
"Mau makan sesuatu?" Tawar Tian, sejak pulang dari pasar tadi siang ibu hamil itu belum mengisi perut. Ressa hanya menggeleng kemudian melamun lagi.
"Mikirin apa sih?" Tanya Tian lembut dengan tatapan teduhnya. Tangannya terulur membelai rambut Ressa, membawa sang istri dalam dekapan.
"Gak ada," jawab Ressa seraya menggeleng pelan.
"Ada aku kalau kamu mau cerita, bagi beban kamu sama aku. Gak baik melamun terus, Honey." Ressa masih setia dengan diamnya.
"Aku memang bukan laki-laki yang baik Sa, tapi aku akan berusaha menjadi suami dan ayah yang baik untuk kamu dan anak kita." Ucap Tian saat Ressa tak kunjung bicara.
"Apa kita akan bisa jadi orang tua yang baik?" Ressa menatap sendu netra suaminya.
"Kita akan sama-sama belajar untuk jadi orang tua yang baik, Sa." Baru kali ini Tian menyesal sudah menjadi orang yang tidak berguna. Dulu dia sama sekali tidak pernah terpikir ingin memiliki anak. Sekarang dia khawatir anak-anaknya nanti mengetahui betapa buruknya masalalu sang ayah.
__ADS_1
"Saat adik-adikku menikah, orang tuaku tersenyum bahagia, Tian. Tapi kemaren, ibu hadirpun tidak sudi."
Tian dapat melihat air mata yang terjatuh di pipi Ressa dan langsung dihapusnya. Dia bahkan tidak memiliki stok kata-kata lagi untuk menenangkan. Pelukannya semakin erat.
"Maafkan aku Sa. Karena aku, kamu harus melawan ibumu. Sejak kecil aku tidak pernah merasakan bagaimana rasanya pelukan ayah atau ibu. Jadi aku tidak tau bagaimana rasanya kamu saat kehilangan semua itu." Kata Tian sendu yang menganggap perseteruan Ressa dengan ibunya karena kehadirannya.
"Hei, aku yang lagi sedih. Kenapa malah kamu yang nangis." Canda Ressa, menyeka butiran bening yang hampir terjatuh dari kantong mata Tian. Ressa mengecup kedua mata itu dengan penuh kelembutan.
"Kamu yang nularin nih, makanya jangan sedih lagi. Akukan jadi ketularan ikut mewek," ujar Tian tertawa kecil.
"Beneran tidur nih?" Tian ikut mengambil posisi berbaring. Memiringkan tubuhnya sambil menatap Ressa.
"Lah, terus mau ngapain malam-malam begini. Ngajak main catur?"
__ADS_1
"Gak mau olahraga dulu, hm?" Tian menaik turunkan alisnya menggoda.
"Emang harus setiap malam?" Tanya Ressa lugu. Bukan itu sebenarnya pertanyaannya. Apa biasanya Tian melakukan setiap malam dengan perempuan yang berbeda-beda. Mengingat itu membuat hatinya mendadak nyeri.
"Kalo kamu sanggup, kalo gak ya gak papa." Ujar Tian, mengingat Ressa sedang hamil muda dia tidak bisa terlalu memporsir tenaga calon ibu ini.
"Kalo enggak sama aku emang kamu mau tidur sama siapa malam ini, hm?"
"Hei kenapa bicaranya seperti itu?" Kaget Tian. "Setelah aku tidur sama kamu, aku gak pernah tidur sama perempuan lain lagi Ressa." Ucapnya frustasi, sepertinya pertanyaan semacam ini akan sering terulang. Ia harus menyiapkan kesabaran dalam menanggapinya.
"Masa sih, aku gak yakin tuh!"
"Ya sudah, kalo kamu gak bisa percaya aku gak maksa," ujar Tian mengalah. Membela diri tidak akan ada habisnya. "Emang susah untuk percaya pada orang sepertiku ini Sa." Katanya seraya menepuk puncak kepala Ressa tiga kali lalu memejamkan mata.
__ADS_1
Ressa jadi merasa bersalah karena sudah menyinggung perasaan Tian. Semua itu murni karena rasa khawatirnya. Bagaimana dia bisa percaya Tian tidak tidur dengan perempuan manapun lagi, sedang lelaki itu seharipun tidak bisa menganggur. Ressa mengusap wajah gusar lalu menyusul memejamkan mata.