
"Morning Honey," sapa Tian pada Ressa yang baru bangun. Dia pulang ke rumah jam tiga subuh, setelah tidur beberapa jam menemani Aruna.
"Hei kapan pulang, aku pikir kamu kembali ke hotel."
"Aku emang kembali ke hotel. Sepertinya aku harus mencarikan mereka tempat yang dekat di sekitar sini, agar aku mudah menemui Dea."
"Kamu atur aja gimana baiknya, atau kamu tinggal di sana aku di rumah ini sendiri juga gak papa." Ressa akhirnya pasrah dengan statusnya yang jadi istri kedua. Dengan segala sesak yang disimpannya sendirian.
"Tian, jangan bandingkan aku dengan Aru, bisa? Saat kamu bersamanya nanti, kamu pasti akan melihat segala kelebihan yang dimilikinya."
Tian memeluk perempuan tersayangnya ini, tadi malam dia sudah keceplosan membandingkan Ressa dengan Aruna. Pasti sejak kecil istrinya ini selalu disisihkan.
"Iya Sayang, aku mau jujur boleh?"
"Aku tau, gak perlu bilang." Ressa mengelus pipi Tian dengan lembut. Bagaimana dia tidak tau saat melihat tanda percintaan di leher Tian sebesar itu. "Aku mau pipis bentar, lepas dulu ya pelukannya."
Tian melepaskan pelukan tanpa tau Ressa menangis dalam kamar mandi. Memikirkan tubuh yang memeluknya itu baru saja digunakan tidur bersama Aruna membuat hatinya sangat sakit. Ressa menengadahkan kepala agar tidak terlalu banyak air mata yang terjatuh karena menyesali kebodohannya.
__ADS_1
Kalau Tian benar-benar kembali jatuh cinta pada Aruna bagaimana nasib sang istri kedua ini. Tidak pernah terbayang di duakan seperti ini. Itulah kenapa ia memilih menghindar tiga tahun yang lalu. Namun takdir memang tak bisa ditolak.
Ressa duduk di atas closet sambil melamun membayangkan malam panas yang mereka lalui berdua. Telapak tangannya sedikit menekan dada yang terasa sesak.
"Sayang, ngapain lama banget di dalam?" Tanya Tian tanpa curiga apapun. Ressa lekas mencuci wajahnya lalu membuka pintu kamar mandi.
"Kenapa lama, aku masih kangen?" Tian kembali memeluk perempuan tersayangnya ini.
"Sakit perut, jadi sekalian." Jawab Ressa sambil tersenyum manis, "kamu mau sarapan apa?"
"Aku sarapan di hotel ya, pasti Dea sudah menunggu."
"Kamu jangan lupa sarapan, aku mandi dulu." Tian mengingatkan lalu mengecup kening Ressa sebelum beranjak ke kamar mandi.
"Iya, aku ke dapur." Ujar Ressa lemas, namanya punya istri dua pasti waktunya terbagi. Perempuan hamil itu memainkan roti di meja makan sambil melamun.
Tian mengamati Ressa yang tidak ceria seperti lagi. Ia mengirim pesan pada Aruna kalau tidak bisa ke hotel menemani sarapan di sana.
__ADS_1
"Rotinya kalau dimainin gak akan bikin kenyang." Tian tersenyum mengambil roti di piring Ressa lalu menggigitnya, kemudian disuapkan pada Ressa melalui mulutnya.
"Gak jadi ke hotel?" Tanya Ressa setelah satu suapan itu berhasil ia telan dengan susah payah.
Lelaki itu menggeleng pelan, "aku gak bisa ninggalin istriku yang lagi melamun ini." Tian menepuk puncak kepala Ressa lalu menyuapi lagi dari mulutnya. Sampai roti di piring itu habis.
"Maaf lagi belajar, belum terbiasa waktunya di bagi." Lirih Ressa sambil menundukkan kepala, dia tidak boleh manjakan. "Aku takut tersisihkan saat kamu bersama Aru dan anaknya."
"Sayang, kamu ngomong apa sih. Aku hanya memenuhi kewajibanku sebagai suami." Tian menenangkan, ia baru sadar mata Ressa seperti habis menangis. Baru satu hari, istrinya ini sudah terluka bagaimana nanti.
"Ini baru awal, Tian. Dibanding Aru aku tidak ada apa-apanya. Kamu pasti akan jatuh cinta dengannya lagi."
"Aku gak mau dengar kamu membandingkan diri dengan Aru lagi. Ressaku tetap Ressa tidak akan bisa digantikan oleh siapapun." Tian membawa Ressa dalam pelukan, "bertahan Sayang. Mungkin ini sangat berat buat kamu. Tolong percaya, hati ini sudah kutitipkan padamu."
"Tidak ada yang tau hati manusia, Tian. Hari ini kamu memang bilang begitu padaku. Apa yang bisa menjamin esok dan seterusnya kamu masih mencintaiku." Isak tangis itu bisa Tian dengar sekarang.
"Honey, aku tidak ingin membuatmu menangis seperti ini." Tian membawa Ressa ke kamar, membaringkannya di tempat tidur. "Hapus semua jejak Aru di tubuhku, Sayang."
__ADS_1
Ressa menggeleng, menutup wajahnya dengan bantal. Membayangkan Tian melewati malam panas dengan kakaknya sendiri itu sangat menyakitkan.
"Jangan sentuh aku, Tian!" Lirih Ressa tak berhenti menangis. Tian paham maksudnya, hanya bisa memeluk Ressa untuk menenangkan. Hatinya juga ikut sakit melihat Ressa yang terus menangis.