
Keseruan malam ini terjadi kembali, mereka melakukan barbeque bersama-sama. Ayana dan juga kedua putrinya duduk di depan teras, sedangkan suaminya Adnan sedang memanggang sate-satean yang sudah mereka tusuk bersama Marco juga.
Anak-anak memegang satu persatu garpu mereka dari tadi terus memakannya, sosis besar yang baru saja selesai ayahnya angkat sudah mereka santap lagi, Ayana suka saat melihat anak-anaknya itu makan dengan lahap.
Adnan menatap kedua putrinya yang saling menyuapi. Padahal mereka punya satu persatu sosis di garpu mereka, tapi mereka seperti tukaran. Padahal sosisnya sama tidak ada yang berbeda, Adnan juga membeli mereka yang sama.
"Apakah mereka selalu seperti itu dari dulu sayang, padahal makanan mereka sama loh tak ada yang berbeda sama sekali "
"Iya begitulah mereka, sering saling suap. Mereka suka kalau sudah seperti itu "
"Lihatlah pipinya Melinda begitu besar seperti bakpao tahu, rasanya aku ingin menggigitnya atau tidak mencubitnya pasti akan sangat enak "ucap Adnan sambil tertawa lepas.
"Itu anakmu loh, kamu malah tertawa seperti itu kalau misalnya dia mendengar pasti akan marah"
Ayana melirik ke arah suaminya yang masih fokus membakar makanan yang lain. Ayana mengambil ponsel suaminya yang tergeletak begitu saja. Ayana masukan ke dalam saku celananya, kita lihat apakah suaminya akan ingat dengan ponselnya ini atau malah akan lupa.
Ayana ingin menjahili suaminya kali-kali kapan lagi kan, suaminya menggeletakan ponselnya begitu saja.
"Sayang cobalah ini, daging sapinya sudah matang aku jamin enak. Ini makanan kesukaan kamu juga kan sayang "Adnan mengambil piring dan memberikannya pada Ayana.
Tak lupa Adnan juga menyuapi istrinya itu, tadi memberikannya pada Ayana, tapi sekarang Adnan menarik lagi piring itu dan menyuapkan makanan itu ke mulut istrinya langsung. Tidak lupa ditiup dulu Adnan tak mau sampai lidah istrinya nanti terbakar.
Tapi Ayana belum memakannya, "Apakah ini sudah matang, aku tidak mau kalau misalnya setengah matang. Aku ingin yang benar-benar matang Adnan"
Adnan melihat daging sapi itu lalu menganggukan kepalanya "Iya ini sudah matang, tidak mungkin setengah matang, aku tidak akan mungkin memberikanmu daging setengah matang. Takutnya nanti kamu sedang mengandung ayo buka mulutmu sayang aku akan menyuapi kamu "
Ayana yang mendengarnya tentu saja tersenyum dari mana suaminya ini tahu "Kamu tahu dari mana kalau Ibu hamil itu tidak boleh memakan makanan yang setengah matang"
"Aku mencarinya di internet, lalu membacanya di buku kamu tanya saja pada Marco kalau tidak percaya dengan perkataan aku, bahkan Marco yang mencarikan buku ibu hamil itu untuk aku. Aku benar-benar ingin tahu tentang kehamilan, aku tidak mau nanti saat kamu mengandung aku tidak tahu apa-apa sayang, aku ini sebagai seorang ayah harus cepat tanggap tidak boleh tidak tahu tentang kehamilan. Aku tidak mau terjadi sesuatu dengan kamu dan juga anak aku nantinya, aku ingin serba tahu saat nanti kamu hamil agar kamu tidak perlu bertanya-tanya pada orang lain"
Adnan yang akan mengambil ponselnya langsung meraba-raba dan bingung, di mana ponselnya tadi di sini padahal Adnan ingin memperlihatkan pada istrinya buka apa yang dia baca selama ini.
__ADS_1
"Ponselku kenapa tidak ada, tadi kan ada di sini. Kamu melihat ponsel aku sayang "
Adnan membuka piring yang ada di sana, makanan juga di pinggir-pinggirkan. Adnan benar-benar menyimpan ponselnya di sini, tapi kenapa sekarang tidak ada padahal jelas-jelas di sini tidak di kemana-mana kan.
"Mungkin kamu salah menyimpannya, atau mungkin ada di dalam kamar kamu ini kan pelupa. Biasanya kamu menyimpan ponselmu itu di mana saja tidak pernah di satu tempat yang pasti, coba ingat-ingat lagi deh "
"Tidak sayang aku tadi benar-benar membawa ponselku dan aku menyimpannya di sini, kamu tahu sendiri kan aku tadi baru beres saja menelpon masa tiba-tiba ada di dalam kamar, aku benar-benar yakin tahu "
"Ingat-ingat lagi kamu ini kan pelupa, ayo coba kamu fikirkan tadi dimana "
Adnan menggelengkan kepalanya, sungguh dia benar-benar menyimpan ponselnya di sini. Mana mungkin dia bisa lupa. Baru saja digunakan beberapa menit yang lalu belum lama loh, masa iya tiba-tiba menghilang.
"Aku yakin ponsel itu ada di sini, tadi saat aku mau membakar daging untukmu aku masih melihatnya dan ada disini sayang "
"Ya masa tiba-tiba ponsel kamu jalan-jalan nggak mungkin kan, kamu pasti lupa deh atau salah simpan nggak mungkin ponsel kamu terbang gitu nggak mungkin Adnan"
Adnan memberikan capitan nya pada istrinya "Coba dipegang dulu ini sayang, aku akan mencari ke dalam siapa tahu tadi aku lupa masuk ke dalam dan menyimpannya di dalam kamar, kenapa aku ini jadi pelupa padahal aku masih muda"
Sedangkan Ayana sendiri dia fokus lagi memakan daging yang baru saja tadi dipanggang kan oleh suaminya ini, sekali-kali Ayana jahil pada suaminya, kapan lagi akan bisa menjahili suaminya ini yang sulit sekali ditipu.
"Sayang aku sudah mencarinya di dalam, tapi tidak ada ke mana ya ponselku "Adnan sudah celingak-celinguk ke sana kemari mencari ponselnya itu.
"Kamu ini sangat ceroboh. Makanya kalau ponsel itu simpan saja di dalam sakumu, kalau sudah hilang begini bagaimana apalagi di dalam ponselmu itu banyak uang kan banyak dokumen juga. Pekerjaan kamu banyak disana "
"Tapi tadi aku menyimpannya di sini_ " Adnan sekarang melihat ponselnya ada di ujung sana, tadi Adnan sudah mencarinya ke sana, tapi kenapa sekarang tiba-tiba muncul tadi tak ada loh. Adnan sudah yakin dan mencarinya di sana" Kok ponselku ada di sini, tadi tak ada loh sayang "sambil mengambil ponsel itu dan melihatnya benar ini adalah ponselnya, bukan ponsel orang lain saat dinyalakan juga wallpaper nya wajah istrinya dan juga anak-anaknya.
"Dasar pelupa makanya kataku juga apa kalau cari sesuatu itu yang benar jangan terburu-buru, ternyata ponsel kamu ada disana ditempat yang sama "
"Terburu-buru bagaimana, aku benar-benar tadi menyimpannya di sini tapi masa tiba-tiba ada di sana aneh sekali kan ponselku ini "Adnan terus membela dirinya, karena dia benar-benar yakin kalau dirinya tadi menyimpan ponsel itu di sini dan tidak mungkin tiba-tiba berpindah tempat tanpa ada orang yang memindahkannya.
"Sudahlah sayang yang terpenting ponselnya sudah ketemu kan, jadi kamu tidak usah mencarinya lagi sekarang sudah ada ponselnya tinggal kamu gunakan juga "
__ADS_1
Adnan hanya mengangguk dengan ragu dan duduk di samping istrinya, Adnan masih memikirkan kenapa bisa ponselnya ini tiba-tiba hilang, aneh saja sekarang tiba-tiba muncul di sini ditempat tak jauh Adnan menyimpannya.
Ayana yang melihat ekspresi suaminya mencoba menahan tawanya Ayana tidak mau ketahuan, pasti suaminya nanti akan macam-macam kalau sampai tahu dirinya yang telah menyembunyikan ponselnya ini sekali-kali kan Ayana seperti ini.
Melisa yang memang dari tadi duduk di depan Marco tiba-tiba saja bertanya "Paman kenapa kamu tidak memiliki pacar atau mungkin berkencan seperti mama dan juga Ayah, mereka selalu berdua begitu tapi Paman tidak pernah membawa seorang perempuan, dan kapan juga Paman menikah apa Paman tidak mau punya anak. Apakah Paman mau terus sendiri, kan sendiri itu tidak enak "
"Paman sih mau punya anak, tapi belum saatnya Paman menikah, kamu tahu sendiri pekerjaan Paman itu sangat banyak sekali, pekerjaan paman selalu menumpuk "
"Tapi pekerjaan ayah juga sama banyak, tapi ayah masih bisa berkencan dengan mama masih bisa berduaan dengan Mama juga. Lalu Paman kenapa tidak, Paman padahal bisa membawa pacar Paman kemari untuk bersenang-senang bersama-sama, pasti akan menyenangkan sekali "
"Belum ada yang cocok, Paman masih mencarinya, paman tidak mau sembarangan"
"Memangnya Paman mau mencari yang seperti apa sih Melisa jadi penasaran "
Marco diam seperti berfikir terlebih dahulu, lalu menatap kembali Melissa yang berhadapan dengannya ini "Paman ingin mencari perempuan yang baik, bisa mengurus Paman nanti bisa mengerti juga pekerjaan paman yang banyak dan menumpuk, paman kan orang sibuk "
"Oh begitu ya, Paman mencari yang seperti Mama. Mama juga selalu sabar kalau Ayah banyak pekerjaan, memang harus sih mencari perempuan seperti mama itu ayah saja betah bersama Mama "
Marco mengakukan kepalanya setuju, memang sangat sulit mencari perempuan yang bisa mengerti dalam pekerjaan. Ya maksudnya tidak menyangka suaminya selingkuh saat sibuk dan tidak rewel juga.
"Melisa apa piringnya sudah kosong mau diisi lagi tidak, ini ayah sudah selesai memanggang yang baru lagi "
Melisa melihat piringnya yang memang sudah tidak ada apa-apa lagi, adiknya dari tadi terus menghabiskan makanannya. Melisa langsung membawa piring itu ke arah ayahnya untuk diisi lagi. Kasian adiknya masih mau.
"Di isi yang banyak ya Ayah Melinda sangat ingin makan, lihat ini saja sosisnya dihabiskan oleh Melinda, sepertinya dia sangat kelaparan "
Adnan yang mendengarnya tersenyum dan mengisi beberapa makanan di sana, memang dari tadi Adnan melihat Melinda yang banyak makan, sedangkan Melisa kebanyakan mengobrol dengan Marko. Melisa ini seperti orang dewasa mengobrol saja dengan Marko tidak ada habis-habisnya mereka.
"Terima kasih Ayah ini akan sangat kenyang, aku yakin Melinda tak akan bisa memakan ini semua"
"Sama sama anak ayah yang cantik "
__ADS_1
Melisa kembali lagi ke tempatnya dan adiknya kembali memakan makanan yang sudah Melisa bawa. Melisa kembali mengobrol dengan paman Marco itu mereka kembali membahas tentang apa yang baru saja mereka bahas.