Aku Bawa Mereka

Aku Bawa Mereka
Bab 194


__ADS_3

"Apakah ini rumahnya Ayah. Apakah tidak salah rumahnya begitu kecil lebih kecil dari kontrakan yang kemarin, aku kira akan sama saja rumahnya. Aku tak yakin akan betah tinggal disini " protes ibunya Ayana.


Tadi suaminya cepat-cepat mengajaknya pergi, ternyata pergi ketempat seperti ini. Dirinya kira akan rumah yang besar dan lumayan dan sudah ada isinya tapi ternyata fikirannya itu salah besar sungguh diluar ekspektasinya.


"Ya terus kita mau ke mana lagi, di sini saja dulu uang kita juga hanya cukup untuk mengontrak rumah ini. Sekarang itu serba mahal Bu, kamu harus bisa bersyukur dengan apa yang kita punya, jangan banyak protes ya "


Ibunya Ayana langsung duduk di bawah, menatap sekitar, di dalam rumah ini benar-benar tidak ada apa-apa hanya ruangan kotak saja, tidak ada dapur tidak ada kamar mandi di luar semuanya, jadi mereka di sini hanya tidur saja. Tak ada televisi juga, kalau tahu begini tadi bawa saja semua barang-barangnya itu.


"Apakah kita tidak akan pernah bisa mencari yang lain, yang dapurnya di dalam, kamar mandinya di dalam dan aku bisa leluasa melakukan apapun kalau semuanya segala di luar dan berbarengan dengan tetangga aku tidak akan nyaman, malah akan banyak bertengkar saja, kenapa sih harus disini "


"Ya temanku hanya memberi ini, masih untung kita punya tempat tinggal yang ada dulu saja, nanti kalau punya uang baru kita pindah rumah udahlah anak-anak kamu juga semuanya pada pergi nggak pernah ada yang tinggal sama kita, mereka sudah benar-benar membuang kita. Padahal dulu kamu memanjakannya tapi apa balasannya inilah balasan dari anak-anak kamu itu "


"Sudahlah aku juga tidak tahu ke mana mereka, datang Ayana yang dua pergi mereka itu seperti tidak mau mengurus aku sebagai ibunya. Mereka itu benar-benar tidak tahu terimakasih "


"Ya memang karena anak-anakmu itu tidak tahu diri semua, sudah di sekolah kan semuanya .Tapi saat akan berbakti pada orang tua malah kabur seperti itu. Aku aneh tahu dengan anak-anakmu itu Bu"


"Hum aku juga pusing, sudahlah jangan memikirkan mereka, yang harus kita fikirkan sekarang adalah hidup kita ini bagaimana "


Ibunya Ayana itu membaringkan tubuhnya rasanya badannya sakit-sakit sekali, tapi saat tidur di sini juga sama saja karena tidak ada alasnya. Hanya mereka punya tempat berteduh saja.


Kenapa hidupnya bisa menjadi seperti ini ya, tak enak sekali ternyata hidup serba kekurangan. Dulu saat Ayana masih bekerja dirinya bisa membeli banyak hal, tapi sekarang mana ada barang-barang yang ada di rumah itu saja semuanya hasil dari kerja Ayana.


Tapi dirinya begitu membenci Ayana kalau saja ayahnya tidak meninggalkan dirinya, mungkin dirinya tidak akan pernah mungkin membenci Ayana dan melampiaskan segala kekesalannya pada Ayana.

__ADS_1


Kalau tahu Ayahnya siapa Ayana mungkin dia akan kaget selama ini Ayahnya itu ada di sekitarnya, tapi ya sudahlah biarkan Ayana tidak tahu saja.


Ayahnya Ayana itu jahat, dia lebih memilih perempuan kaya itu dari pada dirinya. Saat dirinya melahirkan Ayana suaminya itu pergi, makannya kenapa dirinya begitu membenci Ayana sampai sekarang. Dirinya menganggap kalau Ayana itu pembawa sial, pembawa petaka untuk keluarganya ini.


...----------------...


"Hallo ibu, bagaimana kabarmu. Apa kamu sudah bisa pulang atau harus masih di rumah sakit saja "


Kamila belum mau masuk ke sekolahnya. Dia masih mau berbicara dengan ibunya Kamila sekarang ada di dalam mobil bersama ayahnya juga tentunya. Ayahnya akan selalu ada disampingnya tak mungkin ayahnya ini meninggalkannya.


"Kabar ibu baik, mungkin Ibu besok akan pulang masih ada beberapa yang harus dipulihkan bagaimana dengan sekolah kamu. Kamu sudah memakai seragam tapi belum masuk ke sekolah juga"


"Syukurlah kalau ibu akan segera pulang, aku begitu khawatir dengan keadaan ibu. Iya aku ini mau sekolah tapi aku harus menelpon Ibu dulu, aku harus tahu keadaan ibu, apakah ibu sudah baik-baik saja, apakah sudah tak sakit lagi ibu. Aku benar-benar tak bisa diam ibu "


"atapi Ibu yakin kan semuanya sudah baik-baik saja, tidak ada yang sakit lagi, Kamila rasanya ingin datang ke sana. Kamila selalu saja kepikiran tentang keadaan ibu itu "


"Ibu baik-baik saja, kamu jangan terlalu banyak mikirin ibu, ibu jadi nggak tenang di sini kamu fokus aja dulu sekolah nanti juga kita kan akan ketemu lagi, kamu nanti akan nginep kan di sini saat liburan sekolah"


"Baiklah Ibu aku sekolah dulu ya dadah ibu "


Fira langsung melambaikan tangannya pada Kamila, setelah menelpon ibunya Kamila memberikan ponselnya pada ayahnya yang dari tadi duduk dengan anteng di samping anaknya itu.


"Sudah bisa tenangkan sekarang, ibu kamu baik-baik saja jadi tidak perlu ada yang kamu khawatirkan lagi"

__ADS_1


"Sudah Ayah aku sudah tenang kalau sudah melihat keadaan ibu. Ternyata Ibu cepat sekali sembuhnya akan segera pulang dari rumah sakit. Apakah Ayah sudah memikirkan tentang kata-kataku itu bagaimana apakah Ayah mau menikah dengan ibu, sepertinya akan seru bila ayah menikah dengan ibu "


Rio mengusap bahu anaknya dengan lembut "Dengarkan Ayah dengan Ibu tidak akan pernah bisa bersama-sama, kita ini tidak akan pernah bisa menikah Kamila. Ayah dan ibu hanya bisa menjadi orang tua kamu tidak untuk bersama-sama seperti yang lain "


"Kenapa begitu, kenapa Ayah dan Ibu tidak bisa menikah padahal aku berharap kalian bisa satu atap seperti ayah Adnan dan juga tante Ayana mereka juga dulu terpisahkan, tapi mereka juga bisa menikah lagi lalu Ayah dengan Ibu kenapa. Apa alasannya ayah kenapa tak bisa bersama "


"Ayah ingin sendiri, Ayah lebih suka seperti ini menghabiskan waktu bersama kamu. Ayah tak mau punya istri "


"Tapi aku mau kalian berdua bersatu bersama-sama. Aku juga ingin diantar ke sekolah seperti Melisa dan juga Melinda. Ada ibu ada Ayah kalian mengantarkan aku pergi ke sekolah seperti itu Ayah. Apakah begitu sulit untuk mewujudkan hal itu "


"Nanti juga saat kamu dewasa kamu akan mengerti kenapa Ayah tidak mau menikah lagi. Suatu saat kamu akan mengerti segalanya Kamila, sesuatu tidak bisa dipaksakan. Meskipun kamu mau tapi kalau ayahnya tidak tak akan baik kedepannya. Menikah itu bukan tentang ayah dan ibu saja tapi banyak Kamila yang harus di fikirkan "


Rio benar-benar tidak bisa memaksakan dirinya untuk kembali menjalin sebuah hubungan dengan Fira, mungkin sekarang Fira sudah baik-baik saja dia sudah berubah tapi hati tidak bisa untuk dipaksakan. Rio benar-benar tidak bisa kalau untuk kembali lagi pada Fira.


Akan mustahil sekali kalau sampai mereka bersama lagi, Rio juga tak berharap apa-apa. Rio ingin sendiri saja Rio ingin menghabiskan waktunya sendiri bersama anaknya itu, sudah cukup Rio tidak mau dipusingkan dengan perempuan lagi.


Rumah tangganya sudah pernah hancur dan Rio tidak mau mencoba-coba lagi, sendiri lebih nyaman, lebih bebas tak akan ada yang memarahinya kalau pulang telat.


Rio segera keluar dari dalam mobil dan membantu Kamila turun. Rio melambaikan tangannya ke arah Kamila meskipun Kamila masih saja cemberut .Rio tahu Kamila kecewa dengan pilihannya, tapi Rio tidak bisa pura-pura bahagia dan menikah dengan Fira, toh Fira pun pasti tidak akan pernah mau menikah dengan Rio.


"Ayah harap kamu akan mengerti suatu saat nanti kalau menikah itu tidaklah gampang Kamila, semoga saja nanti kamu akan mengerti. Kamu akan tahu bagaimana menjadi Ayah nanti"


Rio segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya ke arah kantornya, tidak butuh waktu lama sih untuk pergi ke tempat bekerjanya ini Rio sudah sampai lagi.

__ADS_1


__ADS_2