
Adnan yang baru saja bangun melihat ponselnya, dan ada beberapa panggilan tak terjawab dari neneknya. Ibu dari ayahnya tak biasannya menelfon. Saat waktu itu Adnan menikah dengan Fira neneknya ini tak setuju tapi karena Adnan ingin membalas apa yang Ayana lakukan jadi dia tetap melaksanakan pernikahan itu.
Adnan segera menelfon nomor neneknya lagi. Takut ada hal yang serius kalau sudah menelfon beberapa kali seperti ini. Pada panggilan pertama langsung diangkat oleh neneknya itu.
"Hallo nek, ada apa aku masih tidur tadi "
"Kamu ini di mana kantor ditinggalkan hanya asisten mu saja yang ada di sini. Sebenarnya di sini siapa bosnya"
Adnan menjauhkan ponselnya karena suara melengking neneknya itu sangat menyakitkan telinganya. Benar-benar diluar dugaan, Adnan tak pernah menyangka kalau Neneknya akan datang ke perusahaan.
"Ceritanya panjang banget nek kenapa Adnan bisa tinggalin kantor. Adnan harus kejar seseorang dan tanggung jawab Nek "
"Tanggung jawab karena apa, kamu udah lakuin apa memangnya sama orang itu. Jangan buat yang aneh-aneh ya Adnan kamu mau nenek pukul ya"
"Adnan udah pernah buat kecewa seseorang nek, pokoknya ceritanya panjang dan sekarang Adnan punya anak kembar"
"Gila kamu hamilin anak siapa, kamu baru saja ceraikan dengan Fira lalu tiba-tiba kamu hamilin anak orang gitu, kamu ini gimana sih Adnan. Nenek udah senang kamu ga sama Fira tapi sekarang kamu mau buat nenek jantungan, kamu mau nenek mati gitu dengan kasih kabar kamu punya anak kembar hamilin siapa kamu ini "
"Bukan gitu nek ceritanya tuh gini_"
Neneknya langsung memotong kata-kata Adnan "Pulang sekarang juga, aku tidak mau tahu ceritakan langsung padaku tidak mau ditelepon seperti ini. Dan aku juga lihat ibumu sepertinya sedang dalam masa pemulihan. Sebenarnya apa yang terjadi di keluargamu ini, nenek sampai tidak dikasih tahu mentang-mentang anak nenek sudah tidak ada. Makanya nenek tidak dianggap ya sama kalian berdua ini "
"Bukan begitu nek, aku tidak mau membuat nenek kefikiran makanya aku lakuin itu, aku tak menceritakan semuanya pada Nenek "
"Pokoknya cepat pulang nenek akan tunggu kamu. Keterlaluan sekali ya kamu ini "
Sambungan langsung diputuskan, Adnan hanya bisa diam melongo neneknya ini sungguh sangat galak seperti Ayahnya. Tak ada bedanya mereka berdua ini, padahal Adnan ingin bicara apa yang terjadi tapi malah dimarahi seperti ini.
Adnan bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi terlebih dahulu, agar lebih segar dan mencukur kumis serta janggutnya yang sudah panjang dan sungguh menganggu sekali, kalau neneknya melihat keadaannya seperti ini akan dimarahi lagi. Bisa-bisa telinga Adnan akan bolong terus dimarahi oleh neneknya yang galak ini.
__ADS_1
...----------------...
Marco hanya diam menundukan kepalanya bingung harus berbicara apa pada nenek yang ada di hadapannya ini. Marko juga kaget tiba-tiba ada yang membuka pintunya dengan sangat kencang, ternyata ini nenek dari Pak Adnan. Marco tahu tapi ini untuk pertama kalinya mereka bertemu.
"Sejak kapan Adnan melakukan ini, kenapa kamu bisa mau "
"Maaf Bu, aku tak bisa menolak mau bagaimanapun Pak Adnan adalah bosku, kalau aku misalnya menolak aku bisa dipecat. Aku masih ingin bekerja disini Bu "
"Anak itu benar-benar ya, masalah apa sebenarnya sampai-sampai dia harus meninggalkan kantor lama dan harus kamu juga yang meeting sana kemari. Kamu tahu ceritanya seperti apa kenapa cucuku sampai pergi seperti itu. Sampai tinggal di tempat yang sangat jauh dari rumahnya"
"Anu Bu anu"
"Anu anu aku ini bertanya padamu jawab yang benar, dan jujur kalau tak jujur aku sendiri yang akan memecat mu "
"Pak Adnan, pernah menikah dengan Nona Ayana lalu mereka memiliki anak dan Pak Adnan sekarang sedang mengajar nona Ayana "
"Ayana ? Pegawai di sini itu kan "
"Baiklah aku ingin mendengar ceritanya langsung dari cucuku itu. Sudah sana kamu kerja lagi, akan aku jewer cucuku itu apa yang dia lakukan pada Ayana sampai-sampai sekarang dia harus mengejarnya. Awas aja kalau dia macam-macam perempuan itu kan sangat baik"
Marco yang takut dia segera pergi dari ruangannya sendiri, entah mau ke mana. karena neneknya Pak Adnan masih ada didalam, takutnya kalau Marco masih ada didalam nanti disembur lagi. Sungguh galak sekali Neneknya Pak Adnan.
...----------------...
Kamila membuka kunci pintu kamarnya tidak ada siapa-siapa kosong. Ini adalah saatnya Kamila untuk menelpon ayahnya.
Kamila tidak mau terus di sini. Kamila ingin dijemput oleh ayahnya, Kamila berlari ke arah telepon rumah untung saja dia tahu kan nomor telepon ayahnya. Tapi kenapa tak diangkat oleh Ayahnya itu. Kamila begitu ketakutan ada dirumah ini sendirian.
Kamila berlari kearah pintu depan tapi dikunci. Tentu saja itu membuat Kamila menangis, Kamila ingin pulang tak mau disini perutnya juga sangat lapar sekali.
__ADS_1
"Ayah aku mau pulang, aku mau pulang. Aku tidak betah disini "
Kamila menggedor-gedor pintu rumah itu, tapi percuma tak akan ada yang membukanya. Kamila sungguh ingin keluar, Kamila melihat kearah jendela tak ada orang rumahnya digerbang.
"Ayah aku takut, aku ketakutan Ayah tolong aku Ayah"
...----------------...
Melisa dan Melinda sekarang sedang istirahat, mereka duduk disebuah taman yang tak jauh dari sekolahnya. Masih lingkungan sekolah juga. Melinda mencolek tangan Kakaknya.
"Kenapa kamu mau ini "sambil menyodorkan makanannya pada adiknya.
Melinda mengelengkan kepalanya, Melinda menunduk temannya yang sedang didatangi oleh Ayah ibunya entah ada apa.
"Kenapa dengan mereka"
"Kenapa kita tidak bisa seperti itu kakak, kenapa ayah tidak ada. Paman Fabian bukan Ayah kita kan" tanya Melinda sambil menatap Kakaknya lagi dengan wajah yang murung.
Melisa tiba-tiba ingat dengan Adnan yang berbicara kalau dia adalah ayah mereka. Tapi Melisa tak mau Paman Adnan itu sangat menyebalkan dan jahat sekali membuat Mamanya selalu menangis. Melisa tak mau lagi melihat wajah Paman Adnan.
"Kita kan punya Mama, jangan bahas-bahas tentang ayah di hadapan Mama "
"Tapi aku ingin seperti dia, aku ingin diantarkan sekolah oleh Ayah, aku ingin jalan-jalan bersama Ayah. Aku ingin disuapi oleh Ayah, aku ingin dimanja oleh Ayah seperti dia lihat " kembali Melinda menunjuk temannya itu.
"Cukup Melinda jika kamu terus merengek ingin Ayah maka cari saja sendiri. Aku tidak mau Ayah aku tidak mau, aku tidak suka Ayah cukup bersama Mama saja" teriak Melisa dengan marah.
Melisa meninggalkan adiknya. Melisa berlari kearah dalam kelas. Melinda sendiri masih diam sambil menangis.
Guru yang memang dari tadi mengawasi semua anak-anak didinya segera menghampiri Melinda yang menangis. Berjongkok dihadapannya dan mengusap rambutnya.
__ADS_1
"Jangan menangis ya, ayo ceritakan pada ibu apa yang terjadi"
Melinda hanya mengelengkan kepalanya, Melinda memeluk ibu gurunya dengan masih menangis. Melinda hanya ingin Ayah saja tapi Kakaknya malah marah dan pergi meninggalkannya begitu saja.