
"Jadi apa yang akan paman bicarakan denganku. Aku tidak mau ya banyak bicara denganmu, aku tak mau lama-lama bicara dengan Paman juga. Paman itu sangat menyebalkan sekali "
Adnan gemas sekali dengan anaknya ini, rasanya ingin mencubit pipinya tapi Adnan tidak mau nanti bermasalah dengan Ayana. Pasti Melisa akan mengadukannya pada Ayana dan melebih-lebihkannya apalagi Melisa tidak menyukainya kan.
Pasti Melisa akan mencari cara bagaimana menjauhkan dirinya bersama ibunya itu, Adnan tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi sampai kapanpun.
"Aku ingin kamu membantuku untuk bisa dekat dengan mamamu. Aku benar-benar ingin dekat dengannya aku janji tidak akan melakukan kesalahan lagi pada ibumu, tak akan ada salah paham lagi aku janji"
"Paman aku ini tidak suka denganmu, masa sekarang aku mau membantumu untuk dekat dengan ibuku. Kamu ini bagaimana sih aku tidak mau membantumu. Aku sampai kapanpun tidak akan pernah mau membantu Paman, mau paman memohon-mohon pun aku tidak akan pernah mau "
"Apapun yang kamu mau akan aku berikan. Aku janji kamu mau mainan atau kamu mau liburan ke mana aku akan memberikannya, aku janji padamu Melisa asal kamu bisa membantu aku untuk bisa dekat dengan ibumu yang cantik itu "
Melisa melipat tangannya dan mencoba berfikir. Apakah ini kesempatan bagus yang harus diambil. Adiknya Melinda suka ingin mainan kan, kasihan kalau mamanya terus membelikan mainan untuk Melinda. Sedangkan Paman Adnan dengan sukarela akan memberikan apapun yang dia inginkan.
Melisa harus memanfaatkan semua ini kan. Melisa harus menghabiskan uang Paman Adnan, agar Paman Adnan itu kapok untuk mendekati Mamanya itu ide yang bagus sekali.
"Baiklah aku akan membantumu, tapi ada satu hal aku tidak mau memanggilmu Ayah sampai kapanpun, aku tak akan pernah mau "
"Kenapa aku ini ayahmu, masa kamu akan terus memanggilku Paman "
"Tidak, aku tidak mau ayo catat apa saja yang aku mau dan kamu harus setuju tidak boleh membantah dan tidak ada ganti. Kalau sampai ada yang ganti maka tidak akan ada bantuan dariku. Aku tidak akan pernah mau membantu paman dan kalaupun Paman meminta bantuan pada Melinda, aku tidak akan membolehkannya"
"Baiklah aku akan mencatatnya apa saja yang kamu mau "Adnan akan mencoba untuk meluluhkan hati Melisa, dia harus bisa mengambil hati anaknya untuk Melinda itu hal gampang. Melinda sama sekali tidak membencinya kan, dia akan lebih gampang untuk didekati oleh Adnan dan mungkin akan langsung senang saat dia mengatakan kalau dirinya ini adalah ayahnya.
Adnan sudah bisa membayangkan bagaimana nanti Melinda senang saat mendengar kamar kalau dirinya ini adalah Ayahnya. Melinda pasti akan langsung memeluknya.
"Pertama aku ingin kamu membelikan mainan hanya untuk adikku saja Melinda, karena kalau aku tidak butuh mainan. Aku ini sudah dewasa aku sudah terlalu banyak mainan, di rumah mama sudah membelikan aku mainan tapi karena Melinda selalu saja ingin mainan maka belikan untuknya, dia pasti akan sangat senang sekali "
Adnan suka dengan cara berpikir Melisa dia begitu menyayangi adiknya, sampai-sampai dia hanya memikirkan tentang adiknya "Baiklah lalu seterusnya apa lagi yang ingin kau minta dariku. Yakin tak mau meminta mainan untuk dirimu sendiri "
"Tidak aku tidak mau, aku tidak terlalu suka mainan yang lebih suka adalah Melinda. Yang kedua aku tidak mau memanggilmu dengan sebutan ayah. Aku benci padamu meskipun Mama mengatakan kalau aku membenci seseorang hatiku akan hitam dan sakit, tapi tetap saja kamu itu sangat aku benci. Kamu sudah membuat Mamaku selalu menangis meskipun masalah kalian adalah salah paham saja"
"Ya baiklah, aku tak akan banyak bicara dan aku mengerti kamu masih belum bisa menerima aku dengan baik "
"Yang ketiga aku tidak mau melihat paman membuat Mamaku menangis. Jadi kalau itu sampai terjadi aku akan menggigit Paman. Aku gigit kaki Paman sampai bolong, bahkan paman nanti tak akan bisa berjalan saat aku gigit "
"Hemm, baiklah anak dewasa vampir, apalagi yang kamu mau "
Melisa mendelikan matanya saat Adnan malah mengejeknya"Yang keempat Paman tidak boleh memaksa Mama. Paman harus selalu baik pada Mamaku. Paman tidak boleh membiarkan Mama kesusahan. Paman juga harus selalu memanjakan adikku. Memberikan kasih sayang yang banyak agar dia bisa tersenyum dengan lebar "
"Kalau kamu sendiri ingin minta apa dari Paman, dari tadi hanya adik dan mamamu saja. Ayo coba apa yang kamu inginkan "
Melinda menatap Adnan dengan lekat " Kebahagiaan adikku dan mamaku adalah nomor satu, tidak ada yang lain lagi. Kebahagiaanku adalah saat mereka tersenyum dan bahagia itu sudah cukup untukku, sudah kan paman jangan membuatku berubah pikiran dan aku tidak akan membantumu untuk dekat dengan mamaku. Paman tidak usah memikirkan apa yang aku mau, aku tak butuh apa-apa Paman "
"Baiklah baiklah, sudah aku catat semuanya lalu apalagi, apa sudah tak ada lagi Melisa "
"Sudah itu dulu saja, nanti aku akan menambahkannya lagi, simpan untuk kamu ingat-ingat. Jangan sampai Paman mengingkari apa yang sudah kita buat. Aku tidak akan berbicara dengan mama dan Paman juga tidak boleh berbicara dengan mama. Apalagi yang tidak-tidak tentangku, aku marah pada Paman karena telah membicarakan tentang aku yang memukulmu. Aku tak suka paman mengadu seperti itu pada Mamaku tak baik paman jangan seperti itu jangan diulangi paman "
"Kalau yang itu memang harus dibicarakan, kamu tidak bisa memukul orang sembarangan Melisa nanti akan jadi masalah ke depannya, kamu tak bisa begitu"
"Aku pada orang lain tidak seperti itu. Aku hanya memukulmu saja karena kamu memang menyebalkan. Aku hanya memukulmu saja Paman jadi tidak usah khawatir, aku tak akan melukai orang lain "
Adnan sebenarnya sedikit kesal dengan tingkah Melisa ini, tapi mau bagaimanapun di harus tenang Melisa adalah anaknya dan dia harus mengikuti permainan anak kecil ini dulu, sebelum dia mendapatkan Ayana lagi.
"Kenapa kamu selalu membuat Ibuku menangis. Apa kamu tidak suka dengan ibuku sampai-sampai kamu melakukan itu "tiba-tiba saja Melisa bertanya itu pada Adnan tapi pandangannya masih lurus kedepan.
__ADS_1
"Ibumu menangis karena aku tidak ada, dia merindukan aku. Aku kan sedang bekerja mencari uang untuk kalian makanya Ibu kalian selalu menangis karena aku. Kamu hanya salah faham saja Melisa. Ibumu baik-baik saja sebenarnya tidak ada masalah di antara kami berdua"
"Bohong aku tidak percaya, mana mungkin Mama menangis Karena mu. Mama tidak mungkin melakukan itu, kamu ini ya jangan mengada-ngada seperti itu "
"Itu memang kebenarannya Melisa. Aku bekerja untuk kalian dan ibumu tidak mau tinggal di sana, makanya kita harus berjauhan. Dia menangis karena merindukan aku, aku ini kan ayah kalian maka wajar kalau ibu kalian merindukan aku "
Melisa diam dan menatap Adnan. Melisa tidak suka kalau ibunya sedih karena paman yang ada di hadapannya ini "Lalu paman sendiri apakah sedih saat meninggalkan Mama seperti itu, masa cuman Mama saja yang menangis "
Adnan langsung menganggukan kepalanya "Tentu saja aku sangat sedih sekali, bahkan aku sampai tidak bisa tidur Melisa, aku hanya mengingat ibumu bagaimana keadaannya bagaimana keadaan kalian juga. Aku sungguh tak fokus saat bekerja, aku selalu sedih karena kalian tak ada dan tak ikut dengan aku" Adnan memang tidak berbohong, Adnan sampai tidak bisa tidur waktu itu saat Ayana kabur darinya, kabur untuk kedua kalinya. Adnan begitu bingung harus mencari kemana Ayana, tapi takdir mempertemukan mereka lagi dan Adnan tahu dia harus memperbaiki semuanya tidak boleh sampai membuat Ayan kembali sakit dan kecewa lagi padanya.
"Tapi sekarang kamu bisa tenang, Ayah sudah pulang, dan jika kamu bisa sampai membuat hati mamamu kembali pada ayah, maka mamamu tidak perlu bekerja lagi. Mamamu akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan kalian berdua, mamamu hanya akan diam di rumah dan menunggu ayah pulang kerja. Ayah yang akan bekerja kamu setuju kan untuk membantu Ayah sampai Mama kamu mau dengan Ayah "
"Aku tidak suka kalau mama bersedih seperti itu, hanya karena merindukan paman"
"Iya maka dari itu kamu harus membantuku dengan benar, maka mamamu tidak akan sedih lagi saat aku pergi. Dia akan selalu tersenyum aku akan selalu membuatnya tersenyum sampai-sampai kalian juga akan selalu tersenyum olehku. Aku janji itu padamu Melisa, Ayah akan selalu membuat kalian bahagia "
Melisa kesal dengan tingkah Adnan yang terus saja membangga-banggakan dirinya "Kenapa Paman ini sangat menyebalkan sekali"
"Aku tidak menyebalkan. Aku mengatakan yang sejujurnya kalau kalian tinggal bersamaku berarti mamamu tidak usah lelah lagi bekerja, bahkan mamamu tidak usah bekerja di rumah lagi apa kamu tidak kasihan dengan mamamu. Mamamu selalu kerja siang malam apakah kamu ingin terus Mamamu seperti itu "
Wajah Melisa berubah menjadi sedih "Apakah kamu benar Ayahku, kamu tidak berbohong kan, kamu tidak sedang mempermainkan aku kan"
"Coba kamu berkaca pada wajahku. Wajah kita ini sama apa perlu kita berfoto dan membandingkan wajah kita berdua ini, sudah jelas-jelas aku ini ayahmu. Jangan tanyakan hal yang sudah ada jawabannya"
"Wajah kita tidak sama, kamu dan aku berbeda aku ini perempuan sedangkan Paman itu laki-laki tidak sama, wajah aku sama seperti mama. Kami sama-sama perempuan dan kami sama-sama cantik "
"Ya sudah kalau kamu tidak percaya kita bisa tanya orang lain, pasti mereka juga akan berbicara kalau kita berdua ini sangat mirip sekali "
"Paman ini tak bisa aku beri tahu. Lalu pekerjaan Paman itu apa sampai-sampai harus meninggalkan Mamaku jauh dan membuat dia sedih seperti itu. Apakah pekerjaan Paman itu sangat banyak sampai-sampai tidak tahu waktu pulang, paman tidak pulang-pulang bertahun-tahun "
"Selama itu, Paman juga tidak ikut pindah kami waktu itu. Bahkan mungkin Paman waktu kami masih kecil tidak ada kan"
Adnan yang melihat mata anaknya itu berkaca-kaca memangku dan memeluknya. Mau bagaimanapun Melisa itu masih kecil hanya egonya saja terlalu besar, dan dia so menjadi orang dewasa untuk melindungi mamanya dan juga adiknya.
"Paman waktu itu Melinda menangis karena melihat teman-teman yang mempunyai ayah. Bahkan dia menunjuk salah satu teman kami kalau dia ingin mempunyai Ayah dia ingin saat pulang sekolah Ayah ada, ingin menghabiskan waktu dengan ayah. Bahkan Melinda juga berbicara pada Mama ingin mempunyai ayah, aku begitu sedih sekali. Tapi aku tidak bisa menangis di hadapan adikku"
"Sekarang ayah sudah ada di sini kan, ayah akan mengabulkan setiap keinginannya, ayah pasti akan selalu membuat kalian berdua tersenyum Ayah akan datang kesekolah kalian, kita akan makan bersama dan menghabiskan waktu bersama-sama "
Melisa mendongakan kepalanya dan menatap mata Adnan "Kamu yakin akan melakukan itu, kamu tidak akan menyakiti Mamaku lagi kan. Sudah cukup jangan buat Mamaku selalu menangis, Mama sudah lelah bekerja Mama bekerja siang dan malam dia begitu baik sekali mengurus kami. Bahkan Mama tidak pernah marah, Mama harus memasak membereskan rumah lalu bekerja juga. Mama sangat bekerja keras untuk kami berdua "
Adnan memeluk tubuh Melisa lebih erat lagi, dia tahu apa yang Ayana alami selama ini begitu berat tapi Ayana mencoba bertahan demi anak-anaknya. Adnan begitu bangga pada Ayana karena bisa sejauh ini.
Bahkan Ayana sangat menyayangi anak-anaknya, meskipun masa kecilnya tidak sebahagia anak-anaknya. Adnan janji akan menebus segala kesalahannya, bahkan akan lebih membahagiakan anak dan juga istrinya ini.
Adnan tidak akan pernah membuat mereka kecewa sampai kapanpun, Adnan tak akan membuat kesalahan yang sama dan membuat anak istrinya nanti pergi. Adnan akan lebih dewasa lagi dalam menanggapi sebuah masalah.
"Apakah Paman tidak membenciku aku pernah memukulmu, mungkin kamu punya dendam padaku karena aku pernah memukulmu. Bahkan bukan satu kali atau dua kali saja kan"
"Tentu saja tidak, untuk apa aku membencimu kamu itu kan anakku. Aku tidak mungkin membenci anakku sendiri. Aku begitu menyayangimu Melisa mau bagaimanapun sikapmu padaku, aku akan tetap menyayangimu karena kamu memang benar-benar anakku"
"Lalu dengan anak perempuan yang kamu bawa itu dia siapa. Dia sudah berani mendorong adikku dia begitu kasar dan kenapa juga dia sekarang tidak ikut denganmu. Kalau dia anak paman berarti dia juga anak Mama kan apa kami bertiga ini kembar, tapi wajah dia tidak mirip denganku ataupun Melinda atau dengan mama pun tidak mirip"tanya Melisa yang memang penasaran karena anak kecil itu tidak ada lagi.
Adnan tersenyum saat Melisa mengatakan seperti itu, berarti Melisa menganggapnya Ayah hanya saja Melinda masih gengsi. Mari kita patahkan keras kepala Melisa agar bisa memanggilnya Ayah.
"Dia sudah bersama ayahnya, dia teman anak ayah makanya Ayah membawanya. Ayahnya waktu itu menitipkannya pada Ayah. Makannya Ayah membawanya kemana-mana karena tak ada yang menjaganya juga "
__ADS_1
"Tapi waktu itu kamu mengenalkan anak itu pada Melinda kalau dia adalah anakmu, tapi sekarang kamu berkata kalau dia anaknya temanmu. Bagaimana Paman ini, Paman ini sepertinya suka berbohong ya. Oh ya ada satu hal lagi Paman tidak boleh melarang Mama untuk berkencan dengan siapapun. Mama berhak untuk jalan-jalan bersama siapapun yang Mama mau "
Adnan langsung menurunkan Melisa dari pangkuannya, mereka langsung saling tatap "Apa-apaan kamu ini, aku tidak setuju dengan yang satu itu, mamamu tidak boleh berkencan dengan siapa-siapa karena mamamu hanya untuk ayah saja. Tak boleh pergi dengan yang lain enak saja "
"Ya tentu saja boleh, belum tentu Mama juga menyukaimu, bisa saja Mama juga membencimu jangan melarang Mamaku untuk melakukan itu. Mama tak akan suka dilarang oleh Paman. Ayo jawab pertanyaan ku tentang anak itu, siapa dia sebenarnya"
"Permintaanmu itu jangan aneh-aneh Melisa. Memang benar anak itu adalah anak temannya Ayah, ayah hanya menjaganya saja kamu nanti bisa bertemu dengannya dan dia akan pergi bersama ayahnya sendiri"
"Hemm begitu ya baiklah aku akan percaya dengan kamu. Kalau begitu kita batalkan saja semuanya aku tidak akan membantumu untuk mendekati mamaku"
"Baiklah aku setuju, jangan batalkan apa-apa"
Adnan tidak bisa mengerasi Melisa begitu saja, yang ada Melisa akan takut dan tidak mau membantunya, yang terpenting sekarang Melisa membantunya saja dulu kan. Masalah Ayana itu tidak akan pernah mungkin dekat dengan laki-laki manapun.
Adnan yakin Ayana tidak akan berkencan dengan siapapun, selama dalam penyelidikan Ayana tak dekat dengan siapa-siapa. Pasti Melisa ini hanya ingin membuatnya marah saja.
"Terima kasih karena kamu sudah mengantarkanku ke sekolah, kamu pulanglah aku akan sekolah dan jangan menungguku. Aku ini bukan anak kecil yang harus kamu tungguin saat sekolah "
"Hemm, aku tak akan menunggumu. Aku juga punya pekerjaan "
Pintu dibukakan oleh Marco Melisa juga dibantu turun oleh Marco, tapi Adnan juga ikut turun dia melihat Melinda sedang menunggu kakaknya. Adnan memeluk dulu Melisa tapi dia langsung melepaskannya.
"Paman tidak boleh memelukku di depan umum seperti ini, aku mau sekolah dulu Paman pulang saja. Paman ini bagaimana kalau ada yang melihatku dipeluk oleh paman aku akan sangat malu sekali "
"Panggil aku Ayah, aku ingin kamu memanggilku ayah. Pasti itu akan lebih enak didengar Melisa "
"Paman sudah ada di tulisan itu kalau aku tidak mau memanggilmu dengan sebutan ayah. Apa kamu mau semuanya batal perjanjian kita batal, aku rasanya bosan sekali harus terus mengingatkan paman tentang perjanjian kita berdua itu. Paman ini sepertinya akan ingkar janji "
Mulai kesal Adnan saat Melisa membawa bawa surat perjanjian tadi, anak ini kenapa daya ingatnya begitu kuat sekali. Adnan harus bisa tenang dan bisa mengerti tentang Melisa.
"Baiklah Paman tidak akan memaksamu, sekarang Melisa yang cantik pergi ke sekolah dan temui adikmu yang sudah menunggu itu. Ayo jangan membuatnya menunggu seperti itu kasian dia "
"Tentu saja, tanpa Paman suruh pun aku akan pergi ke sekolah. Aku ini harus ke sekolah kalau tidak nanti mama akan sedih. Jangan tunggu di sini ingat jangan jemput kami, kami hanya akan dijemput oleh Mama saja. Atau mungkin nanti dijemput oleh Paman Fabian saja itu akan lebih menyenangkan. Mama juga akan menikah dengan Paman Fabian nanti "
"Kamu ingin memancing kesabaran Ayah Melisa"
"Tidak untuk apa, memangnya kamu ikan sampai-sampai harus aku pancing. Aku juga tidak bisa memancing "
Marco mencoba untuk menahan tawanya, dia menutup mulutnya. Sebenarnya tidak ada yang berani berbicara seperti ini pada bosnya. Apalagi setelah menikah dengan Nona Fira bosnya ini menjadi galak sekali dan jutek. Dan sekarang ada anak kecil yang berani mengatakan hal itu padanya.
"Melisa aku ini ayahmu"
"Iya aku tahu, tapi kamu itu menyebalkan Paman. Aku tidak mau menyebutmu Ayah jangan paksa Melisa untuk mengatakan itu. Sudahlah sebentar lagi akan masuk aku tidak mau telat. Kalau Paman mau pancing ikan silakan nanti bawa ikannya ke rumah ya. Aku sangat ingin makan ikan. Pasti Melinda juga mau ikan yang baru dipancing yang sangat enak, rasannya akan sangat lezat sekali paman dadah Paman"
Melisa langsung berlari ke arah adiknya dan menuntun tangannya untuk masuk ke dalam kelas. Melinda juga melihat ke arah Adnan, Adnan melambaikan tangannya pada Melinda.
Melinda hanya tersenyum dan dia kembali menatap ke arah depan. Adnan begitu bahagia sekali hatinya begitu senang anaknya bisa terbuka padanya ya meskipun Melinda masih menyebalkan.
Tapi Adnan akan meluluhkan hati anaknya itu. Adnan yakin Melisa pasti akan luluh tidak mungkin dia akan terus keras kepala seperti itu.
"Ayo Marko kita harus pergi, banyak pekerjaan yang harus kita kerjakan. Tetap kamu kerahkan orang-orang mu untuk mengawasi anak-anak dan juga Ayana, aku takut nenek tiba-tiba berubah pikiran dan dia membawa anak-anak serta Ayana pergi. Nenek selalu banyak kejutan "
"Tentu pak, mereka masih berjaga di sini dan tidak ada yang pergi kemanapun. Mereka akan terus mengawasi Nona Ayana dan juga kedua putrinya"
"Baguslah itu yang aku mau"
__ADS_1
Adnan masuk kedalam mobil diikuti oleh Marco yang siap bekerja dengan bosnya ini.