
Denis membawa Aruna ke apartemennya. Dia tau apa yang dilakukan Aruna sejak tadi malam hanya untuk menutupi luka di hatinya.
"Sudah sampai," Denis membawa Aruna masukSsy dan mendudukkan di sofa. Ia mengambilkan air putih dan membuatkan roti bakar. Perempuan itu tidak ada bersuara lagi sejak keluar dari ruang rawat Ressa.
"Makan dulu, baru menangis." Denis memaksa Aruna makan roti yang dibuatnya. Menyuapkan aabroti itu ke mulut perempuan yang saat ini sedang melamun.
Entah apa yang sedang dia rasakan saat ini. Ia ikhlas melepaskan Tian, tapi seperti ada rasa sakit yang tertinggal apalagi menginggat percintaan mereka semalam yang penuh gairah.
"Gak nafsu makan," cicitnya sendu. Denis menarik Aruna dalam pelukan. "Sakit hati boleh, tapi jangan sampai sakit jiwa juga." Katanya sambil merapikan rambut Aruna.
"Katanya mau memeriksa keperjakaanku, hm?" Goda Denis, agar Aruna tidak melamun lagi.
"Boleh?" Katanya lugu, Denis mencubit gemas perempuan yang ada dalam pelukannya. Hanya dengan bertingkah seperti itu Aruna bisa mengalihkan perhatiannya.
"Nanti ya, setelah masa iddah kamu selesai kita langsung nikah." Denis mencium puncak kepala Aruna.
"Lama masa iddahnya ya dibanding nikahnya," ucap Aruna bercanda. Walaupun terlihat bercanda, Denis tau Aruna sangat terpukul akan semua ini.
"Aku janji akan bahagiain kamu mulai dari sekarang. Percayalah." Denis tersenyum membelai lembut pipi Aruna.
"Bikin aku lupa sama Tian, Denis. Sekarang!" Rengek Aruna.
__ADS_1
"Of course, Honey." Denis menyatukan dua benda kenyal tak bertulang itu sambil menggendong Aruna tanpa melepaskan bibirnya. Ia menyesapnya dengan lembut, tidak ingin menyakiti Aruna sedikitpun.
Tangannya mulai menyentuh daerah-daerah rawan kecelakaan, membuat Aruna menggeliat-geliat di atas tempat tidur. Tangan Denis semakin turun, menyentuhnya dengan lembut di sana. "Ini masih sakit?"
"Sedikit," cicit Aruna menikmati permainan yang Denis berikan sampai berakhir dalam pelukan lelaki itu.
"Sungguh aku tidak ingin begini padamu sebelum menikah, Ru." Denis menatap perempuan yang baru saja dibuatnya melayang-layang. Cukup kalian rahasiakan kalau miliknya saat ini ingin sekali terbang menyapa yang ada di bawah sana.
"Kan aku yang minta, jadi kamu gak boleh nolak." Kekeh Aruna seperti tanpa dosa dengan apa yang sudah dilakukannya. Di depan Denis dia sudah tidak memiliki rasa malu lagi.
"Aku sedih melihat kamu sampai frustasi seperti ini." Denis membawa tubuh Aruna ke atasnya. Dia tidak melakukan lebih dari sekedar memberikan sentuhan, membuat Aruna lupa dengan segala sakit di hatinya.
"Akan aku sempatkan mengunjungimu setiap hari, jangan lupa siapkan dirimu untuk memuaskanku." Denis mengedipkan mata menggoda. "Pagi ini baru kamu yang puas, bukan aku." Bisiknya manja di telinga Aruna.
Aruna mengerjapkan mata lucu. Denis tertawa kecil melihat keterkejutan Aruna. Membangunkan tubuhnya lalu mengecup di kening. "Aku jadi tidak sabar menunggumu memeriksa keperjakaanku." Goda Denis, Aruna semakin bersemu merah.
"Denis, kau membuatku malu!"
"Masih bisa malu, hm. Tadi di rumah sakit kenapa gak malu menggodaku?" Denis menaik turunkan alis, lucu sekali melihat wajah Aruna yang malu-malu.
"Jangan diungkit, aku malu." Aruna menutup wajahnya di bahu Denis.
__ADS_1
"Jadi pulang atau masih mau di sini, hm. Manjanya kebangetan, sama Tian manja juga?"
Aruna langsung menggelengkan kepala. Mana mungkin dia bermanja-manja pada Tian.
"Ya sudah manjanya di sini aja ya, Sayang." Tian menempelkan pipi Aruna ke dadanya. "Lupain Tian, ada aku di sini menemanimu."
"Makasih Denis."
"Kalau kamu pasang tampang manja lagi aku takut kita akan semakin lama di sini dan Dea kehilangan mommy-nya."
"Yes, Daddy Denis kita pulang." Aruna mengulurkan tangan minta di gandeng. Denis geleng-geleng kepala dengan tingkah perempuan itu. Ia merapikan rambut dan pakaian Aruna lalu membawa pergi dari apartemennya.
"Aku langsung pulang ya, Tian pasti gak bisa ke kantor lagi jadi aku harus ada di sana sekarang." Denis mengusap puncak kepala Aruna.
"Pulang kerja nanti mampir, kamu gak mau aku kabur ke club lagikan?" Aruna mengerlingkan mata.
"Jangan manis-manis sama aku, aku takut gak bisa menahan adik kecil ini."
"Bye, Daddy Denis." Aruna langsung kabur keluar mobil saat Denis ingin mencium keningnya. Dari luar dia memasang tampang manjanya kembali. Membuat pria itu berdecak setiap kali Aruna menggodanya.
"Shiitt, dia pikir aku berhati malaikat." Denis memijat kepalanya yang sakit menghadapi kemanjaan Aruna. Kalau tidak memikirkan Aruna yang bisa saja sedang mengandung anak Tian. Dia sudah membawa perempuan itu ke ranjang panasnya.
__ADS_1