
"Mommy kapan adek lahir?" Deandra menciumi perut Aruna yang tinggal menunggu lahiran. HPL-nya dalam minggu ini.
"Belum tau Sayang, adek masih betah tinggal di dalam." Aruna tersenyum mengusap-usap rambut putrinya. Mereka tinggal di rumah orang tua Denis sampai ia melahirkan.
"Dea belum tidur Sayang, besok sekolahkan." Ujar Denis yang baru masuk ke kamar.
"Sebentar lagi tidur Daddy, masih mau menemani adek." Sahut Deandra melingkarkan tangannya di perut buncit Aruna dengan manja.
"Menemani adeknya masih bisa siang. Kalau tidurnya kemalaman nanti kamu ngantuk di sekolah." Nasehat Denis lembut.
"Iya, Dea tidur." Gadis remaja itu mengecup pipi Aruna dengan wajah manyun.
"Daddy gak dapat jatah nih?" Goda Denis pada putrinya yang cemberut.
"Gak usah, Daddy sudah usir Dea." Sahutnya ketus.
"Hei, Daddy gak usir Dea." Denis menarik gadis itu dalam pelukan sambil terkekeh geli. "Daddy temani ke kamar ya," bujuknya.
"Dea mau tidur di sini," Deandra naik ke tempat tidur lebih dulu, membaringkan tubuh di sana.
"Mommy gendut Sayang, kasurnya gak muat. Daddy temani Dea sampai tidur di kamar." Denis tetap membujuk Deandra, dia tidak ingin tidur terpisah dengan Aruna.
"Daddy yang tidur di kamar sana. Dea di sini sama Mommy," putus Deandra tanpa persetujuan sang ayah.
"Gak bisa gitu dong Sayang. Masa Daddy tidur sendirian," ujar Denis memelas.
"Biasanya Dea juga tidur sendirian Daddy," sahut Deandra tidak mau kalah. Aruna tertawa kecil mendengar perdebatan yang selalu terjadi antara anak dan ayah itu. Ia mengelus perutnya yang semakin sering kontraksi minggu-minggu ini.
"Putri Daddy yang cantik ini pintar," Denis ikut berbaring sambil mengusap-usap rambut Deandra dengan sayang.
"Daddy gak perlu membujuk Dea untuk tidur. Pasti Daddy mau mindahin Dea setelah tertidur nanti. Aku gak mau tidur sebelum Daddy keluar dari kamar ini."
__ADS_1
Denis meringis, niat busuknya sudah terbaca Deandra. Suami Aruna itu hanya menyengir, tetap memberikan usapan manja pada sang putri.
Mata yang sudah kelap-kelip itu masih dipaksakan agar tetap terjaga. Denis ingin tertawa melihat kelakuan Deandra.
Aruna ikut naik ke tempat tidur memeluk putrinya dari belakang.
"Jangan banyak bergerak Sayang. Kamu bisa menyenggol perut Mommy," beritahu Denis.
"Yes Daddy," sahut Deandra dengan mata yang sudah terpejam karena merasa nyaman berada dalam pelukan Aruna. Gadis itu sudah tidak sanggup membuka mata.
"Mau dipindah Mas," tanya Aruna saat napas putrinya sudah mulai teratur. Deandra tertidur dengan nyaman.
"Biarin aja Sayang, Mas tidur di sofa aja." Ujar Denis tidak tega memindahkan putrinya yang sangat nyaman berada dalam pelukan sang istri.
"Bantu geser Mas," pinta Aruna. Karena dia tidak bisa bergerak bebas. Denis menelusupkan tangannya di bawah leher dan lutut, menggeser Deandra pelan.
"Daddy, Dea gak mau pindah!" Rengek Deandra yang merasa tubuhnya seperti diangkat.
Setelahnya Denis menidurkan Aruna, memeluk dari belakang sambil mengelus di perut. Tidak seperti biasa istrinya itu gelisah, sulit ditidurkan.
"Kenapa Sayang, ada yang sakit?" Denis bangun memijati kaki Aruna yang tak kunjung tertidur.
"Punggungku rasanya tambah nyeri Mas." Beritahu Aruna pelan, Denis berpindah memijati di punggung. Istrinya semakin mengeluh sakit perut.
"Aku panggil mama, kamu kayaknya mau melahirkan Sayang." Ujar Denis panik, Aruna mengangguk lemas. Perutnya terasa semakin mules.
Denis bergegas mencari mamanya di kamar atas. Pengalaman pertama ini membuat jantungnya berdebar-debar.
"Mah, bangun Mah!" Tidak sadar Denis menggedor pintu kamar orang tuanya. Sudah jam sebelas malam pasti mereka sedang nyaman-nyamannya tidur. Tapi ia tidak peduli, terlanjur panik melihat Aruna kesakitan.
"Ada apa Denis, apa istrimu mau melahirkan?" Tanya sang ibu yang seminggu ini sangat memperhatikan kondisi menantunya.
__ADS_1
"Kayaknya Mah, katanya sakit perut." Denis menarik tangan ibunya agar segera ikut.
"Bagunin Papamu dulu Denis, kamu duluan sana. Mama nyusul, siapkan keperluan istrimu kita bawa ke rumah sakit." Dikte perempuan paruh baya itu seraya menggelung rambut. Ia kembali ke kamar membangunkan sang suami.
Tanpa menjawab Denis langsung berlari kembali ke kamar bawah. Istrinya sudah mandi keringat, ia mengambil tas yang sudah mereka siapkan untuk keperluan bersalin.
"Kita ke rumah sakit, Sayang." Denis menghapus keringat Aruna, tangan kirinya menjawil sang putri. Tidak mungkin mereka tinggalkan Dea, anak itu bisa mengamuk kalau tau mommy-nya melahirkan tapi malah tidak dibangunkan.
"Dea, bangun Sayang. Mommy mau melahirkan," panggil Denis.
"Biar aja Mas, besok dia sekolah." Ucap Aruna pelan.
"Dea bisa mengamuk kalau gak dibangunkan Sayang," Denis menggendong Aruna saat orang tuanya datang.
"Pah bantu bangunin Dea, aku bawa duluan Aru ke rumah sakit." Ujar lelaki yang sebentar lagi jadi ayah itu.
"Iya, kalian duluan aja berangkat sama supir. Mama temani Denis." Pria paruh baya itu mendekati tempat tidur, membangunkan cucunya.
"Sayang, bangun Nak." Katanya seraya menepuk pipi Deandra.
"Kakek," gumam Dea mengerjap berkali-kali sampai matanya terbuka.
"Mommy mana?" Pekik Deandra langsung duduk.
"Mommy mau melahirkan, Dea mau ikut ke rumah sakit atau nunggu di rumah?" Tanya sang kakek.
"Ikuuutt!"
Seru Deandra melompat dari tempat tidur, kabur ke kamar mandi mencuci wajah agar kantuknya hilang. Setelahnya gadis itu mengambil jaket ke kamar.
"Ayo Kek, berangkat!" Deandra menarik tangan sang kakek dengan semangat. Dia sudah tidak sabar menyambut adik kecilnya itu.
__ADS_1
Ayah Denis tersenyum. Walau bukan anak dari putranya, dia tetap menyayangi Deandra seperti cucunya sendiri.