, Dea sudah gak marah lagi." Ujarnya sangat dewasa, tidak seperti Deandra yang mengamuk pagi tadi.
"Beneran Dea gak marah sama Mommy?" Tanya Aruna memastikan lagi.
"Iya, Dea udah gak marah." Ulang gadis itu sambil bersandar manja di bahu Denis.
"Enaknya yang punya Daddy dua mau manja-manja kemana aja," goda Denis memeluk Dea gemas.
"Kalau Daddy, mau punya istri dua?" Dea balik menggoda sambil menaik turunkan alis tidak menghiraukan pelototan sang mommy.
"Dea jangan mancing-mancing gitu, Daddy bisa tidur di luar nanti malam." Denis menjepit bibir Aruna yang cemberut.
"Biarin, weee." Dea menjulurkan lidahnya pada Denis sambil tertawa gelak.
"Eee...eee berani ya sama Daddy!" Seru Denis menggelitiki Deandra.
"Daddy ampuuunnn!!" Teriak Dea, Aruna mentertawakan putrinya yang berteriak-teriak minta ampun. Sambil berguling-guling agar Denis berhenti menggelitikinya.
"Daddy Tian, Buba... tolongin Dea...!!!" Teriak gadis itu, menggeliat kegelian.
"Gak akan ada bisa nolong kamu Sayang." Denis tertawa jahil, menarik Dea dalam pelukan setelah puas mengerjai putrinya itu.
"Mommy, tolong. Dea haus..." ucapnya ngos-ngosan dengan napas yang naik turun. Denis tidak berhenti tertawa melihat Dea yang wajahnya sampai memerah.
__ADS_1
Aruna memberikan air putih pada Dea, yang dihabiskan putrinya itu dalam satu tegukan.
"Dea capek," gumamnya lemas."
"Ayo Daddy antar ke kamar Sayang." Denis tersenyum, menggendong Dea ke kamarnya diikuti Aruna. Dia memperlakukan gadis itu seperti balita.
"Malam ini Daddy bawa Mommy menginap di rumah kakek ya Sayang?" Ujar Denis seraya memanggu kepala Deandra dan mengelus rambutnya dengan penuh kasih sayang.
"Yes Daddy."
"Putri Daddy emang yang paling pintar," puji Denis. Aruna tidak banyak bersuara, menikmati kemesraan ayah dan anak itu.
"Tidur Sayang, Daddy berangkat kalau Dea sudah tidur." Beritahu Denis, dia menyayangi Deandra. Andai gadis itu bukan putri sahabatnya, dia akan tetap menyayanginya.
Dea mengangguk memejamkan mata dengan tenang dalam pangkuan Denis.
"Sudah tidur Sayang. Kamu bisa kalau kita tinggalin dia, atau kita gak jadi pulang aja malam ini." Denis menatap teduh Aruna, menunggu keputusan istrinya itu.
"Papa pasti sudah nunggu kita kan, aku gak papa." Aruna menciumi seluruh wajah putrinya. Denis membenarkan posisi Dea yang sudah terlelap sangat nyaman.
"Kita cari solusinya nanti agar Dea tidak terpisah dari kamu dan Tian." Ujar Denis membawa Aruna keluar dari kamar putrinya. Mereka berpamitan pada ibu Aruna dan juga Tian, Ressa sudah tidur lebih dulu.
"Baby," panggil Azmi lembut. Dia sangat merindukan gadis kecilnya ini.
"Om kenapa bisa di sini?" Gumam Dea masih dengan mata terpejam.
"Kangen kamu Baby," Azmi masuk dalam selimut Dea. "Tidurlah, Om peluk." Katanya sambil tersenyum membawa Deandra dalam dekapan hangatnya. Walau tubuhnya seperti tersetrum, Azmi tetap menahan miliknya agar tidak nakal pada gadis kesayangannya ini.
Deandra merasakan orang yang memanggilnya itu nyata. Tapi matanya masih terpejam, tidak mungkin orang yang sangat dirindukannya itu datang.
Gadis itu tertidur semakin nyenyak, apalagi ada yang mengelus-elus punggungnya.
"Cepat besar Sayang biar ikut Om," Azmi tidak berhenti menciumi pipi Dea. Sungguh dia sangat tergila-gila pada putri kecil Tian ini.
"Baby, masih bisa dengar Om?" Tanya Azmi sambil mendusel-dusel leher Dea. Sesekali memberikan sesapan lembut di sana tapi tidak sampai menimbulkan bekas.
"Geli Om, jangan gelitiki Dea." Seru Dea sambil tertawa kecil, merasa sangat bahagia karena bisa merasakan perasaan itu lagi. Dia merasa dipenuhi dengan cinta.
"Yang mana geli Sayang?" Goda Azmi, tidak menghentikan keusilannya seraya memberikan elusan di tempat yang ditunjukkan Dea.
__ADS_1
"Nyaman Sayang?" Tanya Azmi, entah Dea sadar atau tidak saat dia tanya seperti itu.
Kepala mungil itu mengangguk, "Dea rasanya melayang-layang Om, bahagia."
"Oh Baby, Om akan memberikan lebih dari ini kalau Dea nanti ikut Om." Azmi tersenyum, dia sudah masuk dalam alam bawah sadar gadis ini. Ia akan membuat Dea nyaman bersamanya.
"Om lihat ya Sayang." Azmi meneguk ludah susah payah, gadis itu masih benar-benar polos. Dia akan menyakiti Dea kalau melakukannya sekarang.
"Om itu apa?" Gumam Dea lagi merasakan ada yang mengganjal diantara kakinya.
"Bukan apa-apa Sayang. Dea tidurlah lagi." Azmi hanya menyapa yang dibawah sana dengan miliknya. "Dea jaga ini jangan sampai ada lelaki lain yang menyentuhnya ya Sayang. Ini milik Om." Azmi membawa Dea kembali dalam pelukan. Menekan miliknya agar tidak berbuat semakin nakal. Dia sudah susah payah menahan diri.
"Om," Dea membuka mata memegangi bagian bawahnya yang tadi seperti menyentuh sesuatu. "Om perkosa Dea?" Tanyanya hampir menangis.
"Enggak Sayang, kalau Om melakukan pasti sakit. Dea merasakan sakit gak?" Azmi menenangkan Dea agar tidak ketakutan. Gadis itu menggeleng pelan.
"Itu karena Om gak melakukannya, Om hanya menyapanya Sayang. Pegangin sebentar ya. Setelah ini Om gak bisa ketemu Dea lagi."
"Om mau kemana?" Tanya Deandra sendu sambil mengikuti arahan Azmi.
"Om pamit ya, mungkin kita akan lama gak ketemu. Setelah bebas, Om akan mencari kamu." Azmi tersenyum memasangkan kalung ke leher Dea. "Hadiah buat kamu Sayang."
"Jangan tinggalin Dea, Om."
"Om akan jemput Dea kalau sudah besar oke, jangan menangis." Azmi mengecup singkat bibir Dea.
"Om...!!" Rengek Dea.
"Dea mau apa Sayang? Om akan penuhi sekarang," sebenarnya Azmi juga tidak rela berpisah dengan si kecil ini.
"Temani Dea sebentar, masih kangen." Deandra naik ke atas tubuh lelaki dewasa itu.
Azmi tersenyum menyesap lembut bibir kecil Deandra sambil mengelus punggungnya. "Bisakah Dea janji menjaga semua ini buat Om. Jangan sampai ada yang menyentuhnya." Azmi menempelkan jemarinya di bibir Dea kemudian menyentuhnya di bawah. "Dan ini." Katanya seraya mengusap di sana.
"Janji, asal Om datang mencari Dea lagi."
Azmi mengangguk, "percayalah, Om akan cari Dea lagi. Sekarang Om harus pergi Sayang. Jaga diri baik-baik." Sekali lagi lelaki dewasa itu menyesap leher Dea yang membuat Dea tidak ingin melepaskannya.
"Hati-hati, Om jangan jadi orang jahat lagi." Pesan Dea, Azmi mengangguk. Melepaskan Dea setelah puas menciumi gadis kecilnya itu.
__ADS_1