
Adnan tiba-tiba saja rindu dengan Ayana baru saja tadi menelpon anaknya Melisa. Tapi sekarang sudah rindu ibunya, Adnan segera menghubungi nomor Ayana tidak butuh waktu lama Ayana langsung mengangkatnya.
"Ada apa Adnan tiba-tiba menelpon seperti ini"
"Memangnya aku tidak boleh menelponmu, kamu juga kenapa tidak pernah menelponku langsung apa kamu tidak khawatir dengan keadaan Melisa, kamu begitu santai sekali Ayana "
"Aku harus bagaimana Melisa kan bersama kamu, bersama ayahnya aku bisa tenang. Aku tidak khawatir kalaupun Melisa kenapa-napa dia akan meminjam ponsel Marco dan menghubungiku. Aku sudah menyuruh Melisa untuk mengingat nomor teleponku, jadi aku bisa tenang. Anakku itu kan pintar "
"Ya tapi seharusnya kamu juga menelpon padaku, masa harus aku terus yang duluan nelpon sama kamu sih Ayana "
"Tadi pagi aku udah kasih pesan sama kamu kan, itu aku hubungin kamu lebih dulu kan "
"Ya tapi kan itu resep makanan buat Melisa, terus aja Melisa yang diperhatiin akunya kapan Ayana "
"Kan anak aku juga Melisa bukan kamu. Kamu ini kenapa sih lagi haid ya "
"Ga aku nggak lagi haid aku lagi hamil"
Terdengar di seberang sana suara Ayana yang tertawa, Adnan malah jadi ikut tertawa. Padahal dia tadi hanya asal bicara saja, karena Ayana tak perhatian padannya.
"Lalu sekarang di mana Melisa. Aku ingin berbicara dengan anakku itu"
"Aku lagi di kantor, Melisa lagi di rumah aku ga bawa Melisa kasian dia "
"Lalu untuk apa kamu telepon aku kalau ga ada Melisa"
"Kenapa kamu menyebalkan sekali Ayana"rengek Adnan seperti anak kecil.
__ADS_1
"Sepertinya ada yang sedang mau kamu ceritakan. Ada apa sih sampai-sampai nelepon "
"Aku tadi udah ketemu sama Fira. Makanya aku ga bawa Melisa tadinya aku mau bawa dia, tapi aku takut kalau Fira akan mengamuk dan Melisa takut Ayana, sebenarnya sih aku ga mau temuin Fira tapi ya karena ayahnya datang kerumah aku mau ga mau harus temui dia "
"Apakah keadaannya begitu parah ?"
"Iya begitulah. Tapi menurutku sepertinya Fira cuman pura-pura. Entah kenapa aku merasa kalau Fira sedang memainkan sebuah drama untuk mengelabui Ayahnya, aku dan juga orang lain aku melihat kalau dia itu pura-pura"
"Pura-pura, masa sih dia pura-pura gila. Tidak mungkin kan mana ada sih orang yang mau pura-pura gila, kamu ini aneh sekali "
"Iya itu buktinya Fira mau kan, aku yakin kalau dia itu pura-pura entah kenapa saat melihat matanya itu terlihat kalau dia sedang mengelabui semua orang, aku hidup dengannya bukan 1 tahun 2 tahun Ayana, meskipun kita berdua tidak dekat meskipun kita berdua jarang berbicara aku tahu gerak gerik Fira aku selalu mengawasinya"
"Oh ya, semoga saja dia tidak melakukan kepura-puraan itu hanya untuk mendapatkan sesuatu yang dia inginkan, tapi kalau dia benar-benar sakit bagaimana Adnan "
"Aku tidak peduli, kalaupun dia pura-pura ataupun kenyataannya dia benar-benar sakit, aku tidak akan peduli. Dia bukan siapa-siapa aku lagi, untuk apa aku peduli padanya dia hanya masa lalu, untuk apa aku terlibat dalam masa lalu lagi. Aku ingin bahagia aku tidak mau mengurusi sesuatu yang tidak seharusnya aku urusi "
"Tenang saja Ayana aku pasti akan melindungi Melisa, cuma sekarang saja aku mengirim Marco untuk menjaganya. Bahkan aku sekarang kerja sendiri dan membiarkan asistenku itu mengasuh anakku"
"Iya baguslah, jadi Melisa ada yang menemani. Kalau kamu kerepotan tidak masalah kamu menyuruh Marco untuk mengantarkan Melisa pulang, aku tahu pekerjaan kamu itu sangat banyak sekali"
"Tidak sebentar lagi juga aku akan selesai, tidak akan satu minggu tenang saja Ayana. Aku akan kembali kamu pasti sudah sangat merindukan aku kan, makannya berkata seperti itu "
"Jangan mengada-ngada aku tidak merindukanmu, sudah ah kalau tidak ada hal penting lagi aku matikan, aku harus bekerja"
"Tapi aku masih mau bicara dengan kamu Ayana"
"Tapi aku mau bekerja. Sudah ah aku mau kerja lagi"
__ADS_1
Sambungan langsung dimatikan begitu saja oleh Ayana. Adnan hanya bisa tersenyum melihat tingkah Ayana. Sepertinya sebentar lagi Adnan akan mendapatkan hati Ayana sepenuhnya, mungkin untuk sekarang Ayana masih malu-malu tapi nanti Ayana akan menjadi miliknya seutuhnya, Melisa saja sudah menganggapnya sebagai ayahnya tinggal ibunya.
Adnan akan segera menyelesaikan pekerjaannya ini dengan cepat, Adnan benar-benar ingin cepat-cepat pulang pada Ayana, rasanya lebih senang saja kalau hidup bersama Ayana.
Ada yang memasakkan. Lalu ada teman bermain bersama anak-anaknya kedua putrinya, lalu hal yang paling Adnan suka yaitu membuat Ayana kesal dan membuat Ayana tersipu malu.
"Tunggu aku pulang sayang, aku akan pulang dan kita akan kembali berkumpul lagi. Aku tidak sabar"
----------------
Marco yang melihat Melisa sudah tertidur dengan lelap perlahan keluar dari kamar itu, Marco akan membiarkan Melisa tidur sendirian saja tidak mungkin kan Marco tidur di sini yang ada dia akan dihabisi oleh bosnya itu.
Baru saja tadi Marco beberapa menit menceritakan tentang dongeng Cinderella, Melisa sudah tertidur ini untuk pertama kalinya Marco membacakan buku dongeng untuk anak kecil. Rasanya memang awalnya aneh tapi lama-kelamaan Marco menikmatinya.
Iya itung-itung dia sedang belajar menjadi seorang ayah, jadi nanti kalau sudah menikah dan mempunyai anak Marco tidak usah belajar lagi, karena dia sudah tahu bagaimana cara mengurus anak ya meskipun tidak sepenuhnya.
Marco turun ke lantai bawah dan masih ada Kamila yang marah-marah pada pelayan-pelayan yang ada di sana, ternyata Rio belum datang kemari juga.
Harus segera dihubungi Ayahnya, tapi baru saja Marco mengeluarkan ponselnya datang Rio dengan langkah yang lebar "Kamila kenapa kamu pulang ke sini, ayah kan sudah menyuruhmu untuk pulang ke rumah. Kenapa pulang ke rumah paman Adnan, apa kamu lupa jalan pulang kerumah "
Kamila langsung menurunkan kakinya dan menatap ayahnya, dia juga segera berlari ke arah ayahnya "Bolehkah aku menginap di sini, aku ingin beberapa hari bersama ayah Adnan, mumpung masih ada di sini nanti dia akan pergi lagi, aku ingin bersamanya Ayah hanya sebentar saja nanti juga aku akan pulang lagi ke rumahmu"
Rio menatap Marco yang ada di ujung tangga, Marco menggelengkan kepalanya seperti memberi peringatan, jangan mengizinkan Kamila untuk menginap. Bisa-bisa bosnya akan kepusingan dengan dua anak yang bertengkar terus.
Rio kembali menatap anaknya lalu menolaknya "Tidak bisa, kamu harus pulang Paman Adnan itu kemari mengurus banyak pekerjaan bukan untuk mengasuh kamu, Kamila kamu kan ada Ayah sama saja Ayah bersama Paman Adnan, tidak ada bedanya sekarang lebih baik kita pulang ya jangan buat ayah pusing dengan kamu yang tiba-tiba pergi"
Kamila langsung melipat tangannya "Tapi aku mau di sini, aku mau menghabiskan waktu dengan ayah Adnan. Hanya sekali saja apakah itu tidak boleh aku ini kan anaknya juga kenapa tak boleh anak disini "
__ADS_1
Kamila sampai menangis, Kamila tidak mau pulang Kamila mau di sini saja. Kamil harus mengambil hati ayahnya lagi agar tidak berpaling pada anak 2 kembar itu.