Aku Bawa Mereka

Aku Bawa Mereka
Bab 190


__ADS_3

"Kenapa Ayana hanya berdiri di sini saja, apa kamu tidak mau menemui suamimu atau mungkin memeluknya langsung. Kamu tidak rindu dengan suami kamu itu "


Ayana menggelengkan kepalanya "Nanti juga Adnan kemari nek, anak-anak sedang rindu dengan ayahnya itu. Aku tak mau menganggu mereka "


Anak-anak sudah melepaskan pelukan mereka, "Sekarang main lagi ya, ayah kan sudah pulang nanti malam kita akan main bersama lagi "


dengan kompak Melisa dan juga Melinda menganggukan kepalanya, mereka langsung berlari kembali dan bermain seperti semula, mereka sudah bertemu dengan ayah mereka dan sekarang tinggal bermain.


Adnan segera bangkit dan berjalan ke arah istrinya, Adnan melihat sekarang istrinya tidak terlalu pucat dan mengusap rambut panjangnya itu "Apakah sekarang sudah baikan, apakah tak mau dicek saja"


"Iya sudah lumayan, engga udah aku istirahat dirumah saja Adnan "


Adnan mengeluarkan 10 tangkai bunga mawar merah dan memberikannya pada Ayana, Ayana tersenyum melihat itu. Suaminya ini setiap harinya bunga mawar merahnya bertambah terus.


"Kamu hanya memberikan 10 tangkai saja Adnan sungguh pelit sekali kamu ya "komentar neneknya yang melihat cucunya hanya membawa bunga sedikit, itu untuk istrinya tapi Adnan hanya membawanya 10 tangkai saja "Apa kamu butuh kerja tambahan, agar bisa memberikan bunga yang banyak untuk istrimu"


Adnan memutar bola matanya dengan malas neneknya ini mengganggu saja "Nenek aku ini sedang memberikan hal romantis pada istriku, tapi kamu malah menggagalkannya aku bisa membeli kebunnya langsung tapi aku ingin 10 tangkai saja untuk istriku. Ayana juga tidak akan mau nanti yang ada telingaku ini akan dijewer, nenek menggagalkan semuanya jadi tak romantis lagi kan "


Nenek dan juga Ayana tertawa mendengar hal itu, memang benar Ayana memang tidak terlalu suka yang berlebihan kalau misalnya suaminya membeli sesuatu yang berlebihan, Ayana selalu menjewer telinganya itu.


"Ayah kenapa kami berdua juga tidak dibelikan, kenapa hanya Mama saja yang dibelikan bunga kami pun mau. Kami juga mau 10 sama seperti Mama"protes kedua putrinya itu sambil mendekati Adnan dan menarik-narik celana Adnan.


"Untuk kalian ada di luar rumah coba cek, kalian akan bisa menghirupnya sepuasnya "


Melisa dan juga Melinda langsung berlari keluar diikuti oleh nenek. Adnan punya kesempatan sekarang untuk berduaan dengan istrinya. Adnan mendekati istrinya dan meraih pinggang sang istri lalu mencium puncak kepalanya.

__ADS_1


"Kamu yakin membelikan anak-anak bunga juga. Kamu jangan bohongi mereka, nanti mereka malah akan marah sama kamu kalau kamu bohong "


"Sayang lihat saja nanti"


Sekarang mereka mendengar teriakan yang begitu melengking dari anak-anaknya "Ayah bohong mana bunganya tidak ada, ayah bohong " protes Melisa sambil menghentak-hentakkan kakinya di lantai.


"Itu di taman banyak kan bunga mawar, kalian bisa melihatnya dan memetiknya langsung nanti bersama nenek. Kalian bisa menghirupnya sepuasnya juga. Ayah tak berbohong Melisa "


"Ayah ini menyebalkan, sangat menyebalkan sekali, kami ingin seperti yang Mama punya, tidak memetik sendirian atau yang dipetik kan oleh nenek "


Anak-anaknya itu langsung menyerang Adnan, Adnan sendiri lantas berlari Melisa dan juga Melinda mengejarnya mereka, tidak terima ayahnya ini berbohong katanya membelikan mereka juga tapi ternyata mereka harus memetik di kebun dulu sungguh Ayahnya ini tidak adil sekali.


"Ya ampun ampun ampun Ayah nanti akan belikan, ayah nanti belikan jangan seperti ini ampun "


"Ayah itu menyebalkan, Ayah menyebalkan katanya ada di luar untuk kami juga tapi kami harus memetiknya dulu. Sungguh kami tidak terima "


"Rasakan itu makanya jangan membohongi putrimu itu Adnan "nenek malah membuat makin panas saja "Ayo cepat hajar Ayah kalian itu agar tak berbohong lagi "


...----------------...


"Yakin kita akan masuk ke dalam rumah itu, aku melihat orang-orang yang berjaga saja sudah takut, kamu ini sebagai suami tidak pernah mau berbicara nantinya tetap saja aku, nanti yang bertengkar dengan mereka aku urungkan niat untuk meminta bantuan pada Ayana, penjaganya makin banyak. Aku tidak mau kalau nanti diusir lagi sangat memalukan"


"Lalu kita mau tinggal di mana kalau kita tidak meminta bantuan pada Ayana, apa kamu mau tinggal luntang-lantung apa mau tinggal di jalanan saja seperti itu maumu, kalau aku sih tak masalah ya, aku dulu besar di jalanan"


"Ya sudah kamu sebagai suamiku berbicara pada mereka, jangan aku yang datang dan meminta untuk bertemu dengan Ayana. Aku tidak mau ah "

__ADS_1


"Kamu itu ibunya, kamu yang berhak berbicara dengan Ayana bukan aku, aku di sini hanyalah Ayah tirinya saja. Aku tak pantas jika meminta itu padannya"


Ibunya Ayana langsung memukul tangan suaminya itu, pasti saja seperti ini dirinya ibunya lah, apanya lah. Memang suaminya ini tidak mau bergerak sendirian suaminya ini hanya mengandalkannya saja dari dulu.


"Tidak ah aku tidak mau, lebih baik aku tidur di jalan biarkan saja dulu biar nanti dia sendiri yang melihat keadaanku dan memasukkan ku dengan sukarela, bukan aku yang meminta-minta untuk masuk ke dalam rumah itu. Aku tidak mau ah apalagi sepertinya Adnan juga sudah pulang pasti bukan Ayana yang keluar tapi suaminya itu"


"Hemm, terserah kamu saja jangan merengek pada aku nanti kalau kekurangan makanan, kekurangan selimut atau kekurangan apapun aku tidak akan memberikannya pada kamu "


"Ist menyebalkan sekali "sambil menginjak kaki suaminya itu dengan sangat kencang sekali.


"Sakit Bu kenapa kamu ini kasar sekali padaku, sakit tahu main injak-injak saja memangnya aku ini apa hah"


"Ya makanya jangan nyebelin kayak gitu, kamu itu sebagai suami harus mengikuti apa mau istri kalau mau apapun yang istri mau kamu harus memberinya, ini juga siapa lagi yang udah adukan masalah tentang kemarin yang kebakaran itu. Padahal aku udah minta kan pada mereka untuk wanti-wanti jangan ada yang bilang tapi tetap ada aja, mereka benar-benar menyebalkan sekali "


"Namanya juga manusia pasti ada lah yang kayak gitu, mau disini aja bikin tenda sesuatu apa yang kita rencanakan atau pergi nih "


"Kamu memang hanya bisa menyusahkan ku saja tahu, tidak aku tidak mau aku lebih baik pergi dari sini. Aku juga berubah fikiran tak mau membuat tenda disini "


Ibunya Ayana langsung saja melangkah pergi, dia tidak mau bertemu dengan Ayana ataupun dengan keluarganya yang lain. Bukan apa-apa sepertinya Ayana juga tidak akan menerimanya.


Bukannya sadar diri hanya takut saja dengan orang-orang yang berjaga di depan banyak sekali, orangnya apalagi tubuhnya juga sangat kekar kalau misalnya dia terus menerobos masuk yang ada akan dilemparkan nanti, kalau cedera uang lagi dari mana itulah yang dia pikirkan.


"Ibu kamu yakin tidak akan ke sana kamu benar-benar yakin tidak mau ? "suaminya terus saja bertanya hal itu.


"Tidak aku masih sayang nyawa, aku tidak mau ke sana kamu saja sana, kamu kan suamiku"

__ADS_1


Akhirnya mereka berdua pergi juga, tidak mau mengambil resiko besar yang pada akhirnya tidak akan diterima juga yang ada hanya akan mendapatkan caci maki saja.


__ADS_2