
"Kakek " teriak Kamila dengan melengking.
Kamila langsung memeluk Kakeknya dengan erat sekali "Kamila sayang, kakek begitu rindu sekali dengan keadaan kamu. Bagaimana kamu sehat sayang"
"Aku sehat kakek, lihat aku sudah sekolah aku juga sudah bisa mewarnai, aku sudah bisa menggambar, sudah bisa menghitung banyak lagi kakek apalagi di sana juga banyak teman-teman dan baik-baik semua, ibu guru juga baik aku suka sekolah di sana. Paman Rio bagus memilihkan sekolah itu untukku, aku betah di sana" Kamila langsung menceritakan semuanya pada Kakeknya itu.
Memang Kamila juga sekarang sudah betah tinggal dengan paman Rio, tidak buruk juga tinggal bersama paman Rio. Kalau Kamila nya baik Paman Rio juga baik.
"Kakek boleh kan nanti main kesekolah kamu. Kakek ingin lihat teman-teman kamu yang baik dan juga ibu gurunya "
"Tentu saja boleh kakek, kakek boleh main ke sana. Pasti mereka juga akan senang saat Kakek datang. Seharusnya sekarang aku ada lomba tapi kata Paman Rio harus menemui dulu Ibu. Memangnya ada apa"
"Emm, kamu tunggu disini, nanti akan ada yang membawakan mainan kamu, kakek mau bicara dulu dengan Ayah kamu ya "
"Hemm, baiklah kakek"
Kamila diturunkan oleh kakeknya. Kamila duduk sendiri disana sambil melihat orang-orang yang sedang bekerja. Bahkan ada juga yang sedang memotong rumput.
Kamila juga tak mau tahu apa yang akan kakeknya bicarakan dengan paman Rio. Kamila kan masih kecil dan tak akan mengerti biarkan saja para orang dewasa itu mengobrol.
"Ada apa om "
"Begini Rio "
Papinya Fira segera menjelaskan semuanya, bahkan tidak ada yang terlewat sedikitpun. Dia menceritakan bagaimana keadaan Fira, bagaimana Fira bisa seperti itu semuanya diceritakan tuntas olehnya, tidak ada yang ditutupi.
Sebenarnya papihnya Fira sudah pernah menceritakannya, tapi hanya sedikit dan sekarang dibukakan semuanya. Rio juga tidak bisa melakukan apa-apa toh Rio cuman punya hubungan karena Kamila adalah anak mereka berdua saja.
"Bisa kamu bantu Om. Coba kamu masuk ke dalam sana, berpura-pura lah menjadi suaminya Om bingung harus melakukan apalagi, bahkan tadi Fira sampai sempat kabur. Bagaimana kalau itu terjadi kembali Om tidak mau sampai terjadi apa-apa dengannya, om sangat khawatir sekali dengan keadaan Fira, Rio "
__ADS_1
"Tapi Om, aku takut Fira juga mengamuk aku takut dia tiba-tiba memukulku bagaimana itu. Aku tak mau cari masalah om "
"Kita coba dulu ya sama-sama, kita masuk dulu ke dalam semoga saja dia mau dan tidak menyerang mu, om minta tolong sama kamu Rio sekali ini saja"
Rio yang sudah terlanjur ada di sini mau tidak mau mengikuti ayahnya Fira. Kalau tahu begini Rio lebih baik mengantarkan anaknya sekolah saja dan bekerja. Fira itu bukan urusannya mau bagaimanapun keadaannya Rio juga tidak peduli.
Saat masuk ke dalam kamar itu Rio melihat Rio yang dipasung sedang menyisir rambutnya dengan tangannya, sangat menakutkan sekali tadi Rio malah berprasangka kalau itu hantu karena rambutnya panjang dan menutupi wajahnya. Menakutkan sekali memang. Untung saja Rio tak jadi menikahnya.
Kalau sampai waktu itu mereka menikah, Rio tak tahu akan seperti apa nasibnya ini. Mungkin akan mengurus Fira yang seperti ini, menakutkan sekali Rio masih terselamatkan.
Rio menatap ke arah Papinya Fira sebentar, lalu Papihnya Fira itu menganggukan kepalanya. Rio berjalan perlahan mendekati Fira, Rio berjongkok agak jauh dari Fira tidak mau mendekatinya, tidak menyangka perempuan yang pernah sangat Rio sayangi, cintai menjadi perempuan seperti ini.
"Fira "
Fira langsung mengalihkan pandangannya dan menatap Rio. Fira mengerutkan keningnya "Pergi kamu, kamu bukan suamiku. Mau apa kamu kemari, aku mau suamiku mana suamiku kenapa kamu yang datang, pergi dari sini jangan temui aku " teriak Fira dengan keras. Tangan Fira juga ingin mencakar wajah Rio, tapi Rio langsung mundur, enak saja wajah mulusnya ini akan dicakar.
Rio bernapas lega untung saja Fira tidak menganggapnya sebagai suaminya. Kalau tidak Rio akan terus disuruh datang kemari dan berbicara terus dengan Fira yang keadaannya seperti ini.
"Kamu tidak ingat aku Fira, kita dulu pernah punya hubungan bahkan cukup lama. Coba lihat wajahku apa kamu tidak mengenaliku sama sekali apa yang terjadi denganmu. Kita dulu bahkan sangat dekat sekali tak ada jarak diantara kita berdua "
Fira menatap wajah Rio dengan fokus, lalu Fira tersenyum "Rio, kamu ada di sini ke mana suamiku. Kenapa dia tidak ada di sini, aku lupa Rio dengan kamu maaf mana suamiku apa kamu membawanya kemari. Apakah dia sedang membuat kejutan untuk aku. Kemana dia aku ingin bertemu dengan dia sekarang juga Rio, aku begitu rindu padannya" jawab Fira sambil melirik kesana kemari mencari suaminya itu.
"Suami kamu sedang ada pekerjaan di luar. Bisa kita bicara baik-baik mungkin kita bisa bicara dari hati ke hati. Apa kamu mau bertemu dengan anakmu Kamila, kalian berdua sudah lama juga tak bertemu kan. Pasti kamu juga sangat merindukan Kamila kan "
"Kamila ? Sejak kapan aku punya anak, tidak aku hanya ingin bertemu dengan suamiku saja. Aku hanya ingin dia saja, tidak mau yang lain aku mau suamiku kapan dia pulang, boleh antarkan aku untuk bertemu dengan suamiku. Aku ingin memeluknya "
"Tidak bisa, suami kamu sangat sibuk sekali pekerjaannya sangat banyak sekali"
"Akhh kenapa selalu saja tak bisa, kalian semua itu pembohong, pembohong, pembohong, kenapa tak ada yang mau mempertemukan aku dengan suamiku, kalau tak bisa jangan berbicara seperti ini, kalian memang pembohong. Aku tidak mau bertemu dengan kalian keluar dari kamarku sekarang juga keluar, keluar jangan ada disini "
__ADS_1
Fira menjambak-jambak rambutnya tak karuan, Fira menyakiti dirinya mencakar tangannya, lalu mencakar wajahnya Rio sungguh takut kalau seperti ini.Rio perlahan mundur dan mendekati ayahnya Fira tidak lupa pintu yang ditutup kembali dan dikunci lagi. Sedangkan Fira di dalam sedang mengamuk tak karuan.
Berteriak dengan sangat kencang sekali, lalu entah sedang memukul-mukul apa, Rio sampai bergidik ngeri. Kalau Rio masih ada didalam mungkin Rio akan di pukul oleh Fira.
"Om mungkin dia hanya ingin bertemu dengan Adnan saja. Bahkan tadi dia sempat tidak mengenaliku kan Om, aku tidak bisa membantu banyak. Aku juga tidak tahu harus melakukan apa lebih baik membawa Fira ke rumah sakit, siapa tahu dia bisa dirawat di sana dan bisa sembuh lagi "
"Tidak, om tidak akan pernah melakukan itu pada Fira, Fira akan tetap di sini bersama Om tidak akan pernah ke rumah sakit atau masuk rumah sakit jiwa, dia akan tetap di kamar itu dan lambat laun juga Om yakin kalau Fira akan sembuh seperti semula, dia sebelumnya tidak seperti itu maka Om yakin dia akan kembali lagi seperti semula "
"Baiklah semua keputusan ada di tangan Om, aku tidak bisa melakukan apa-apa aku juga bukan siapa-siapa Fira kan, aku hanyalah orang asing saja. Dan apakah Fira harus bertemu dengan Kamila, bukannya apa-apa sepertinya tidak akan baik, Kamila malah akan takut dan nanti dia malah akan menangis"
"Aku tidak mau membuatnya trauma, apalagi Fira selalu membentaknya kan dulu, bahkan saat tadi diajak kemari juga Kamila agak tidak mau karena dia mengingat bagaimana sikap ibunya padanya"
"Ya sudah jangan temukan mereka berdua, sepertinya hanya Adnan saja mungkin yang bisa membuat Fira kembali seperti semula, aku juga bingung harus bagaimana menghubungi Adnan, sedangkan dia sama sekali tidak mengangkat teleponku, dia tidak bisa dihubungi sama sekali. Aku juga datang ke rumahnya kosong bahkan ibunya juga tidak ada, datang ke kantornya hanya ada asistennya Marco"
"Mungkin Adnan sudah pindah rumah bersama Ayana kembali dan kedua putrinya. Adnan juga harus bahagia kan Om. Dia punya jalan pilihan sendiri. Apalagi sudah hampir 5 tahun Adnan ditipu oleh Fira dan juga ibunya sendiri. Maka dia berhak untuk bahagiakan bersama pilihannya, apalagi Ayana juga pergi dalam keadaan yang begitu menyakitkan"
"Adnan harus berjuang kembali mendapatkan Ayana dan juga anak-anaknya om. Dia pasti akan fokus dengan tujuannya sendiri dan juga masa depannya sendiri"
"Iya aku tahu semua orang pasti ingin bahagia, siapa juga yang tak mau bahagia "
"Tentu Om, siapa juga yang tidak mau bahagia kalau begitu aku permisi pergi dulu ya bersama Kamila, semoga saja aku masih bisa mengejar sekolahnya Kamila. Katanya dia mau ada lomba aku ingin mendukung setiap kegiatan yang dilakukan oleh Kamila, aku ingin selalu membuatnya tersenyum "
"Baiklah aku titip cucuku padamu, kalau Kamila rewel kamu boleh kembalikan dia ke mari. Tadinya aku tidak mau memberikannya padamu Rio tapi melihat keadaan Fira yang seperti ini aku tidak bisa mengurus mereka berdua sekaligus, aku tak akan mampu rasannya"
"Iya Om aku mengerti tenang saja Kamila akan baik-baik saja bersamaku. Aku ini kan ayahnya jadi aku pun berhak kan untuk mengurus Kamila, dia juga baik-baik saja bersamaku. Om bisa lihat sendiri bagaimana Kamila sekarang kan saat bertemu dengan om juga dia tak sedih atau mengadu apa-apa kan "
"Iya aku percaya padamu. Kamu pasti akan menjaga cucuku dengan baik, melebihi aku "
Rio hanya menganggukan kepalanya, dia pergi dari sana. Rio juga tidak mau terlalu masuk dalam permasalahan keluarga mereka cukup sudah apa yang pernah dia lakukan waktu itu. Sampai menghancurkan hidup orang lain dan memisahkan orang lain juga.
__ADS_1
Rio tidak mau menjadi seperti itu lagi, dampaknya apa hidupnya sekarang jadi kacau bahkan dirinya dengan istrinya harus bercerai. Karma memang benar-benar ada dan Rio sudah merasakan semuanya juga.