
"Aru kembali ke Indonesia," Denis menunjukkan foto perempuan cantik yang sedang bersama seorang anak perempuan berumur sekitar dua belas tahun.
Tian mengamati dengan lekat foto anak perempuan yang sangat mirip dengannya. Kata orang anak perempuan cenderung lebih mirip dengan sang ayah, apa itu benar.
"Aru membohongiku Denis, dia bilang sudah menggugurkan anak kami. Tapi kenapa anak gadis ini sangat mirip denganku. Apa tujuannya kembali ke sini." Ucap Tian di tengah resah hatinya. Dia takut Ressa mengetahui semua masalalu yang selama ini ditutupnya rapat. Hanya Denis yang tau dengan semua rahasianya ini.
"Entahlah, aku akan mengirim orang untuk mengawasi mereka."
"Jangan sampai dia tau keberadaanku dan bertemu Ressa. Aku takut semua yang baru kumulai ini akan berakhir lagi, Denis." Ujar Tian penuh kepiluan, masalalu itu sangat menggores hatinya hingga membekas sampai sekarang. Luka itu belum sembuh, hanya kering di bagian luar dan dalamnya membusuk.
Denis mengangguk, "baik. Tapi apa kamu tidak ingin bertemu dengan anakmu, Tian."
__ADS_1
Tian berdiri menatap ke luar jendela, "sangat ingin Denis. Bahkan dulu aku sangat mencintai Aru, dia yang membuatku jadi bajingan seperti sekarang ini. Ressa akan pergi meninggalkanku jika tau aku memiliki anak dari perempuan lain."
Asisten Tian itu tidak tau harus mengatakan apa, dia ikut bingung memikirkannya. "Apa perlu kita lakukan tes DNA?"
"Tidak perlu," Tian menggeleng lemas. "Sudah pasti dia anakku Denis, dilihat dari wajahnya pun sudah ketahuan. Umurnya pasti sekarang sudah menginjak dua belas tahun. Selama itu juga dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah." Laki-laki itu tersenyum miris, mengejek dirinya sendiri.
"Tian, semua bukan salahmu." Denis ingin mengingatkan, tapi Tian menggeleng.
"Aku tidak ingin melihatmu jatuh lagi, kamu punya Ressa sekarang." Denis tau bagaimana sahabatnya ini. Bahkan kemanapun Tian pergi, dia berusaha untuk selalu mengikuti.
"Dia juga akan pergi kalau tau siapa aku sebenarnya, Denis." Tian berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh. Memikirkan Ressa murka dan pergi meninggalkannya bersama bayi mereka, itu membuatnya hancur.
__ADS_1
"Kalau begitu kita tutup rapat semua ini." Putus Denis, dia akan melakukan apapun demi kebahagiaan Tian. Apa yang sudah Tian berikan padanya selama ini tidak bisa dibayar dengan uang, kecuali pengabdian.
"Berikan apa yang Aru dan anaknya butuhkan, Denis. Jangan biarkan mereka kekurangan apapun, semoga suatu saat nanti aku bisa memeluk anakku dan menyampaikan maaf padanya. Dan semoga saat itu juga Ressa mau menerima masalaluku. Atau aku akan kehilangan semuanya."
"Aku akan menjaga mereka untukmu, Tian." Janji Denis.
Suami Ressa itu mengangguk setuju, "thanks Denis."
"Lo kalau melow gini bikin tangan gue gatal pengen nonjok." Ujar Denis berusaha mengembalikan suasana agar tidak semakin tegang.
"Muka gue memang halal buat di tonjok, tapi gue yang akan bikin lo bonyok duluan." Tian mendengus kembali duduk di kursinya. "Kerja! Gue gak mau perusahaan bangkrut karena lo terlalu sering dapat hak istimewa," desisnya.
__ADS_1
"Lo gak akan jatuh miskin karena perusahaan ini bangkrut. Masih banyak harta warisan yang belum lo sentuh tuh. Apa perlu bantuan gue buat ngabisin." Sahut Denis sambil cekikikan dari depan pintu. Dia sudah menjauh saat Tian siap untuk membuat wajahnya yang berharga ini babak belur.