
"Apa yang sedang kamu lihat di leher Ayah Melisa, kenapa kamu begitu fokus sekali "
Melisa memegang jakun Adnan "Ini apa kenapa bergerak-gerak, apa Ayah menelan permen dan menyimpannya di sini apakah tidak sakit menelan permen ayah. Apakah aku bisa melakukannya juga ayah "
Adnan tertawa dan mencium pipi Melisa "Kamu tak pernah melihatnya, bukannya Paman Fabian dan Paman Marco juga punya kenapa kamu tidak melihat ke mereka juga dan bertanya pada mereka juga "
"Benarkah Paman Fabian juga punya, tapi punya ayah kenapa begini. Aku benar-benar baru menyadarinya, kenapa aku tak punya mama juga sama tak punya uang seperti ini "
"Begini gimana, laki laki dewasa memang akan mempunyai jakun seperti ini, bukan permen yang ayah telan lalu bergerak di sini, kalau ayah menelan permen ya langsung turun tak mungkin menyangkut disini Melisa "
"Jakun ? "Melisa juga masih merasa aneh, lalu Adnan membawa tangan Melisa untuk memegang jakun itu dan berbicara.
Melisa langsung melepaskan tangannya "Kenapa begini, kenapa gerak-gerak sangat aneh ayah, apakah ini tak sakit ayah "
Adnan yang gemas pada Melisa kembali menciumi kepalanya"Sama sekali tak sakit Melisa, memang seperti ini lah laki-laki dewasa nanti kamu bisa lihat paman Marco juga punya. Ayah akan mandi dulu terlebih dahulu nanti setelah kamu tidak gerah lagi langsung mandi ya, pakaian akan Ayah sediakan untuk kamu mandi di kamar ayah"
"Baiklah ayah"
Melisa turun dari pangkuan ayahnya dan duduk diam sambil menonton TV, tak lama setelah ayahnya pergi bi Rara kembali dengan membawa minuman dingin. Melisa sudah sangat tergiur sekali dengan minuman itu pasti akan dingin di tenggorokannya.
"Terima kasih bibi Rara ini aku punya lolipop buat bibi 1. Ayah tadi membawakannya untukku, aku tak mungkin memakannya dua-duanya aku tidak mau gigiku nanti jelek "
Rara sangat canggung, untuk pertama kalinya dia diberi makanan oleh majikannya, maksudnya oleh anak majikannya "Buat kamu saja Melisa, siapa tahu nanti malah kamu masih mau kan "
Melisa menggelengkan kepalanya "Tidak ini untuk Bibi, nanti kalau ada Melinda pasti dia akan memberi banyak coklat pada Bibi. Ayo ambil Ayah membelikan aku 2 permen untuk Bibi 1 untuk aku satu"
Rara tersenyum dan menganggukkan kepalanya dia mengambilnya "Terima kasih Melisa"
"Sama-sama Bibi Rara. Terima kasih juga untuk minuman dinginnya aku sekarang segar sekali, minumannya enak sekali "
"Sama-sama Bibi ke dapur dulu ya kalau butuh sesuatu tinggal bilang saja pada Bibi, nanti Bibi akan membantunya"
"Iya Bibi"
__ADS_1
Melisa kembali fokus pada tontonannya dan juga minuman dinginnya, rasanya segar sekali nanti sebentar lagi Melisa akan mandi. Sekarang Melisa ingin istirahat dulu saja, kakinya begitu lelah berlari mengelilingi rumah.
Melisa kira tidak akan melelahkan seperti ini, terlihat seperti kecil tapi saat dikelilingi besar sekali rumah ini. Seharusnya Melisa tadi berpikir rumahnya saja di dalamnya saja sudah besar. Ya pasti kalau Melisa mengelilinginya akan sangat melelahkan sekali.
...----------------...
"Terima kasih Ayah akhirnya boneka Barbie aku bisa kembali utuh lagi, aku kira boneka Barbie aku ini akan tidak bisa kembali lagi, aku senang sekali. Boneka ini bisa aku pajang lagi nanti bersama yang lainnya "
Melisa memeluk boneka Barbie nya yang sudah diperbaiki oleh Adnan, Melisa juga menyisir rambutnya yang sempat berantakan karena ayahnya memegang kepalanya tadi.
"Masih banyak boneka yang lain, kenapa tidak memainkan dulu yang lain saja malah menunggu ayah untuk memperbaiki boneka ini. Kamu bisa kan memainkan yang lain Melisa "
"Sudah aku bilang kan kita tidak boleh membuang-buang mainan seperti itu, kalau misalnya masih bisa diperbaiki ya perbaiki dulu saj ayah. Yang ada di lemari besar itu bagus-bagus semua dan aku juga ingin memainkan boneka ini dulu saja nanti kalau sudah bosan aku bisa memainkan boneka yang lain. Aku sangat menyukai boneka ini ayah "
"Baiklah tapi jangan terus main satu mainan ini, yang lain juga harus dimainkan"
"Ayah apakah aku boleh untuk menelpon Melinda, aku begitu rindu padanya. Aku ingin melihat Melinda juga"
Adnan langsung menghubungi Ayana, kebetulan sekali yang mengangkat langsung Melinda sendiri "Ayah ayah akhirnya kamu menelpon juga, ke mana saja sih aku itu sudah rindu dengan kakakku mana Kakak. Aku ingin bicara dengan kakak ayah "teriak Melinda dengan suara cemprengnya.
"Lalu apakah dengan ayah kamu tidak rindu, apakah hanya dengan kakak saja rindunya " Adnan berpura-pura melihatkan wajah sedihnya.
"Aku juga rindu ayah, sangat rindu sekali. Tapi aku lebih rindu pada Kakak, aku begitu kesepian di sini "terlihat raut wajah Melinda yang begitu murung. Adnan yang tidak tega langsung memberikan ponselnya pada Melisa.
Melinda kembali senang dan berteriak, "Akhirnya Kakak aku bisa bicara denganmu dan melihat wajahmu, kapan pulang aku ingin segera bertemu denganmu kita sudah tidak bermain berdua lagi aku begitu rindu denganmu kakak. Aku sudah rindu pergi kesekolah dengan Kakak. Sudah banyak teman-teman kita yang menanyakan keberadaan kakak "
"Kamu yang sabar ya Kakak juga nanti akan pulang, nanti kakak dan juga ayah akan membelikan Lollipop coklat dan banyak lagi makanan yang kamu suka. Nanti kita makan sama-sama dirumah ya dan kita bagikan sebagian pada teman-teman "
"Aku tidak perlu itu kakak, aku hanya ingin kamu pulang saja kapan kakak pulang "
Melisa menatap ke arah Adnan, karena Melisa juga tidak tahu kapan pulang hanya ayahnya saja kan yang tahu mereka pulang kapan.
Adam langsung mendekati Melisa dan memangkunya kembali, lalu menatap Melinda yang masih murung "Besok kita akan pulang, bagaimana kamu senang"
__ADS_1
"Benarkah ayah dan juga Kakak besok akan pulang kemari, kalian sedang tak berbohong kan dengan Melinda "
"Tentu ayah dan juga kakak akan pulang, kamu tunggu kedatangan kami berdua ya"
"Akhirnya ayah dan juga kakak akan pulang. Aku senang sekali aku bahagia sekali aku sudah rindu kalian berdua, aku tunggu ya kepulangan kalian berdua"
Sekarang Ayana yang muncul, dia ada di belakang Melinda Adnan yang mempunyai kesempatan untuk meminta izin pada Ayana segera memintanya.
"Ayana apakah aku boleh memberikan anak-anak mainan. Aku sebelum pulang nanti akan membelikan mainan dan yang lainnya dulu untuk Melinda dan juga Melisa tidak lupa aku juga akan membelikan sesuatu untuk kamu. Aku akan membelikan pakaian anak anak dan juga sepatu "
"Tentu boleh tapi jangan barang-barang mahal sewajarnya saja Adnan "
"Baiklah aku tidak akan membelikan barang-barang yang mahal"
"Awas aja kalau sampai aku cek harganya mahal aku akan mengembalikan lagi padamu Adnan. Aku tidak mau mengajarkan anak-anak membeli barang-barang mahal. Aku ingin mereka selalu sederhana dan menghargai sesuatu ingat itu Adnan "
"Iya iya Ibu negara aku mengerti, ya sudah sekarang lebih baik kita semua tidur. Besok aku akan pulang bersama Melisa pekerjaanku sudah beres semuanya"
Ayana mengurutkan keningnya "Kamu yakin ini belum satu minggu, hanya baru beberapa hari. Bukannya kamu bilang padaku satu minggu pekerjaan kamu beres. Jangan memaksakan bila pekerjaan kamu belum beres tidak usah pulang dulu kemari, aku akan memberi pengertian pada Melinda "
"Ayana pekerjaan aku sudah beres semuanya, aku menyelesaikan hari ini juga tadi meeting meeting juga sudah aku selesaikan semuanya kamu bisa tenang, itu kan hanya perkiraanku saja satu minggu, ternyata tidak sampai 1 minggu. Apalagi anak-anak sudah saling merindukan aku tidak mungkin memisahkan mereka terlalu lama Ayana "
Ayana diam cukup lama tidak menjawab, lalu dia menganggukan kepalanya tidak menjawab apa-apa lagi.
"Ya sudah lebih baik istirahat saja pokoknya besok adalah sebuah kejutan untuk kalian, kami akan pulang tapi kami tidak akan memberitahu kapan kami datang ke sana dadah"
Adnan langsung mematikan sambungannya begitu saja. Melisa yang melihatnya langsung menatap ayahnya "Ayah aku belum selesai berbicara dengan Melinda, kenapa tiba-tiba ayah mematikan sambungannya seperti itu"
"Sudah, kita harus tidur bukannya kita akan berbelanja besok, kita juta akan pulang dan bertemu dengan Melinda dan juga mama"
"Baiklah, ayo Ayah"
Melisa segera membaringkan tubuhnya tidak lupa dipeluk oleh ayahnya. Sekarang Melisa tidak malu-malu lagi atau menolak pelukan ayahnya Melisa menerima setiap pelukan yang diberikan oleh ayahnya ini.
__ADS_1