
Akhirnya mereka semua sampai juga di rumah Ayana, nenek tidak ikut. Tentu saja dia pulang ke rumahnya sendiri. Memang mereka tidak menginap lagi di rumah nenek karena Ayana tahu kalau Adnan pasti banyak pekerjaan, apalagi dari tadi Adnan terus saja menerima telepon dari Marco.
Ayana tak mau pekerjaan Adnan makin banyak, kasian juga kan dia kalau seperti itu. Pasti Adnan akan terus lembur.
Ayana membuka pintu dan membawa Melisa turun sedangkan Adnan sendiri membawa Melinda turun dari dalam mobil itu. Mereka sudah seperti keluarga kecil saja.
"Akhirnya sampai juga "teriak Melinda sambil merenggangkan tubuhnya.
"Benar akhirnya sampai juga. Aku tidak sabar ingin segera berbaring di tempat tidur, pasti akan sangat nyaman sekali"
Ayana segera membuka kunci pintu rumah, anak-anak langsung berlarian masuk ke dalam rumah, saat Ayana akan masuk Adnan langsung memberhentikan langkah Ayana.
"Ayana aku sekarang harus pulang dulu, banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan dan aku juga harus bertemu dengan Fira seperti janjiku padamu waktu itu, aku akan menemuinya dan untuk Melisa apa aku bisa membawanya seperti yang sudah kita bicarakan Ayana kamu masih ingat kan dengan semua itu "
Ayana yang tidak jadi masuk ke dalam rumah menutup pintu terlebih dahulu, dia tidak mau anak-anak mendengar semua ini "Apakah harus sekarang, tak bisa nanti saja "
"Iya harus sekarang aku pergi. Aku sangat banyak pertemuan dan juga meeting, aku tidak bisa terus membiarkan Marco kerja sendiri "
"Kamu akan di sana berapa hari Adnan "
"Mungkin satu mingguan aku di sana, nanti setelah semuanya selesai aku akan kembali lagi kemari aku janji tidak akan membawa kabur Melisa, aku akan membawanya kembali dan kita sama-sama lagi. Aku tak akan pernah ingkar dengan janjiku Ayana"
"Apa tidak bisa nanti saja perginya" Ayana kembali menanyakan hal itu.
Adnan mengurutkan keningnya melihat Ayana seperti menahannya untuk tidak pergi, Adnan suka kalau Ayana seperti ini, seperti istri yang sedang menahan suaminya agar diam dirumah saja.
"Tidak bisa, aku sudah memesan tiket dan sebentar lagi aku akan berangkat Ayana. Aku tak bisa menunda lagi, aku juga ingin segera kembali kesini"
"Baiklah tolong jaga anakku baik-baik di sana. Ingat jangan kasari Melisa. Semoga saja kalian berdua bisa akrab dan kamu bisa membuat Melisa luluh dengan kamu, aku tahu mungkin akan sulit tapi aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Jika kamu sibuk kamu boleh menitipkan Melisa pada pelayan kamu tidak usah menjaganya 24 jam"
"Lalu apakah kamu dan juga Melinda tidak akan ikut, kalian yakin akan disini berdua "
Ayana langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat "Adnan aku tidak akan ikut, aku dan juga Melinda disini saja, kamu dan juga Melisa seperti musuh aku ingin kalian berdua akrab dan tidak bertengkar lagi. Aku ingin Melisa juga bisa memanggilmu dengan sebutan Ayah tanpa malu lagi, mungkin di hadapanku Melisa bisa menyebutmu ayah tapi saat di hadapanmu dia tidak bisa. Maka luluh kan lah hatinya. Aku yakin dia akan bisa menerima kamu sepenuhnya"
Adnan langsung saja tersenyum senang saat mendengar jawaban dari Ayana "Apakah ini akan lebih memudahkan aku untuk menikah denganmu Ayana, apakah kamu sudah memberi lampu merah padaku dan kita akan menikah sebentar lagi. Apakah kita akan bisa pulang sama-sama nanti "
Ayana langsung mencubit tangan Adnan "Aku hanya lelah saja dengan kalian berdua yang selalu bertengkar, kalian tidak pernah akur selalu saja bertengkar tidak ada habisnya. Lebih baik kamu perbaiki dulu saja hubunganmu dengan anakmu itu, aku yakin Melisa akan bisa bekerja sama saat di sana. Dia anak yang baik pintar dan dia tidak akan pernah menyusahkan mu Adnan. Malahan dia akan membuat kamu selalu tersenyum "
"Ayana tapi kami berdua sama-sama tidak bertengkar, kami hanya sedang bermain saja. Itu wajar kan ayah dan anak kalau melakukan hal seperti itu, kamu tak usah khawatir "
"Aku ingin Melisa lebih menghargai mu, lebih menghormatimu, mau bagaimanapun kamu ayahnya dan kamu orang dewasa aku tidak mau Melisa terus bersikap seperti itu pada mu Adnan. Bagaimana kalau dia bersikap seperti itu juga pada orang lain "
"Baiklah tapi aku ingin lebih menyakinkan kamu. Kamu yakin akan melepaskan Melisa pergi denganku, apa kamu tidak akan tiba-tiba menelponku dan menyuruhku untuk mengembalikan anakmu lagi. Dan juga apakah Melisa akan mau saat aku membawanya, aku jadi takut kalau dia menolak dan malah jadi makin marah dengan aku "
"Apakah kamu punya waktu luang atau mungkin kamu bisa menunggu beberapa menit saja"
__ADS_1
"Tentu ada waktu 1 jam lagi, ya satu jam Ayana "
"Baiklah aku akan membujuk Melisa terlebih dahulu. Aku yakin dia mau ikut denganmu, dia bukan anak yang rewel pasti aku akan dengan cepat membujuknya"
"Baiklah kamu berbicara dengan Melisa aku akan berbicara dengan Melinda, aku juga akan menjelaskan kenapa aku hanya membawa Melisa saja ya. Aku takut Melinda malah jadi salah paham kenapa aku hanya membawa kakaknya saja"
"Iya Adnan kamu jelaskan saja pada Melinda ya, Melinda akan mengerti "
Mereka berdua masuk ke dalam rumah bersamaan, saat melihat Melinda duduk di kursi Adam langsung duduk di samping anaknya itu, sedangkan Ayana masuk ke dalam kamar anaknya juga yang ternyata Melisa sedang berbaring sambil memeluk boneka monyet yang diberikan oleh Adnan.
Memang Adnan sudah menjanjikan monyet hidup untuk Melisa, tapi Ayana harus berpikir ulang dulu dia tidak mungkin kan merawat monyet hidup juga. Ayana takut saja nanti malah menyakiti anaknya.
"Mama"
"Bisa kita bicara Melisa, hanya sebentar "
"Tentu Mama kita bisa bicara"
Melisa langsung duduk dan menghadap mamahnya, dengan masih memeluk boneka monyetnya itu.
"Apakah Melisa masih tidak suka dengan ayah"
Melisa menggelengkan kepalanya "Tidak, aku sudah tidak marah lagi dengan ayah, hatiku juga sudah tidak sakit lagi Mama. Aku sudah melupakan segalanya saat melihat ayah yang baik "
"Lalu kenapa Melissa selalu bertengkar dengan ayah, bahkan suka marah-marah dengan ayah. Mama kira Melisa masih kesal dengan Ayah "
"Ayah akan pulang terlebih dahulu. Kamu ikut ya bersama ayah dia akan pulang selama 1 minggu, nanti akan kembali lagi kesini "
"Kita akan terbang lagi Mama "antusias Melisa.
"Iya tapi kamu dengan ayah saja, mama dan juga Melinda akan menunggu di rumah saja bagaimana kamu setuju "
"Kenapa seperti itu, kenapa Mama dan Melinda juga tidak ikut kenapa harus aku saja dengan ayah, Mama yakin mau membiarkan aku pergi bersama ayah berdua saja, apakah nanti aku akan kembali kemari apakah ayah akan mengembalikan aku pada Mama, aku takut ayah tiba-tiba saja tidak mau memulangkan aku kemari. Ayah itu kan suka menyebalkan Mama "
Ayana yang mendengar itu tentu saja tersenyum, mungkin awalnya dirinya juga berpikir seperti itu saat Adnan meminta ingin membawa Melisa pulang untuk menemui Fira, katanya agar ada saksi kalau Adnan melakukan apa saja dengan Fira ada Melisa yang bisa melihatnya dan melaporkannya padanya.
"Tapi selama ini ayah baikan pada Melisa dan juga Melinda "
"Iya Ayah selalu baik dan selalu membuat Melinda tersenyum dan memberikan apa yang aku mau dan membuat kita semua bahagia. Ayah tak pernah membuat kecewa "
"Lalu apa yang kamu takutkan sayang, ikut dengan ayah hanya satu minggu saja dia nanti akan pulang kemari lagi. Kamu tidak usah takut Ayah pasti akan membawamu pulang kemari. Ayah sangat takut dengan nenek buyut jadi kalau dia berbuat macam-macam maka nenek buyut yang akan datang menyelamatkanmu, dia akan memarahi Ayah nanti "
Melisa mengangguk-anggukkan kepalanya setuju "Baiklah aku akan pergi dengan ayah, seperti yang dikatakan oleh Mama kalau ayah itu baik, aku akan ikut bersama ayah dan aku tidak akan takut dengan ayah"
"Baiklah berarti Melisa akan ikut bersama ayah"
__ADS_1
"Tentu aku akan ikut dengan ayah, apa yang perlu aku takutkan aku akan baik-baik saja di sana bersama ayah. Ayah kan orang baik dia pasti akan memberikan apa yang aku mau aku akan menjadi anak baik selama bersama ayah mama, jadi Mama jangan khawatir ya aku juga tidak akan bertengkar dengan ayah aku akan mencoba tenang dan bisa terbiasa untuk tinggal bersama ayah dulu selama satu minggu"
Ayana tersenyum lega akhirnya Melisa mau juga, mungkin ini adalah sebuah keputusan yang seharusnya Ayana pikirkan dengan matang-matang lagi, tapi ya sudahlah Ayana percaya Adnan akan kembali membawa putrinya untuk pulang dan tidak mungkin membawa Melisa kabur.
Ayana harus mulai percaya, Ayana tidak bisa terus membatasi anak-anaknya mau bagaimanapun mereka berdua adalah anak-anak Adnan. Ayana tak akan bisa mengelak.
...----------------...
Sedangkan Adnan sendiri dia memangku Melinda "Ayah akan pulang selama satu minggu, tapi ayah janji akan pulang lagi kemari. Ayah akan membawa Kakak pergi bersama ayah, nanti kami berdua akan membawakan hadiah yang banyak untuk Melinda"
"Kenapa hanya kakak saja, lalu Melinda dan juga Mama kenapa ayah tidak membawa kami berdua juga, apa Ayah memang ingin membawa kakak saja. Apakah Melinda selama ini nakal sampai-sampai ayah tak mau membawa Melinda "
Adnan melihat raut wajah kecewa dari Melinda, Adnan langsung memeluknya dengan arah "Bukan begitu Ayah ingin membawa kamu juga, tapi kalau kamu dibawa juga lalu Mama dengan siapa. Kamu tahu sendiri kan ayah dengan Melisa selalu berbeda pendapat, ayah akan membuat Kakak kamu memanggil Ayah dengan sebutan yang sama sepertimu, apa kamu akan mendukungnya. Ayah akan kembali lagi nanti kita akan pulang sama-sama bersama mama kita pergi ke rumah Ayah yang ada di sana, kita nanti akan tinggal di sana sama-sama sayang"
Melinda langsung menatap ayahnya "Benarkah nanti ayah akan membawa aku dan juga mama pulang "
"Tentu nanti ayah akan membawa kalian semua pulang, untuk sekarang tidak masalah kan kalau Ayah membawa dulu Kakakmu Melisa, Ayah ingin lebih bisa dekat lagi dengan Kakakmu yang cerewet dan menyebalkan itu. Ayah ingin membuat Kakak kamu tak ketus lagi dengan Ayah "
Melinda yang mendengarnya terkikik "Baiklah kalau itu demi kebaikan kita semua. Ayah pasti akan bisa mendapatkan hati Kakak, sebenarnya Kakak itu baik dia itu perhatian. Mungkin dia hanya kaget saja saat melihat Ayah semoga saja apa yang ayah rencanakan berhasil ya, bisa membuat Kakak memanggil Ayah dengan benar. Aku tak sabar sekali mendengar Kakak memangil ayah dengan benar "
"Nah begitu dong Ayah janji akan kembali lagi dalam waktu 1 minggu, kamu jadi tidak usah khawatir, ayah tidak akan lama-lama di sana. Ayah hanya akan mengurus pekerjaan setelah itu Ayah kembali lagi jadi Melinda jangan sedih ya"
Melinda menganggukkan kepalanya "Baiklah Ayah aku akan menunggu ayah dan juga Kakak pulang, aku di sini menunggu dengan mama kalian jangan lupa untuk selalu menelponku, menelpon kami berdua. Karena aku akan sangat merindukan kalian berdua"
"Tentu saja Ayah pasti akan menelpon setelah sampai di rumah, ayah akan langsung menghubungimu dan juga Mama kesayangan kita semua "
Melinda menganggukkan kepalanya setuju. Melinda juga mau kakaknya memanggil ayahnya dengan sebutan yang benar tidak memanggilnya dengan sebutan Paman lagi, dan Kakaknya juga tidak galak lagi dengan ayahnya.
Kakaknya itu sebenarnya sangat lembut sekali, tapi saat bersama Ayah kakak selalu terlihat galak dan menyebalkan sekali.
"Lalu kapan ayah dan juga Kakak akan pergi"
"Sebentar lagi ayah dan juga Kakak akan pergi, kamu jaga mama baik-baik ya di sini. Jangan merepotkan Mama kasihan, kalau ada apa-apa langsung hubungi Ayah "
"Iya aku akan terus menjaga Mama kok, Ayah juga di sana hati-hati ya kalau kakak misalnya menggigit kasih saja boneka monyet, pasti dia akan tersenyum dan tidak akan marah lagi"
"Sekarang kelemahan kakakmu adalah boneka monyet ya"
"Hemm, baru pertama kali aku melihat Kakak sangat menyukai boneka seperti itu. Biasanya dia akan bermain sebentar-sebentar saja tapi dengan boneka monyet yang ayah berikan kakak terus saja memeluknya. Sepertinya dia sangat sayang sekali dengan boneka pemberian Ayah itu, makannya Kakak tak pernah melepaskannya "
"Tentu saja boneka monyetnya kan lucu sekali "
Melinda lagi-lagi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, Melinda memeluk ayahnya dengan erat dia tidak akan bertemu dengan ayahnya selama satu minggu.
Melinda akan sangat rindu sekali dengan ayahnya ini, Kakaknya akan pergi juga bersama ayahnya Melinda juga pasti akan begitu rindu nanti dengan kakaknya.
__ADS_1
Semoga saja nanti Melina bisa ikut dengan ayahnya, Melinda tidak akan egois tiba-tiba marah karena kakaknya saja yang dibawa karena seperti apa yang ayahnya katakan kalau Ayahnya ingin lebih dekat lagi dengan kakaknya, agar kakaknya itu tidak galak dan cerewet lagi.
Melinda juga tak mau meninggalkan Mamanya sendirian kalau dirinya gotot ingin ikut.