
"Dea sini, Sayang." Panggil Tian setelah dirinya dan Ressa selesai makan. Gadis berambut panjang itu melangkah cemberut mendekati Tian.
Tian menariknya untuk duduk di pangkuan. Sedang Erra menatap tidak bersahabat, seperti sedang mengibarkan bendera perang.
"Sekarang gak ada yang boleh bermusuhan," Tian meminta Erra untuk duduk di pangkuan kanannya.
"Ini," Tian menunjuk dirinya sendiri, "Daddynya Dea dan Unclenya Erra, Oke. Kalau gak ada yang nurut, Daddy or Uncle gak akan sayang kalian lagi."
Tian mengangkat alis memberikan pilihan pada dua anak itu. "Mau baikan atau musuhan?"
"Baikan!!" Seru keduanya bersamaan.
Tian tersenyum kecil, mengecup kening keduanya bergantian. "Good girl," pujinya. "Sekarang salaman, Dea panggil adik Erra." Tian menunjuk ke arah Erra. "Dan Erra, panggil kakak Dea, oke."
"Yes, Uncle." Sahut Erra cemberut tapi masih mengulurkan tangan untuk bersalaman.
"Sudah? Berantemnya cuma segitu dan sekarang sudah baikan?" Tanya Denis tidak terima, tadi dia susah payah membujuk Dea. Giliran Tian hanya memberikan ancaman seperti itu keduanya langsung menurut.
"Makanya otak lo gunain dengan baik dan benar," ujar Tian diikuti kekehan. Melepaskan kedua anak itu untuk bermain bersama setelah berbaikan tadi.
__ADS_1
Dea sebenarnya anak penurut, hanya karena merasa terancam daddy-nya diambil orang lain dia jadi keras.
"Bee, kayaknya mereka gak perlu kita ada di sini lagi. Ressa juga harus banyak istirahat," ujar Hira pada suaminya.
"Ya, kita pulang Sayang. Tian, jangan ganggu Ressa istirahat!"
"Hei, sejak kapan gue mengganggu Ressa istirahat. Dah sana kalian balik. Denis, jangan lupa tebusin obat gue dan panggilin art."
"Siap Tuan Tian yang terhormat," Denis menundukkan kepala seperti menghormati raja.
"Sialan lo!!" Tian melempar bantal ke arah Denis.
Ressa yang sedari tadi lebih banyak diam hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Denis sini sebentar," panggil Tian pada Denis yang sudah membuntuti Aruna keluar kamar. Lelaki itu berdecak lalu mendekati Tian, "apalagi?"
"Jangan banyak-banyak nyicilnya, kaplingan di neraka sudah menunggu." Seloroh Tian yang ditertawakan Erfan. Karena hanya Erfan yang paham.
"Sialan, gue panggilin malaikat maut buat ngajak lo duluan ke neraka, sekalian memeriksa kaplingan milik gue." Sarkas Denis lalu meninggalkan kamar, untung para perempuan itu tidak ada yang paham maksudnya.
__ADS_1
"Kami pulang, kalian cepat sembuh." Ujar Hira seraya memeluk sahabatnya.
"Perutnya masih sakit, Sayang?" Tanya Tian seperginya semua orang. Hanya ada mereka berdua di rumah sekarang.
"Sudah enggak, kamu istirahat. Badanmu masih demam, Tian."
"Aku kuat nahannya, Sayang." Tian mengelus rambut Ressa dengan sayang. Duh, duh, babang Tian ini memang paling bisa meluluhkan hati Ressa.
"Jangan pernah berpikir untuk pergi lagi demi kebahagiaan Dea, aku yang akan menderita kalau kamu pergi, Sayang."
"Istirahat Tian!"
"Aku takut kamu pergi," lirih Tian sendu. Dia hanya sedang bermain peran agar Ressa kasihan padanya.
"Janji, aku gak akan pergi." Lagi-lagi Ressa yang mengalah melawan semua rasa sakitnya. Ia hanya bisa berharap pada sang waktu.
Waktu memang tidak bisa menyembuhkan tapi dapat melembutkan rasa sakit dan mengaburkan segala ingatan buruk. Saat semua sudah melebur, ia harap Tian tidak mengulangi kesalahannya kembali.
Ressa akan belajar kembali untuk mematikan hatinya agar tidak terluka. Meskipun itu sangat tidak mungkin, hati tetaplah hati ketika tergores pasti akan menimbulkan rasa sakit.
__ADS_1
Tian tertidur lagi karena pengaruh obat yang membuatnya sangat mengantuk. Ressa mengatur suhu AC agar tidak terlalu dingin. Diciumnya kening Tian lalu bangkit dari tempat tidur. Mau dikuat-kuatkan bagaimanapun tetap saja ada rasa sakit yang tertinggal.