Aku Bawa Mereka

Aku Bawa Mereka
Bab 229


__ADS_3

Adnan menggendong Melissa untuk dibawa ke dalam kamarnya, setelah sampai di dalam kamar Adnan menurunkannya "Langsung ganti pakaian ya, setelah itu kerjakan tugas sekolah "


"Baik ayah "Melisa langsung berlari ke arah lemarinya.


Adnan kembali berjalan ke arah kamarnya ingin menemui istrinya. Saat Adnan membuka pintu dia melihat istrinya yang sedang melamun, sedangkan Melinda memainkan boneka Barbie yang dia bawa dari kamarnya.


Istrinya ini tak biasannya melamun. Apakah istirnya memikirkan tentang hukuman itu. Apakah begitu membuat sampai seperti itu.


"Ayah akhirnya kamu datang "teriak Melinda yang sudah berganti pakaian dan tersenyum pada ayahnya.


"Iya Ayah sudah datang, kamu bisa main dulu bersama kakak ya. Ada yang ingin Ayah bicarakan dengan Mamah dulu "sambil menurunkan anaknya tanpa menunggu jawaban dari Melinda terlebih dahulu. Tapi anaknya itu sama sekali tidak keberatan.


"Baik ayah aku akan bermain bersama kakak "Melinda mengambil bonekanya dan keluar dari kamar ayah dan juga mamanya. Melinda tidak mau sampai Ayahnya kesusahan hanya untuk menyuruhnya bermain di luar bersama kakak.


"Sebelum Ayah menyuruh kalian untuk masuk jangan dulu masuk ya, nanti pasti ayah akan memangil kalian "teriak Adnan yang lupa.


"Iya iya Ayah tenang saja. Kami tidak akan tiba-tiba masuk ke kamar ayah dan mama, kami juga pasti akan mengetuk pintu terlebih dahulu"


Melinda melambaikan tangannya ke arah mama dan juga ayahnya. Lalu menutup pintu dengan sangat perlahan sekali, terdengar suara langkah Melinda yang menjauhi kamar orang tuanya.


Adnan membelai pipi istrinya, Adnan melihat istrinya ini seperti sangat gelisah sekali entah kenapa Adnan jadi khawatir.


"Kamu kenapa sepertinya kamu sedang banyak pikiran. Apa yang sedang kamu pikirkan, aku tadi saat membuka pintu kamu malah melamun dan tidak bermain dengan Melinda seperti biasannya, apakah ada yang sedang kamu fikirkan sayang "


"Aku tadi mendengar suara teriakan dan aku mengenali suara itu. Itu adalah suara Ibuku apakah di sini ada Ibuku. Apakah di belakang rumah ada Ibu, apakah dia menerobos masuk lagi Adnan"


Adnan menggaruk belakang kepalanya, Adnan kira tidak akan terdengar sampai kamar, tapi ternyata istrinya bisa mendengar teriakan itu. Jangan sampai istrinya ini tahu dan nanti malah ke belakang mencari asal suaranya itu. Bisa gawat kalau semua itu bisa terjadi.


"Mana mungkin ada ibu kamu di sini, kalau iya dia ada di sini mungkin ada di dalam rumah. Aku kan sudah bilang pada semua pengawalku kalau ibumu tidak boleh masuk ke rumah ini, mereka tidak mungkin melanggar. Aku juga tadi sudah mengecek ke belakang dan itu bukan suara ibumu, itu hanya suara pelayan yang tadi terjatuh "


"Tapi Adnan aku mendengar suara itu memang benar-benar suara ibuku. Aku tidak mungkin salah mengenali suaranya, aku benar-benar yakin kalau itu adalah ibuku. Aku begitu mengkhawatirkan ibuku, aku takut keadaannya sedang tak baik baik saja "


Adnan mengusap punggung istrinya agar istrinya ini tenang, karena sangat terlihat kalau istrinya ini tegang sekali, ternyata ikatan batin mereka begitu kuat ya. Adnan kira Ayana sudah melupakan tentang ibunya itu, tapi sekarang malah ditanyakan lagi.


"Tapi memang benar bukan ibumu sayang. Apa perlu aku membawamu ke belakang, apakah kamu mau mengeceknya sendiri. Agar kamu tenang dan tak memikirkan ibu kamu itu "sebenarnya Adnan tak ingin istrinya ke sana, Adnan tidak mau sampai istrinya mengetahui kandang buaya itu. Semoga saja jawaban istrinya tidak, Adnan tadi bodoh malah menawarkan hal itu, sama saja Adnan ini ingin mengali kuburannya.


"Tapi kamu yakin kan itu bukan Ibuku, Ibuku tidak masuk dari jalan belakang atau menyelinap, bisa saja kan ibu melakukan itu agar bisa tinggal disini dan diterima sama kamu Adnan "


"Di belakang tidak ada pintu hanya ada pagar yang menjulang tinggi dan aku yakin ibu kamu nggak bisa naik. Meskipun menggunakan tangga tetap saja tidak akan bisa. Jadi kamu bisa tenang kalau suara itu bukan suara ibumu, itu benar benar pelayan yang jatuh sayang, saat dia menyiram bunga dia tergelincir dan jatuh katanya sih seperti itu "


"Lalu bagaimana kabar Ibuku, apakah kamu sudah mengecek lagi keadaannya. Apakah dia baik-baik saja, apakah kamu sudah memantau keadaan ibu ku, aku takut ibu kekurangan sesuatu "


"Sudah dia baik-baik saja "lagi-lagi Adnan hanya bisa berbohong pada istrinya.


Ini juga demi kebaikannya, Adnan tidak mau berbicara yang sejujurnya kalau Adnan sampai berbicara yang sesungguhnya mungkin istrinya akan berlari ke sana dan menyelamatkan ibunya.


Takutnya nanti ibunya itu malah mendorong Ayana dan Ayana lah yang akan menjadi santapan buaya-buaya itu. Adnan bahkan tidak sanggup memikirkan itu.


Adnan tidak akan pernah rela kalau sampai itu terjadi. Jadi masalah ini harus tertutup rapat dan Ayana tidak boleh tahu sampai kapanpun, mungkin iya dia adalah ibunya ya tapi Adnan benci dengan sikap ibunya itu dia tidak berubah sama sekali sampai sekarang, masih sama dan benci pada Ayana tanpa alasan yang jelas.


"Aku ingin bertemu dengan ibuku, aku ingin melihatnya. Aku terus kefikiran tentang ibuku itu"

__ADS_1


"Kenapa kamu ingin bertemu dengannya, apakah kamu tidak takut disakiti lagi oleh ibumu itu "


"Mau bagaimanapun dia adalah Ibuku, mau sejahat apapun dia tetap Ibuku Adnan. Aku tidak bisa tiba-tiba menghindar darinya ataupun menjauhinya. Aku begitu menyayanginya aku tidak bisa melupakan ibuku. Meskipun aku dulu meninggalkannya tapi tetap saja aku selalu mengingatnya dan selalu mendoakan akan dia bisa menyayangi aku "


"Nanti kapan-kapan kita akan ketemu dengan ibumu tapi bukan sekarang. Ibumu sepertinya masih sama aku ingin saat dia bertemu dengan kamu, dia sudah berubah tidak sama seperti itu. Aku ingin kamu tersenyum nanti bertemu dengannya bukan malah menangis "


"Tapi aku begitu khawatir dengan keadaannya Adnan, sekarang pikiranku terus saja tertuju pada Ibuku itu. Sepertinya ada yang terjadi dengan ibuku itu "


"Sayang apakah kamu lupa dengan yang tadi pagi"


Ayana yang baru ingat tiba-tiba saja langsung berlari ke arah kamar mandi. Adnan tentu saja kaget melihat istrinya yang cepat sekali berlari begitu, dia itu sedang hamil, apakah Ayana lupa dengan kandungannya.


"Sayang kenapa kamu berlari seperti itu, kamu itu sedang mengandung"


Adnan berdiri di depan pintu kamar mandi dan mengetuknya dengan perlahan "Apa yang kamu lakukan kenapa berlari tiba-tiba dan malah bersembunyi di dalam kamar mandi" kembali Adnan menanyakan hal yang sama.


"Tolong masalah yang tadi pagi dilupakan saja, aku bisa menjelaskan semuanya. Aku benar-benar akan menjelaskan, semuanya dari awal tapi jangan berikan aku hukuman seperti itu kamu mau membuat aku pingsan, aku tak mau sakit pinggang lagi Adnan, yang ini saja masih sakit "


"Ya kalau kamu ingin menjelaskan maka keluar, masa kamu ada di dalam kamar mandi dan akan menjelaskan semuanya di sana. Ayo keluarlah terlebih dahulu, kita bicara baik-baik ya "


"Tapi nanti kamu akan langsung melakukannya, kamu pasti akan langsung menjebak aku "


"Tidak akan sayang ayo keluar dulu, apakah kamu mau terus disana "


Ayana membuka sedikit pintu dan menatap Adnan dari celah pintu yang dia buka tadi. Ayana melihat senyum suaminya yang begitu lebar dengan perlahan namun pasti Ayana membuka pintunya dengan lebar.


Adnan langsung menggendong Ayana dan membawanya ke arah tempat tidur. Adnan mendudukkan istrinya dengan perlahan lalu mendorong bahunya agar bersandar. Adnan memanjangkan kaki istrinya lalu Adnan membaringkan kepalanya di paha istrinya.


Ayana mengernyitkan keningnya dan tertawa "Aku tahu kamu memang mencintaiku. Lalu kenapa kamu harus berbicara hal itu lagi"


"Sedang mengungkapkan perasaanku lagi saja"


"Aku sudah tahu perasaanmu, dan kamu juga tidak usah mengungkapkannya setiap hari. Aku tahu kamu sangat mencintaiku Adnan dari dulu sampai sekarang kamu masih sama tidak ada yang berubah "Ayana merapikan rambut suaminya yang berantakan.


Suaminya ini belum mencukur rambutnya jadi terlihat tidak rapi saja, biasanya Adnan selalu memotong rambutnya sampai pendek sekali sekarang rambutnya sudah panjang, tapi Adnan belum mencukurnya juga.


"Aku sangat merindukan kamu, rinduku ini benar-benar tidak bisa tertahankan sayang "


Ayana tertawa, ada-ada saja suaminya ini. Padahal mereka ini setiap hari bertemu bahkan Ayana ikut ke kantor, tapi suaminya malah merindukannya jelas-jelas dirinya selalu ada di sampingnya.


"Sayang " rengek Adnan


"Hemm, iya ada apa"


"Jika ada kesalahan yang tidak aku sadari tolong kamu berbicara padaku atau mungkin ada sifat aku yang tidak kamu sukai, kamu langsung bicara ya sama aku. Aku akan segera merubah semuanya, aku tidak mau sampai membuat kamu kecewa. Pokoknya kalau ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman yang dilakukan olehku maka langsung lah berbicara tidak usah menyembunyikannya sayang "


"Kenapa tiba-tiba kamu bicara seperti ini, coba kamu jelaskan yang benar agar aku binggung, kamu ini sebenarnya kenapa apakah ada yang mengganjal kamu sampai-sampai kamu berbicara seperti itu "


"Aku ingin kamu selalu berkata jujur, kalau memang aku berubah ingatkan tegur aku, pokoknya setiap ada yang berubah dari aku dan kamu tidak suka kamu langsung bicara dengan aku ya. Kamu tak boleh hanya diam saja agar aku sadar "


"Kamu aneh sekali tiba-tiba berbicara seperti ini, aku benar-benar bingung. Sebelumnya kamu tak pernah seperti ini "Ayana memang sangat kebingungan suaminya tidak pernah seperti ini. Baru kali ini Adnan berbicara seperti ini.

__ADS_1


"Aku tidak mau sampai kehilangan kamu. Aku tidak mau sampai kamu pergi lagi, aku begitu mencintaimu dan aku sangat menyayangimu "


"Anak-anak atau aku "Ayana ingin mencairkan suasana agar tidak terlalu tegang seperti ini, karena Ayana juga sedikit aneh dengan kata-kata suaminya. Ayana masih belum bisa mencerna semuanya dengan baik, apakah suaminya tadi mengalami sesuatu.


"Melisa, Melinda kamu dan adik bayi yang ada di dalam perut ini. Aku sangat menyayangi kalian, Aku benar-benar mencintai kalian. Aku tidak mau sampai kehilangan kalian semua, aku ingin selalu ada bersama kalian, aku ingin kita selalu akur tanpa ada masalah "


"Sebenarnya ada apa, apa yang ingin kamu bicarakan. Inti dari pembicaraan ini apa sebenarnya "


"Aku teringat masa lalu, dulu kamu mengurus kedua Putri kita hanya sendirian. Bahkan kamu bisa membesarkan mereka sampai sekarang, kamu bahkan tidak berpikir untuk menghilangkan anak-anak waktu itu saat posisimu sedang kacau, aku takut kamu tiba-tiba meninggalkan aku mungkin kamu bisa mengurus mereka tanpa aku, tapi aku sungguh tidak bisa hidup tanpa kalian aku sudah sangat bergantung pada kalian. Aku tidak mau sampai kalian meninggalkanku. Janji padaku Ayana tidak akan pernah meninggalkanku apapun yang terjadi dan apapun masalahnya"


Ayana mendengar suara suaminya yang sangat ketakutan sekali "Kenapa kamu berbicara seperti itu, mungkin dulu aku bisa hidup tanpa kamu, menjalani semuanya bersama anak-anak tapi sekarang berbeda. Aku sudah memilih untuk menikah lagi denganmu dan jika nanti aku pergi, aku tidak bisa menjadi sosok Ayah karena anak-anak sudah tahu kalau kamu lah Ayahnya. Aku tidak akan pernah bisa Adnan. Dan aku juga tidak akan pernah bisa mengisi kekosongan itu. Aku tidak mau kamu berkata seperti itu lagi bukan kamu saja yang tergantung dalam hubungan ini, aku pun bergantung dalam hubungan ini aku tidak bisa tiba-tiba pergi begitu saja tanpa memikirkan semuanya"


Adnan yang mendengarnya sangat tenang sekali, kegundahan yang ada di dalam hatinya sudah hilang karena kata-kata istrinya ini. Adnan dari tadi memikirkan takut ditinggalkan oleh istrinya ini.


Istrinya begitu berharga, Adnan tidak akan pernah sanggup kalau sampai ditinggalkan oleh Ayana lagi, mungkin dia akan lebih gila lagi dari sebelumnya. Adnan tak sanggup kalau sampai kehilangan anak dan istrinya.


"Terimakasih sayang"


Adnan juga senang bisa membuat istrinya lupa dengan Ibunya, dan tidak memintanya untuk bertemu dengan ibunya lagi, bukan apa-apa Adnan tahu bagaimana liciknya Ibu mertuanya itu.


Bisa saja kan dia mengatakan semuanya kalau dia dikurung olehnya di kandang buaya itu. Adnan harus selalu waspada harus menjaga keutuhan keluarganya, jangan sampai semua ini hancur karena perempuan itu.


Karena kelakuan ibunya Ayana sudah bisa tertebak, perempuan itu liciknya minta ampun. Dia bisa membuat Ayana marah padannya. Adnan tak mau sampai semuanya dibongkar.


Adnan mengubah posisinya menjadi terbaring dan menatap istrinya, Adnan senang sekali melihat istrinya yang tersenyum padanya. Adnan sudah tidak ragu lagi dengan istrinya dan tidak akan pernah takut lagi.


"Adnan ini adalah rumah tangga kita berdua, jadi kamu jangan berpikir kamu saja yang bergantung dalam hubungan ini, aku pun sama kita sama-sama bergantung dalam hubungan ini. Jadi kita harus selalu berjuang untuk hubungan ini "


Adnan membelai kembali pipi istrinya, Adnan begitu beruntung mendapatkan istri seperti Ayana ini. Ayana begitu baik mau menerima dirinya yang serba kekurangan, belum lagi dirinya pernah menyakiti hati Ayana.


Tapi Ayana bisa menerimanya lagi tanpa membahas-bahas lagi tentang apa yang Adnan lakukan padannya dulu. Ayana benar-benar menjalani yang sekarang tanpa membahas apa yang pernah terjadi.


"Sayang apakah kamu merasa ada yang hilang dari punggungmu"


Ayana yang kaget langsung meraba-raba punggungnya "Di sini tidak ada apa-apa, memangnya Ayana memasang apa "Tidak ada, punggungku tetap sama tidak ada yang hilang semuanya juga masih terpasang"


"Aku merasa kalau kamu ini malaikat, hanya saja sayapmu tidak terlihat apakah Tuhan memang sengaja agar kamu tetap diam di sini bersamaku, untuk menemaniku sampai tua nanti"


Ayana tentu saja tertawa mendengar hal itu ada-ada saja suaminya itu "Aku sangat jauh sekali dengan apa yang kamu katakan aku itu, aku bukanlah malaikat, aku masih banyak kekurangan. Aku ini masih manusia biasa, tapi aku selalu berusaha untuk berubah setiap harinya memperbaiki semuanya juga. Aku ingin jadi ibu yang terbaik untuk anak-anakku dan juga untukmu menjadi istri yang terbaik juga kamu Adnan"


Adnan langsung terduduk dan mencium bibir istrinya, Adnan memegang tengkuk sang istri agar tidak dilepaskan tiba-tiba oleh istrinya ini. Adnan tak mau kehilangan bibir istrinya ini.


Ayana sendiri tersenyum di sela-sela ciumannya bersama suaminya itu, kadang-kadang suaminya ini penuh dengan kejutan, tadi sedang berbicara serius tapi sekarang malah berlanjut pada hal yang intim.


Adnan membaringkan tubuh istrinya, lalu mengangkat kedua tangan istrinya tak lupa Adnan juga memegang nya agar istrinya tak bisa kemana mana. Takutnya istrinya ini akan kabur.


Adnan lebih memperdalam ciumannya itu, Adnan juga akan melanjutkan pada hukuman Ayana yang belum dia lakukan. Istirnya ini harus bersiap siap.


Adnan melepaskan ciumannya dan menyeringai "Siap-siap sayang sampai pagi, aku akan melakukannya sekarang juga "


Ayana langsung melebarkan matanya, Ayana yang akan protes tak bisa karena suaminya sudah kembali mencium nya, bahkan sekarang lebih menuntut lagi, Ayana sampai kewalahan menerima serangan dari suaminya ini.

__ADS_1


__ADS_2