Aku Bawa Mereka

Aku Bawa Mereka
Bab 193


__ADS_3

Melihat Adnan keluar beberapa pelayan langsung membantu Ayana untuk menghidangkan makanan yang sudah tadi pagi Ayana buat. Mereka langsung sibuk takut nanti dimarahi oleh tuannya itu.


Anak-anak sendiri sudah mengelilingi meja makan dan mereka sudah duduk dengan sangat tenang, makanan yang dimasak oleh ibunya adalah makanan favorit mereka. Sama halnya seperti Adnan sama menyukai makanan yang selalu dihidangkan oleh istrinya dan dimasak oleh istrinya juga.


Meskipun makanan rumahan tapi itu sangat enak sekali. Adnan menyukainya sangat menyukainya sekali, bahkan kadang-kadang Adnan selalu tambah lagi daripada mereka harus beli juga kan. Tapi kalau untuk siang hari Adnan akan membeli makanan di luar saja dan untuk sore hari nanti para pelayan yang memasak.


Adnan tahu mengurus anak-anak itu sangat lelah, jadi Adnan tidak akan pernah membebani semuanya pada Ayana untuk memasak setiap harinya, ya seada waktunya saja. Adnan tidak akan pernah menuntut apa-apa pada istrinya itu.


Adnan kan menikahi istrinya bukan untuk memasak atau yang lainnya, Adnan menikahi Ayana untuk bisa menemani sampai hari tua nanti, kalau anak-anak sudah besar mereka akan sibuk dengan kegiatan mereka, sedangkan yang akan menemani kita siapa lagi kalau bukan pasangan.


"Mama semuanya terlihat sangat enak sekali aku tidak sabar untuk menyantap makanannya"Melisa menggerak-gerakkan garpu yang dia pegang dan sudah sangat tergiur sekali dengan sosis yang baru saja dibawa tadi.


"Iya aku juga mau itu "tunjuk Melinda pada nasi bola-bola yang selalu diisi dengan daging, wortel, brokoli yang dipotong kecil-kecil semuanya. Melinda sangat suka kalau nasi yang mamanya bulat-bulat dan diisi dengan berbagai macam makanan.


Adnan menarikan kursi dulu terlebih dahulu untuk sang istri, sebelum dia duduk di kursi kepala keluarga.


Ayana suka dengan anak-anaknya yang seperti ini, mereka bersemangat saat akan makan tidak ada yang lesu ataupun menolak makanan yang sudah Ayana sediakan. Mereka juga kalau sedang makan selalu saja lahap "Ayo sekarang kalian makan, semuanya sudah ada dimeja makan tinggal kita santap saja "


Sekarang semua orang sibuk dengan makanan mereka masing-masing yang sudah mereka ambil juga tadi. Ayana hanya mengambil sedikit saja takut nanti tak habis. Ayana sedang tak nafsu makan apa-apa.


"Anak-anak nanti ayah dan juga Mama akan menjemput kalian lagi. Seperti biasa kami akan kesana "kata Adnan sambil tersenyum lebar pada anak-anaknya.


"Yey akhirnya jemput lagi dijemput lagi "Melisa dan juga Melinda sangat suka kalau dijemput oleh kedua orang tuanya, karena mereka bisa jalan-jalan dulu terus membeli makanan juga.


"Mama kamu harus makan yang banyak kulihat Mama makin kecil saja, padahal mama dan ayah sudah menikah seharusnya Mama itu gemuk "ucap Melisa sambil menyuapkan daging ayam ke mulut Mamanya itu.


Ayana tersenyum sambil menerima suapan dari anaknya itu, padahal Ayana lihat-lihat tubuhnya tidak kecil. Tubuhnya masih sama tak ada berubahnya "Terimakasih ya "


"Hemm, sama sama mama sayang "


Kembali Melisa melanjutkan makannya, dia juga makan dengan sangat lahap sekali Melisa sekarang seperti adiknya hampir sama badannya, tapi masih besar Melinda karena setelah makan Melinda akan mengambil camilan, lalu memakannya sampai mereka sampai di sekolah.

__ADS_1


Belum lagi nanti saat makan siang Melinda akan makan yang banyak. Melinda benar-benar suka sekali dengan makanan.


"Benar kata kakak mama itu harus banyak makan, nanti kalau misalnya di dalam perut Mama ada dede bayi gimana kita berdua kan mau punya adik kayak temen-temen. Pasti akan seru nanti kami tak berdua lagi mainnya "


Adnan dan juga Ayana saling pandang, sepertinya hidup mereka sebentar lagi akan ditanyai tentang kapan punya adik, kapan mamanya hamil lagi. Ayana harus bisa menjawab segalanya.


Melisa dan juga Melinda secara bersamaan menyuapkan makanan lainnya pada Ayana"Ayo Mama makan ini habiskan, mama harus memakan makanan yang kami berikan, agar mama cepat besar "


Ayana tersenyum melihat itu, Ayana memakai satu persatu tidak langsung dua-duanya, bisa-bisa Ayana tidak akan menampungnya dan malah akan keluar nanti.


Sekarang malah Ayana yang disuapi oleh anak-anaknya, satu persatu mereka menyuapi Ayana padahal makanan yang ada di piring Ayana ini masih banyak masih utuh. Karena baru dimakan beberapa suap saja.


Tapi Ayana tidak mau mengecewakan anak-anaknya, Ayana terus menerima suapan dari Melisa dan juga Melinda, sekarang mulut Ayana sudah penuh sekali bahkan untuk dibuka saja akan sangat sulit sekali.


Adnan yang melihatnya langsung cemberut "Kalau Ayah kenapa tidak disuapi seperti mama, ayah juga mau disuapi oleh kalian berdua. Ayah juga mau seperti itu, ayo suapi ayah dong "


"Memangnya nanti ayah juga akan mengandung ya seperti mama. Memangnya nanti adik bayi juga akan tumbuh di perut ayah ? Kalau sampai ayah bisa mengandung juga kita bisa langsung punya adik dua dong "


Melisa dan juga Melinda sekarang menggeser kursinya mereka fan beralih menyuapi ayahnya. Adnan tersenyum senang sekarang gilirannya yang disuapi berbagai macam makanan dari anak-anaknya itu.


Adnan tak menolak saat disuapi apapun oleh anaknya itu, bahkan saat ada wortel masuk kedalam mulutnya Adnan terima, padahal Adnan sangat tak suka dengan makanan berwarna orange itu.


Mungkin kalian juga bertanya-tanya ke mana Nenek, dari tadi pagi sekali nenek sudah pulang nenek katanya ada pekerjaan jadi tidak bisa ikut sarapan pagi di sini.


Nenek memang seperti itu, kalau sudah menginap jarang ikut makan bersama. Apalagi nenek itu kalau sarapan hanya minum teh saja sudah itu.


Mereka akhirnya menyelesaikan makanan mereka itu, perut Adnan sudah sangat sakit sekali karena terus dijejali makanan belum lagi menghabiskan yang ada di piringnya, jatah Ayana juga tadi dia yang memakannya, karena Ayana juga sudah tidak bisa menampung makanan lagi.


Kalau tak dihabiskan nanti Ayana malah jadi mengomel dan akan diungkit-ungkit sampai besok pagi lagi. Jadi Adnan tak mau sampai telinganya ini panas, lebih baik habiskan saja meskipun perutnya sudah sakit.


Sepertinya Adnan sekarang harus banyak-banyak berolahraga lagi, kalau tidak perutnya akan buncit ototnya juga tidak akan ada lagi. Pasti Melissa dan juga Melinda akan mengatainya seperti badut Adnan yakin itu. Hari Minggu Adnan harus bisa berolahraga jangan berolahraga ditempat tidur saja.

__ADS_1


Ayana dan juga Adnan kembali mengantarkan anak-anaknya ke sekolah, tapi Ayana tidak keluar dari dalam mobil, dia hanya diam di dalam sedangkan Adnan yang turu Melisa dan juga Melinda mengerutkan keningnya saat melihat mamanya diam saja.


"Ayah kenapa Mama tidak turun juga, biasa juga Mama turun dan memeluk kami berdua lalu sekarang mama kenapa diam di dalam "protes Melisa sambil menengok mamanya yang masih ada di dalam mobil.


"Takutnya nanti ada orang jahat yang melakukan sesuatu pada Mama. Makanya mama tidak keluar tidak masalah ya ayo cepat masuk ke sekolah teman-teman kalian sudah menunggu, itu ibu guru juga sama sudah menunggu kalian untuk masuk kedalam kelas "


Melisa dan juga Melinda tanpa mau bertanya lagi langsung menganggukkan kepalanya, mereka mengerti dan berlari setelah tadi memeluk ayahnya. Setelah melihat anaknya masuk ke dalam sekolah Adnan masuk ke dalam mobil lagi.


Bukan apa-apa takutnya ada orang tuanya Ayana dan menyerang istrinya ini. Adnan harus selalu waspada Adnan harus selalu bisa menjaga istri dan juga anak-anaknya, bahkan tanpa mereka ketahui Adnan sudah menyimpan beberapa orang penjaga di sekolah ini untuk selalu mengawasi anaknya. Kalau Ayana kan ada di sampingnya jadi Adnan bisa menjaganya secara leluasa.


"Apakah anak-anak tidak marah aku selalu saja diam di dalam mobil"


"Anak-anak mengerti sayang sudah aku sudah memberi penjelasan pada mereka, daripada nanti tiba-tiba ada orang tuamu muncul aku tidak mau terjadi sesuatu padamu lebih baik mencegah kan daripada nanti setelah datang kamu malah diapa-apain oleh mereka"


"Hemm, kenapa mereka malah jadi ancaman untuk kita Adnan, aku begitu tak lelah kalau harus selalu seperti ini "


"Yang sabar ya, aku janji orang tua kamu tak akan pernah mengganggu lagi mereka tidak akan datang lagi ke rumah kita"


Ayana menganggukkan kepalanya. Ayana benar-benar sudah muak dengan segala macam yang dilakukan oleh orang tuanya itu. Kapan orang tuanya tak akan menganggu lagi, kapan mereka akan fokus pada hidup mereka sendiri tanpa menganggu Ayana.


Kalau saja ibunya itu baik tidak berperilaku menyebalkan dan membuat Ayana sakit hati, mungkin mereka sekarang sudah baik-baik saja, Ayana juga akan menemui mereka.


"Adnan apakah kamu tahu kemana perginya adik dan kakakku " tiba-tiba saja Ayana ingat dengan kedua saudaranya.


"Dari hasil pencarianku sih kalau mereka memang merantau dan tidak mau dekat dengan mamamu, setelah kepergian kamu Mama kamu itu memeras adik dan kakakmu mereka tidak kuat dengan semua tingkah yang dilakukan oleh orang tuamu makanya mereka pergi, mereka benar-benar tak mau memikirkan nasib ibumu lagi "


"Mereka saja yang tidak diperlakukan kasar pergi kan. Apalagi kamu Ayana jadi jangan pernah berharap kalau orang tua kamu itu akan baik-baik aja sama kamu, karena semua itu mustahil ibumu tidak akan pernah berubah sampai kapanpun"


"Kalau pun berubah aku yakin itu hanya pura-pura saja untuk meluluhkan hati kamu. Jangan pernah terkecoh oleh orang seperti itu "


Ayana tidak merespon, karena setiap yang dikatakan oleh suaminya itu benar apa adanya. Seperti saat itu ibunya seperti baik sekali padannya tapi ternyata ada maunya kan.

__ADS_1


__ADS_2