
Ayana menghampiri suaminya yang ada di ruang kerjanya sudah dari tadi suaminya itu di sana, dan belum juga kembali ke dalam kamar dari jam 08.00 malam suaminya itu berkutat terus dengan laptopnya. Katanya sudah selesai pekerjaannya ternyata masih ada saja dan harus segera diselesaikan.
Adnan menoleh ke arah Ayana yang membawa segelas susu coklat kesukaannya "Apakah kamu akan terus bekerja ini sudah jam 12.00 malam, apa kamu tidak akan istirahat" sambil menyimpan gelas susu itu di depan suaminya.
Adnan mengambil gelas susu itu meniupnya perlahan dan mencobanya ternyata tidak terlalu panas. Adnan langsung menegak susu itu sampai habis tidak tersisa sedikitpun "Aku sebentar lagi akan selesai sayang maaf ya aku kira tadi semuanya sudah selesai, tapi ternyata masih ada lagi yang harus aku kerjakan. Aku janji setelah ini aku langsung tidur, tanggung sayang sedikit lagi "
"Bisakah nanti saja di kantor besok, ini sudah jam 12.00 malam dan kamu harus segera istirahat, tubuh kamu itu butuh istirahat tidak terus bekerja seperti ini, ada waktunya bekerja dan ada waktunya beristirahat. Kamu bisa berkata seperti itu padaku tapi kamu sendiri sangat sulit untuk menjaga kesehatan kamu"
"Iya sayang maaf, ini sebentar lagi kok aku janji hanya sebentar ini tinggal beberapa kata lagi aku tidak mau nanti pagi lebih banyak lagi pekerjaan dan aku malah jadi pulang malam hari. Aku tidak mau lembur aku juga ingin menghabiskan waktuku bersama istriku dan juga anak-anakku yang paling aku cintai ini "
Adnan menarik dagu istrinya dan mencium bibirnya. Agar Ayana tidak marah-marah terus. Ayana lalu duduk di kursi dan menunggu suaminya yang masih fokus ke arah laptopnya menunggu di sana dengan sabar.
Anak-anak sudah tidur dari tadi, mereka juga tadi menunggu ayahnya untuk bermain bersama tapi Ayana sudah memberikan nasihat kalau Ayahnya itu sedang sibuk bekerja lagi, untungnya mereka mengerti dan mau langsung tidur tanpa harus menunggu Adnan dulu.
Ayana sudah sangat mengantuk sekali. Bahkan dia sudah menguap dari tadi, Adnan yang melihat itu tidak tega sekali. Adnan segala membereskan segalanya dan sepertinya akan dikerjakan besok saja kasihan istrinya sudah menunggu dan mengantuk seperti itu.
"Apakah sudah selesai "tanya Ayana sambil menutup mulutnya lagi-lagi Ayana menguap.
"Iya sayang ini aku sudah selesai, aku membereskan ini dulu ya sayang "
__ADS_1
Setelah semuanya selesai dibereskan Adnan langsung merangkul istrinya dan mereka keluar dari dalam ruangan itu. Ayana juga langsung menyandarkan kepalanya ke dada suaminya.
"Bagaimana apakah anak-anak sudah tidur"
"Kamu baru menanyakan anak-anak, mereka sudah tertidur dari tadi malahan, tadi menunggumu tapi aku sudah memberi penjelasan pada mereka kalau kamu sedang sibuk. Mereka langsung saja tidur setelah mendengar hal itu "
"Maafkan aku sayang, memang aku kalau sudah bekerja seperti itu aku sampai tidak tahu waktu. Aku ingin selalu semuanya selesai makanya aku selalu seperti itu. Aku tidak mau menunda nunda pekerjaan"
Mereka berdua segera masuk ke dalam kamar, Ayana sendiri langsung berbaring di tempat tidur, sedangkan Adnan mengambil piyama yang sudah disediakan oleh istrinya. Ayana sendiri sudah memakai piyamanya dari tadi dengan motif yang sama dengan suaminya.
Adnan tanpa malu-malu lagi mengganti pakaiannya di sana di depan Ayana istrinya, setelah itu Adnan masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci wajahnya, sikat gigi dan yang lainnya.
Setelah selesai Adnan langsung berbaring di tempat tidur dan merentangkan kedua tangannya, untuk istrinya masuk ke dalam dekapannya. Adnan sekarang senang sekali kalau memeluk istrinya seperti ini. Tidurnya makin nyenyak saja.
Adnan memainkan rambut istrinya dan melihat sedikit ke arah sang istri "Kamu kenapa melamun seperti ini, katanya tadi mengantuk bahkan kamu tadi sudah menguap tapi belum tidur juga, ini kita sudah ada didalam kamar sayang "
"Aku tiba-tiba kepikiran ibuku, apakah aku bisa bertemu dengannya tapi aku sangat takut, takut kalau misalnya ibu malah tidak menerima aku dan jadi pertengkaran saja"
"Apakah kamu benar-benar ingin bertemu dengan ibu kamu ?"
__ADS_1
"Iya aku ingin bertemu dengan ibu, aku ingin memeluknya sudah 5 tahun aku tidak langsung bertemu dengannya kan, aku sudah rindu padanya meskipun sikap Ibuku seperti itu, mau bagaimanapun dia yang sudah melahirkan aku. Aku juga ingin bertanya lagi kenapa ibu hanya mencintai kakakku dan adikku saja. Lalu aku kenapa, kenapa hanya aku saja yang dibenci apakah ada sesuatu yang membuat Ibu benci padaku"
Tiba-tiba saja Ayana berubah pikiran, tadinya dia tidak akan pernah mengingat ibunya lagi, tidak akan memperdulikan ibunya lagi, tapi setelah bertemu dengan Mamanya Adnan malah jadi ingat dengan ibunya.
"Tapi nanti kamu malah akan sakit hati saja kalau bertanya hal itu lagi pada Ibumu. Bukannya kamu sudah sering menanyakan hal itu pada ibu"
"Iya sudah sangat sering sekali, tapi ya aku ingin menanyakan hal itu, siapa tahu ibu sekarang sudah berubah setelah aku pergi selama 5 tahun"
"Menurutku lebih baik jangan kamu temui, yang ada malah akan sakit hati saja bukannya aku melarangmu tapi pada akhirnya ibumu akan sama terus menyakitimu. Ibumu belum berubah dia masih sama dia masih seperti itu tidak akan pernah ada berubahnya"
"Kenapa seperti itu Adnan kenapa, apakah kamu melihat kalau aku ini berbeda dengan kakak dan juga adikku ?"
"Tidak, tidak ada yang berbeda kalian sama bahkan wajah kalian juga sama tidak mungkin kan tiba-tiba kamu bukan anak ibumu, kamu juga sudah tes DNA kan beberapa kali "
"Iya aku sudah melakukan itu beberapa kali, bahkan saking penasaran dan kenapa Ibuku sampai sekasar itu padaku"
"Ya sudah jangan terus memikirkan itu, lebih baik sekarang tidur, di sini kan sekarang ada aku, ada anak-anak, ada nenek, ada Mama. Aku tidak mau melihat kamu sedih Ayana setiap menceritakan semua itu kamu pasti akan sedih aku tidak suka melihatnya. Aku ingin kamu selalu tersenyum"
Ayana mendongak untuk menatap suaminya itu, tentu saja Adnan balik menatap istrinya dengan mata yang teduh dan menenangkan untuk Ayana.
__ADS_1
"Aku benar-benar tidak suka kalau kamu sedih murung. Aku lebih suka kamu yang selalu bermain dengan anak-anak, bercerita dengan anak-anak. Tolong jangan terus bersedih ya di sini ada aku kamu tidak usah memikirkan bagaimana dengan ibumu, nanti juga kalau dia mau sadar akan sadar dan kita pada saat itu akan menemuinya. Lebih baik sekarang kamu tidur "
Ayana mempererat pelukannya dan menyembunyikan kepalanya di dada suaminya, Ayana langsung menutup kedua bola matanya meskipun pikirannya masih penuh dengan ibunya, tapi Ayana tidak mau membuat suaminya khawatir.