
"Melisa Mama masih binggung dengan kamu yang tiba-tiba ingin pindah rumah coba katakan pada Mama apa yang sebenarnya terjadi. Ayo Melisa jujur pada Mama jangan berbohong Mama tak pernah kan mengajarkan kamu untuk berbohong "
Saat dirumah Ayana bertanya lagi pada anaknya. Ayana ingin tahu alasan yang sebenarnya jangan sampai anaknya ini menyembunyikannya darinya m. Ayana tak suka akan hal itu.
"Tidak Mama, aku merasa bosan saja ada disini makannya aku minta pindah pada Mama "
"Tapi Mama perlu penjelasan yang pasti, Mama tidak bisa langsung mengabulkan apa yang kamu mau. Kalau alasannya masuk akal Mama akan ikuti kemauan kamu "
"Emm, aku hanya bosan saja Mama, tak ada alasan yang lain. Maafkan aku sudah membuat Mama kefikiran aku tak akan seperti ini lagi "
"Jangan katakan itu, Mama malahan suka dengan kamu yang terbuka seperti itu. Maka Mama akan tahu apa yang sedang kalian fikirkan"
Melisa menganggukan kepalanya dan memeluk Mamanya. Melisa hanya takut saja Mamanya akan sedih. Makanya Melisa ingin pindah dari sini. Tapi kalau dipikir-pikir akan lari kemana lagi mereka ini. Pasti Mamanya pergi kesini untuk menghindari paman menyebalkan itu kan.
...----------------...
Saat melihat anak-anaknya yang sedang bermain Ayana segera menghubungi Fabian. Ayana harus berbicara pada Fabian tidak boleh membiarkannya begitu saja.
"Hallo Ayana, bagaimana kabarmu dan juga anak-anak"
"Aku baik-baik saja tapi ada yang ingin aku katakan padamu dan ini sangat penting sekali "
"Apaa itu Ayana "
"Fabian sudah menemuiku, dia datang dan aku sudah bicara dengannya "
"Apa kamu yakin bertemu dengannya, kamu jangan main-main ya"
__ADS_1
"Aku ga bohong aku beneran berkata jujur buat apa juga aku bohong sama kamu. Aku ketemu sama dia dan seperti apa yang kamu katakan aku harus menghadapinya dan aku harus berani. Aku tak mungkin terus kabur Fabian. Aku masih tetap ada di kota yang sama sekarang "
"Aku akan datang kesana, aku takut terjadi sesuatu dengan kamu. Tapi dia tak melukai kamu dan anak-anak kan "
"Engga kami baik-baik saja. Setelah menemuiku dia tak ada tak datang lagi. Aku tidak mungkinkah terus-menerus kabur, aku juga lelah aku takut tiba-tiba keuanganku malah merosot kalau aku terus pergi ke sana kemari, makanya aku mencoba bertahan takutnya Adnan akan terus menemukan aku, dia pasti akan terus mengejar ku Fabian "
"Ya sudah aku akan datang ke sana, aku akan menghadapinya kamu jangan takut aku yakin kamu bisa melawannya, seperti yang aku katakan kamu harus berani tidak boleh terlihat lemah di hadapannya kalau kamu terlihat lemah yang ada di akan senang. Dia bicara apa saja padamu, apa dia mengancam mu Ayana "
"Dia minta maaf sama aku dan bicarain anak-anak juga, dia bilang kenapa aku nggak bilang kalau aku hamil. Aku sekarang lagi bingung Fabian takut anak-anak tahu, aku harus jelasin apa sama mereka, tapi kayaknya anak-anak juga belum ketemu sih semoga saja belum ya "
"Kamu harus hadapi semuanya, kamu harus bisa mengendalikan semuanya ya. Jangan pernah takut dengan dia, meskipun kekuasaannya lebih tinggi tapi kamu harus lebih kuat aku yakin kamu akan bisa menghadapi semuanya, kalau kamu terus lari masalah nggak akan pernah selesai kita selesaikan masalah itu, agar kamu dan anak-anak juga tidak dikejar-kejar terus oleh laki-laki tak bertanggung jawab itu "
"Ya maka dari itu aku akan membereskan itu semua. Aku akan terus berjuang demi anak-anakku. Aku akan menghadapinya aku tak akan bersembunyi lagi darinya "
"Bagus Ayana, tunggu aku, aku akan pergi kesana dan menemani kamu "
Setelah sambungan itu terputus. Ayana kembali fokus menatap anak-anaknya yang sedang bermain. Ayana tersenyum saat anak-anaknya menatap kearahnya. Ayana juga melambaikan tangannya pada mereka berdua.
...----------------...
"Kakak sebenarnya tapi kamu kenapa menangis "
Melisa menatap adiknya sekilas, lalu kembali mencetak pasir. Apakah Melisa harus jujur tapi kalau jujur Melisa akan gengsi karena menangis. Tidak Melisa harus terlihat kuat didepan adiknya ini.
"Siapa bilang aku menangis, aku sama sekali tak menangis ya itu fikiran kamu saja jangan berbicara yang tidak-tidak aku sama sekali tak menangis sejak kapan aku cenggeng yang ada kamu yang cenggeng"
Melinda mendengus mendengar jawaban Kakaknya. Jelas-jelas Melinda tahu kalau Kakaknya itu menangis dan sekarang kakaknya itu malah mengelak "Masa sih, lalu kenapa mata Kakak merah dan hidung Kakak juga sama mewahnya "
__ADS_1
"Mataku kelilipan. Kamu aja yang ga tahu. Terus diluar juga dingin banget jadi hidung aku merah "
"Beneran, aku bisa bedain loh mana yang nangis mana yang bukan "
"Udah ah kamu ini cerewet banget, yang pasti aku ga nangis. Aku ini ga pernah nangis emangnya kamu cenggeng banget apa-apa nangis "
"Ist Kakak ini nyebelin banget deh "
Melinda kembali fokus lagi pada istana pasirnya ini. Kakaknya ini terlalu banyak gengsinya makannya terus mengelak. Jelas-jelas Melinda bisa membedakan mana yang menangis mana yang tidak.
"Kenapa kamu diam saja "tanya Melisa yang aneh dengan adiknya yang tak bertanya lagi.
"Hemm, ya sudah aku mau bicara apa lagi. Sudah tak ada yang dibicarakan lagi. Kakak juga tak mau jujur dengan aku "
"Aku sudah jujur ya kalau aku ini tidak menangis. Kamu aja ga percaya sama Kakak sendiri "
"Ist udah ah aku mau buat istana lagi "
Mereka berdua saling diam tak ada yang mau mengalah diantara mereka berdua. Melinda mencuri-curi padannya pada Kakaknya. Kakaknya masih acuh saja dan tak mau jujur dasar menyebalkan sekali.
"Anak-anak ayo masuk kedalam rumah sudah yu main pasirnya. Kalian harus mengerjakan pr dulu ayo masuk "
Melisa dan juga Melinda menatap Mamanya dan segera menjawabnya "Iya Mama kami akan membereskan ini dulu"
Melisa dan Melinda memasukan semua mainannya kedalam sebuah ember kecil dan berlari kearah Mamanya yang sudah menunggu.
Tak jauh dari mereka ada seseorang yang tersenyum melihat tingkah merek berdua "Ayah ingin bermain dengan kalian berdua. Tunggu Ayah ya, ayah pasti akan bisa bersama kalian. Ayah pasti akan bisa meluluhkan hati Mama kalian dan mendapatkannya lagi "
__ADS_1
Adnan masuk kedalam mobil karena sudah tak ada anak-anaknya mereka sudah masuk kedalam rumah. Apalagi yang harus Adnan lihat anak-anaknya sudah tak ada. Melihat dari jauh saja Adnan sudah senang sekali. Tapi Adnan masih kefikiran dengan Melisa yang tadi menangis gara-gara dirinya. Semoga saja Melisa bisa menyayanginya suatu saat nanti.