
"Kenapa sekarang kamu malah melamun sayang apa yang kamu pikirkan, jangan terus gini dong sayang. Aku malah jadi khawatir tahu dengan keadaan kamu yang seperti ini "
"Adnan kamu harus berjanji kalau kamu_"
Adnan langsung memotongnya "Aku akan berjanji untuk menyayangi kamu dan juga anak-anak, aku akan berjanji untuk bertanggung jawab atas apapun yang terjadi dengan kamu dan juga anak-anak aku akan selalu menafkahi kalian semua, aku tidak akan membuat kalian semua kecewa dan aku tidak akan mengulangi masa laluku ini Ayana, aku akan berjanji untuk selalu bersamamu dan tidak akan pernah ada wanita lain lagi hanya kamu satu-satunya, tidak akan pernah ada yang lain lagi. Kalian semua adalah prioritas utamaku"
"kamu terlalu cepat. Padahal aku belum mengatakannya, tapi kamu malah berbicara tanpa rem seperti kereta api saja "
"Aku sudah tahu sayang semuanya, aku tidak akan pernah mengulangi apa yang pernah aku lakukan, jadi aku berjanji padamu. Maka tolong beri kesempatan aku untuk menikah lagi denganmu. Aku akan memperbaiki semuanya, aku akan merubah semuanya sayang, aku tak akan membuat siapapun kecewa lagi"
"Kamu terlalu cepat mengatakan semua itu, yang aku minta hanya kamu jangan pernah mengecewakan anak-anak. Dulu kamu sudah membuat aku kecewa dan sekarang ada anak-anak jangan pernah buat mereka kecewa dengan keputusan kamu Adnan"
"Kamu dan juga anak-anak adalah prioritas utamaku, kalian semua adalah hidupku aku tidak akan membuat kecewa kalian. Aku tidak akan berarti tanpa kalian semua aku akan membahagiakan kalian. Hidupku aku serahkan pada kamu dan juga anak-anak sayang "
Ayana bernafas lega meskipun semua ini hanya baru janji dari Adnan, tapi semoga saja Adnan bisa menepati semua janjinya "Terima kasih karena kamu sudah berjanji. Meskipun aku tidak tahu kedepannya akan seperti apa, tapi aku berdoa agar semua janjimu ini semuanya tepat tidak ada yang melenceng sama sekali"
"Tidak perlu berterima kasih ini adalah kewajibanku sebagai seorang suami, aku tidak akan membuatmu kecewa lagi dan anak-anak, aku tahu kesalahanku itu sangat besar sekali"
"Aku mulai tenang, tapi belum sepenuhnya"
"Ayana bisakah kamu berjanji padaku untuk tidak membuka hatimu untuk laki-laki lain selain aku saja. Aku takut ada seseorang di sini yang bisa membuatmu tertarik, aku tak mau kehilangan kamu Ayana"
Ayana tersenyum kecil siapa laki-laki yang bisa membuatnya tertarik. Ayana dari dulu tidak pernah berharap adalah laki-laki yang datang untuk menanggung semua beban hidupnya.
__ADS_1
Ayana dari dulu sudah berpikir dia harus mandiri, perempuan harus mandiri. Agar suatu saat bila ditinggalkan oleh suaminya tidak akan terlalu sulit. Tidak akan seperti dulu saat Ayana tiba-tiba saja diusir oleh Adnan.
Adnan mencium kening Ayana, belum ada jawabannya, Adnan akan menunggu tapi Adnan juga akan mengawasi "Kenapa kamu diam saja kenapa tidak menjawabnya Ayana. Aku sedang bertanya pada kamu"
"Aku merasa semua itu tidak perlu aku jawaban Adnan, kamu hanya sedang menggodaku saja aku tahu. Sudah jangan membahas itu lagi "
"Aku serius Ayana. Aku ingin kamu hanya bergantung pada hidupku saja, kamu hanya mencintaiku saja tidak ada laki-laki yang kamu sukai selain aku. Hanya itu yang aku mau kamu bisa berjanji kan padaku Ayana, aku butuh jawabannya dari kamu "
"Memangnya aku menyukaimu ? "
"Iya dulu kamu sangat menyukaiku kan, aku yakin kamu nanti akan menyukaiku lagi seperti dulu. Aku tidak akan mengecewakanmu lagi Ayana, jangan pernah buka hatimu untuk laki-laki lain selain aku. Hanya aku saja yang boleh tinggal didalam hatimu itu"
"Kamu sangat posesif sekali"
"Tentu saja aku harus melakukan itu, kalau tidak seperti itu maka kamu akan direbut oleh laki-laki lain. Aku tidak mau sampai kamu jatuh ke tangan laki-laki lain, aku tak akan rela Ayana. Aku tak akan sanggup"
Ayana langsung teralihkan dengan teriakan dari Melisa, Ayana mengingat jalan ini dia selalu dibawa oleh Adnan kemari, bahkan saat pertama kali Ayana datang kemari juga kembali teringat, saat mamanya Adnan menolaknya.
Pengalaman yang begitu menegangkan untuk Ayana. Begitu takut rasannya waktu itu menghadapi Mamanya Adnan yang angkuh dan sombong.
Mobil sudah berhenti Melisa bersorak gembira "Yey kita akhirnya sampai lihatlah Melinda inilah rumah Ayah besar sekali kan, kita bisa bermain di mana-mana bahkan ada kolam renangnya. Kita bisa belajar berenang di sini, kita bisa melakukan apapun disini Melinda "
"Benarkah aku ingin melihatnya Kakak, aku tidak sabar"
__ADS_1
Melisa ingin cepat-cepat keluar dan menunjukkan segalanya pada adiknya, Melisa juga ingin memperlihatkan mainan-mainan yang sudah ayahnya belikan. Belum lagi kamar mereka berdua yang sangat bagus sekali.
Mereka semua langsung keluar dari dalam mobil, Melisa langsung menarik tangan Melinda untuk masuk ke dalam rumah, di sana sudah banyak pelayan yang berjajar mereka menyambut kedatangan dari nyonya dan tuan rumah di sini.
Mereka senang saat melihat Ayana yang turun"Selamat datang nyonya, nona, tuan"
Lagi-lagi Ayana hanya bisa tersenyum, dia bingung harus melakukan apa. Nanti Ayana akan bilang pada Adnan agar tak terlalu formal seperti ini, Ayana kurang nyaman saja kalau harus disambut seperti ini.
Sedangkan Melisa dan juga Melinda mereka sudah berlari kesana kemari mengelilingi aula yang sangat besar. Melinda senang sekali saat melihat rumah ayahnya begitu besar sekali bahkan berlipat-lipat dari rumahnya.
"Aku tidak pernah berpikir akan masuk ke dalam rumah sebesar ini kakak, kenapa rumahnya sangat besar sekali. Aku tidak menyangka rumah ayah akan sebagus ini "
"Benarkan apa yang aku katakan, rumah ayah ini sangat besar sekali bahkan ada taman belakangnya, aku sudah mengelilingi rumah besar ini bersama paman Marco, bahkan Paman Marco tidak sanggup untuk mengelilingi rumah ini saking besarnya, di sini juga ada bibi Rara yang sangat baik sekali. Dia sangat perhatian sekali"
"Wah Kakak sudah tahu semuanya ya nanti kakak ceritakan semuanya ya, kakak kamar kita itu di mana, aku ingin lihat kamar kita Kakak "
Melisa langsung menunjuk ke arah atas "Itu kamar kita itu ada di atas dekat kamar mama dan juga Ayah, di sana banyak mainan disusun dengan sangat rapi sekali, belum lagi tempat tidur yang dihias sangat cantik sekali Ayah itu memang pintar dia menyiapkan segalanya untuk kita "
"Melisa ayo bawa adikmu untuk masuk ke kamar" titah Adnan.
Melisa yang sudah mendapatkan izin dari ayahnya langsung menganggukan kepalanya, dia menggandeng tangan adiknya untuk naik ke lantai atas. Melisa akan memperlihatkan semuanya pada adiknya kalau Ayahnya memang benar-benar hebat ayahnya tahu tentang apa yang mereka mau dan suka.
"Apakah masih jauh Kakak kenapa sangat panjang sekali, sepertinya badanku akan kecil kalau terus berjalan sejauh ini "
__ADS_1
"Sebentar lagi sebentar lagi itu belok kanan kamar kita, akan segera sampai sebentar ya. Kamu pasti akan suka dengan kamar baru itu, aku saja sangat menyukainya "
Melinda hanya menganggukan kepalanya dia terus mengikuti langkah kakaknya itu.