
Adnan dan juga Ayana mendekat ke arah mereka saat namanya disebut-sebut dan juga nama istrinya tentu saja Adnan harus menemui mereka, Adnan bingung ada masalah apa ini " Ada apa ini kenapa kalian membawa bawa namaku dan juga istriku"
"Pak Adnan anda ingin memeriksakan istri anda ke dokter kandungan " tanya dokter yang tadi marah-marah, dia juga sedikit gugup tadi.
Adnan menatap tanda pengenalnya. Ternyata dia memiliki gelar prof "Ya "
"Baik Pak Adnan, Ibu Ayana ayo ikut kami "
"Sebenarnya ada apa ini, kenapa kalian menyebut-nyebut namaku dan istriku, jelaskan dulu jangan seperti ini "
"Sebelumnya kami minta maaf atas kelalaian staf kami karena telah membuat anda menunggu tadi, mari Pak akan saya alihkan ke dokter kandungan terbaik disini, sekali lagi saya minta maaf atas kelalaian staf kami ini"
Adnan mengangkat alisnya, Adnan padahal ingin tidak ada yang tahu kalau dirinya mendaftar ke dokter kandungan, bukan apa-apa karena memang Adnan dan juga Ayana ingin seperti yang lain saja tidak di special kan seperti ini.
Istrinya juga terlihat tidak nyaman. Padahal Adnan sudah mendaftar dengan nama istrinya. Tapi tetap saja ada yang mengenalinya. Pasti ada salah satu staff yang lewat dan mengenalinya makanya langsung diperlakukan istimewa seperti ini.
"Sayang apakah kamu ingin pergi ke dokter kandungan terbaik atau kamu ingin ke dokter kandungan yang antriannya banyak, tapi sudah berpengalaman. Ingin yang mana sayang "
Ayana rasanya ingin menginjak kaki suaminya itu, kenapa sekarang malah melemparkan semuanya padannya bukan malah dirinya saja yang menjawab "Kita sudah mendapatkan nomor antrian jadi lebih baik yang tadi saja biar sekalian, sayang juga kan nomor antriannya"
__ADS_1
Adnan mengangguk setuju "Maaf profesor untuk tawaran kali ini kami tolak, lain kali jika punya dokter kandungan terbaik lebih baik dikeluarkan jangan menyembunyikannya seperti itu, dan jangan jadikan dia pajangan saja di sini kan banyak yang ingin berobat jadi jangan sembunyikan seperti itu, kamu lihat kan tadi antrian begitu panjang seharusnya kamu keluarkan dia agar semuanya terbantu dan tidak akan ada antrian sepanjang itu lagi"
"Pak sekali lagi saya minta maaf atas ketidaknyamanan ini"
Adnan masih saja mengomel dia belum puas "Seharusnya kamu memikirkan mereka, siapa tahu yang mengantri di situ ada pekerjaan lain, ada kegiatan lain yang harus segera mereka kerjakan, kamu bisa menghargai waktu orang lain tidak"
"Adnan sudah "Ayana mengusap lengan suaminya agar tidak emosi. Soalnya orang-orang sudah menatap ke arah mereka, ini kan Rumah Sakit. Ayana tidak mau ada pertengkaran di sini "Sudah ayo kita mengantri lagi saja, nanti kalau nama kita dipanggil bagaimana ayo sudah Adnan jangan terus mengomel "
"Tidak, kita pindah ke rumah sakit yang lain saja jangan disini aku sudah muak "Adnan langsung merangkul pinggang istrinya dan akan pergi, tapi profesor segera memberhentikan langkahnya mereka dengan cara mencegatnya.
"Pak tolong kesempatannya sekali lagi saja, kami tidak akan pernah mengecewakan anda lagi. Tolong Pak kesempatannya kami tak akan lalai seperti ini, kami akan mengerahkan segalanya dan tak akan ada antrian seperti itu lagi Pak "
"Seharusnya kamu lebih memaksimalkan semuanya tidak menyembunyikan dokter yang memang seharusnya membantu dokter yang lainnya, jika memang masih ada dokter kandungan kenapa tidak kamu kerahkan saja dia untuk membantu dokter yang satu itu, agar antriannya tidak sepanjang itu, seharusnya kamu bisa memaksimalkan semuanya tidak seperti ini "
Ayana sungguh tidak nyaman dengan semua ini, ada orang yang memohon maaf seperti ini padanya membuatnya tak nyaman, tapi suaminya malah diam saja dan tak memberhentikannya.
Adnan segera membawa istrinya kembali, profesor itu akan mengejarnya lagi tapi kata-kata Adnan sudah memberhentikan langkahnya "Kamu melangkah dan bicara lagi maka aku akan menutup rumah sakit ini, aku tak akan main-main dengan kata-kata ku ini "
Benar saja profesor itu langsung berhenti melangkah. Ayana yang penasaran melihat ke arah belakang dan benar memang berhenti tidak berjalan lagi. Ayana mengusap tangan suaminya agar lebih tenang lagi tak seperti tadi yang berapi-rapi.
__ADS_1
"Sudah Adnan jangan marah-marah seperti itu mereka hanya ingin memberikan yang terbaik saja untuk kamu, jangan terus salahkan mereka ya. Aku kasihan tahu mereka sampai seperti itu "
"Aku ingin melaluinya, aku ingin seperti orang lain mendaftar lalu mengantri, duduk mengobrol dengan kamu berdua seperti itu. Lalu nanti masuk dan diperiksa tapi mereka malah membawaku ke dokter terbaik mereka padahal kenapa tidak dikeluarkan saja untuk membantu "
Ayana tersenyum "Redamkan emosi kamu ya, kita akan mengantri seperti yang lainnya. Kalau kita pindah rumah sakit yang ada kita akan diperlakukan seperti ini lagi, kalau di sini kan mereka sudah tahu kalau kita ingin diperlakukan seperti yang lainnya sama seperti pasien-pasien yang lain"
Adnan mempertimbangkan ucapan istrinya itu, kemudian mengangguk setuju. Ayana bernafas lega, Ayana takut kalau suaminya ini benar-benar menutup rumah sakit ini makanya Ayana harus tetap ada di sini dan check up setiap bulannya di sini juga, agar Ayana bisa memantau dan mengetahui tentang keadaan rumah sakit ini dan Adnan tidak bisa melakukan apa-apa.
Mereka kembali duduk dan mengantri seperti yang lain, petugas rumah sakit langsung memberitahu kalau Adnan sudah mengantri lagi di sini, para petinggi Rumah Sakit merasa lega dan tenang sekarang.
Adnan melihat ke arah sebelah dia melihat ada perempuan yang kandungannya sudah sangat besar sekali dan sedang diusap-usap perutnya oleh suaminya, Adnan jadi tak sabar ingin melakukan itu pada Ayana nanti.
Ini untuk pertama kalinya dirinya melakukan hal seperti ini, dulu saat Fira hamil Kamila Adnan tidak pernah mengantar dia ke rumah sakit untuk check up, Fira selalu pergi sendiri, karena Adnan memang benar-benar tak mau melakukan itu dengan Fira.
Adnan langsung mengusap perut istirnya, Ayana langsung menatap suaminya "Kenapa "
"Sedang berdoa aku "
Ayana mengusap pipi suaminya, Ayana kembali fokus untuk mendengarkan panggilan namannya nanti, takutnya nanti tak kedengaran dan terlewat.
__ADS_1
Ayana juga melihat banyak yang kandungannya sudah besar, Ayana jadi ingat saat dulu dirinya hamil s kembar, dirinya selalu datang sendiri tanpa ada yang mendampingi, tapi Ayana sama sekali tak sedih, karena Ayana senang ada bayi dalam perutnya dan akan menemaninya nanti.
Ayana tak pernah berfikir akan ada dirumah sakit lagi untuk mengantri mengecek kehamilan, semoga saja dirinya benar-benar hamil.