
Adnan membuka sedikit matanya ternyata Ayana terbangun Adnan langsung memberhentikan Ayana yang akan mematikan ponselnya "Tunggu dulu Ayana jangan tiba-tiba kamu matikan seperti itu, ada yang ingin aku tanyakan padamu. Ini sangat penting sekali aku tak mau nanti tiba-tiba aku lupa "
"Mau tanyakan apa Adnan ini sudah sangat malam, apakah kamu tidak mengantuk. Ini sudah waktunya tidur loh "
Adnan menepuk-nepuk punggung Melisa, sekarang Melisa sudah memeluknya dengan sangat erat seperti Ayana, mereka berdua memang sama kalau bangun mereka akan merasa tidak membutuhkan Adnan tapi saat tidur mereka akan menjadikan Adnan seperti guling.
"Kenapa kamu memberitahu Fabian kalau Melissa ada di sini, apa kamu tidak percaya denganku. Apa kamu masih belum percaya dengan aku Ayana "
"Aku percaya denganmu, aku hanya memberi kabar Fabian saja. Apa salahnya aku memberitahunya. Dia berhak tahu di mana Melisa berada, karena dari dulu Fabian sudah dekat dengan Melisa dan juga Melinda jadi tak ada salahnya aku memberitahunya. Fabian adalah segalanya untuk aku, dia adalah kakak, sahabat dan juga orang terdekat bagiku dia begitu berarti untuk aku "
"Hemm, tadi dia datang kemari " Adnan menjawab dengan lesu, Fabian ternyata begitu berarti dalam hidup Ayana.
"Ya terus masalahnya apa, dia tidak membuat masalah kan Fabian hanya ingin melihat Melisa saja, tidak akan pernah ada yang dia lakukan Fabian, Fabian hanya ingin melihat bagaimana keadaan Melisa itu saja, jadi kamu tak usah takut "
"Iya kamu benar, lihatlah anakmu yang gengsian memelukku seperti ini, seperti guling saja aku ini Ayana " Adnan langsung mengalihkan pembicaraan tak mau nanti malah jadi bertengkar.
Ayana tersenyum "Memang seperti itu Melisa, biasanya tidur selalu ada guling makanya dia menjadikan kamu sebagai guling"
"Begitu ya, apakah kamu sekarang tidur selalu menggunakan guling Ayana dulu kamu tidak pernah menggunakannya, karena kamu waktu itu memelukku dengan sangat erat sekali, apakah kamu memeluk guling seperti itu juga dengan erat "goda Adnan, memang dulu saat menikah dengannya, Ayana memang selalu memeluk dirinya saja tidak pernah memeluk guling.
__ADS_1
"Hah kamu bicara apa sih tiba-tiba di sini sinyalnya jelek, coba kamu ulangi siapa tahu aku bisa mendengarnya "
"Ibu dan anak sama-sama gengsinya besar sekali, kamu dan juga Melisa sama saja "
Ayana menjulurkan lidahnya, dia tidak mungkin kan berbicara hal seperti itu pada Adnan untuk apa juga. Adnan sudah bukan siapa-siapanya lagi.
"Apa kamu butuh seseorang untuk menemani Melinda, kurasa kamu seperti sedang kesusahan dan banyak sekali pekerjaan. Aku bisa menyewa pengasuh untuk Melinda "
"Tidak, aku masih bisa mengurus anak-anakku aku tidak butuh pengasuh karena aku terlalu sayang pada mereka, sampai-sampai aku tidak rela kalau anak-anakku sampai diasuh oleh orang lain, dan mereka akan lebih menurut pada orang lain dan juga lebih suka dengan orang lain. Jadi biarkan aku saja yang mengurus mereka"
"Terima kasih Ayana karena kamu waktu itu sudah mengambil keputusan untuk melahirkan anak-anak kita, kamu tidak melakukan hal gegabah "
"Semuanya pasti berat untukmu Ayana. Terima kasih karena sudah bertahan selama ini"
"Anak-anak adalah sumber kebahagiaanku. Mana mungkin aku mengeluh begitu saja dan kamu Adnan terus saja mengatakan hal itu, sudahlah semuanya juga sudah berlalu semuanya hanya sebuah masa lalu saja"
"Iya aku tahu Ayana itu hanya sebuah masa lalu, tapi aku selalu berpikir banyak orang-orang di sana saat ditinggalkan oleh suaminya atau mungkin ada dalam keadaan seperti kamu mereka akan mengambil jalan pintas, menggugurkan atau bunuh diri. Tapi aku bersyukur kamu tidak melakukan itu, entah bagaimana aku menebus dosa-dosa itu jika kamu sampai seperti itu. Kamu adalah perempuan yang hebat, kamu adalah ibu yang hebat untuk anak-anak Ayana"
Ayana menghapus air matanya dengan perlahan, entah kenapa air matanya tiba-tiba saja mengalir "Bohong kalau aku mengatakan aku tidak takut pergi begitu saja dari kota besar itu, saat Fabian memintaku untuk dia temani aku menolak karena aku tidak mau membuat Fabian kebingungan denganku atau terbebani olehku. Aku ingin mandiri aku menggunakan perhiasan yang kamu berikan itu aku menjual semuanya untuk hidupku untuk anak-anakku, aku menyewa rumah aku takut dengan orang-orang yang ada di sana, aku takut mereka menolakku seperti bagaimana keluargaku menolakku mereka sangat jijik padaku, mereka keluargaku sangat tidak suka denganku tapi dengan lambat laun ternyata orang-orang tidak sama, tidak seperti keluargaku mereka bisa menerima aku dan juga menerima kedua putriku mereka juga banyak membantuku sampai-sampai aku bisa membuka toko bunga"
__ADS_1
Adnan yang mendengar cerita Ayana sungguh merasa sangat bersalah sekali. Memang di sinilah dirinya yang salah seharusnya Adnan waktu itu tidak seperti itu mungkin Ayana dan juga kedua putrinya tidak akan merasakan hidup seperti itu. Ayana tertekan dengan keadaan tapi dia masih bisa bertahan.
"Awalnya aku juga tidak terima dengan kehamilanku ini, tapi aku berpikir ulang kalau tidak mereka siapa lagi yang akan menemaniku nanti dan terbukti sekarang aku bahagia bersama anak-anakku, kalau saja aku waktu itu berpikiran pendek mungkin aku tidak akan sebahagia ini Adnan"
Adnan terus saja mendengarkan cerita dari Ayana, rasanya Adnan ingin datang ke sana dan memeluk Ayana dengan erat, dia tidak akan pernah melepaskan Ayana lagi.
Ayana mengusap air matanya lagi "Maafkan aku, aku tiba-tiba menangis tidak karuan seperti ini lagi"
"Kenapa kamu masih menganggapku seperti orang asing Ayana, kalau ada apapun kamu harus bilang padaku kamu berbagi denganku. Aku akan selalu ada untukmu, aku akan selalu membantu kamu, aku tidak akan meninggalkanmu sendiri lagi. Aku akan mendengarkan setiap curahan hatimu itu jangan pernah ragu lagi padaku Ayana "
"Kamu malah akan mati bosan terus mendengarkan ceritaku Adnan "
Adnan tersenyum "Baiklah sekarang waktunya tidur, kamu harus segera tidur tidak boleh begadang tidak baik. Lihatlah Melisa dan juga Melinda sudah tertidur"
"Aku tadi sudah mau tidur dan mematikan ponselnya, tapi kamu tiba-tiba mencegahnya. Aku akan matikan sekarang"
"Tidak jangan Ayana, biarkan seperti itu aku ingin melihat kalian tidur, jika melakukan ini aku merasa dekat saja dengan kalian semua jangan matikan ya"
Ayana menganggukan kepalanya dia mengambil bantal untuk menyangga ponselnya, agar tetap berdiri dan memperlihatkan wajah Melinda, lalu Ayana menutup kedua bola matanya dia juga sudah mengantuk.
__ADS_1