Aku Bawa Mereka

Aku Bawa Mereka
Bab 87


__ADS_3

"Kamila ayo kita harus berangkat sekolah, kamu harus sekolah. Guru kamu juga bilang kemarin kalau kamu tak fokus dalam belajar. Jangan seperti itu Kamila, bukanya kamu sendirikan yang mau sekolah sekarang kenapa menjadi tak semangat seperti itu "


"Kamila tidak mau sekolah di sana, Kamila mau di tempat yang ayah waktu itu masukkan Kamila. Kamila tidak suka tempat itu. Kamila mau sekolah yang lama saja, kenapa juga Kamila harus pindah sekolah "


Karena tepatnya sih Kamila jadi tidak bisa menghubungi ayahnya, karena guru-gurunya tidak tahu kalau ayahnya itu bukan Paman Rio, ayahnya itu Ayah Adnan jadi sulit kan untuk menghubunginya.


"Kamila ingin pulang bersama Ayah saja paman, Kamila akan lebih bahagia kalau bersama Ayah. Kamila tak suka disini Kamila ingin ikut Ayah saja"


"Sama saja, aku mau kamu sekolah di sana agar dekat dengan kantorku, agar aku dekat untuk menjemputmu. Ayo Kamila jangan membuat semuanya menjadi rumit. Sama saja kok di sana juga banyak teman kan, tidak ada yang memusuhi mu di sana kan. Jadi jangan banyak merengek kamu tak akan pernah kembali pada Adnan sampai kapan pun. Aku adalah Ayahmu maka kamu harus tetap tinggal bersamaku "


"Tidak mau, aku hanya sudah suka dengan sekolah yang dulu, meskipun itu jauh dari tempat kerjamu Paman tapi aku suka tempat itu. Aku tidak mau sekolah kalau masih tetap di sana, aku akan mogok sekolah saja menyebalkan sekali kamu ini ya tak mau mengikuti apa kemauanku, kalau bersama Ayah apapun akan dituruti "


"Kamila bisa tidak sehari saja kamu tidak membuat ayah pusing seperti ini. Ayah sudah memberikan kamu sekolah yang nyaman, agar kamu juga pulang dekat ke kantor ayah. Agar Ayah juga dekat untuk menjemput kamu jangan membuat Ayah makin pusing ya. Ayu berangkat sekolah sekarang dan ayah juga sudah siapkan bakal kamu" Rio terus saja mencoba untuk tenang dan tak terbawa emosi.


Satu minggu ini Rio benar-benar diuji kesabarannya dengan tingkah Kamila yang makin kemari makin aneh, Kamila makin banyak membantahnya, makin banyak tidak mau sekolah, banyak permintaannya sedangkan pekerjaan Rio sangat menumpuk sekali. Rio benar-benar tidak bisa mengurus semuanya sendiri kalau terus seperti ini, Rio bisa-bisa tak bekerja hanya untuk mengurus anak yang satu ini.


"Kalau begitu kembalikan Kamila saja pada ayah, Kamila lebih baik bersama ayah saja. Kamila suka bersama ayah, jika Paman sudah lelah dengan Kamila kembalikan saja Kamila pada ayah. Kamila akan lebih nyaman bersama ayah daripada di sini" Kamila tersenyum senang saat mengatakan semua itu.


Rio langsung menarik tangan Kamila, dia tidak mau mendengar ocehan Kamila lagi. Rasannya muak sekali setiap hari itu saja yang dibahas tak ada yang lain "Paman aku tidak suka ditarik-tarik seperti ini, lepaskan sakit ini sakit sekali. Kamu kenapa sangat kasar sekali aku tak suka dengan paman. Paman sangat kasar padaku lepaskan tanganku paman lepaskan "


Rio langsung mendudukkan Kamila dan memasangkan sabuk pengamannya. Lalu dia masuk ke dalam mobil. Kamila sudah menangis mendapatkan perlakuan seperti itu dari Paman Rio. Kamila sudah sangat ingin menghubungi ayahnya, kakeknya atau neneknya rasanya tidak enak tinggal bersama Paman Rio banyak sekali aturannya.


Kamila jenuh kalau harus terus menunggu paman Rio bekerja, lalu nanti pulang malam dan selalu begitu setiap harinya tak ada berubahnya. Kamila tak suka dengan paman Rio.


"Kamu jangan cengeng meskipun kamu seorang perempuan kamu tidak boleh cengeng seperti ini Kamila. Aku tidak suka anak cengeng maka tersenyumlah seperti biasanya. Saat kamu bersama Adnan selalu bahagia, jangan membuat aku pusing seperti ini hanya karena kamu ingin terus pulang pada Adnan. Sudah aku beritahukan kalau aku ini ayahmu Adnan itu bukan ayahmu. Tolonglah jangan membuatku makin marah padamu Kamila jangan memancingku untuk memukulmu nantinya "


"Tapi tetap saja aku lebih nyaman bersama ayah, meskipun kamu Ayahku tetap saja aku tidak bisa merasakan kalau kamu memang benar-benar ayahku. Aku dari kecil bukan bersamamu kamu begitu asing bagiku, aku tidak suka dengan kamu. Aku benar-benar tak nyaman "


Rio memukul setirnya dengan sangat kencang" Aku muak dengan setiap kata-katamu Kamila, aku mencoba sabar untuk menghadapi kamu tapi kamu selalu saja mengujiku dengan berbagai hal. Tolong jangan membuat aku untuk kasar padamu" Rio memegang setirnya dengan erat sekali.


Kamila yang ketakutan akhirnya diam, dia tidak berbicara apa-apa lagi hanya tangisnya saja yang terdengar. Kamila sungguh sangat takut kalau Paman Rio seperti itu, mengingatkan Kamila pada ibunya yang selalu marah padanya seperti ini.


Kamila langsung turun dari dalam mobil saat sudah ada di depan sekolah. Kamila masuk ke dalam kelas tapi sebenarnya dia akan pergi. Akan kabur tidak mau dia di sini.


Setelah ayahnya pergi meninggalkannya, Kamila berlari ke arah luar sekolah. Sebenarnya Pak satpam tidak melihatnya, untung saja pak satpamnya sedang mengobrol, jadi Kamila bisa lari dengan cepat dan pergi dari sekolah ini.


Saat sudah ada di pertengahan jalan Kamila bingung harus pergi ke mana. Kamila belum pernah keluar rumah sendirian seperti ini, biasanya diantar oleh sopir atau tidak dengan ayahnya. Kamila duduk di sebuah halte melihat ke sana kemari harus mengambil jalan yang mana ya.


"Jalan ke rumah ayah itu ke mana ya. Aku bingung sekali, aku ingin pulang aku tidak mau di sini. Aku harus bicara bertemu dengan Ayah "


Kamila kembali bangkit dan dia berjalan lagi. Rasanya lelah sekali Kamila terus mencari keberadaan ayahnya itu, ingin menelpon tapi pakai apa meskipun Kamila tahu nomor telepon ayahnya tapi dia tidak punya ponsel ayahnya tidak memberikannya waktu itu. Paman Rio juga sama tidak memberikannya ponsel.


Paman Rio pasti akan marah jika Kamila ingin pinjam ponselnya hanya untuk main games saja. Paman Rio itu sangat pelit sekali, dalam hal apapun paman Rio itu pelit tidak seperti Ayah yang selalu saja memberikan apa yang dirinya mau.


...----------------...


"Toko kamu begitu ramai Ayana, nenek begitu senang sekali membantumu seperti ini"


Ayana tersenyum dan mengajak neneknya Adnan untuk beristirahat dulu "Nenek jangan terlalu capek, nenek harus banyak istirahat dari tadi nenek begitu bersemangat untuk menghias bunga-bunga itu. Nenek jangan sampai kelelahan ya "


"Ya karena nenek suka sekali Ayana. Sudah lama tidak seperti ini, Ayana bila nanti nenek pulang kamu harus selalu ngabarin nenek ya jangan sampai kamu menutup-nutupi apa-apa lagi dari nenek. Terbuka sama pada nenek dalam masalah apapun itu jangan ada yang disembunyikan dari nenek ya "

__ADS_1


Ayana langsung menganggukan kepalanya dengan bersemangat, Ayana tidak akan merahasiakan apa-apa lagi dari nenek"Tentu Ayana tidak akan merahasiakan apa-apa lagi pada nenek. Ayana akan terbuka semuanya pada nenek, lalu kenapa nenek mau pulang apa nenek tak betah tinggal bersama Ayana. Padahal Ayana sudah senang ada nenek dirumah "


"Bukan begitu nenek sangat senang tinggal bersamamu. Tapi nenek ada pekerjaan, nenek tidak bisa meninggalkan pekerjaan itu begitu saja. Nenek pasti akan kembali lagi ke mari untuk menengok mu dan juga anak-anakmu. Nenek juga pasti akan sangat senang sekali saat datang kemari. Nenek juga suka dengan anak-anakmu itu yang baik sekali dan lucu-lucu. Nenek tidak menyangka akan mempunyai cicit seperti mereka yang ceria dan pintar-pintar"


"Memangnya pekerjaan apa nek kalau boleh Ayana tahu, nenek kan seharusnya beristirahat bukannya bekerja seperti ini. Nenek seharusnya sekarang menikmati masa tua nenek bukannya malah bekerja nek "


Nenek mengusap rambut Ayana dengan lembut "Ini semua demi kebaikanmu dan juga anak-anak, nanti juga kamu akan tahu. Nenek harus mengurus semuanya kamu di sini fokus saja dengan anak-anak, nenek yakin Adnan tidak mungkin mengecewakanmu lagi. Kalau sampai itu terjadi nenek tidak akan pernah tinggal diam. Sepertinya Adnan juga sungguh-sungguh denganmu jadi nenek tak usah khawatir tentang apapun lagi Ayana"


"Nenek juga sudah melihat keadaanmu dan kamu baik-baik saja sayang. Nenek senang saat melihat kamu seperti ini. Bisa keluar dari masalahmu itu, nenek tahu itu sangat tak mudah sekali untuk kamu jalani"


"Semoga saja nek Adnan bisa aku percaya. Aku hanya ingin yang terbaik untuk anak-anak aku tidak mau sampai anak-anak menangis karena melihat orang-orang mempunyai seorang ayah, sedangkan mereka tidak. Aku tidak mau egois di sini aku harus bisa membuka hatiku. Aku sudah memaafkan Adnan, tapi aku juga tidak bisa kembali padanya biarkan kisah kami ini tenggelam di dalam masa lalu, anak-anak harus penuh dengan kasih sayang kan"


"Meskipun aku tak bersama lagi dengan Adnan tapi aku yakin kami akan bisa mengasuh anak-anak dengan baik "


"Tentu saja, tapi nenek berharap lebih padamu Ayana. Semoga saja kamu bisa membuka hatimu lagi. Seperti dulu kamu menerima Adnan saat pertama kali "


Ayana hanya tersenyum kecil saja, karena dalam fikirannya Ayana pun tidak terpikirkan untuk membuka hati untuk siapapun itu, termasuk Adnan tidak mau terluka lagi.


Ayana tidak mau disakiti lagi, apalagi Ayana sekarang mempunyai anak, Ayana tidak mau memperlihatkan kesakitannya itu pada anak-anaknya. Ayana dengan sekuat tenaga akan membentengi hatinya untuk tidak bisa terbuka oleh siapapun, sampai kapanpun itu.


Ayana lebih baik sendiri seperti ini, mengurus anak-anak dan fokus dengan hidupnya. Ayana tak akan memikirkan tentang cinta cintaan lagi sudah Ayana rasakan ternyata sangat sakit saat tak dipercaya oleh orang yang kita sayangi.


...----------------...


Rio yang sedang fokus bekerja tiba-tiba saja ditelepon oleh gurunya Kamila. Rio sampai mengerutkan keningnya, ada apa dengan gurunya Kamila yang menelpon tiba-tiba seperti ini. Aa ada sesuatu yang terjadi tapi Rio yang khawatir dengan keadaan Kamila langsung mengangkatnya tidak peduli dengan pekerjaannya ini.


"Selamat siang pak Rio, maaf kami ingin bertanya apakah Kamila tidak masuk sekolah hari ini karena dia tidak di sekolah. Apakah Kamila baik-baik saja Pak"


"Masuk, malahan aku mengantarkannya dia sudah masuk ke dalam kelasnya kamu yakin Kamila tak ada. Coba kamu cek siapa tahu dia sedang di kantin atau mungkin di taman sekolah" Rio tak percaya dengan kata-kata gurunya Kamila, karena Rio yakin kalau tadi Rio mengantarkannya sampai sekolah.


"Mana mungkin Kamila tak ada, aku sudah mengantarkan Kamila ke sekolah, aku dengan yakin mengantarkan anak itu ke sekolah sampai dia masuk ke dalam kelas pun aku melihatnya. Kamu jangan main-main denganku, aku sudah membayar mahal disana masa anak kecil seperti Kamila saja tak bisa terpantau. Ada satpam juga kan, lalu dia apa kerjanya kalau Kamila sampai tak ada "


"Maaf Pak kami tidak pernah main-main, memang kenyataannya Kamila tidak ada di sini. Kamila tidak ada di sekolah, Kami berkata jujur pak untuk apa kami berbohong tentang keadaan anak Pak "


Rio langsung mematikan sambungannya. Rio bergegas mencari Kamila "Kemana anak itu, kenapa bisa pergi. Kamila ini benar-benar membuatku pusing saja. Aku harus meminta istriku kembali agar dia juga bisa membantuku untuk mengurus Kamila"


"Pak mau ke mana sebentar lagi kita ada meeting. Pak jangan ditinggalkan itu meeting penting, bapak sudah banyak meninggalkan meeting beberapa Minggu ini "


"Kamu saja dulu yang meeting, anakku hilang. Kamu bilang saja pada mereka aku akan cari anakku dulu. Kamu bisa kan menghandle semuanya, hanya kali ini setelah ini aku tak akan seperti ini lagi "


"Baiklah Pak aku akan menghandle semuanya"


Rio langsung bergegas pergi lagi pikiran sekarang hanya pada Kamila, ke mana anak itu pergi kenapa dia bisa pergi. Padahal Rio jelas-jelas melihat kalau Kamila masuk ke dalam sekolah, tidak mungkin kan Kamila diculik mungkin kalau sampai diculik satpam akan tahu dan Kamila juga akan teriak.


Tak mungkin Kamila dengan sukarela diculik dan dia tak berteriak. Apakah Adnan menjemputnya tapi tak mungkin juga. Adnan sedang sibuk dengan anak-anaknya juga.


...----------------...


Kamila ternyata sekarang sedang ada bersama seorang perempuan, sama masih sekolah dia meminjam ponsel dari perempuan itu dan menelpon Adnan langsung. Kamila ingin segera ditelfon oleh Ayahnya. Pasti Ayahnya akan langsung menjemputnya kemari. Kamila tak perlu jadi nakal lagi kan kalau sudah bersama Ayahnya.


Memang cukup lama untuk menghubungi ayahnya, tapi dalam beberapa panggilan ayahnya langsung mengangkat teleponnya. Kamila langsung berbicara "Ayah tolong jemput Kamila. Kamila tidak betah bersama paman Rio, Kamila ingin pulang Kamila ingin bersama ayah. Kamila tak suka dengan paman Rio yang selalu saja marah-marah dan melarang aku melakukan apapun itu. Aku juga dipindahkan sekolah Ayah, aku tak suka dengan sekolahnya "

__ADS_1


"Kamila kamu di mana. Ini nomor siapa kamu sedang sama siapa "


"Ini punya kakak yang Kamila temui, Kamila kabur Kamila tidak mau bersama paman Rio, tolong Ayah Kamila ingin pulang Kamila tidak bisa bersama paman Rio. Apakah Ayah tega membiarkan Kamila dengan orang lain, Kamila tidak betah Kamila ingin pulang saja Kamila janji akan jadi anak yang baik. Kamila juga akan baik dengan anak-anak dua itu "


"Bisa kamu berikan ponselnya pada Kakak itu, Ayah ingin bicara dulu dengan Kakak ya "


"Tapi ayah akan menjemput Kamila kan, ayah akan datang kemari kan. Dan ayah tak akan membiarkan Kamila bersama paman Rio lagi "


"Kamila berikan dulu ponselnya pada kakak, Ayah ingin bicara dulu ayo cepat berikan ponselnya "


"Baiklah "Kamila dengan pasrah langsung memberikan ponselnya pada orang yang tadi membantunya.


Kenapa Ayahnya tak bilang mau menjemputnya. Apakah Ayahnya sekarang sedang memanjakan dua anak kembar itu sampai-sampai tak mau menjemputnya dari sini. Sungguh mereka berdua itu membuat Kamila harus tersingkir dari samping Ayahnya sendiri.


"Halo "ucapin anak itu dengan ragu, sambil menatap Kamila yang cemberut.


"Bisa kamu jaga Kamila aku akan menelpon orang tuanya. Tunggu saja sebentar lagi ya "


"Baik Pak apa aku harus menunggu di suatu tempat"


"Tidak usah, kamu tunggu saja di sana kirimkan saja alamatmu itu di mana. Nanti aku akan beritahu ayahnya. Terima kasih sudah menolongnya ya"


"Tentu Pak sama-sama, aku akan kirimkan alamatnya sekarang juga "


Kamila melihat kalau kakak itu berhenti menelpon lalu dia bertanya "Kak kenapa teleponnya ditutup, aku kan mau bicara dengan ayah. Apa kata ayah apakah dia akan menjemputku, apakah dia akan datang kemari Kak"


Anak itu bingung mau bicara apa dengan anak kecil yang ada di hadapannya ini, tapi dia hanya menganggukkan kepalanya, dia langsung mengirimkan alamat di mana dia berada bersama Kamila.


Memang tadi saat pulang sekolah tak sengaja melihat anak yang sepertinya kebingungan, makanya dia membawanya ke daerah yang lebih banyak orang tidak sepi seperti tadi.


Ternyata anak ini sedang mencari rumahnya, makanya dia membantunya ternyata dia tahu nomor telepon orang tuanya. Jadi langsung saja dia pinjamkan ponselnya agar cepat saja kan. Kasian anak kecil ini juga seperti sudah sangat kelelahan sekali.


Sedangkan Adnan sendiri langsung menghubungi Rio, Adnan tentu saja kaget tiba-tiba saja Kamila menelpon dengan nomor orang lain, anak itu kabur dari Rio kenapa bisa Kamila sampai nekat seperti itu dan Rio juga kenapa tidak mengawasinya dengan baik.


"Ada apa Adnan, aku sedang mencari Kamila dia tiba-tiba pergi malahan aku sudah mengantarkannya ke sekolah. Tapi entah bagaimana dia bisa tak ada disekolah dan tak ada yang mengetahuinya aneh sekali kan" ucap Rio langsung mengatakan itu.


"Tadi dia menelponku. Dia sedang ada dengan orang lain, kenapa bisa kecolongan seperti itu sebenarnya kamu bisa tidak menjaga Kamila, kalau kamu memang tidak bisa menjaganya kembalikan saja. Aku masih sanggup untuk mengurusnya Rio "


"Jangan seenaknya, dia adalah anakku Adnan, kamu fokus saja dengan tujuanmu untuk mengambil hati anak-anakmu. Kamu saja sekarang belum mendapatkan anakmu kan. Jadi jangan terlalu ikut campur dengan urusan anakku. Fokus saja untuk bisa meluluhkan hati mereka, Kamila adalah anakku dan jangan ikut campur tentang bagaiman aku mengurusnya aku sudah melakukan yang terbaik untuknya. Hanya Kamila saja yang selalu kamu manjakan sekarang menjadi seperti ini kan. Aku tidak mau terlalu memanjakan anak itu "


"Baik aku tidak akan ikut campur, tapi Kamila menelponku dan mengatakan kalau dia tidak betah tinggal di rumahmu. Dan dia minta dijemput olehku. Kamu benar-benar menjaganya dengan benar kan. Kalau kamu tak mau Kamila aku ambil lagi maka urus dia dengan baik "


"Aku benar-benar menjaga Kamila, karena dia anakku bukan anak orang lain. Mana mungkin aku akan menelantarkan anakku sendiri dianya saja yang nakal terus mengingatmu. Nanti juga lambat laun dia tak akan ingat lagi padamu Adnan. Jadi kamu bisa tenang"


"Aku sudah mengirimkan alamat di mana Kamila, tolong jaga dia dengan baik-baik jangan sampai dia kenapa-napa meskipun dia bukan anakku, aku yang dulu mengurusnya aku yang dulu selalu merawatnya, saat dia sakit mau bagaimanapun aku tetap menyayangi Kamila. Rasa sayangku tak akan pernah hilang untuk Kamila "


"Iya aku tahu, kamu pasti sangat menyayangi anakku itu. Terima kasih atas kasih sayang yang telah kamu berikan aku akan merawatnya dengan baik dan aku akan berjanji padamu kalau Kamila tidak akan pernah menelepon mu lagi. Sampai kapanpun bahkan dia tidak akan pernah mengingatmu lagi Adnan, aku janji itu padamu "


Sambungan langsung dimatikan begitu saja oleh Rio. Adnan hanya bisa mengusap wajahnya khawatir dengan keadaan Kamila, bisa-bisanya anak itu pergi ada masalah apa.


Nanti Adnan harus pulang dan menanyakan apa yang terjadi pada Kamila, apa yang sebenarnya terjadi Rio sepertinya sangat membencinya dari kata-katanya saja dia seperti tidak mau Adnan ikut campur dalam urusan ini.

__ADS_1


Adnan tahu Kamila bukan lagi tanggung jawabnya. Tapi tetap saja mau sampai kapanpun Kamila tetap anaknya, Kamila adalah anak yang selama ini dia rawat dengan kasih sayang penuh.


Tak mungkin Adnan melupakannya begitu saja. Adnan begitu memanjakan Kamila, tak pernah Adnan memarahi Kamila jadi wajar kalau Adnan akan terus ingat Kamila sampai kapanpun itu. Adnan akan mengeceknya nanti dari kejauhan.


__ADS_2