
"Kalian ini bagaimana tidak bisa menjaga rumah kontrakanku, kalau saja kemarin tidak ada yang memberitahu aku tidak akan pernah tahu kalau kontrakanku ini kebakaran, daripada nanti makin bertambah saja musibah nya lebih baik kalian pergi dari kontrakanku"
"Tidak tidak tidak kami mohon Bu beri kami kesempatan untuk tinggal di sini. Kami akan memperbaikinya malahan kami akan beli kaca yang baru dan juga mencat ulang, kami tidak akan melakukan itu lagi mungkin kemarin ada orang iseng makanya tiba-tiba seperti itu"
Ibunya Ayana terus saja memohon dari tadi, tak peduli harga dirinya akan turun yang terpenting dirinya masih bisa diam dirumah ini. Mau pergi kemana coba kalau tidak disini. Apalagi baru bayar kontrakan.
"Orang iseng bagaimana tidak mungkin kan orang iseng melemparkan sebuah api ke dalam rumahku, lalu bau minyak tanah juga, aku tidak mau pokoknya. Aku mau kalian pergi dari sini jangan tinggal disini lagi, cari tempat yang lain "
Orang yang punya kontrakan itu melipat tangannya dengan angkuh, dia kemarin diberitahu oleh salah satu tetangga yang ada di sini kalau rumahnya kebakaran pokoknya semua kronologi terjadi diceritakan.
Tentu saja saat tahu dirinya langsung pergi ke sini, mau sampai nanti rumahnya malah kembali diserang nanti, kerugiannya pasti akan sangat besar sekali.
"Kamu ini pasti punya musuh makanya ada yang serang kamu kayak gini, pokoknya sore hari ini rumah harus kosong jangan ada barang-barang kalian lagi'
"Bu tolong beri kami kesempatan, kami sungguh butuh sekali rumah ini, kami janji akan menjaga rumah ini dengan sangat baik sekali, tak akan ada penyerangan seperti itu lagi "
Ibunya Ayana memegang erat kedua tangan pemilik kontrakan itu, sungguh mau pergi ke mana. Dia tidak punya tujuan yang pasti kalaupun mencari kontrakan yang baru di mana yang murah seperti ini, dan kadang dirinya juga nunggak Ibu kontrakannya tak pernah marah hanya memberinya jangka saja.
Tak ada ibu kontrakan sebaik ibu ini. Ibunya Ayana tak akan pernah pergi, mau disini saja.
"Aku tidak peduli pokoknya kamu pergi aku tidak mau sampai nanti rumahku menjadi sasaran lagi. Bangun rumah itu mahal kamu nanti kalau sudah kejadian misalnya rumah saya kebakaran emangnya mau ganti rugi nggak akan mana mungkin, kamu malah akan kabur "
"Bu tolong Bu beri saya kesempatan, sekali ini saja beri saya kesempatan "
"Kesempatan kesempatan terus dari tadi, tidak ada kesempatan. Kamu kan punya anak pulang ke rumah anakmu bukannya anakmu Ayana waktu itu nikah sampai disiarkan di berbagai saluran, pergilah ke rumahnya dia jadi orang kaya sekarang jangan ada di sini aku tidak mau aset yang aku punya ini menjadi korban"
Tangan ibunya Ayana dihempaskan begitu saja, Ibu kontrakannya itu langsung pergi dan menyuruh beberapa orang kepercayaannya untuk dia disini, menunggu sampai keluarga dari ibunya Ayana ini pergi dan meninggalkan rumah.
Kalau misalnya tidak ditunggui yang ada malah akan tetap tinggal, dan akan sulit lagi menyuruhnya untuk pergi dari sini.
__ADS_1
"Bagaimana Ayah kita harus pergi ke mana, aku benar-benar binggung sudah tak ada tujuan yang pasti"
"Seperti yang dikatakan oleh orang itu, kita pergi saja kerumah Ayana. Pasti dia akan membiarkan kita masuk kedalam rumahnya kalau tahu kita diusir seperti ini "
"Sama saja bohong tidak akan pernah bisa masuk, aku yakin itu Ayana tidak akan pernah membolehkan kita masuk pasti dia sudah berkata sesuatu pada suaminya, pasti Ayana sudah mengadukannya "
"Coba dulu mungkin saja dia iba melihat keadaanmu yang membawa barang seperti ini, pasti Ayana akan langsung membuka gerbang rumahnya itu. Kita coba ya, dia tak mungkin menolak ibunya ini "
"Kalau misalnya tidak mau, mau pergi ke mana, kamu juga harus punya tempat yang lain dong "
"akita berkemah saja di depan rumahnya Ayana sampai dia mau memasukkan kita ke dalam rumahnya, kenapa harus dibawa sulit dia juga nanti luluh sendiri kok"
"Ide bagus ayo, aku sekarang sudah bersemangat"
Ibunya Ayana dan juga Ayah tirinya itu segera masuk ke dalam rumah, mereka membereskan barang-barang yang perlu saja, kalau dibawa semua pun sulit nanti akan disimpan di mana. Harus dibawa mengunakan mobil.
...----------------...
"Mama "anak-anaknya itu langsung memeluk Ayana dengan erat.
Mereka baru bertemu dengan Mamanya, karena tadi langsung pergi bersama nenek.
"Kalian sudah pulang dari rumah nenek. Lalu apakah nenek ikut kemari "tanya Ayana karena memang tadi pagi anak-anaknya dibawa oleh nenek.
Katanya mereka akan bermain lagi dengan nenek. Ayana sendiri dia diam di rumah entah kenapa tidak enak badan saja. Bahkan Ayana tidak ikut ke kantor biasanya dia ikut tapi sekarang tidak diam dirumah saja.
"Tentu Mama, Nenek datang kemari dia juga mengantarkan kami Mama mau bertemu dengan nenek dulu " tawar Melisa
"Iya Mama akan bertemu, mama akan ganti pakaian dulu ya sebentar"
__ADS_1
"Iya Mama"
Melisa dan juga Melinda langsung masuk ke dalam kamar Mamanya itu, mereka naik ke atas tempat tidur dan menunggu mamanya yang berganti pakaian tidak butuh waktu lama mamanya sudah keluar dengan pakaian barunya dan turun ke bawah bersama.
Anak-anak kembali berlari meninggalkan Ayana, mereka turun terlebih dahulu.
Saat menuruni tangga Ayana melihat nenek yang sedang meminum teh hangatnya, di sana Nenek sedang melihat para pelayan yang memotong rumput serta membersihkan halaman depan juga.
Memang kalau kemari itulah yang paling nenek suka, melihat orang-orang bekerja dan mengomentari pekerjaannya tapi ya tidak kasar nenek hanya menunjuk kalau itu belum rapi dan tidak sesuai saja dan tidak enak dipandang begitu.
Ayana duduk di samping nenek, pandangan nenek langsung tertuju pada Ayana "Apakah kamu tidak sakit kamu pucat sekali Ayana. Kenapa tidak kedokter saja sayang" sambil mengusap rambut panjang Ayana.
Nenek tadi dapat pesan dari Adnan untuk mengecek keadaan Ayana, katanya dari tadi pagi Ayana mual dan tidak mau diajak ke rumah sakit, maunya tiduran terus makanya nenek datang kemari dan anak-anak juga tadi dirinya bawa dulu.
"Tidak nenek aku hanya kelelahan saja, aku tidak apa-apa aku hanya butuh istirahat sebentar dan sembuh "
"Melisa suruh Rara membawakan teh hangat untuk mama ya"
"Siap nenek buyut akan aku beri tahu "Melisa langsung berlari ke arah dapur dan menemui Bibi Rara. Melisa begitu patuh dengan neneknya tak pernah menolak kalau disuruh.
Suara langkah kaki yang mendekat membuat Ayana dan juga nenek yang sedang mengobrol mengalihkan pandangannya.
"Ayah ayah kamu pulang "teriak Melinda sambil berlari ke arah ayahnya, dan Adnan sendiri langsung berjongkok dan memangku putrinya ini, menciumi pipinya yang makin hari makin mengemaskan.
Ayana juga sampai berdiri saat melihat suaminya pulang, rasanya ingin memeluk suaminya seperti itu tapi di sini ada nenek malu saja kalau tiba-tiba Ayana memeluk Adnan begitu saja. Ada anak-anak juga, kalau ada anak-anak Ayana selalu tidak terlalu berlebihan dengan Adnan.
Ayana hanya bisa diam menunggu suaminya yang mendekatinya, sepertinya Melinda sangat rindu dengan ayahnya itu. Padahal mereka setiap hari bertemu tapi tak masalah, dulu mereka hanya memiliki Ayana saja tapi sekarang mereka sudah punya ayah. Jadi wajar mereka manja sekali pada Adnan.
Melisa juga yang baru datang langsung menyimpan tehnya dan berlari berhamburan ke arah ayahnya, mereka bertiga sekarang berpelukan seperti Teletubbies. Kalau mungkin dulu Ayana tidak memilih kembali dengan Adnan mungkin pemandangan ini tidak akan pernah Ayana bisa lihat.
__ADS_1
Ayana hanya akan bisa terus menjaga jarak dengan Adnan, begitulah memang hidup seperti ini jalannya tidak ada yang tahu Ayana juga tidak pernah berpikir kalau mereka akan kembali rujuk dan satu atap kembali, sesuatu yang awalnya mustahil tapi ternyata bisa dijalani juga.