
Anak-anak sudah terbangun, tapi mereka bingung dimana mamanya. Kenapa tidak ada di sampingnya Melisa yang paling bingung, padahal Melisa sudah memeluk tangan Mamanya dengan sangat erat sekali, tapi sekarang ke mana mamanya. Kenapa tidak ada Melisa sangat ingat sekali kalau mamanya tidur bersama mereka berdua.
Mamanya kemarin malam tak kemana-mana bahkan Mamanya ikut tertidur juga kan. Melisa benar-benar binggung dengan semua keadaan ini. Seharusnya Melisa kemarin malam menali tangan Mamanya dengan dirinya.
"Ke mana mama kakak, kenapa tiba-tiba Mama menghilang, Mama biasanya tidak seperti ini. Mama tak pernah menghilang Kakak "ucap Melinda sambil merosot turun dari tempat tidur itu.
Melisa juga mengikuti langkah adiknya "Tapi kemarin malam aku memegang Mama dengan sangat erat, masa Mama tiba-tiba hilang begitu saja, pasti ada yang menculik Mama. Mama pasti dibawa pergi mama tak pernah meninggalkan kita berdua kan"
"Aku juga aku juga memegang tangan Mama dengan erat, siapa yang telah menculik mama. Aku menjadi takut Kakak, bagaimana kalau kita juga nanti di culik"
Melisa menarik tangan adiknya untuk keluar dari dalam kamar "Lebih baik kita ke kamar nenek buyut. Mungkin Mama tidur di sana mungkin nenek buyut kesepian makanya Mama pindah kamar, kita harus berfikir yang baik-baik dulu jangan berfikir yang aneh-aneh ayo kita pergi kesana "
Melinda hanya bisa patuh dan mengikuti langkah kakaknya. Melinda sangat takut kalau misalnya mamanya tidak ada bagaimana dengan mereka ini, kalau tidak ada mamanya.
Melinda akan menangis dengan kencang kalau mamanya sampai tak ditemukan. Mereka tak pernah kan ditinggalkan Mama seperti ini.
Mereka berdua sudah ada di depan kamar neneknya, mereka berdua berteriak dengan kencang "Nenek buyut nenek buyut" sambil membuka handle pintu.
Nenek yang baru saja terbangun menatap cicit-cicitnya itu yang wajahnya sudah sangat kebingungan, mereka naik ke atas tempat tidurnya, tak lupa dengan mata yang terus celingak-celinguk seperti mencari sesuatu "Ada apa dengan cucu nenek ini pagi-pagi sudah membangunkan nenek, apa kalian berdua ingin sesuatu "
"Nenek di mana mama, kenapa Mama tidak ada di kamar kami dan di kamar nenek juga. Mama tidak ada kemana Mama nenek "ucap Melisa langsung memberondong neneknya dengan pertanyaan yang terus saja terngiang-ngiang dari dalam kepalanya ini.
Mereka berdua sangat kaget saat membuka pintu kamar tapi tidak ada mamanya, sebenarnya mamanya ini pergi ke mana. Kenapa tidak ada, mereka sekarang benar-benar ketakutan.
Melisa yang berfikir kalau mamanya akan disini sekarang malah jadi takut kalau Mamanya meninggalkan mereka berdua.
Melinda menyingkap selimut neneknya, takut-takut mamahnya bersembunyi tapi tidak ada. Lalu mereka berdua turun dan mengecek lemari neneknya juga tapi Mamanya juga tidak ada "Nenek sebenarnya Mama dimana, kenapa Mama tak ada aku ingin bersama Mama"rengek Melinda.
"Nenek juga tidak tahu atau mungkin mamamu bersama ayah, mungkin mereka di kamar ayah"
Nenek benar-benar tak tahu keberadaan Ayana, karena memang dirinya selalu diam dikamar menikmati perjalanan ini sambil melihat air laut dari kaca yang ada didalam kamarnya.
"Benarkah begitu nek, kenapa bisa Mama bersama Ayah "tanya Melisa dengan binggung.
"Coba kalian cek ke kamar ayah kalian, kalau tidak di sana di mana lagi. Pasti Mama kalian bersama ayah ayo cepat lari ke sana dan cari mama kalian, nenek yakin sekali mereka ada dalam satu kamar yang sama"
__ADS_1
Mereka berdua menganggukan kepalanya dengan kompak, lalu mereka berlari lagi rambut mereka masih berantakan, mereka tidak memikirkan rambut mereka yang sudah seperti singa, biasanya mereka berdua akan menyisir rambutnya dengan tangan.
Tapi mereka sekarang sedang kehilangan mamanya, mereka tidak memperdulikan rambut itu yang terpenting sekarang adalah menemukan mamanya dulu. Masalah rambut bisa diatur nanti, bisa minta Mamanya untuk merapihkan ya.
"Kenapa bisa Mama bersama ayah, aku tidak akan pernah membiarkan itu. Sungguh menyebalkan sekali Ayah ini"ucap Melisa dengan marah.
"Kenapa Ayah jahat sampai-sampai membawa Mamah seperti itu, aku juga tak terima Ayah hanya membawa Mama sedangkan kita berdua ditinggalkan "Melinda juga cukup kesal dengan tingkah ayahnya ini, kenapa mereka berdua juga tidak dibawa ayahnya ini menyebalkan sekali, hanya membawa mamanya saja.
"Ayah mama ayah mama, kalian berdua dimana"
Mereka membuka pintu itu dengan kasar, tapi tidak ada. Kamar itu kosong Melisa dan juga Melinda membuka setiap ruangan bahkan kamar mandi pun tak luput mereka cek. Tapi keberadaan Mamah dan ayahnya juga tidak ada, kamarnya sangat rapi sekali selimut juga masih terlipat. Ke mana mereka berdua ini di dalam kamar juga tidak ada.
Lalu mereka berdua melihat ke bawah kolong tempat tidur tapi nihil, ayah dan juga mamahnya tidak ada ke mana mereka berdua kenapa tidak ada, sembunyi di mana Mamah dan ayahnya.
"Kenapa mereka sangat sulit sekali untuk ditemukan Kakak, aku tak sabar ingin memeluk Mama. Aku takut Mama pergi " Melinda sudah ingin menangis tapi Melinda bertahan.
Karena tidak menemukan Mamah dan juga ayahnya mereka keluar dari kamar itu. Mereka berdua beralih kembali ke arah kamar neneknya mereka benar-benar bingung harus mencari kemana lagi, neneknya pasti akan tahu mereka harus pergi kemana lagi.
"Kalian sudah menemukan Mama kalian, benarkan apa yang nenek katakana, kalau Mama kalian anak ada disana "
Melinda sudah berfikir yang tidak-tidak, Melinda berfikir kalau Ayahnya membawa Mamanya pergi dari kapal ini dan meninggalkan mereka berdua disini bersama nenek.
"Apa Ayah membawa kabur Mama, apakah Ayah sekejam itu nenek "marah Melisa, padahal Melisa sudah sekuat tenaga memegang tangan mamahnya tapi kenapa Mamanya bisa diambil oleh ayahnya seperti ini. Sungguh Melisa ingin mencubit kaki ayahnya nanti saat ketemu atau mungkin menggigitnya saja agar ayahnya itu tidak berani lagi menculik mamanya, keterlaluan sekali ayahnya itu.
"Mungkin mereka ada di kamar atas, ya mungkin saja disana nenek yakin sekarang mereka ada dikamar atas"ucapan nenek, nenek tidak mau kalau misalnya Melisa kembali membenci ayahnya, nenek ingin anak-anak Adnan ini menerima ayahnya dengan senang hati, nenek ingin keluarga kecil itu bisa berkumpul lagi bisa bersama-sama lagi tidak seperti ini.
"Ayo Melinda kita cari ke sana, terima kasih nenek atas sarannya. Semoga saja apa yang nenek katakan itu benar "anak itu langsung berlari kembali, mereka akan mencari mamanya tidak boleh sampai kehilangan mamanya.
Mereka berdua sudah ada di lantai atas mereka berdua harus pergi ke arah mana. Tapi karena Melisa yakin kalau mamanya ada di sebelah kanan dia menarik tangan adiknya untuk ke sana, Melisa yakin pasti ada dikamar paling ujung.
"Hei anak-anak kalian mau ke mana, apa kalian mau sarapan jangan naik ke atas tanpa ada orang yang mengawasi"tegur seseorang pada mereka berdua.
Melisa dan juga Melinda akhirnya memberhentikan langkahnya dan menatap orang itu, mungkin orang yang ada di hadapannya ini tahu di mana mama dan ayahnya kan.
"Paman paman apa kamu melihat Mamaku dan juga Ayahku, mereka menghilang kata nenek ada di kamar atas atau mungkin kamu melihat Mamah dan ayahku di sekitar sini "tanya Melisa langsung pada intinya, Melisa tak mau bertele-tele dan nanti malah akan lama menemukan Mamanya.
__ADS_1
Melisa tahu adiknya sudah sangat ketakutan sekali, Melisa tak mau melihat adiknya menangis.
Orang itu diam sejenak, kemarin malam dia melihat kalau Pak Adnan dan juga Ibu Ayana ada di atas dan masuk ke salah satu kamar, dia masih ingat orang tua dua bocah kemarin ini masuk ke mana.
"Emm, kamar yang paling ujung anak-anak, ya aku tak salah mereka masuk kedalam kamar itu, coba kalian cek "
"Terima kasih Paman atas bantuannya "
Mereka berdua berlari lagi ke kamar paling ujung, benar-benar ya Ayahnya ini sudah menyembunyikan Mama mereka. Baru saja Melisa akan membuka pintu tapi Melinda menarik tangannya.
"Kakak bukannya kata Mama tidak baik ya langsung membuka pintu seperti itu, kita harus mengetuk pintu terlebih dahulu takut-takut orang yang ada didalam sedang melakukan aktivitas penting"
Melisa langsung menggedor-gedor pintunya, karena Melisa tidak sabaran dia langsung membuka pintu tidak mendengarkan kata-kata adiknya "Mama mama kami menyelamatkanmu, Mama di mana kamu pasti ada di sini kan, paman kamu sangat menyebalkan. Kenapa kamu menculik ke mamaku" teriak Melisa dengan suara yang melengking.
"Ayah jahat Ayah jahat kenapa menculik Mama" teriak Melinda dengan kesal juga.
Mereka benar-benar masuk ke dalam kamar itu, tidak memperdulikan lagi apa yang sedang terjadi di dalam kamar itu yang terpenting sekarang adalah menemukan mamanya. Mereka harus bisa bertemu dengan mamanya mau bagaimanapun caranya.
...----------------...
Papihnya Fira mengambil ponselnya lagi setelah dia tenang. Lalu menghubungi Adnan, tapi nihil tak diangkat sialan kemana Adnan ini.
"Adnan benar-benar menyebalkan kenapa dia tak mengangkat telfon ku "
Papihnya Fira mondar mandir, dia benar-benar binggung dengan kehidupannya yang sekarang. Kenapa menjadi rumit sekali, apa apaan juga Adnan menarik semua sahamnya.
"Adnan kamu memang benar-benar ingin main-main dengan aku, kamu ini sialan sekali, kamu membuat aku marah kenapa kita harus menarik semua "
"Aku ingin suamiku, dimana dia "
Papihnya Fira mengusap wajahnya dengan kasar, lalu mendekati anaknya "Lupakan Adnan, dan hidup kita akan bahagia dia bukanlah laki-laki yang harus selalu kita ingat, jangan terus membawa-bawa namannya aku sungguh muak sekali dengan semua itu "
Fira tapi terus saja berteriak, memanggil nama Adnan "Aku ingin suamiku tak ada yang salahkan, dia adalah belahan jiwaku, aku harus bertemu dengannya"
"Sudahlah aku pusing dengan kamu Fira, terus saja itu yang kamu ingat, seharusnya kamu sembuh dan balas semua apa yang dilakukan Adnan pada kamu bukannya malah Sepertinya ini, makin hari malah makin parah saja keadaan kamu ini"
__ADS_1
Ayahnya Fira langsung saja keluar dari dalam ruangan itu, dia sudah sangat lelah jangan sampai dia nanti memukul Fira, Fira sedang sakit dan dirinya harus bisa mengontrol emosinya.