
"Tangkap tangkap jangan sampai keluar ayo tangkap, bawa dia kemari, tangkap "
Fira langsung ditangkap oleh penjaga depan. Fira berteriak dengan histeris dia meronta-ronta ingin dilepaskan, tapi untungnya yang menangkapnya itu adalah seorang laki-laki jadi Fira tidak bisa kabur lagi.
Kalau Fira tak ketahuan tadi kabur sudahlah akan sulit mencarinya. Apalagi kalau sudah keluar dari dalam rumah, akan cari kemana coba kalau seperti itu.
"Akhh lepas lepas aku ingin bertemu suamiku, aku ingin bertemu dengannya akhh lepaskan aku. Kenapa kalian semua jahat tak membolehkan aku ketemu dengan suami aku sendiri, aku rindu dengan suami aku"
"Bawa Fira kedalam bawa dia kedalam rumah, ayo jangan sampai Fira kabur "
Fira langsung dibawa ke dalam rumah oleh dua orang sekaligus, karena dari tadi Fira tidak mau diam. Sampai-sampai mereka tadi akan terjengkang tapi untungnya mereka memeluk erat Fira.
Tak lupa mereka juga mendapatkan cakaran dari Fira, pukulan dan banyak lagi tapi mereka tak mau melepaskan pelukan itu, tak mau nanti makin ribet.
"Aku mau pergi pada suamiku, aku ga mau disini suami aku mana, mana suami aku. Kenapa dia tak datang-datang kenapa dia tak pulang aku ingin bertemu dengannya kenapa kalian semua jahat padaku"
Fira sudah ada di kamar lagi. Papinya Fira langsung menyuruh penjaganya itu untuk memasung kembali Fira "Pasung lagi saja, aku tidak mau sampai kecolongan seperti ini lagi ayo cepat lakukan, jangan pedulikan teriakannya itu "
"Aku tidak mau diperlakukan seperti ini lagi aku tidak mau kakiku sakit lepaskan ini. Aku mau pergi kerumah suamiku saja lepaskan aku, kenapa kalian begitu tega dengan aku "
"Sudah Pak "
" Baiklah keluar saja dulu, terima kasih"
"Sama sama Pak "
Fira menata papihnya dengan marah "Katanya mau menemukan aku dengan suamiku, lalu mana kenapa suamiku tidak datang juga kenapa dia tidak ada kemana suami aku, kenapa dia tak ada aku ingin bertemu dengan suami aku. Aku ingin memeluk suami aku, kalian semua memang tega padaku "
"Diam kamu Fira, Ayah kira kamu tidak akan pergi seperti tadi, tolong Fira jangan seperti ini. Fira sadar ayah kira kamu sudah sembuh"
Papinya Fira duduk didekat Fira dan menangis, rasannya lelah sekali mengurus anaknya yang seperti ini. Seharusnya dirinya ini sedang menikmati masa tuannya bukannya seperti ini, mengurus Fira yang sakit.
"Aku mau ketemu dengan suamiku. Mana aku mau ketemu dengannya. Di mana suamiku, apa dia sedang jalan-jalan dan tak mengajak aku "
Fira terus saja berteriak, papihnya Fira bangkit dan mengusap air matanya, keluar dari dalam kamar dan mengunci pintunya. Sudah mencoba menelfon Adnan tapi tak bisa, nomornya tak aktif.
Ya semoga saja Adnan mau menemui Fira sebentar saja, siapa tahu Fira akan bisa seperti semula lagi. Entar harus bagaimana sudah pergi ke dokter sudah diberi obat tapi masih saja seperti ini.
Papinya Fira mengeluarkan ponselnya akan menelpon Rio saja, semoga saja Rio bisa menggantikan Adnan mungkin, atau dicoba di pertemukan dulu saja dengan Kamila siapa tahu kan Fira bisa tenang.
"Ada apa om"
__ADS_1
"Bisa kamu datang kemari dulu Rio. Aku ingin kamu dan juga Kamila datang ke sini ini tentang Fira, ini sangat penting sekali Rio, aku sudah pusing dan tak tahu harus seperti apa lagi "
"Baiklah Om aku akan ke sana bersama Kamila"
"Om tunggu ya, om sangat berharap lebih pada kalian"
"Baik om "
Sedangkan di seberang sana Rio yang sudah selesai menelpon dengan ayahnya Fira menatap Kamila yang sedang menyisir boneka Barbie nya yang dia bawa.
Entah masalah apa yang akan dibicarakan dan sepertinya memang penting. Rio tak mungkin mengacuhkan begitu saja keluarga Fira. Mau bagaimana pun Fira adalah ibu dari anaknya.
"Hari ini kita tidak ke sekolah dulu ya Kamila, hanya hari ini saja ayah janji "
Kamila mengerutkan keningnya sambil menatap ke arah Rio "Kenapa tidak sekolah hari ini kan aku ada lomba menggambar, aku ingin mengikutinya aku juga sudah membawa pensil warna, krayon, spidol semuanya sudah aku bawa paman "
"Katanya Ibu pengen ketemu. Emangnya kamu ga kangen sama Ibu ya sekali aja gitu ketemu sama ibu, siapa tahu ada sesuatu yang ingin Ibu bicarakan kan sayang "
"Ibu ? ga mau aku ga mau ketemu sama ibu, aku mau sekolah aja. Ibu juga kan ga akan pernah mau ketemu sama Kamila, Ibu pasti akan marah-marah sama Kamila lebih baik Kamila sekolah aja, disana juga banyak teman terus ibu gurunya juga baik-baik, Kamila suka disana Paman"
Rio mengusap rambut Kamila"Sekali saja Ayah minta tolong sama kamu ketemu sama ibu sebentar ya. Kayaknya ibu udah baik deh, makanya pengen ketemu sama Kamila, siapa tahu nanti Ibu bisa baik kayak ibu guru Kamila. Gimana mau kan sayang coba dulu sekali ini saja. Kalau misalnya ibu sampai nakal lagi sama Kamila kita ga ketemu lagi sama ibu ya "
"Tidak akan, ibu tak akan marah kan ada Ayah, ayah akan ada disamping Kamila. Ayah akan jaga Kamila"
Kamila akhirnya dengan patuh menganggukkan kepalanya. Kamila juga ingin melihat keadaan Ibunya sudah lama tidak bertemu dengan ibunya, Kamila tidak rindu dengan ibu hanya saja Kamila takut kalau ibunya tiba-tiba marah, lalu membentaknya Kamila lagi rasannya takut sekali.
...----------------...
"Ayah kenapa kamu ada disini "
"Ayah, apakah kamu tak akan bangun "
Adnan langsung membuka matanya, dia melihat Melinda duduk tak jauh darinya. Adnan menatap tangannya yang memeluk Ayana kenapa bisa ada disini dimana anaknya Melisa .
"Ayah kamu memeluk Mama, apakah kamu mau berperang dengan Mama "
Adnan langsung menyimpan telunjuknya di dekat bibirnya agar Melinda tidak banyak bicara. Adnan melihat sekarang Melisa ada di dekat kakinya. Melisa sudah ada disana, kepalanya juga kembali terbalik. Anak itu kenapa tidurnya seperti gangsing berputar.
"Ayah kenapa ada di sini "tanya Melinda lagi dengan suara pelannya agar tidak ada yang mendengarnya juga.
"Diam ini rahasia kita berdua. Jangan pernah ada yang tahu jangan beritahu Mama dan juga kakak kamu Melisa diam ya kalau Ayah ketiduran di sini bisa jaga rahasia kan Melinda"
__ADS_1
Melinda memasang wajah polosnya, bingung kenapa tidak boleh berbicara dengan Mamanya "Kenapa seperti itu"
"Memangnya kamu mau nanti ayah ditendang oleh mamamu, cukup kita berdua saja yang tahu ya jangan ada yang tahu lagi" Adnan juga berusaha tak bicara keras-keras takut dua perempuan galak ini bangun.
"Emm, bagaimana ya aku tak bisa_"
"Nanti akan Ayah belikan mainan yang banyak, setuju kan " Adnan langsung menyela kata-kata dari anaknya itu.
"Baiklah aku setuju"
"Kembalilah tidur di samping ibumu, ayah akan keluar dulu dan melihat apakah kita akan segera sampai"
Melinda dengan patuh mengikuti apa kata-kata dari Ayahnya, dia kembali tidur di samping mamanya sedangkan Adnan keluar dari kamar. Adnan tidak mau sampai nanti Ayana marah-marah dan tidak mau lagi dekat dengannya atau sampai tiba-tiba Ayana pulang sendiri itu kan gawat sekali.
Semoga saja Melinda bisa menjaga rahasianya dan Melisa juga tidak tahu kalau dirinya ada di sana, ya meskipun semalam dia sempat membuka kedua bola matanya.
Saat Adnan keluar dari kamar itu, sudah ada pramugari yang memberitahu kalau mereka sebentar lagi sudah akan sampai. Adnan bernafas lega saat melihat jam tangannya ternyata sudah pagi, nyenyak sekali tidurnya ini tak biasanya kan Adnan seperti ini.
Adnan sepertinya akan sering sering mengajak anak-anak tidur bersama, nanti setelah Ayana luluh dan mau menikah lagi dengannya baru tidur berempat.
...----------------...
Kamila masih belum mau turun dari dalam mobil. Rio masih membujuknya, Rio juga tidak bisa memaksanya. Rio takut nanti Kamila malah akan tidak mau lagi dengannya, tahu sendiri kan Rio sangat sulit mengambil hati Kamila, sampai-sampai Kamila bisa sedekat ini kan dengannya itu sangat sulit sekali. Perjuangannya sangat panjang sekali.
"Ayo kita turun kenapa kamu masih di dalam, kita kan akan bertemu dengan ibu hanya sebentar ayah janji hanya sebentar saja tidak akan lama"
"Tapi apakah Ibu tidak akan marah dengan Kamila. Apakah ibu tidak akan membentang Kamila. Kamila takut nanti Kamila masuk ibu malah marah-marah dengan Kamila seperti biasanya, kalau Kamila rewel pasti ibu akan membentak Kamila dan menyuruh Kamila untuk keluar"
"Tidak akan ada ayah di sini, Ayah ada di samping kamu jadi ibu tidak akan mengusir kamu. Ayo turun dan kita bertemu dengan ibu, hanya sebentar saja ayah janji itu tak akan lama "
Kamila merentangkan kedua tangannya untuk diturunkan, Rio bergegas melakukannya dia tidak mau sampai Kamila nanti tidak mau turun lagi. Pasti akan sulit lagi membujuknya.
Mereka berdua berjalan masuk kedalam rumah, rumah sangat sepi sekali Rio juga bingung ke mana ayahnya Fira. Katanya tadi menyuruh Rio untuk datang kemari tapi tidak ada.
"Pak Rio. Bapak sudah menunggu di taman belakang" beritahu pelayan yang ada disana.
"Baiklah, aku akan pergi kesana sekarang"
Rio melangkahkan kakinya ke belakang rumah Fira. Rio sudah tahu tata letak rumah ini, ya karena Rio dulu pacarnya Fira kan dan dia sering masuk keluar rumah ini bahkan Rio sering seperti pencuri masuk rumah ini.
Kalau dipikir-pikir memang konyol sekali kelakuannya itu sampai-sampai Rio berpikir kalau itu adalah kelakuan yang sangat memalukan. Saking ingin bertemu dengan Fira Rio sampai melakukan hal itu, karena memang Fira waktu itu sangat sulit untuk ditemui oleh Rio.
__ADS_1