
Jangan dibaca saat puasa. Ada unsur sedikit dewasa 🤣.
Mohon bantu karya ini agar dilihat pembaca yang lain.
🌹Happy Reading🌹
🌸🌸🌸
Denis mengantar Aruna ke rumah setelah mengantarkan Dea ke rumah sang kakek. Anak gadis itu ingin menginap di sana kembali karena masih merasa kecewa pada sang daddy.
"Aku kembali ke kantor ya Ru." Pamit Denis setelah sampai di depan rumah perempuan itu.
"No, aku gak mau ditinggal sendirian." Ucap Aruna tidak mau turun dari mobil.
Denis menghela napas panjang, bukan tidak mau menemani. Ia hanya takut tidak bisa menahan diri, sebab Aruna menjadikannya sebagai pelampiasan pelarian cinta. Inikah yang dirasakan Tian dulu saat Aruna mabuk. Sehingga terjebak pada hubungan terlarang untuk pertama kalinya.
"Oke, tapi jangan nakal." Denis keluar dari mobil lebih dulu baru diikuti Aruna. Lelaki itu masuk ke rumah dan membanting tubuhnya di sofa.
"Kamu gak suka di sini? Ya sudah tinggalin aja aku sendirian. Maaf menyusahkanmu." Lirih Aruna meninggalkan Denis ke kamar.
Sebaiknya dia segera kembali ke Sydney. Terus berada di sini, terlibat dengan Tian dan Ressa membuat posisinya semakin sulit. Selain menyakiti hatinya, itu juga akan menyakiti Ressa.
Aruna memasukkan pakaian ke koper. Dia akan segera pergi menjauh dan mengobati hatinya kembali. Tanpa perlu ada yang tau kalau dia terluka.
__ADS_1
Lelaki itu mendesah berat, berharap Aruna mengerti dengan apa yang dirasakannya itu nol besar. Hanya berujung kehampaan. Kakinya melangkah menyusul Aruna ke kamar.
"Hei, mau kemana?" Denis menghentikan Aruna yang sedang membereskan pakaiannya.
"Aku mau pulang ke Sydney biar gak ngerepotin kamu," jawab Aruna sambil tersenyum.
"No, Aruna." Denis menyingkirkan tangan Aruna dari benda-benda sialan itu. Mana mungkin dia membiarkan Aruna pergi tanpa bersamanya.
"Kamu gak ngerepotin," Denis memeluk Aruna erat. "Aku cuma gak mau kebablasan karena terlalu sering bersama kamu. Jangan pulang, tetaplah di sini. Ayo aku bantu hilangin sakitnya."
Denis membawa Aruna ke tempat tidur, membaringkannya dengan pelan.
"Aku cemburu, Denis. Aku cemburu pada adikku sendiri,"adu Aruna hampir menangis.
"Lepaskan segala sakitmu, Sayang." Denis memangkas jarak diantara mereka. Membantu Aruna meluapkan segala rasa sakitnya.
Seperti biasa dia akan memberikan sentuhan-sentuhan yang membuat Aruna menegang dan meracau tidak karuan. Tanpa membawa perasaannya yang ikut terluka ketika mulut mungil itu mengadukan semua kesakitannya karena Tian.
"Deeniiss!" Mohon Aruna dengan kabut gairah yang merasukinya.
"No Honey, aku tidak akan melakukannya sebelum kamu sah jadi milikku."
Aruna menatap Denis kecewa, tapi lelaki itu tau bagaimana caranya membuat Aruna lupa dengan kekecewaannya. Ia mempercepat tempo permainannya yang membuat Aruna berteriak dan meledak. Denis tersenyum dan memeluk Aruna yang lemas karenanya.
__ADS_1
Untung Denis cukup kuat menahan diri, walau tubuhnya juga panas dingin dibuat Aruna.
"Jangan sering-sering seperti ini, hari ini kamu sudah tiga kali memintanya." Bisik Denis lembut, ia kasihan pada Aruna. Mungkin karena selama ini kurang kasih sayang. Jadi sejak Tian gauli kembali. Hormon di dalam tubuhnya meledak-ledak menimbulkan candu. Emang ada seperti itu? Entahlah. Denis hanya menerka-nerka.
"Aku coba, mungkin ada obat yang bisa menekan hormonku yang berlebihan ini." Jawab Aruna lemah.
"Bersabar Sayang, kamu tidak sedang hamilkan jadi sangat bergairah seperti ini?" Tanya Denis khawatir.
"Semoga tidak, aku sudah memasang KB spiral."
"Masih tahankan, tidak perlu aku lakukan sekarang?"
"Ini sudah cukup, Denis. Maafkan aku, sudah membuatmu terjebak dalam dosa seperti ini."
"Jangan pikirkan itu, sekarang bawa mandi biar segar. Aku takut kamu minta lagi dan aku tidak bisa menahan diri, dia sudah memberontak di bawah sana."
"Oh ya, aku lihat." Ujar Aruna bersemangat.
"No Honey. Aaarkkh!!" Teriak Denis saat Aruna dengan nakal memainkan miliknya.
"Sekarang giliran kamu," Aruna tersenyum devil.
😅😅😅
__ADS_1
Aruna nakal.