Aksara Cinta

Aksara Cinta
114. Bocah Nakal


__ADS_3

"Panggil Om Daddy dan panggil Tante Ressa, Mommy. Mau?"


"Aku akan panggil Om daddy kalau kalian sudah menikah," jawab Dea dengan dewasanya.


"Baiklah, Om setuju. Sekarang panggil Tante Ressa mommy," tantang Denis.


"Mommy?" Tanya Dea ragu.


"Ya mommy, karena Tante Ressa itu istri Daddy Tian. Dan ini, calon istri Daddy Denis." Tunjuk Denis pada Aruna sambil menggoda Dea.


Gadis itu melengos, "awas kalian berciuman lagi saat aku tidur!" Ancamnya lalu turun dari pangkuan Denis.


Bagaimana Dea mau menolak sang mommy menikah dengan Om Denis. Ia tau apa yang mereka lakukan di kamar waktu itu. Membuat hatinya semakin sakit. Apa mommy dan daddy menikah hanya karena keinginannya jadi tidak bisa bertahan lama.


"Denis, akukan sudah bilang ada Dea. Pasti dia tidak tidur hari itu." Aruna melotot pada Denis setelah kepergian putrinya.


"Aku gak ngapa-ngapain, dia cuma lihat aku menciummu, yang lain enggak." Ujar Denis menenangkan, "bangun. Aku tidak mau mengulang adegan itu sekarang!" Titah Denis yang dituruti Aruna dengan wajah cemberut masam.


"Tenang Mommy," Denis mengecup samping kepala Aruna lalu membawanya keluar.


"Daddy," panggil Dea dengan wajah cemberut. Ressa menggeser duduknya memberi ruang agar Dea bisa duduk di tengah.


"Yes Honey, kenapa sedih, hm?"


Deandra menyandarkan kepalanya di bahu Tian, "mommy mau menikah dengan Om Denis." Curhatnya sendu.


"Kalau itu bisa membuat Mommy Aru bahagia apa Dea gak ijinin?" Tian menepuk-nepuk bahu Deandra.

__ADS_1


"Apa Daddy bahagia menikah dengan Mommy Ressa?" Bukan menjawab Dea malah bertanya balik.


Tian tersenyum melirik Ressa yang juga tersenyum mendengar panggilan baru dari Dea.


"Daddy sangat bahagia, Sayang. Maaf kalau kebahagiaan Daddy ini membuat Dea terluka. Dengan Daddy hidup bersama Mommy Ressa itu tidak akan mengurangi rasa sayang Daddy pada Dea. Mommy Aru juga akan begitu, walau sudah menikah nanti tetap akan menyayangi Dea."


"Lihat, putrimu sangat pintar Aru." Denis tersenyum, merangkul Aruna mendekati anak dan ayah itu. "Aku mau anak kita juga cerdas seperti itu." Ucapnya diakhir sambil tertawa kecil, Aruna sama sekali tidak berniat menggubrisnya.


"Kalian tidak akan membuangku?"


"Siapa yang akan membuangmu, Sayang. Tidak akan ada yang berani membuangmu, selama ada Daddy di sini." Tian mencium gemas pipi Deandra.


"Baiklah, Dea akan berdamai dengan Mommy Ressa dan menerima Om Denis sebagai Daddy." Putus Dea dengan menyilangkan tangan di dada membuat empat orang dewasa di rumah itu tertawa.


"Sekarang peluk dan cium Mommy Ressa, Sayang." Ujar Aruna.


"Terimakasih Sayang, sudah memaafkan dan menerima Tante sebagai Mommy-mu." Ressa membawa Dea dalam pelukan.


"Aku sayang Mommy Ressa, mana mungkin aku tidak memaafkan." Ucap Dea seraya tersenyum naik ke pangkuan Ressa dengan manja membenamkan wajahnya di bahu sang tante yang sekarang sudah berubah menjadi ibu sambungnya.


"Honey, duduk di bawah please." Pinta Tian lembut, "Mommy masih belum pulih, Sayang." Tian memindahkan Dea ke pangkuannya. Wajah cantik itu cemberut karena dipaksa beralih tempat duduk.


"Mommy sakit?"


Ressa menggeleng, "cuma kelelahan, Sayang. Sekarang Dea sarapan. Setelah ini kita berangkat ke sekolah sama-sama."


"Aku mau sarapan, tapi Daddy Denis yang gendong ke sana, hm."

__ADS_1


"Hei, kenapa jadi kelewat manja seperti mommy-mu. Kamu sudah besar, Honey." Denis mencubit gemas Dea yang masih di pangku Tian.


"Mommy juga sudah besar, Daddy Denis masih bisa menggendongnya." Dea tersenyum miring penuh kemenangan.


Aruna membelalakkan mata, mencubit pinggang Denis. "Sudah, gendong sana. Jangan sampai semua aib terbuka."


Tian dan Ressa tertawa geli, mendapatkan hiburan baru.


"Sayang, itu bukan aib tapi kenyataan." Denis meluruskan, "karena sudah bikin Daddy di cubit sama Mommy. Sekarang Dea jalan sendiri ke meja makan."


"Mau dipanggil Daddy apa Om, hm?" Ancam Dea sambil menaik turunkan alisnya.


"Tian, kau yang mengajarkan putrimu ini jadi suka mengancam, hah?" Denis meluapkan kekesalannya pada Tian yang tidak tau apa-apa.


"Bagaimana Daddy?" Dea mengedipkan matanya pada Tian. "Daddy Denis," ujarnya melengkapi.


"Baiklah, kamu dan daddy-mu itu memang sama. Sama-sama suka mengintimidasi orang yang lemah." Ujar Denis kesal, merentangkan tangannya pada Dea.


"Yakin sekarang masih lemah, hm." Ejek Tian melirik ke arah bawah. Denis menatap tajam si empunya yang hanya terkekeh kecil.


"Mommy Ressa yang suapin, hm." Ujar Dea yang sudah bisa mengikuti gaya bicara sang daddy.


Ressa membulatkan mata sempurna, "Dea!" Pekiknya, "sejak kapan berani mengancam, hah!"


"Sejak Tante jadi Mommy-ku." Jawab Dea sambil mengedipkan mata tanpa dosa, naik ke gendongan Denis.


Gelak tawa keluar dari mulut Tian melihat tingkah bocah nakal yang sekarang jadi suka mengerjai orang tua itu.

__ADS_1


__ADS_2