
"Mana suami yang kamu bangga-banggakan itu?" Seorang perempuan paruh baya bertamu pagi-pagi sambil mengamuk. Ressa tidak tau darimana sang ibu dapat alamat rumahnya. Mungkin ayah yang memberitahu.
Sayup-sayup Tian mendengar suara teriakan di teras. Ia segera beranjak dari tempat tidur.
"Ini masih pagi Bu, jangan berteriak-teriak. Tidak enak kalau di dengar tetangga." Ressa mengingatkan ibunya yang datang hanya untuk mengomel.
"Kamu ini semakin membangkang saja, mau jadi apa, hah?" Rina memekik semakin nyaring, dia kesal karena sang suami menikahkan Ressa dengan lelaki yang tidak diinginkannya. Dia sudah mencarikan jodoh yang terbaik untuk sulungnya ini.
"Terserah aja mau jadi apa, ibu gak perlu repot memikirkannya. Sekarang yang penting aku gak bikin malu ibu lagi karena jadi perawan tua." Jawab Ressa yang ikut kesal karena ulah Rina.
Rina tersenyum sinis, "nikah karena hamil di luar nikah saja bangga! Lihat adik-adikmu, semuanya terhormat tidak ada yang membuat malu sepertimu."
Ressa merasakan aliran darahnya seketika mendidih, amarahnya meradang. Ingin sekali dia menumpahkannya pada sang ibu saat ini juga. Tapi otaknya masih waras, mengingatkan agar tidak melakukan itu.
__ADS_1
"Honey, ada siapa?" Tian langsung mengecup belakang kepala Ressa, ia mendengar semua perkataan pedas ibu mertuanya. "Ibu, ayo masuk kita ngobrol di dalam, lebih enak." Ajaknya, berusaha untuk tetap menghormati orang tua Ressa.
Perempuan paruh baya itu mendengus, "kerja jadi apa kamu. Jam segini masih tidur-tiduran?" Tanya Rina ketus.
"Kantor bukanya jam delapan Bu," jawab Tian tenang merangkul istrinya masuk. Rina ikut masuk ke dalam rumah.
"Bikinin ibu minum dulu Honey, biar hatinya adem." Bisik Tian, dia tau istrinya saat ini sedang terluka. Dia yang mendengar saja dapat merasakan sesaknya.
Ressa mengangguk membuatkan minuman di dapur, Tian menemani ibu mertuanya di ruang tamu.
"Saya tidak punya apa-apa, Bu. Selain cinta untuk Ressa," jawabnya tenang. Seakan tatapan tajam mertuanya itu tidak berpengaruh.
Perempuan paruh baya itu mencebikkan bibir, "makan cinta kamu pikir bisa kenyang!"
__ADS_1
Ressa datang membawakan dua gelas teh, lalu duduk di samping Tian.
Tian tersenyum tangannya melingkar di pinggang Ressa, "makan cinta memang gak bisa kenyang, Bu. Tetap harus makan nasi biar kenyang," jawabnya asal.
Ressa ingin sekali menendang wajah tengil manusia bergelar suaminya ini. Bisa-bisanya Tian mempermainkan ibunya yang sedang marah, kalau mereka dikutuk kan bisa gawat.
"Kalau kamu gak bisa jaga anak saya, kembalikan. Sudah ada yang menunggu untuk menikahinya. Biar hamil tidak akan masalah."
Ressa ingin menimpali tapi Tian menggeleng pelan.
"Sayangnya saya tidak akan pernah melepaskan Ressa, Bu. Jangan pernah bermimpi untuk memiliki menantu yang lain lagi, kecuali itu dari anak-anak ibu yang lain. Bukan dari Ressa." Lagi-lagi Tian mengeluarkan senyumannya.
Ia berjanji apapun yang terjadi tidak akan pernah melepaskan Ressa. Sesakit apapun Ressa dengannya nanti, dia akan berusaha untuk menjadi penawarnya sekaligus. Tian tidak bisa membayangkan mengembalikan Ressa pada ibunya yang sungguh kejam. Apa mungkin Ressa bukan anak kandung, otaknya mulai berpikir yang aneh-aneh.
__ADS_1
"Kamu terlalu percaya diri," Rina tersenyum mengejek, "saya tunggu sejauh mana kamu bertahan dengan Ressa." Lanjutnya, lalu perempuan paruh baya itu melenggang pergi tanpa menyentuh teh yang Ressa buatkan.