
Adnan yang akan masuk ke dalam mobilnya langsung ditarik oleh Papinya Fira "Maksud kamu apa-apaan berbicara seperti itu pada anakku, aku minta kamu datang kemari tidak untuk menjelaskan hal seperti itu. Aku ingin kamu bersamanya diam di kamar itu dan menenangkannya membawanya berobat dan menemaninya sampai sembuh, kenapa Adnan kamu malah membuat anakku makin parah saja, apakah memang ini yang kamu mau makin membuat Fira parah, ini yang kamu inginkan "
"Aku ini bukan dokter yang bisa menyembuhkannya, lebih baik kamu bawa dia ke dokter. Bawa dia berobat ke luar negeri apa susahnya sih. Aku ini bukan siapa-siapanya lagi aku hanya orang asing, dan aku juga bukan suaminya lagi seharusnya kamu sebagai ayahnya bisa menjelaskan dengan baik kepada Fira, aku sudah bercerai dengan anakmu dan aku tidak mau berurusan lagi dengannya"
Adnan juga melepaskan pegangan tangan papihnya Fira di jasnya "Aku tidak akan pernah mau tinggal di dalam satu kamar dengan perempuan itu, aku sudah tidak berhak atas Fira lagi kita berdua ini bukan muhrim. Jadi untuk apa diam di satu kamar berdua, lebih baik kamu urus saja anakmu itu dengan benar jangan terus menyudutkan orang lain. Aneh sekali aku benar-benar tak habis fikir dengan fikiran kamu itu "
"Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Fira aku akan membalaskan semuanya padamu, karena semua ini terjadi karena mu Adnan kalau saja Fira tidak menikah denganmu mungkin dia tidak akan gila seperti ini, dia akan baik-baik saja dan bisa membantu aku. Membuat aku bangga aku menyesal telah merestui kalian berdua waktu itu, seharusnya aku tak membiarkan kalian berdua menikah "
"Memangnya awalnya siapa yang ingin menikah denganku, bukannya anakmu yang terus ngotot ingin menikah denganku, bahkan menyingkirkan istriku sendiri menyingkirkan Ayana, menjebaknya melakukan berbagai cara untuk membuat istriku pergi dari sampingku, jadi jangan salahkan aku salahkan anakmu saja kenapa begitu tergila-gila denganku, oh tunggu dia bukan tergila gila dengan aku tapi dengan hartaku, dia kan gila harta dia itu perempuan serakah sama seperti kamu "
"Jangan menyalahkan orang atas keadaan anakmu, itu memang sudah hukuman dari Allah untuk anakmu, karena telah memfitnah seorang perempuan yang tidak bersalah. Sudahlah kamu sepertinya akan sama gilanya seperti anakmu nanti. Bawa saja anakmu itu berobat dan jangan pernah temui aku lagi, aku tak akan pernah datang lagi kemari dan menginjakan kaki disini lagi, apapun keadaannya itu "
"Satu lagi jangan pernah usik keluargaku lagi, aku sudah tahu siapa orang suruhan kamu yang ada di kantorku, aku bisa saja membunuhnya, aku bisa saja melakukan apapun itu bahkan aku bisa saja membuat kantormu sekarang juga bangkrut, aku sudah menarik sahamku kan jadi kamu jangan main-main denganku"
Adnan langsung masuk ke dalam mobilnya. Adnan tidak mau berurusan lagi dengan papihnya Fira, sudah cukup sampai di sini saja. Mereka ini diberi hati minta jantung. Seharusnya mereka bersyukur Adnan datang kemari dan berbicara pada Fira untuk menyadarkan perempuan itu agar tidak terus seperti itu.
Tapi Adnan berpikir kalau Fira itu sebenarnya tidak sakit, dia sedang berpura-pura entah kenapa saat melihat Fira tadi Adnan merasa kalau Fira sedang berpura-pura sakit. Fira sedang berpura-pura gila agar dirinya bisa ada di samping Fira.
Karena Fira itu kan hebat sekali dalam melakukan drama, Adnan yakin Fira itu hanya pura-pura saja dia melakukan ini hanya untuk menarik simpatinya saja, agar Adnan bisa kembali lagi padanya tapi jangan harap Adnan tidak akan pernah terbuai dengan keadaan Fira yang seperti itu.
Yang ada Adnan malah jijik melihat Fira yang seperti itu. Fira bisa melakukan apa saja demi uang, dia itu benar-benar ratu drama, dia itu penuh tipu daya.
...----------------...
Melisa menatap Bibi Rara yang ada di sampingnya "Bibi Rara apa kamu tahu dengan kakek-kakek yang tadi datang kemari, itu siapa sebenarnya dan perempuan yang dimaksud oleh kakek itu siapa ya"
Rara diam sejenak dia bingung harus menjelaskan apa, apakah perlu menjelaskan pada Melisa kalau Ayahnya itu pernah menikah dengan perempuan lain. Tapi Melisa sepertinya sudah diberitahu oleh ayahnya kalau ayahnya pernah menikah, lebih baik berbicara saja lah.
"Yang dimaksud oleh kakek tadi itu ibunya Kamila, kamu tahu kan Kamila, Melisa "
Melisa mengangguk-anggukan kepalanya "Oh jadi mantan istrinya Ayah ya, aku kira siapa, berarti itu adalah kakeknya Kamila "
"Apakah kamu tidak marah mengetahui semua itu Melisa"
__ADS_1
Melisa langsung menggelengkan kepalanya "Tidak kenapa aku harus marah. Ayah hanya mencintai Mamaku saja, lalu apa yang perlu aku khawatirkan dia kan cuman mantan istri Ayahku saja. Bukan siapa-siapanya lagi, berarti kalau sudah seperti itu sudah tak ada hubungannya lagi kan "
"Kamu tahu dari mana kalau itu mantan istri ayahmu, maksudnya apa ada yang berbicara dengan kamu Melisa"
"Ya karena itu Mamanya Kamila berarti mantan istrinya ayah kan, waktu itu aku pernah mendengar Ayah berbicara pada Mama kalau dia sudah bercerai begitu berarti dia bukan istri Ayah lagi kan. Dia saja sudah tak tinggal disini lagi "
Rara yang mendengarnya malah menjadi bengong, ingatan anak ini begitu kuat, sepertinya akan sama seperti ayahnya nanti saat dewasa akan hebat dalam berbisnis.
"Paman Marco kamu datang kemari " teriak Melisa saat melihat Marko datang menghampirinya, Melisa langsung minta digendong, Marko tentu saja langsung menggendong Melisa dan duduk kembali di kursi itu sambil menonton Barbie yang masih diputar.
Rara langsung meminta izin untuk pergi ke dapur dulu, Rara akan membiarkan Melisa dengan Marco saja karena Rara tahu Marco adalah orang kepercayaan bosnya, jadi tak mungkin kan Marco melakukan sesuatu yang aneh-aneh pada anak bosnya sendiri.
"Pasti Paman Marco disuruh oleh ayah untuk menemani aku kemari kan, apakah tebakan aku benar Paman "
"Iya paman disuruh ayah kamu datang kemari untuk menemanimu, katanya masih ada beberapa pekerjaan yang harus Ayah kamu lakukan makanya paman yang disuruh datang kemari. Tak masalah kan kalau untuk hari ini bersama paman tak bersama ayah "
"Iya dia kan sedang menemui mantan istrinya itu, tadi ayahnya datang kemari dan meminta ayahku untuk ikut dengannya juga "
"Kata ayah bibi itu sedang sakit dan nanti takutnya bibi itu menyerang ku, makanya Ayah tidak membawaku tapi aku tetap percaya kok dengan ayah, kalau ayah akan selalu setia dengan Mama, aku tahu Ayah itu begitu setia dengan mama tidak mungkin Ayah tiba-tiba menyukai perempuan lain lagi"
"Kamu tahu dari mana kalau Ayah suka dengan Mama"
"Paman ini bagaimana sih Ayah sampai mengejar Mama ke sana, bahkan saat kami pergi menjauh Ayah mendekat berarti Ayah sangat menyukai Mama, sebaliknya Mama juga sangat menyukai Ayah. Bahkan waktu saat liburan Mama dan juga Ayah satu kamar, mereka tidur bersama. Sampai aku dan Melinda pusing mencari keberadaan mama, ternyata mama diculik oleh ayah menyebalkan sekali kan ayah itu "
Marco sampai tersedak dengan ludahnya sendiri mendengar semua itu "Paman kenapa, Paman sedang tidak makan apa-apa tapi tersedak ini air putih. Minum yang banyak paman dan pelan-pelan saja"
Melisa memberikan air putih yang ada di meja itu ke arah Marco, Marco segera meminumnya dengan perlahan seperti apa yang diminta oleh Melisa.
"Heh kamu kenapa ada dirumah ayahku "
Pandangan Melisa dan juga Marco terarah ke pintu, ternyata itu Kamila, dia berdiri di sana berkaca pinggang sendirian. Marco yang melihatnya malah akan menjadi pusing kenapa juga Kamila bisa ada di sini dia pergi ke sini dengan siapa, tak biasannya Kamila datang kemari.
"Nona Kamila kenapa kamu ada di sini kamu pergi ke sini dengan siapa, apakah dengan ayah kamu Rio "
__ADS_1
"Apa urusannya dengan kamu Marco mau aku datang ke sini sendiri atau dengan siapapun itu adalah urusanku. Kamu tidak usah ikut campur kamu itu hanya pekerjaan Ayahku saja, kamu tak berhak menanyakan hal seperti itu juga padaku "
Melisa yang tidak suka mendengar kata-kata dari Kamila segera maju "Kamu ini kenapa begitu kasar pada orang dewasa, seharusnya kamu itu tidak boleh berteriak pada paman Marco, dia itu lebih tua dari kamu seharusnya kamu itu patuh padanya dia kan bertanya baik-baik padamu kenapa kamu menjawabnya seperti itu, sungguh tidak sopan sekali kamu itu. Jangan panggil nama paman Marco dengan nama saja, itu tak sopan apa kamu tak diajarkan sopan santun Kamila ? "
Kamila maju ke arah Melisa dan mendorong bahunya, tapi Melisa masih tetap berdiri dia tidak jatuh sama sekali "Kamu juga selain tidak sopan ternyata kasar juga, aku di sini karena ini rumah Ayahku memangnya salah seorang anak ada di rumah ayahnya" ucap Melisa dengan suara yang masih tenang.
"Ini adalah rumah Ayahku, bukan rumah ayahmu lebih baik kamu pulang pada mamamu saja, kamu itu sudah menghancurkan keluarga ini tahu, kamu sudah membuat aku jauh dengan ayah. Sana pulang kamu tak berhak ada disini " Kamila masih saja berteriak saat berbicara dengan Melisa.
"Telingaku ini masih baik-baik saja, tidak usah sampai berteriak-teriak seperti itu. Aku masih bisa mendengarnya"
Marco menjadi pusing melihat dua anak kecil ini yang bertengkar. Marko menarik Melisa dan menggendongnya belum ada orang yang datang ke dalam rumah. Ya maksudnya Rio atau siapa itu yang membawa Kamila kemari, kenapa harus membawa anak cerewet ini kesini.
Marco sudah keluar dari dalam rumah, ternyata yang mengantar Kamila adalah seorang supir "Kamu kenapa tak langsung membawanya pulang kerumahnya, malah membawanya kemari "
"Nona Kamila sendiri pa yang ingin datang kemari, dia ngotot ingin ke rumah Pak Adnan. Jadi saya harus bagaimana saya hanya mengikutinya saja Pak, kalau tak diikuti nanti marah dan berbicara pada Pak Rio "
"Aduh bagaimana ini telepon Rio telepon, suruh anaknya ini pulang jangan membuat masalah di sini. Dia itu biang kerok cepat telfon majikan mu itu "
"Baik Pak baik"
Marco kembali masuk ke dalam rumah, Melisa kaget saat Kamila merusakan Barbie nya, kepalanya sudah copot, tangannya, kakinya semuanya sudah terpisah.
Melissa yang tidak suka melihat mainannya dirusak langsung turun dari gendongan, Marco juga tidak bisa menahannya. Marco membiarkan Melisa mengambil mainannya itu.
Melisa mengambil boneka Barbie yang sudah dirusak oleh Kamila itu, lalu Melisa memelototi Kamila "Kamu ini kenapa sih datang-datang kemari menghancurkan mainan orang lain, kamu ini benar-benar tidak sopan sekali ya. Ini tuh dibelikan oleh Ayahku kamu ini tidak menghargai pemberian orang lain, ini dibeli oleh uang bukan oleh daun tahu. Kamu seharusnya menghargai barang punya orang lain"
"Dia itu bukan ayahku. Aku ini adalah anaknya jadi aku adalah pemilik rumah ini dan aku yang lebih berhak, boneka Barbie itu juga milikku karena ada dirumah ku, kamu siapa seharusnya kamu pergi dari rumah ini. Kamu tak pantas ada disini tahu " teriak Kamila dengan sangat angkuh sekali.
Melisa yang tidak mau bertengkar membawa boneka barbie-nya yang sudah terpisah itu, dia naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamarnya. Bahkan Melisa juga mengunci pintunya dia tidak mau Kamila nanti masuk kemari.
Melisa mencoba untuk membenarkan boneka Barbie nya lagi, pasti nanti ayahnya akan marah kalau melihat boneka Barbie nya rusak seperti ini, padahal ini kan baru dibuka tadi oleh Bibi Rara, tapi sudah dirusak saja oleh Kamila, Melisa juga tidak mau mendorong Kamila atau balik marah dengan Kamila, takutnya nanti ayahnya marah.
Melisa dengan susah payah menyambungkannya kembali, semoga saja masih bisa sayang sekali boneka ini.
__ADS_1