
Adnan juga Ayana menatap kedua putrinya yang sedang tertidur lelap. Tadi saat mereka bermain tiba-tiba saja Melinda mengatakan kalau dia mengantuk, jadi Adnan dan juga Ayana membawa mereka berdua ke dalam kamar.
Mereka seperti lelah karena tadi sudah bermain lari-larian belum lagi sebelum pergi kemari mereka berenang dulu, main ayunan pokoknya semua mainan yang ada dirumah neneknya itu mereka mainkan tak ada yang terlewat.
Adnan mencium pipi anak-anaknya itu, kalau misalnya Melisa terbangun dia tidak akan pernah mau dicium oleh Adnan, mungkin akan memukulnya sama seperti ibunya senang sekali memukul orang lain.
"Ayana apakah kamu yakin tidak mau menikah denganku, anak-anak pasti akan senang kalau kita menikah. Mereka pasti akan tersenyum dengan sangat lebar sekali, mau ya kita menikah kamu mau konsep seperti apa, aku akan kaburkan itu "
"Sudahlah jangan bercanda terus denganku, Adnan kita sudah pernah menikah dan apa gagal jadi tak usah diulang lagi, semuanya tak bisa kembali lagi"
"Ya tapi yang sekarang tidak akan pernah gagal, aku ingin memulai dari awal aku ingin kita kembali lagi. Kita akan ada dalam satu atap Ayana, kita akan menjadi keluarga kecil yang sangat bahagia sekali memangnya kamu tidak mau akan hal itu"
"Tapi aku tidak mau memulai apa-apa Adnan, aku tidak mau apa-apa. Aku hanya ingin kita seperti ini saja. Anak-anak juga tak banyak protes mereka senang-senang saja dengan kita yang seperti ini"
"Tapi anak-anak kan sudah suka denganku, mereka juga sudah nyaman denganku. Masa kita tidak akan serumah sampai nanti Ayana. Aku ingin anak-anak selalu ada di samping kita berdua, aku ingin selalu bersama mereka dan tentunya dengan kamu juga, aku ingin kalian bertiga "
"Ya sudah kamu cari saja perempuan lain, aku bukanlah perempuan yang pantas untuk menjadi istri kamu. Kita sudah pernah memulai dan sepertinya kita berdua ini tak cocok Adnan"
"Tapi aku maunya sama kamu bukan sama orang lain. Anak-anak juga pasti akan sangat bahagia sekali kalau kita sama-sama begini deh, bagaimana kalau nenek akan menjadi nenekmu seutuhnya, aku akan memberikannya padamu asal kamu mau menikah dengan aku, itu sangat adil kan dari dulu kamu kan ingin kalau nenek itu jadi milik kamu seutuhnya "
"Memang sudah kan, nenek sudah menjadi milikku"
"Iya maksudku ambil saja nenek, kita menikah dan anak-anak kita bagi-bagi. Nenek untuk kamu saja kalian bisa menghabiskan waktu bersama-sama "
"Bagi-bagi memangnya mereka itu apa Adnan kamu ini ngaco sekali "
"Ya pokoknya nenek akan menjadi milikmu seutuhnya, nenek akan menjadi nenek mu sungguhan "
Ayana mengerutkan keningnya, lalu tiba-tiba saja Ayana berlari. Adnan begitu kaget tentu saja Adnan mengejarnya, takut ayang tiba-tiba saja pergi ke mana gitu. Tak lupa Adnan juga menutup pintu" Ayana kamu mau ke mana, Ayana tunggu aku jangan tinggalkan aku seperti ini, Ayana mau kemana kamu hei "
"Aku akan bicara pada nenek, aku akan membicarakan semuanya kalau kamu sudah memberikan nenek padaku, kamu memang cucu durhaka Adnan aku akan mengadukannya pada nenek, lihat saja ya "
"Jangan lakukan itu, kamu ingin membuat nenek marah padaku kamu ingin aku ditendang oleh nenek, tadi hanya pura-pura saja untuk merayu kamu Ayana kalau sampai neneknya tahu mungkin aku akan dicoret dari hak waris, Ayana jangan lakukan itu Ayana"
"Kamu yang bilang kan tadi, maka aku akan berbicara dengan nenek. Aku akan mengadukan semuanya pada nenek"
Ayana berteriak keras di depan kamar neneknya saat akan membuka pintu kamar, Adnan memeluk pinggang Ayana dan membawa tubuh Perempuan itu menjauh dari kamar neneknya. Bahkan Ayana tertawa karena tingkah Adnan ini.
Adnan begitu ketakutan, dan Ayana suka melihat ekspresinya yang seperti itu. Wajah Adnan begitu pucat sekali. Sepertinya nenek adalah orang yang sangat Adnan takuti.
Adnan melepaskan pelukannya itu dan menggenggam erat tangan Ayana, jangan sampai Ayana kabur lagi dan berlari kekamar neneknya itu "Jangan lakukan itu, apa kamu ingin membuat aku miskin Ayana, bagaimana kalau aku nanti tidak punya uang. Kamu tega dengan aku Ayana, kita tak akan bisa jalan-jalan lagi "
Memang semua harta milik keluarganya masih dipegang oleh neneknya. Sebelum neneknya tiada maka semua harta warisan itu tak akan dibagikan, dan semua properti juga masih atas nama neneknya belum dipindah alihkan.
Tapi tenang saja, kalau properti yang akan Adnan berikan pada Ayana itu adalah miliknya, itu adalah bukti kerja kerasnya selama ini. Adnan akan memberikan itu semua pada Ayana. Tapi belum diterima juga oleh Ayana ini.
"Ya itu salahmu sendiri, kenapa kamu berkata seperti itu bukannya kamu akan memberikan nenek padaku kan, maka aku akan mengadukannya. Aku akan berbicara pada nenek, kamu benar-benar cucu durhaka Adnan "
__ADS_1
"Ayolah jangan seperti itu, sekarang aku tahu sikap Melisa seperti ini dari siapa ternyata turunan darimu ya. Jangan lakukan itu aku tidak mau nanti nenek malah marah padaku, bisa-bisa dia menendang aku dari sini, aku harus pulang bagaimana aku tidak mungkin berenang Ayana jangan tega dengan aku. Aku ini kan ayah dari anak-anak jadi jangan lakukan itu "
Ayana tertawa melihat ekspresi Adnan yang sangat ketakutan itu. Baru pertama kali Ayana melihat Adnan yang seperti ini, entah kenapa juga hal itu bisa membuatnya tertawa dengan lepas seperti ini.
Ayana mencoba untuk melepaskan tangannya dari genggaman Adnan. Ayana bahkan berteriak lagi untuk memanggil nenek tapi Adnan tidak melepaskan tangan itu, Adnan bener-benar sangat kuat sekali memegang tangannya ini.
"Tolong jangan buat aku miskin, bagaimana nanti dengan anak-anak aku harus membiayai anak-anak dan juga dirimu. Ayana jangan gegabah "
"Biarin aja, kalau kamu miskin agar kamu tidak menghambur-hamburkan uangmu itu sembarangan tiba-tiba menyewa kapal pesiar seperti ini, padahal kita bisa ke kebun binatang bisa saja "
Adnan kembali memeluk Ayana dari belakang, Ayana masih tertawa dan masih tidak menyadari apa yang mereka lakukan. Adnan juga menikmati setiap apa yang dia lakukan bersama Ayana, Adnan merasa kalau Ayana mulai kembali.
Ayana nya yang dulu sudah bisa dia kembalikan lagi, sebentar lagi Adnan akan mendapat kannya dan Ayana yang seperti dulu akan ada lagi. Adnan benar-benar tak sabar sekali.
Adnan ingin semua ini kembali baik-baik saja, Adnan suka dengan Ayana yang tertawa lepas seperti ini, tak cemberut terus seperti tadi.
"Nenek tolong aku nenek, nenek aku minta tolong "teriak Ayana
"Ayana diamlah kalau nenek sudah marah sudahlah aku akan habis, sudah diam ya "
"Tidak masalah, kenapa kamu juga ingin memberikan nenek pada aku tiba-tiba seperti itu. Maka kamu siap dengan konsekuensinya, aku akan berbicara pada nenek aku akan mengadukan semuanya pada nenek"
"Tidak jangan Ayana jangan, kamu jangan bicara pada nenek tolong aku "rengek Adnan seperti anak kecil.
"Nenek nenek lihatlah Adnan, nenek tolong aku nenek"
"Lihatlah Adnan ini ingin memberikan__"mulut Ayana langsung dibekap oleh Adnan, jangan sampai kata-kata itu keluar dan semuanya kacau neneknya baru bangun tidur dan moodnya belum baik.
"Tidak nek, sudah Ayana hanya sedang pusing karena memikirkan semua apa yang aku lakukan, makanya dia terus berteriak-teriak memanggil nenek semuanya baik-baik saja lihat aku saja sedang memeluk Ayana. Kami sedang bercanda dan melakukan hal romantis nenek suka kan melihat ini semua, kami akan segera tidur nek setelah ini "
Adnan juga mencium pipi Ayana, Ayana yang geram ingin menggigit tangan Adnan tapi sangat sulit sekali, kenapa tangannya Adnan sulit untuk digigit padahal hal seperti ini sangat mudah sekali kan.
"Kalian berdua ini ada-ada saja, kalau mau pacaran itu jangan panggil-panggil nenek, nenek kan mau istirahat. Nenek tak mau jadi nyamuk, kalian pacaran saja berdua jangan ajak-ajak nenek ah "
Nenek langsung masuk lagi ke dalam kamar. Ayana ingin berteriak tapi sulit sekali mulutnya masih dibekap oleh Adnan. Ayana memberontak dan Adnan membawa Ayana ke salah satu kamar.
Lalu menutup pintunya, mereka berdua sudah di dalam kamar Ayana langsung menginjak kaki Adnan dengan keras, memangnya enak dibekap terus seperti itu sangat tidak enak.
Adnan langsung melepaskannya dengan cepat, Adnan memegang kakinya yang diinjak oleh Ayana. Ayana ini menyebalkan sekali "Kamu ini selalu saja kasar padaku, sakit tahu Ayana, kakiku bagaimana kalau bengkak, kamu ini ya "
"Makanya jangan aneh-aneh main cium pipi, peluk-peluk segala lagi, tadi kamu sendiri kan yang bilang kalau kamu mau kasih nenek sama aku ya udah aku adukan aja. Tapi sekarang malah kamu yang ketakutan gimana sih kamu ini Adnan "
"Jangan gitu dong, udah deh kita nikah aja jadi nenek punya kita berdua ya. Kita nikah Ayana kita atur semuanya dari awal aku akan menebus semuanya sayang, aku akan menjadi pribadi yang baik aku tak akan seperti ini kamu setuju kan dengan usul ku ini "
Ayana memukul dada Adnan dengan keras "Sudah aku bilang kan aku tidak mau menikah dengan kamu, kamu ini bagaimana sih harus dengan cara apalagi aku menjelaskannya padamu, kalau aku ini tidak mau menikah denganmu "tolak Ayana dengan mentah-mentah untuk kesekian kalinya.
"Ayana aku harus seperti apa lagi untuk memintamu menikah denganku, aku tak mau kalau tak menikah dengan kamu. Aku hanya ingin kamu Ayana, kamu seorang tak ada yang lain "
__ADS_1
"Memang sudah tak ada cara lagi Adnan" sambil tertawa, Ayana juga tidak mau menanggapi hal semua ini dengan serius karena dengan cara serius pun Adnan tidak mau mengerti mengerti. Padahal Ayana sudah menolak Adnan beberapa kali, tapi dia tetap saja seperti ini menyebalkan sekali.
"Sudah Adnan kita tak usah membahas ini lagi, awas aku akan menemui anak-anak kasian mereka cuman tidur berdua, nanti kalau bangun pasti mereka akan mencariku, aku pergi dulu awas "
Tapi Adnan langsung merentangkan tangannya menghalangi jalan Ayana agar tak pergi kemana-mana Adnan belum selesai bicara masa iya mau ditinggalkan begitu saja, jahat sekali Ayana kalau sampai melakukan itu.
"Harus dengan cara apa aku melamarmu dan menikahimu lagi ayo Ayana, apapun akan aku lakukan asal kita bisa menikah Ayana, asal kita bisa bersama-sama "
"Tidak ada awas aku akan bertemu dengan anak-anak, aku tak akan bicara apa-apa pada nenek jadi jangan halangi aku Adnan, aku akan kembali kekamar "
Ayana mendorong tubuh Adnan yang masih saja diam seperti itu "Aku kembali dengan anak-anak kamu jangan ganggu, aku juga mau istirahat "
Adnan akhirnya mengalah saja, dia akan memikirkan cara nanti kedepannya bagaimana untuk mendekati Ayana. Sulit sekali melamarnya harus dengan cara apa lagi sih.
...----------------...
Papihnya Fira menutup kedua telinganya mendengar terus teriakan anaknya, ingin bertemu dengan suaminya "Tolong Fira diam, diam diam, dia tidak mau bertemu denganmu. Sudah jangan terus mengharapkan laki-laki itu dia sudah tidak mau denganmu, dia sudah punya kebahagiannya sendiri lebih baik kamu fokus untuk kesembuhan kamu sendiri jangan seperti ini "
"Aku punya suami. Aku ingin bertemu dengannya. Kenapa sangat sulit sekali, kapan dia pulang Papi katanya kamu mau membuat aku bertemu dengannya, tapi mana tidak ada dia itu suamiku, aku ingin pergi pada suamiku, aku ingin menemuinya aku tak mau disini terus Papih jangan terus kurung aku seperti ini, aku ingin bertemu dengannya kamu sangat jahat sekali"
Papinya Fira mendekatinya dan mencengkram dagu anaknya itu dengan sangat kencang sekali "Sudah aku bilang kan, jangan pernah berharap lagi dengan laki-laki itu, jangan buat Papi pusing papi ini banyak pekerjaan. Tolong jangan bebankan papi dengan kamu yang terus seperti ini Fira, sembuh lah nanti saat Papi tua siapa yang akan mengurus Papi, kamu yang Papi harapkan jangan seperti ini sadarlah sadar, jangan buat papih bekerja sendiri "
"Sakit kamu menyakitiku. Lepaskan lepaskan, aku akan pergi saja sendiri pada suamiku, aku hanya ingin suamiku saja, aku ingin dia kembali kemari dan bersamaku kembali "
Papihnya Fira melepaskannya, dirinya sudah sangat pusing sekali, mau dengan cara apa lagi. Adnan sudah tak mau bertemu dengan Fira tak mungkin dirinya menyeret Adnan kemari, yang ada dirinya akan kalah oleh Adnan. Dirinya mungkin yang nanti akan dimarahi oleh Adnan.
"Aku ingin dekat dengan suamiku, aku ingin dipeluk olehnya aku ingin bisa bersamanya tolong pertemukan aku dengan suamiku, aku ingin suamiku suamiku suamiku. Kenapa kalian sangat jahat padaku kenapa kalian tidak memberikan aku kesempatan untuk bertemu dengannya, aku sangat ingin banyak bercerita padanya, banyak yang ingin aku ceritakan ini "
"Sudah kamu diam di kamar dan jangan terus memikirkan Adnan, dia tidak akan pernah kembali sampai kapanpun dia sudah punya perempuan lain. Dia sudah punya tujuannya sendiri Fira, kamu harus sadar jangan seperti ini terus, papih begitu lelah sekali"
Fira langsung mengelengkan kepalanya dengan kuat "Tidak suamiku pasti akan selalu setia denganku, dia tidak mungkin berselingkuh dia masih suamiku maka dia tidak boleh melakukan itu dia suamiku tidak mungkin melakukan itu. Aku tahu bagaimana suamiku ini"
"Lupakan Adnan, semuanya sudah berakhir kamu dan juga Adnan sudah bercerai kalian berdua tidak punya hubungan apa-apa lagi Fira. Kamu masa lupa dengan perceraian kalian itu "
Fira langsung berteriak dengan histeris mendengar itu, dia tidak terima dengan apa yang ayahnya katakan. Fira benar-benar tidak mau menerima itu, dia menjamak-jambak rambutnya lagi melukai dirinya lagi.
Papihnya yang memang sudah sangat pusing melihat kelakuan anaknya yang seperti itu segera keluar dari dalam kamar itu, rasanya kalau dia terus seperti ini akan ikut stress.
...----------------...
Ayana menatap kedua putrinya, dia masih memikirkan tentang kata-kata Adnan yang mengajaknya untuk menikah. Menikah dengan Adnan kembali tak pernah terpikirkan sama sekali di kepalanya.
"Aku tidak mungkin kan memberikannya lagi kesempatan, aku tidak mungkin kembali dengan Adnan. Aku tidak mau berpikir sampai ke sana, aku tak mau terluka lagi "
"Kalau sampai aku menikah lagi dengannya, apakah tidak akan pernah ada masalah lagi. Aku sangat takut sekali kalau akan ada masalah yang tiba-tiba muncul di antara kami berdua, aku tak bisa menghadapi semua itu "
Ayana membaringkan tubuhnya disamping anak-anaknya. Ayana akan mencoba tidur saja dari pada memikirkan ucapan Adnan, lebih baik tidur saja.
__ADS_1