
"Bibi Rara kamu di mana ambilkan aku minum, aku ini haus. Kenapa tak ada yang memberikan aku air minum, aku ini adalah nona disini kenapa kalian harus disuruh dulu " teriak Kamila dengan melengking m.
Marco yang ada di sana hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan sikap Kamila yang memang tidak berubah dari dulu. Bibi Rara yang dipanggil langsung tergopoh-gopoh dan dia juga kaget Kamila disini, tadi tak ada Kamila kan.
"Nona kamila ada disini ?"
"Kenapa memangnya kalau aku ada di sini, ini kan rumah Ayahku berarti aku kapanpun boleh ada di sini. Ini juga rumahku juga, kenapa sih semua orang bertanya kalau aku ada di sini memangnya salah, ambilkan aku minum cepat, jangan banyak bertanya terus ah "
"Baik nona akan saya ambilkan sekarang"
Bibi Rara melihat kesana kemari mencari keberadaan Melisa ke mana anak itu, Bibi Rara sudah dititipkan oleh ayahnya. Rara mendekati Marco terlebih dahulu "Nona Melisa di mana kenapa dia tidak ada, tadi dia ada disini kan "
"Dia masuk ke dalam kamarnya, bonekanya di patah-patahkan oleh anak nakal itu, aku harus menelpon Pak Adnan dulu. Kamu urus tuh anak menyebalkan itu, aku ta mau urusan "
"Baik Marco"
Bibi Rara masuk ke dalam dapur dan segera membuatkan minuman untuk Kamila, dia tidak menyangka kalau Kamila akan kembali lagi ke mari soalnya bosnya juga tidak bicara apa-apa. Tadi hanya menitipkan Melisa saja.
Marco menatap Kamila yang sedang mengangkat kakinya dan juga menonton TV sambil tertawa terbahak-bahak. Marco hanya bisa menggelengkan kepalanya saja memang ini bibit-bibit Fira, memang sama dengan ibunya tidak tahu malu.
Marco keluar rumah dan menelpon Adnan "Ada apa Marco aku sudah menyuruhmu bukan untuk menunggu Melisa. Aku ingin bicara dengan anakku sedang apa dia sekarang, apa masih main bersama Rara "
"Maaf pak di rumah ada Nona Kamila, dia datang kemari dan membuat boneka Nona Melisa rusak, Nona Melisa tadi langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya, tadi aku sudah mengeceknya tapi pintu masih dikunci Nona Melisa juga tadi membawa bonekanya pergi"
"Apa, kenapa bisa ada Kamila ke rumah ke mana Rio, kemana ayahnya itu sampai-sampai anaknya nyasar kerumahku "
"Aku juga tidak tahu pak, tiba-tiba saja nona Kamila datang dan marah-marah pada Nona Melisa, berbicara kalau Nona Melisa tidak berhak ada di rumah ini dan anda adalah ayahnya bukan Ayah Nona Melisa. Mereka tadi sedikit bertengkar tapi setelah melihat mainannya dirusak Nona Melisa langsung naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamarnya"
Terdengar helaan nafas Adnan di sana, kenapa harus datang Kamila diwaktu yang tak tepat. Bukan apa-apa Adnan sedang mendekati Melisa, dan mengambil hati anaknya. Adnan ingin Melisa menerimanya dan juga menyayanginya. Melisa sudah berubah bahkan memangilnya ayah. Jangan sampai gara-gara ini Melisa jadi dingin lagi padannya.
"Naik ke lantai atas aku ingin bicara dengan anakku, aku akan membujuknya pasti dia juga belum makan"
"Baiklah Pak sekarang aku akan menemui Nona Melisa"
Marco berjalan dengan cepat ke arah lantai 2. Dia juga mengetuk pintu dengan perlahan "Melisa ini paman Marco, Ayah menelpon katanya ingin berbicara dengan Melisa, apakah Paman boleh masuk kedalam kamar"
Tiba-tiba saja terdengar bunyi kunci pintu yang dibuka, terlihat di sana Melisa yang sedang murung, sambil memperlihatkan bonekanya "Paman Marco lihatlah aku tidak bisa memperbaiki boneka ini, bagaimana apakah ayah akan marah"
Tiba-tiba sambungan telepon berubah menjadi video call. Marco segera memberikan ponsel itu pada Melisa "Coba Melisa berbicara dengan ayah, jelaskan semuanya pada ayah, pasti ayah akan mengerti"
Melisa membawa ponsel itu ke arah tempat tidur dan duduk sambil menundukkan kepalanya "Kenapa dengan Melisa, kenapa murung seperti itu. Maaf ya Ayah tidak bisa pulang tadi ayah langsung ke kantor karena ada meeting, makanya Ayah menyuruh Paman Marco untuk ke rumah menemani kamu apa sudah makan sayang "
Melisa menggelengkan kepalanya "Aku mau pulang saja ke rumah, aku mau ke Mama saja. Aku lebih baik bersama mama dan Melinda saja, aku tidak mau disini lagi ayah "ucap Melisa sambil menatap ayahnya.
"Nanti kita pulang sama-sama kenapa tiba-tiba mau pulang, apa ada masalah "
"Ini bukan rumahku benar kata Kamila, seharusnya aku tidak di sini. Aku ingin pulang saja maaf juga untuk bonekanya rusak, boneka Barbie nya dirusak oleh Kamila bukan olehku. Lihat aku sudah mencoba untuk memperbaikinya ayah tapi sulit aku tidak bisa, tanganku sakit saat akan memasukkan tangannya sulit sekali "
__ADS_1
Melisa juga sampai menangis dia mengusap air matanya, dia tidak mau terlihat cengeng di depan ayahnya. Nanti ayahnya malah memberitahu mamanya. Melisa tak mau membuat mamanya itu khawatir dengan keadaannya disini.
"Hei kenapa begitu. Itu adalah rumah kamu rumah kita semua, rumah Ayah, rumah mama dan rumah Melinda juga dan rumah Melisa juga. Jangan pernah dengarkan kata-kata Kamila memang dia seperti itu, untuk masalah boneka Barbie tidak usah sampai kamu perbaiki. Nanti ayah akan belikan yang baru Ayah tidak marah karena boneka itu rusak, kita belanja mainan sama-sama ya "
"Tapi sayang, kata Mama juga jangan merusak mainan, kita harus menjaga mainan kita dengan baik tidak boleh sampai merusaknya seperti ini. Lihat bonekanya sudah tak punya tangan dan kaki"
"Ya sudah nanti malam kita coba perbaiki sama-sama ya, kamu lebih baik sekarang makan dulu ini sudah jam makan siang dan kamu harus makan"
Melisa langsung menggelengkan kepalanya lagi "Aku tidak mau turun ke bawah, Kamila pasti masih ada di sana, aku tidak mau bertengkar aku bukan anak kecil yang harus bertengkar seperti tadi, aku takut malah melukai Kamila nantinya "
Adnan tersenyum mendengar kata-kata anaknya, Melisa ini memang seperti orang dewasa dia seperti terjebak dalam tubuh anak kecil saja.
"Ya sudah nanti Ayah suruh Paman Marco untuk membawa makanan ke atas bagaimana, apakah kamu setuju "
"Memangnya Ayah pulang kapan, kita tidak bisa makan bersama ? Bisakah Ayah bicara pada Kamila kenapa dia begitu kasar kalau berbicara dengan orang lain sampai berteriak-teriak, lalu bagaimana kalau nanti dia berbicara seperti itu pada Melinda pasti Melinda akan sangat sedih sekali "
"Nanti ayah akan coba berbicara dengan Kamila, kamu tidak usah keluar kamar jika takut dan jangan pernah memikirkan lagi tentang boneka nanti kita perbaiki sama-sama. Ayah janji akan membantu kamu membuat boneka itu bagus lagi "
"Aku tidak takut dengannya Ayah, hanya saja aku kesal padanya aku tidak mau marah-marah aku tidak mau melukai orang lain. Aku sudah janji pada Mama kalau aku tidak akan pernah melukai siapa-siapa. Aku tidak akan membentak siapa-siapa, makanya aku dari tadi diam saja dia sudah sangat keterlaluan sekali. Aku sudah sangat geram sekali "
"Iya Melisa tidak takut, ayah akan cepat pulang Ayah tidak bisa makan siang dengan Melisa Ayah harus ada meeting lagi. Setelah itu nanti ayah langsung pulang kita langsung perbaiki bonekanya "
"Benar ya langsung pulang tidak kemana-mana, ayah juga segeralah makan "
"Iya Ayah nanti langsung pulang, nanti makan malam kita makan malam di luar. Kita membeli makanan kesukaan Melisa, ayah nanti makannya setelah meeting ya "
"Ya sudah Ayah matikan dulu ya, kamu baik-baik di sana mainkan saja boneka Barbie yang lain masih banyak kan, ayah membeli banyak mainan untuk kamu dan itu untuk kamu mainkan semuanya, jadi jangan pernah ragu untuk mengambilnya minta tolong Paman Marco untuk mengambilkannya"
"Iya ayah nanti aku akan ambil, sekarang aku sedang tidak mau bermain apa-apa dulu aku kasihan dengan boneka Barbie ini, dia teraniaya badannya terpisah-pisah seperti ini. Kasian nya "
"Baiklah nanti kalau sudah mau main, main lagi. Ayah matikan ya dadah Melisa"
Melisa langsung melambaikan tangannya pada ayahnya, sambungan pun langsung terputus Melisa memberikan ponsel ini pada Paman Marco "Paman Marco terima kasih karena kamu sudah meminjamkan ponselmu ini untuk aku berbicara dengan ayah"
"Iya sama-sama Melisa. Mau makan di luar saja agar kita bisa leluasa, mungkin di restoran "
Melisa berpikir sejenak, tapi di rumah ayahnya ini banyak makanan banyak yang mereka masak, kalau mereka makan di luar kan sayang makanan yang ada di sini.
Melisa lagi-lagi menggelengkan kepalanya "Tidak Paman, lebih baik kita makan di sini saja di sini kan juga masak banyak. Kasihan juga orang yang sudah memasak makanan kalau tidak dimakan, kita makan di sini saja ya paman, makan di kamar saja aku sedang tidak mau bertengkar dengan siapa-siapa, aku tak mau menghadapi anak cengeng itu. Pasti dia nanti akan mengadukan aku pada ayah dengan kata-kata yang dilebih-lebihkan "
"Baiklah Paman akan turun ke bawah dan mengambil makanan untuk kita. Melisa tidak apa-apa kan ditinggalkan oleh Paman kalau takut Kamila datang kemari kunci saja pintunya, nanti paman akan mengetuk pintu lagi "
"Iya paman akan aku kunci saja pintunya"
Marco mengusap rambut Melissa dengan sayang, entah kenapa Melisa Melinda dan juga Kamila sangat berbeda sekali perbedaannya itu sangat jauh sekali. Marco dulu sangat sayang dengan Kamil karena apa, karena dia tidak disayangi oleh mamanya dia selalu disakiti oleh mamanya, tapi setelah melihat sikap Kamila yang sekarang yang angkuh Marco malah jadi merasa Kamila sudah berubah saja.
Marco menutup pintu dan terdengar lagi suara pintu yang dikunci, Marco segera turun ke lantai bawah di sana ada Kamila yang sedang marah-marah pada Rara, Marco yang sudah jengah mendengar itu mendekati Kamila.
__ADS_1
Sungguh anak ini hanya membuat masalah saja dirumah, disini sudah tenang tak ada gangguan sedikitpun, sekarang malah datang Kamila yang mengklaim segalanya.
"Sebenarnya apa sih maumu Kamila, tiba-tiba datang kemari dan marah-marah pada pelayan. Kamu lebih baik pulang kerumah Rio saja, sangat berisik sekali kamu ini "
"Panggil aku nona, seperti biasa Marco panggil aku nona, jangan kurang ajar seperti itu ya dengan aku "
"Ya ada apa kamu datang kemari Nona Kamila ada apa. Paman Adnan tidak ada di sini, dia sedang bekerja lebih baik kamu pulang ke rumah ayahmu. Sana cepat diluar sudah ada supir mu yang menunggu tak baik lama-lama dirumah orang "
Kamila langsung melipat tanganku "Ayah Adnan itu adalah Ayahku. Kamu ini bagaimana sih aku dari dulu tinggal di sini cuman gara-gara datangnya kedua anak kembar itu aku harus pergi ke rumahnya Ayah Rio. Aku akan minta lagi pada ayah Adnan untuk tinggal di sini lagi, lihat saja aku akan mengambil kembali ayahku. Aku tidak terima dengan semua yang terjadi, sebaiknya kamu Marco kembalikan saja anak itu pada ibunya "
"Terserah kamu saja, kamu ini masih kecil tapi bicaramu itu sangat tidak sopan "
Marco segera masuk ke arah dapur. Dia meminta pelayan yang lain untuk menyiapkan makanan untuk Melisa dan juga dirinya. Marco menunggu di sana cukup lama dia akan membawa nampannya sendiri saja.
Marco masih bisa membawanya, jadi tak usah dengan pelayan. Marco tak biasa seperti itu.
Saat kembali Marco melewati Kamila, Kamila langsung berteriak "Kamu itu bawa makanan untuk siapa, banyak-banyak sekali pasti untuk Melisa kan untuk apa dia dilayani, dia itu bukan tuan rumah di sini dia itu bukan anaknya Ayah, untuk apa diberi makan juga. Sangat manja sekali dia, kenapa juga tak turun "
"Ahh diam kamu anak kecil, Melisa itu adalah anak pak Adnan yang sah. Dia adalah anak kandungnya sedangkan kamu anaknya Fira dan juga anaknya Rio, kamu itu tidak ada sangkut pautnya dengan Pak Adnan kamu itu bukan anaknya. Dengarkan dengan baik-baik Kamila kamu itu bukan anak dari pak Adnan, kamu hanya betulan saja di asuh olehnya, jadi sadarlah "
Marco yang sudah kesal dengan tingkah Kamila akhirnya berkata kasar seperti itu, Marco ini tidak bisa menahan emosinya, sudah kesal dengan tingkah Kamila, dia itu tak mau menerima kenyataan sekali. Dan Marco juga tak bisa sabar kalau menghadapi anak yang sombong dan angkuh seperti ini.
Mulutnya selalu gatal untuk berkata kasar, kalau tak diberi tahu seperti ini malah akan melunjak nantinya.
Mata Kamila sudah berkaca-kaca tiba-tiba saja dia menangis dengan histeris. Marco yang tidak mau tahu langsung saja naik ke lantai atas tidak peduli dengan Kamila yang menangis seperti itu, memang sudah kenyataannya anak itu harus tahu yang sebenarnya kalau terus dibiarkan dia akan semena-mena.
Anehnya Rio belum datang juga, apakah dia sengaja mengirim anak menyebalkan ini kesini. Marco nanti akan menelponnya selesai makan kalau belum datang juga.
Belum juga Marco mengetuk pintu, pintu sudah dibuka dan Melissa sudah tersenyum ke arahnya "Silakan paman Marco masuk "
Melisa kembali mengunci pintunya dan mendekati meja kecil yang sudah dia siapkan juga, tadi Melisa melihat ada meja lipat dan juga kursi. Sepertinya itu untuk Melisa dan juga Melinda belajar tapi sekarang kan mau makan jadi Melisa menyimpannya di tengah-tengah.
"Kenapa kamu tahu kalau itu Paman "tanya Marco setelah menyimpan makanan mereka berdua.
"Aku tahu kalau itu suara langkah kaki Paman, makanya aku langsung membuka pintunya kalau itu langkah kaki Kamila akan berbeda sekali paman"
"Benarkah kamu bisa menebaknya"
"Iya begitulah paman, aku bisa menebaknya dan benar kan tebakanku. Ayo kita makan Paman sepertinya ini sangat enak sekali. Lihatlah sangat menggiurkan sekali ada udang goreng, makanan kesukaanku. Ya ampun mereka begitu hebat sekali kalau memasak "
Melisa segera duduk dan Marco juga ikut duduk di kursi kecil itu, meskipun aneh untuknya tapi untungnya kursi itu cukup untuk diduduki olehnya dan tidak roboh.
Setelah mereka berdoa bersama, Melisa dan juga Marco segera memakan makanannya dengan lahap, mereka sesekali juga mengobrol Melisa begitu ceria saat makan seperti ini.
Marco juga beberapa kali memfoto kan Melisa yang sedang makan untuk dikirimkan pada bosnya itu, pasti nanti bosnya akan bertanya-tanya apakah benar Melisa sudah makan, daripada nanti Marco tidak punya bukti lebih baik difoto dari sekarang.
Agar Marco aman, bosnya itu kan selalu ingin ada bukti jadi Marco harus punya buktinya.
__ADS_1