Aku Bawa Mereka

Aku Bawa Mereka
Bab 149


__ADS_3

"Kenapa kalian hanya membawa mainan sedikit, apakah tak akan membawa banyak mainan. Biasannya kalian suka sekali membawa mainan yang banyak "tanya Adnan yang bingung anak-anaknya hanya memasukkan beberapa mainan ke dalam koper.


"Mama tidak membolehkan kami untuk membawa mainan banyak, nanti juga kata Mama kapan-kapan kita akan kembali lagi kemari, lalu untuk apa membawa semuanya. Bukannya juga di rumah Ayah banyak kan mainan Ayah juga memberikan banyak mainan. Nanti kami malah kebingungan akan memainkan yang mana ayah"jawab Melisa


"Tapi aku ingin membawa boneka itu lagi Kakak. Lihatlah yang itu yang di atas. Aku sangat menyayangi boneka ku itu. Aku ingin membawanya juga, apakah tidak bisa aku membawanya "


"Sudahlah Melinda jangan terlalu banyak, kakak sudah bilang kan di rumah Ayah itu sangat banyak sekali mainannya. Kamu bisa memainkan segalanya boneka Barbie, semuanya ada boneka beruang, boneka panda pokoknya semuanya ada di rumah Ayah, kita tidak usah membawa banyak mainan. Nanti akan banyak membawa koper nanti mamah akan sangat kerepotan sekali"


Adnan mendekati Ayana yang sedang membereskan barang yang lain "Apakah kamu butuh koper lagi Ayana, sepertinya anak-anak ingin membawa banyak lebih mainan. Kasian mereka ingin membawa mainan-mainan mereka yang lainnya "


"Adnan untuk apa kita membawa mainan yang sangat banyak, sudah saja yang sering mereka mainkan kita juga kapan-kapan main kemari kan, tidak terus nanti di sana. Aku tidak mau terlalu banyak membawa sesuatu, nanti malah jadi repot, ini saja sudah 3 koper masa mau ditambah lagi sih. Sudah segitu saja membawa mainannya "


"Tapi kasian anak-anak, kamu lihatlah wajah mereka yang murung. Apakah kamu tak kasian dengan mereka Ayana "


"Begini nanti kalau kita kembali lagi ke sini lalu anak-anak ingin membawa semua mainannya lagi, apa itu tidak akan merepotkan Adnan. Sudah yang ada saja yang ingin mereka bawa saja tidak usah semuanya, belum lagi mainan yang baru saja bawa kemari ingin kembali mereka bawa, sudahlah itu sudah cukup Adnan"


Adnan malah mengusap rambut Ayana lalu menatap Ayana dengan sangat intens "Sayang berikan mereka lebih mainan lagi, jangan segitu kasihan mereka" Adnan terus saja membujuk Ayana ini agar mau saja. Adnan benar-benar tak tega dengan anak-anak yang murung seperti itu.


Ayana menatap kedua putrinya, dia melihat wajah murung Melinda lalu Melinda memperlihatkan 5 jarinya "Baiklah kamu ambil 5 mainan, setelah itu jangan ambil lagi ya. Nanti juga di rumah Ayah kan banyak mainan, pasti kalian nanti akan pusing jika terlalu banyak mainan "


Melinda langsung menganggukan kepalanya dengan semangat, Melinda langsung menarik tangan kakaknya untuk mengambil mainan-mainan yang lain. Melinda begitu senang sekali akhirnya mamanya membolehkan membawa mainan lebih.


Adnan yang melihat itu juga senang tapi sebenarnya Adnan juga bisa membujuk Ayana untuk membawa semua mainan anak-anaknya, masih bisa Adnan membujuknya. Tapi ya sudahlah itu cukup.


Betul kata Ayana dirumahnya juga banyak mainan, Adnan juga nanti bisa membelikan lagi kan yang baru. Pasti anak-anaknya akan senang.

__ADS_1


Adnan mencium pipi Ayana, lalu dia langsung berlari begitu saja membantu anak-anak untuk mengambil mainannya. Ayana hanya bisa tersenyum melihat tingkah Adnan yang seperti anak kecil.


Ayana membereskan semua pakaiannya kembali dan menata semuanya agar mainan anak-anaknya yang belum terbawa bisa masuk. Agar tak perlu menambah koper lagi. Belum lagi koper yang Adnan bawa akan kembali lagi dibawa, entah berapa total koper yang akan mereka bawa ini.


Ayana mendengar suara anak-anaknya yang senang dan berterima kasih pada Adnan, karena sudah membujuk dirinya.


Tidak lama kemudian ketiga orang itu masuk lagi ke dalam kamar. Ayana langsung memerintahkan kedua putrinya itu untuk menyimpan mainan-mainannya di tempat yang kosong. Agar cepat selesai. Mereka juga sekarang harus cepat-cepat pergi kan.


"Sudah tidak ada yang mau dibawa lagi, cukupkan tidak usah membawa yang lain lagi. Kopernya juga sudah sangat penuh sekali "


"Iya Mama sudah cukup tidak ada yang dibawa lagi sudah segini saja. Nanti kita dirumah ayah masih banyak kan mainannya "


Adnan segera membawa koper-koper itu, Adnan memasuk-masukkan nya ke dalam mobil. Ayana melihat jaket yang sudah dia sediakan untuk anak-anaknya. Ya sebenarnya sih pilihan mereka berdua.


"Ayo sekarang ambil jaket kalian dan temui Ayah, kita pergi sekarang. Kita akan pergi ke kota yang kalian mau "


Ayana mengambil tas kecilnya dan juga ponselnya, lalu ikut keluar bersama anak-anak. Sebelum itu juga Ayana melihat ke arah dapur takutnya kompor masih menyala. Ayana mengecek semuanya apakah ada yang tertinggal atau tidak semuanya aman tidak ada yang tertinggal sedikitpun. Semua yang dibutuhkan sudah terbawa tak ada yang ketinggalan.


Ayana segera mengunci pintunya dan Adnan membukakan pintu untuk Ayana masuk ke dalam mobil. Ayana menatap rumahnya sebentar, pasti Ayana akan sangat rindu dengan rumah nya ini.


Ayana masuk ke dalam mobil ternyata ada Marco di sana. Ayana tidak tahu kalau Marco ikut kemari. Setelah semuanya masuk Adnan memeluk Ayana dari samping, Ayana mencoba melepaskannya malu saja disini ada anak-anak dan juga Marco.


"Kenapa kamu tiba-tiba memelukku, lepaskan tidak enak ada anak-anak "


"Ayo tidur tadi kamu sudah mengurus semuanya, bahkan toko juga sudah kamu urus pasti kamu sangat mengantuk sedangkan anak-anak tadi sudah tertidur. Mereka sudah tidur siang sekarang adalah waktunya ibunya untuk beristirahat, kamu jangan sampai nanti sakit Ayana. Aku akan sangat khawatir jika sampai itu terjadi. Maka sekarang istirahat lah "

__ADS_1


"Iya benar juga. Aku mengantuk sekali nanti kalau sudah sampai bandara kamu bangunkan aku ya. Aku akan tidur sebentar untuk membuat tubuhku kembali segar "


"Iya tentu sayang aku akan membangun kamu nanti, kalaupun tidak bangun nanti aku akan langsung membawamu ke dalam pesawat. Tenang saja ada aku di sampingmu, jadi kamu tidak usah khawatir. Jangan takut juga "


Ayana hanya memukul dada Adnan dengan perlahan, lalu dia menutup kedua bola matanya. Melisa yang melihat mamanya tertidur langsung menyimpan jarinya di bibirnya untuk Melinda diam. Agar Melinda tak berteriak. Adiknya ini suka sekali berteriak jadi sebelum itu terjadi Melisa memperingatinya terlebih dahulu.


"Jangan berisik Mama sedang tidur, kasihan dia Mamah dari tadi mengurus pekerjaannya dan membereskan barang-barang kita. Mama pasti sangat kecapean sekali, kita harus duduk dengan tendang Melinda. Kamu jangan berteriak-teriak juga ya. Jika ingin berbicara pelana-pelan saja seperti aku "


"Iya aku akan diam, aku tidak akan bicara Kakak aku akan duduk manis seperti ini" Melinda menyimpan tangannya dikakinya dan mencoba untuk tenang.


Melisa menoel tangan ayahnya yang memeluk mamanya "Ayah bukannya kamu memiliki janji padaku, apakah pekerjaanmu sudah sedikit melanggar. Apakah pekerjaan kamu sudah selesai semuanya ayah, agar kita bisa segera jalan-jalan bersama mama dan juga Melinda" tanya Melisa dengan suara yang sangat pelan sekali agar tidak mengganggu mamanya.


"Maaf kalau nanti saat kita pulang Ayah akan lebih sibuk lagi, masih ada beberapa pekerjaan yang harus Ayah urus, tapi ayah janji akan mengikuti semua yang kamu mau dan juga Melinda. Ayah akan mengatur semua jadwalnya setelah Ayah membereskan semua pekerjaan, maka kita akan bisa melakukan semuanya seperti yang Melisa mau. Melisa tak marah kan dengan Ayah "


"Baiklah aku akan menunggu waktunya, Ayah fokus saja bekerja jangan dulu memikirkan tentang aku dan juga Melinda, aku akan menunggu dengan sabar. Kalau waktu ayah sudah longgar mari kita pergi sama-sama dan habiskan waktu juga bersama-sama"


"Baiklah terima kasih karena sudah mengerti ayah, pasti ayah akan menepati semua janji yang pernah ayah bicarakan pada Melisa "


Melisa menganggukkan kepalanya, lalu dia menatap ke arah adiknya dia berbisik-bisik pada adiknya. Adnan tidak tahu apa yang mereka bicarakan, karena suara mereka benar-benar kecil, mereka benar-benar tidak ingin mengganggu mamanya yang sedang tertidur dalam pelukannya.


Adnan bisa melihat bagaimana Ayana yang kelelahan, bahkan beberapa menit mereka jalan Ayana sudah tertidur dengan lelap seperti ini, bahkan Adnan sudah mendengar suara dengkuran halus dari mulut Ayana.


Adnan mencium kening Ayana dengan sangat pelan sekali. Tak mau sampai membangunkan Ayana yang sedang tertidur dengan sangat lelap sekali.


Adnan begitu bersyukur sekali Ayana mau dibawa pulang lagi. Semoga saja keputusannya ini benar dan tak membuat Ayana kembali sakit lagi. Semoga saja orang-orang dimasa lalu yang sudah membuat Ayana sakit hati tak datang lagi.

__ADS_1


Terutama orang tua Ayana. Semoga saja mereka tak membuat ulah dan membuat Ayana ingin kembali lagi. Adnan akan menjaga ketat anak-anaknya dengan Ayana. Agar hal yang tak diinginkan tak terjadi.


__ADS_2