Aksara Cinta

Aksara Cinta
164. Memilih


__ADS_3

Jeri mengantar sang ibu yang marah-marah minta ditemani ke rumah sakit menjenguk Ressa. Setelah tau tentang Audrey ibunya itu suka marah tidak jelas.


"Pulang dari rumah sakit nanti kita ke bandara jemput calon istrimu. Dia anak sahabat ibu. Kamu sudah mutusin Audrey kan?"


"Sudah Bu," jawab Jeri malas. Dia malas banyak bicara lagi, sepanjang jalan hanya diam. Mengantarkan ibunya sampai ke ruangan Ressa. Tidak lama ibunya itu minta diantar Tian pergi.


"Ada apa?" Tanya Ressa melihat wajah Jeri yang kusut.


Lelaki itu menggeleng pelan, "tidak ada apa-apa?" Jawabnya.


Ressa mendengus, "kalau tidak ada apa-apa takkan itu wajah kusut seperti kehilangan setrika."


Haahh. Jeri menarik napas panjang. "Seperti yang kamu dengar kemaren, ibu gak mau menerima Audrey Sa. Maafin Audrey ya. Dia sebenarnya baik, hanya terlalu cemburu sama kamu." Jelas Jeri sambil memainkan ponsel di tangannya.


"Aku sudah memaafkannya, aku bantu ngomong sama ibumu nanti ya." Ujar Audrey, kasihan melihat Jeri yang tertekan.

__ADS_1


"Gak perlu, ibu sudah mendatangkan calon menantu pilihannya."


"Kamu bisa menolak kalau tidak setuju dengan perempuan itu, Jeri."


Lelaki itu tersenyum, "untuk apa? Ibu tidak akan mau mendengarkanku. Aku tunggu di luar ya, nanti Tian salah paham." Ucap Jeri meninggalkan Ressa sendirian di ruangan. Lebih memilih menunggu di depan ruang rawat.


Hati dan pikirannya berkecamuk memikirkan Audrey. Rasa bersalahnya sangat besar pada perempuan itu, jika dia mempertahankan Audrey maka harus siap dibenci ibunya seumur hidup. Itulah konsekuensinya.


Jeri mengusap wajah gusar bertepatan sang ibu kembali ke ruangan Ressa bersama Tian. Jeri Andreas Adley itu menyusul dan berkata, "Bu, aku gak bisa menikah dengan perempuan pilihan Ibu, maafkan aku."


"Aku akan tetap menikah dengan Audrey Bu. Walau Ibu tidak merestuinya." Jawab Jeri tegas, "Tian tolong antarkan Ibu pulang ya." Katanya beralih menatap Tian lalu segera kabur dari sana tanpa mendengarkan kemarahan sang ibu.


"Jeriiii!!" Teriak ibunya geram.


"Bibi, biarkan Jeri menikah dengan Audrey. Audrey melukai Ressa karena salahku, aku yang sudah membuat hatinya terluka." Jelas Tian, dia tidak tega melihat Jeri seperti itu. Walau bagaimanapun juga Jeri yang membantunya menemukan Ressa.

__ADS_1


"Tolong Bibi paham ya," Tian memeluk adik ayahnya yang sudah belasan tahun tidak bertemu itu.


"Bibi tetap tidak ingin Jeri menikahi perempuan itu Tian!" Kekeuh sang bibi. Ressa ikut menghela napas panjang. Ternyata ibunya Jeri sangat keras kepala, tidak jauh beda dari putra-putranya.


Jeri berlari sampai parkiran, dia tidak bisa meninggalkan Audrey sendirian. Sungguh, dia takut terjadi sesuatu pada perempuan itu.


Ia melajukan kuda besinya dengan kecepatan tinggi. Jeri berkali-kali mengumpat karena jalanan yang macet. Cukup tadi malam dia tidak bisa tidur dengan tenang karena kepikiran Audrey.


Sampai di unit apartemen Audrey pintunya tidak bisa dibuka. Passwordnya sudah tidak bisa digunakan lagi. Ia memencet bel berulang kali namun tidak ada tanda pintu akan terbuka.


Jeri menghubungi ponsel Audrey tapi tidak dapat tersambung. "Sayang, apa yang terjadi denganmu?" Gumamnya panik.


Ia menghubungi pihak apartemen, ingin meminta bantuan membuka unit itu. Takut Audrey berbuat nekat di dalam. Namun pihak apartemen mengatakan kalau unit itu sudah dikosongkan sejak pagi tadi.


"Aaarrrggghh!!" Jeri berteriak frustasi menelpon asistennya.

__ADS_1


"Matt, cari Audrey dia pergi dari apartemen!!" Perintah Jeri, ia kembali ke rumah sakit menjemput sang ibu. Sambil memikirkan kemana kemungkinan Audrey pergi. Perempuan itu tidak mungkin pulang ke rumah. Haahh, Jeri memijat pelipisnya yang terasa berat.


__ADS_2