
"Mommy, Erra haus." Gadis kecil yang sangat girang bermain di tempat terbuka itu merengek manja. Setelah puas berlarian, ia mengadu kehausan.
"Air minumnya di mobil, Mommy ambilin dulu ya Sayang. Erra tunggu sama tante sebentar." Hira mendudukkan putrinya yang bermandian keringat itu di kursi taman.
"Biar gue yang ambilin Ra, lo temenin Erra aja." Ujar Ressa yang disetujui Hira, ia meninggalkan ibu dan anak itu di taman. Mereka memang tidak mau di antar supir. Jarak ke parkiran mobil juga tidak jauh.
Ressa mengambil air mineral dan susu Erra, persediaan gadis kecil itu sudah lengkap. Jadi tidak perlu jajan di luar. Istri Tian itu menutup pintu mobil dengan perlahan.
Bruukk
Dua botol yang ada di tangan Ressa itu terjatuh karena ada yang menyenggolnya.
"Maaf Mbak, saya buru-buru." Ujar anak muda itu sambil melirik kanan kiri. Tempat parkir ini sekarang sepi, orang tua pada sibuk mengawasi anak-anaknya yang sedang bermain di taman.
Ressa mengernyit, dia tidak menghalangi jalan kenapa bisa tertabrak. Perasaannya mulai tidak nyaman. Apalagi saat melihat gerak-gerik anak muda yang mencurigakan itu.
__ADS_1
"Ah ya tidak apa," sahutnya lalu bergegas mengambil botol yang terjatuh. Saat ia membungkuk, ada orang yang datang membekap mulutnya.
"Aaaaa, lepaaaas!!" Teriak Ressa yang tentu saja tidak dapat didengar siapapun. Tubuhnya dipaksa berdiri, perempuan itu menendang-nendang kakinya ke belakang tapi tidak berpengaruh apa-apa. Seiring orang yang tidak dikenal itu menyeretnya. Tubuh Ressa mulai melemah sampai hilang kesadaran.
Saat Ressa dibawa pergi dari taman. Hira sedang membersihkan keringat di wajah Erra dengan tissue.
"Nanti mandi di kantor Daddy ya Sayang. Erra bau acem, ih." Hira menoel hidung putrinya gemas.
"Erra wangi Mom, coba sini cium Erra pasti wangi. Wangi keringat," gadis kecil itu menyengir meong dengan kaki mengayun-ayun.
"Of course, kan Mommy yang ajarin," sahutnya. "Mommy, kenapa tante lama. Erra haus!" Erra memegang lehernya untuk mempertegas kalau dia sedang kehausan.
"Sabar Sayang, ayo kita susu tante," ajak Hira menurunkan putrinya. Sudah lebih sepuluh menit Ressa belum kembali padahal parkir mobil dekat.
Erra kecil memegang tangan Hira berjalan sambil melompat-lompat mengikuti sang mommy.
__ADS_1
"Mommy ini botol susu Erra." Gadis kecil itu ingin mengambil botol yang terjatuh di dekat mobil. Tidak jauh dari sana juga ada botol air mineral. Hati Hira mulai cemas, tidak mungkin botol itu jatuh kalau Ressa baik-baik saja, pikirnya.
"Jangan diambil, Sayang." Hira menggendong putrinya lalu bertanya pada ibu-ibu yang ada di sekitar sana.
"Bu, ada lihat teman saya pake baju dan jilbab warna army?" Tanya Hira seraya menunjukkan foto Ressa.
Setiap ibu-ibu yang Hira tanya tidak ada satu pun jawabannya yang melihat Ressa. Kemana perginya sahabatnya itu, sangat aneh meninggalkan botol-botol berjatuhan di tanah.
"Tantenya kemana Mom?" Tanya Erra ikutan panik, melihat Hira yang bertanya kesana-kemari.
"Mommy juga gak tau, Sayang. Ayo kita ke mobil," Hira tergopoh-gopoh berjalan cepat kembali ke mobil sambil menggendong Erra. Napasnya sudah tersendat-sendat karena mengitari taman mencari Ressa.
Hira mendudukkan Erra di kursi penumpang samping kemudi. Setelahnya ia menelpon Ressa, tersambung. Sejenak hatinya lega, tapi saat suara ponsel berbunyi di kursi belakang kecemasan Hira kembali datang. Tas Ressa tertinggal di mobil.
"Hp tante bunyi Mom," beritahu Erra.
__ADS_1
"Itu Mommy yang telpon Sayang, hp tante ketinggalan." Jelas Hira yang tidak dapat menyembunyikan kepanikannya.