
Ponsel Adnan tiba-tiba saja bergetar. Ayana yang melihat kalau itu panggilan dari Marco hanya diam saja dan mendengarkannya, anak-anak juga di belakang masih anteng berbicara tentang sekolah mereka membahas tentang sekolah saja. Mereka benar-benar senang dengan sekolah mereka.
"Ya Marco ada apa"
"Apakah Pak Ada di rumah? Ada dokumen yang perlu Bapak tanda tangani sekarang juga, dan sudah tak bisa ditunda lagi "
"Aku akan pergi ke kantor sekarang, tunggu saja dulu di kantor beberapa menit"
"Baik Pak"
Setelah sambungannya mati, Adnan menatap sang istri "Kita ke kantor dulu ya nggak masalah kan"
"Apa nggak bisa aku pulang dulu aja, nanti kamu ke kantor aku pulang sama anak-anak atau mungkin aku naik taksi aja di sini, ya lebih baik seperti itu saja, aku naik taksi agar kamu bisa langsung pergi kekantor "
"Kenapa kayak gitu "tanya Adnan sambil mengerutkan keningnya, bingung dengan apa yang istrinya katakan kenapa Ayana tidak mau dibawa ke kantornya. Apakah ada sesuatu yang terjadi.
"Ya aku hanya malu saja dengan karyawanmu, aku belum siap saja bertemu dengan orang banyak Adnan, aku lebih baik pulang saja "Ayana akhirnya berkata Jujur juga, dulu dia pernah bekerja di sana dan pernah menikah juga dengan Adnan. Ayana takut mereka akan memandang Ayana seperti merebut Adnan dari Fira, ya mau bagaimanapun mereka kan tahunya waktu itu istri dari bosnya itu adalah Fira. Ayana takut mereka berfikir yang tidak-tidak.
Ayana belum siap dengan caci maki dari mereka. Ayana ingin selalu menjaga telinganya agar tenang dan juga hatinya juga.
"Kenapa harus malu, jangan pernah malu kamu ini adalah pemilik kantor itu sekarang jadi tak usah ada kata malu lagi kita kekantor dulu ya. Kamu harus ikut sayang, tak ada kata tidak "
"Baiklah, aku ikut "
Ayana tidak mungkin menolak juga kan. Ikuti saja kemauan Adnan, semoga saja semuanya baik-baik saja dan tidak ada yang berbisik-bisik karena dulu saja saat Ayana baru pertama berpacaran dengan Adnan seluruh kantor begitu heboh.
Bahkan sampai ada yang membully nya, mengatakan kalau dirinya menjual diri pada Adnan, pokoknya banyak lagi. Memang tidak mengenakan sekali kalau berhubungan dengan seorang atasan pasti saja akan dituduh yang tidak-tidak kan.
Mereka akan berfikir negatif dan menyebarkan segalanya pada orang yang tidak tahu, dan akhirnya orang itu jadi ikut-ikut membully kita kan.
Adnan segera memarkirkan mobilnya di tempat biasa. Lumayan cepat mereka datang kemari karena memang dari sekolah anaknya ke kantor itu cukup dekat, memang pilihan istrinya ini selalu benar tidak pernah ada yang salah.
Tangan Adnan langsung mencekal jemari Ayana yang akan membuka sabuk pengaman. Ayana menoleh dengan heran ada apa dengan suaminya ini "Kenapa?"
Adnan mendekat dan membukakan sabuk pengaman itu " Kamu tunggu dulu di dalam, biar aku yang membukakan pintu awas jangan dibuka sendiri. Aku akan membukannya sekarang sayang "Adnan segera keluar dari dalam mobil dan mengitari mobilnya tapi Ayana sudah membuka pintu mobil dan akan turun. Ayana tak mendengarkan kata-kata suaminya.
__ADS_1
Adnan yang melihatnya cemberut, baru saja Ayana akan melangkahkan kakinya, Adnan malah menahannya.
"Kamu ini sangat tidak patuh sayang. Padahal baru saja aku berbicara, apa kamu mau dihukum olehku nanti malam, hemm"
Ayana malah menjulurkan lidahnya dan mendorong dada suaminya untuk menyingkir dari hadapannya. Ayana segera turun dan Adnan membantu anak-anaknya untuk turun dari dalam mobil. Karena Melisa dan juga Melinda sudah mengomel dari tadi melihat mamanya dan juga ayahnya yang terus saja bermesraan di hadapan mereka berdua, padahal di belakang ada orang loh.
Mereka berempat bergegas masuk ke dalam kantor, seketika saja di lobby mereka menjadi pusat perhatian. Memang mereka juga sudah melihat pernikahan Adnan dan juga Ayana di televisi karena disiarkan langsung, tapi mereka masih tidak percaya saja kalau Adnan dan juga Ayana sudah memiliki kedua putri sekaligus seperti itu.
Melisa yang melihat ada paman Marco langsung melambaikan tangannya dan teriak serta memeluknya. Melisa begitu manja dengan paman Marco.
"Paman Marco. Kamu ini sudah jarang datang ke rumah, aku ini sangat merindukanmu. Kenapa tak datang kerumah paham Marco "
Marco langsung menggendong Melisa "Maaf Paman sibuk di kantor, makanya Paman jarang pergi ke rumah kamu. Tapi nanti paman akan coba untuk meluangkan waktu ya, tapi paman tak bisa janji ya kapan perginya "
"Baiklah kapan-kapan main ke rumah, kita harus berlari lagi mengitari rumah paman. Waktu itu paman tidak sempat kan mengelilingi rumah hanya setengah saja nanti kita mengelilingi rumah lagi ya. Paman tak boleh melakukannya setengah-setengah tak baik "
"Baiklah nanti kita mengelilingi rumah untuk berolahraga ya "
Melisa langsung mengangkat kedua jempolnya dia senang sekali kalau ditemani oleh Paman Marco. Karena Paman Marco ini baik selalu saja mengikuti apa kemauannya, diajak berlari pun paman Marko mau dan tak banyak protes juga.
Marco juga sudah memegang dokumen penting itu, Marco juga menggendong Melinda di tangan sebelahnya, meskipun kesulitan karena ada dokumennya tapi Marko tidak mau mengacuhkan salah satu dari anak kembar ini. Takutnya malah akan iri.
"Kenapa Melinda hanya diam saja, apa tidak rindu dengan paman Marco juga "
Melinda langsung tersenyum dan menganggukkan kepalanya "Melinda juga rindu dengan paman Marco"
Memang Melinda ini sedikit pendiam dari pada Melisa. Melisa itu cerewet sekali sedangkan Melinda tidak terlalu.
Saat melihat Ayana mendekat Marko segera menyapanya "Ibu, pak selamat datang"
Ayana hanya tersenyum, sedangkan Adnan hanya menganggukkan kepalanya dengan wajah yang datar. Sudah pasti akan seperti itu, wajah Adnan ini kadang-kadang menyebalkan.
"Melisa, Melinda ayo turun dari gendongan Paman Marco, kasihan lihat Paman Marco sedang memegang sebuah berkas. Ayo turun "
Mereka berdua segera menggeliat dan ingin diturunkan dari pangkuan Paman Marco. Melisa dan juga Melinda begitu patuh sekali, mereka tak perlu dibujuk sekali saja diberi tahu langsung patuh.
__ADS_1
Ayana menatap kantor suaminya ini masih sama tidak banyak yang berubah, mungkin hanya sedikit-sedikit saja yang direnovasi tapi tak banyak. Ayana juga masih melihat ada teman-temannya yang dulu masih kerja di sini.
Mereka betah ternyata bekerja bersama Adnan, tapi Ayana tidak melihat Lili mungkin Lili keluar dari kantor ini ya.
Melisa dan juga Melinda segera berlarian, mereka benar-benar bermain dilobi sambil sesekali membahas tentang kantor ayahnya ini.
Pintu lift sudah terbuka saat Melisa menekannya "Ayo cepat masuk Melinda, kita harus segera keruangan Ayah "
Mereka semua segera masuk "Ayah lantai berapa"
"Lantai 10"
Melisa sudah berjingkit tapi tidak sampai, tubuhnya ini sangat pendek sekali "Ayah lihat tidak sampai, apakah kamu tidak mau membantu aku" dengan masih berusaha untuk menekannya.
Adnan malah tertawa melihat itu. Adnan lalu sedikit mengangkat tubuh Melisa dan akhirnya berhasil pintu lift pun tertutup.
"Terima kasih Ayah"
"Sama-sama"
"Melinda juga mau Ayah "rengek Melinda sambil menatap ayahnya.
Adnan segera menggendong Melinda "Nanti Melinda saat pulang saja ya menekan tombolnya, kita sebentar lagi akan sampai "
"Baiklah kalau begitu "
Anak-anak terlebih dahulu keluar dari dalam lift. Melisa dia langsung berlari karena sudah tahu di mana ruangan ayahnya. Melinda hanya bisa mengejar kakaknya dari belakang sambil berteriak karena kakaknya itu berlari dengan sangat kencang sekali.
Kakaknya ini selalu saja meninggalkannya kalau berlari. Melinda juga mau seperti kakaknya yang bisa berlari dengan cepat seperti itu.
"Kakak tunggu aku jangan tinggalkan aku, kenapa lari kamu begitu kencang tunggu aku "
"Cepatlah Melinda jangan lelet. Ayo kita berlomba siapa yang lebih dahulu sampai di ruangan ayah, ayo cepat kejar aku Melinda "
Karyawan yang memang ada di lantai yang sama dengan Adnan begitu kaget saat mendengar suara teriakan dari anak kecil, mereka terpancing untuk melihat siapa itu ternyata saat melihat ada Adnan di belakangnya mereka langsung menundukkan kepalanya dan kembali bekerja.
__ADS_1
Mereka tidak berani kalau lama-lama nanti yang ada mereka akan dipecat atau dimarahi. Soalnya Pak Adnan yang sekarang dan yang dulu memang sangat berbeda sekali, kalau yang ini yang sekarang itu lebih galak dan apa-apa kalau ada kesalahan sedikitpun langsung pecat tidak seperti dulu diberi toleransi dulu. Benar-benar berubah sekali dan meraka jadi makin waspada kalau bekerja.