
"Dari mana aja kamu, pagi-pagi pulang sama laki-laki." Berang Rina, dia tidak suka Ressa menolak lelaki pilihannya malah memilih laki-laki yang tidak jelas asal usulnya.
"Dia bos aku Bu, aku ganti baju dulu." Ucap Ressa santai.
"Jadi kamu menolak lelaki baik karena sudah menjadi simpanan bos, hah." Teriak Rina kesal karena punya anak yang tidak bisa menghargai ibunya sendiri.
"Ibu, sudah-sudah. Ingat tekanan darah, marah-marah terus. Malu kalau dilihat orang apalagi ada tamu." Tegur Amrin, untung telinganya sudah kebal mendengar ocehan istrinya ini setiap hari.
"Ayo masuk, tunggu Ressa di dalam." Ajak Amrin pada Tian. Tian mengangguk, dia baru mengerti bagaimana tertekannya hidup Ressa selama ini.
Perempuan paruh baya itu tidak mau melihat ke arah Tian. Tian mengutarakan niatnya untuk melamar Ressa. Dia ingin secepatnya menikahi perempuan itu.
"Saya tidak merestui kamu menikah dengan Ressa sampai kapanpun. Dia sudah punya calon suami!"
"Ibu!" Peringat Amrin. Istrinya ini sudah sangat keterlaluan.
"Pokoknya Ressa akan menikah dengan lelaki pilihanku," tegas Rina. Amrin menghela napas lelah. Apa mau istrinya ini sebenarnya. Kemaren-kemaren sibuk ingin Ressa menikah. Sekarang sibuk menentukan jodoh untuk sang putri.
__ADS_1
"Tidak akan, sampai kapanpun Ressa tidak akan menikah dengan laki-laki pilihan Ibu." Tolak Ressa mentah-mentah.
"Ibu tidak merestui kalian. Pokoknya kamu harus menikah dengan calon suamimu."
"Aku tidak butuh restu Ibu, aku cuma butuh Ayah sebagai wali." Ressa berucap tidak kalah lantang.
"Ressa!" Sentak Tian kaget, dia tidak menyangka Ressa sekeras ini sampai berani menentang sang ibu.
"Ayahmu tidak akan menikahkan kalian tanpa persetujuan ibu."
"Aku mengandung anaknya." Ressa menunjuk ke arah Tian. Dia sudah malas bersitegang dengan sang ibu. Amrin dan Rina membelalakkan mata. Tian tidak kalah kaget dengan kebohongan Ressa.
"Dasar anak tidak tahu diri!"
Rina menampar pipi kanan Ressa dengan keras sampai memerah. Ressa tersenyum merasakan pipinya yang sakit dan sudut bibirnya berdarah. Perempuan paruh baya itu mengangkat tangan lagi ingin menampar Ressa namun dengan cepat Tian menarik Ressa dalam pelukan.
"Jangan sakiti Ressa." Ucap Tian dingin sambil menempelkan telapak tangannya di pipi Ressa yang memar.
__ADS_1
"Bawa dia dari sini, nanti malam aku nikahkan kalian!" Ujar Amrin penuh kekecewaan. "Jaga putriku baik-baik!" Lanjutnya seraya menatap tajam Tian.
Ressa melepaskan pelukan Tian beralih pada sang ayah, "aku gak hamil, Ayah. Aku cuma gak mau nikah sama pilihan Ibu." Bisiknya, Amrin mengangguk mengerti.
"Saya akan menjaganya dengan baik," jawab Tian lalu mengulurkan tangan pada Ressa. Menggenggam tangan perempuan itu dengan erat. Mungkin bukan pipi Ressa yang sakit tapi hatinya.
Sepanjang jalan dari rumah ke kantor tidak ada yang membuka suara. Tian membawa Ressa keruangannya.
"Kenapa nekat bicara begitu sama ibumu," ucap Tian lembut sambil menempelkan sapu tangan yang ia rendam di air es ke pipi memar Ressa.
"Aku capek Tian, Ibu selalu egois dengan pilihannya sendiri. Aku selalu salah di matanya. Apa yang aku pilih selalu dianggapnya salah. Aku manusia, bukan boneka."
Tian hanya mendengarkan, tidak ingin memperburuk suasana hati Ressa.
"Kita akan menikah tanpa restu ibu kamu, itu tidak baik. Jika suatu hari nanti ada sesuatu pada rumah tangga kita. Ibu tidak bisa jadi sandaran tempat kamu pulang."
"Apa kamu berharap rumah tangga kita akan kenapa-kenapa?"
__ADS_1
Tian mengambil posisi duduk di samping Ressa lalu membawanya dalam pelukan. "Tidak ada rumah tangga yang berjalan mulus, Ressa. Pasti akan ada kesalahpahaman dan kerumitan di dalamnya. Ada saatnya nanti kamu lelah untuk bertahan di samping aku. Dan kamu perlu orang yang bisa menjernihkan pikiranmu."
"Kalau kamu ragu menikah denganku lebih baik batalkan saja niatmu." Ressa melepaskan pelukan Tian, dia pikir dengan menyerahkan diri dalam pelukan lelaki itu tidak ada penghalang lagi untuk menikah. Ternyata belum apa-apa rintangan sudah menghadang. Mungkin sudah takdirnya tidak menikah seumur hidup.