
Adnan kembali dengan tangan kosong. Dia menyimpan semua kertas-kertas yang iya bawa kembali, Adnan menyimpannya begitu saja tidak peduli mau hilang ataupun robek. Adnan begitu kecewa dengan dirinya sendiri tidak bisa menaklukkan hati Ayana kembali seperti dulu, kenapa begitu sulit dirinya gapai.
Ayana yang sekarang sudah sangat berubah dia sangat keras sekali. Bahkan untuk didekati pun sangat sulit. Adnan mengambil minuman alkohol yang selalu menemaninya dia langsung menegaknya dari botolnya. Rasanya kepalanya ini ingin pecah air matanya pun tidak bisa dibendung lagi. Adnan ingin bisa bersama anak-anaknya ingin memeluk mereka.
Adnan juga ingin bisa bahagia bersama Ayana dan juga anak-anaknya tapi kenapa sangat sulit sekali, langkahnya sangat sulit sekali.
"Harus dengan cara apalagi Ayana aku mendapatkan mu, aku benar-benar bingung aku tidak tahu harus seperti apa. Aku berjuang untuk mendapatkan mu dan juga anak-anak apa perlu aku menculik kalian bertiga. Tapi itu akan makin menambah kebencian dirimu padaku Ayana"
Adnan melempar botol yang sudah kosong lalu mengambil yang lainnya lagi, menegaknya sampai habis lagi dan terus terulang seperti itu tidak lupa dengan sebatang rokok yang dia hisap, dengan sangat kencang sekali dan Adnan bisa melampiaskan pada hal yang lain, hanya inilah satu-satunya jalan untuk membuat pikirannya hatinya tenang.
...----------------...
Ayana sendiri tidak bisa tidur kembali, dia duduk di meja kerjanya memikirkan tentang Adnan. Apakah dia harus memberi kesempatan padannya, tapi rasanya Ayana tidak sanggup. Apakah kalau Ayana memberikan kesempatan itu Adnan akan baik dan akan kembali menjadi laki-laki yang dulu dia pernah kenal. Ayana takut Adnan akan membuatnya kecewa lagi seperti dulu.
Benar yang dikatakan Adnan tadi anak-anak akan butuh ayahnya, suatu saat nanti saat dewasa anak-anak akan menanyakan tentang ayahnya itu pasti. Mungkin sekarang mereka tidak terlalu peduli dengan sosok Ayah karena ada Fabian, tapi kalau Fabian menikah dan punya istri lalu punya anak bagaimana.
Ayana benar-benar bingung dengan apa yang harus dia ambil, keputusan apa yang harus diambil. Ayana pergi ke kamar mandi dia akan melakukan salat malam dia akan menyerahkan semuanya pada Allah.
Ayana akan meminta petunjuk dari Allah apa yang harus diambil, apakah Ayana harus memberikan Adnan kesempatan kedua atau tidak karena Ayana sekarang bingung harus melakukan apa. Maka Ayana akan serahkan semuanya pada Allah meminta petunjuk.
...----------------...
__ADS_1
Rio sudah menyiapkan sarapan pagi untuk anaknya. Rio menyimpannya di meja makan dan Kamila sudah duduk di sana. Kamila menatap makanan itu dan menutup mulutnya, lalu menggelengkan kepalanya "Aku tidak biasa sarapan seperti ini aku tidak mau, sana jauhkan makanan ini dari hadapan ku. Aku tidak mau. Kamu saja yang makan ini, aku tidak biasa makan makanan seperti ini "
Rio mencoba untuk tenang dan tidak menyakiti lagi Kamila seperti kemarin, berteriak padanya dan juga mencengkram bahu Kamila dengan sangat keras, sampai-sampai menimbulkan memar.
"Ya sudah Kamila mau makan apa, nanti ayah akan siapkan. Kalau bahannya tidak ada Ayah akan membelinya "
"Aku ingin roti panggang, lalu sereal dan juga susu hangat. Aku tidak mau makanan ini sangat berminyak sekali "sambil mendorong piring yang berisi nasi goreng itu.
"Baiklah ayah akan membuatkannya, tapi untuk hari ini roti panggang dulu dan juga susu hangat, untuk sereal Ayah tidak ada nanti kita belanja sama-sama ya"
"Tidak mau aku maunya itu sekarang. Kalau tidak ada sereal aku tidak akan makan. Aku tak usah sarapan saja. Tolong antarkan aku kesekolah saja sekarang juga. Aku sudah lama tak sekolah"
"Ya sudah kita belanja sekarang ya, ayo bersama ayah kita belanja. Kamu bebas mau pilih apa saja. Setelah itu Ayah akan antarkan kamu kesekolah "
"Ya sudah kalau tidak ada, aku tidak mau makan saja kalau memang tidak ada tidak usah memaksakan. Aku tidak mau makan aku lebih baik masuk saja kedalam kamar. Memang berbeda dengan ayah Paman itu tidak sama. Maka Paman jangan pernah mau jadi Ayahku aku juga tidak mau jadi anak paman, menyebalkan sekali "
Kamila berlari kearah kamarnya. Rio mengusap wajahnya yang lelah. Rio duduk termenung apakah keputusannya ini benar. Apakah Rio harus mengembalikan Kamila dengan Adnan. Kamila hanya akan bahagia dengan Adnan saja.
Tapi apakah Adnan akan mau, Adnan juga sudah punya anak. Adnan sudah menceritakan padannya kalau Kamila juga tak menyukai anaknya. Adnan bilang tak mau membuat mereka bertengkar nantinya.
Rio berjalan dengan pelan kearah kamar anaknya, lalu mengetuk pintu dengan sangat perlahan sekali "Sayang buka pintunya. Ayo kita bersiap kesekolah katanya mau sekolah, nanti kita sarapan diluar saja. Ayo buka dulu pintunya sayang jangan seperti ini ya. Buka kita beli apa yang kamu mau "
__ADS_1
"Tidak, aku tidak mau. Aku ingin bersama Ayah saja. Aku tidak mau dengan paman, paman itu tak tahu apa yang aku inginkan paman itu sangat payah. Aku lebih baik dikembalikan saja pada Ayah. Aku tidak mau disini "
"Jangan membuat Ayah marah Kamila ayo cepat kamu keluar " Rio yang sudah habis kesabarannya menggedor pintunya dengan sangat kencang sekali, tak peduli Kamila akan ketakutan dengan tingkahnya ini.
Sungguh Rio tak bisa lagi menahan amarahnya kalau Kamila terus seperti ini, anak ini malah membuatnya pusing saja. Apalagi Rio hari ini akan ada meeting tapi Kamila sudah membuatnya telat hanya karena masalah sarapan saja.
"Akhh, aku tidak mau kamu jahat Paman jahat " teriak Kamila dengan sangat melengking tak lupa dengan tangisnya yang membuat telinga sakit.
"Keluar kamu anak cenggeng mulai sekarang aku adalah ayahmu. Kamu harus mengikuti apa yang aku mau. Disini dan dirumah Adnan berbeda jangan samakan itu. Cepat keluar kamu jangan terus mengurung seperti ini "
"Jahat kamu " teriak Kamila lagi.
Rio menyandarkan tubuhnya di pintu, rasa lelah melanda tubuhnya ini. Harus dengan cara apa Rio mendekati Kamila. Sudah dengan cara yang baik-baik dan sekarang penuh emosi pun sama saja tak ada yang berubah kenapa anak itu membuat Rio pusing.
"Keluar Kamila, cepat kalau tidak aku akan meninggalkan mu "
"Tinggalkan saja, aku tidak peduli "
"Baiklah "
Rio segera pergi dari rumah ini, bahkan Rio mengunci pintu depan jangan sampai nanti Kamila kabur dan pulang kerumah Adnan.
__ADS_1