
Adnan menatap jam tangannya sudah pukul 05.00 tapi anak-anaknya tidak rewel sama sekali, mereka malah asik dengan kertas yang tadi dia berikan mereka benar-benar tenang tidak ada rengekan sama sekali yang ada malah canda tawa saja.
Mereka benar-benar betah tinggal dikantornya ini. Mereka juga masih memakai pakaian seragam mereka, Adnan lupa untuk selalu menyimpan pakaian anaknya didalam mobil, nanti Adnan akan menyiapkannya jadi kalau mereka seperti ini lagi bisa ganti baju dulu.
Tadinya kalau salah satu dari mereka rewel Adnan akan langsung pulang, tapi sampai pekerjaannya selesai anak-anak itu masih anteng dengan kertas yang Adnan berikan.
"Mama ini lihat ada spidol di pipiku "teriak Melinda sambil mendekati mamanya.
"Apakah kertasnya sudah habis sayang, sampai-sampai pipimu sekarang menjadi tempat menulis"
Melinda hanya tertawa "Tadi tidak sengaja Mama ayo bantu aku untuk membersihkannya didalam kamar mandi, aku takut nanti malah tak bisa hilang "
Ayana langsung menggandeng tangan anaknya dan membawanya ke kamar mandi, Ayana membersihkan pipi anaknya itu, sebelum nanti malah sulit seperti apa yang dikatakan oleh anaknya.
Sedangkan Adnan sendiri membereskan semua alat-alat kerjanya dan mematikan laptop, membereskan dokumen dan banyak lagi yang Adnan lakukan.
"Sayang semuanya sudah selesai ayo kita pulang "ucap Adnan saat melihat Ayana sudah keluar bersama Melinda.
"Yakin semuanya sudah selesai, tidak ada yang tertinggal atau mungkin nanti ada tanda tangan mendadak lagi"
"Tidak ada sayang, semuanya sudah selesai. Aku jamin lagi tak akan ada pekerjaan lagi "
Ayana mengganggukan kepalanya. Dari tadi Ayana diam di ruangan suaminya ini. Bahkan mereka saja tadi memesan makanan, Ayana tidak mau terlalu bolak-balik di dalam kantor ini. Takutnya malah nanti menjadi pembicaraan karyawan-karyawan yang ada di sini.
Melina dan juga Melisa langsung membereskan alat tulis yang sudah mereka tadi pakai, kertas-kertas juga dibawa ke mesin penghancur mereka benar-benar membersihkan kembali ruangan ayahnya itu.
Ruangan ayahnya ini kembali bersih seperti semula, tak ada kertas berserakan lagi.
"Sepertinya alat menggambar mereka simpan saja di sini karena di rumah juga ada. Agar kalau mereka datang lagi kesini, tak usah membeli lagi Adnan"
"Baiklah sayang kemari kan alat tulisnya. Anak-anak ayo biar ayah simpan di laci"
__ADS_1
Melisa dan juga Melinda bergerak dengan cepat dan memberikan semuanya pada ayahnya, tidak ada yang tersisa satu pun.
"Semuanya sudah beres mari kita pulang"
"Ayo Ayah ayo, Melinda ingin digendong nanti kan giliran Melinda yang akan memencet tombolnya ayo gendong Melinda ayah "
Tanpa disuruh dua kali Adnan langsung menggendong Melinda, memang Melinda ini suka sekali digendong tapi Adnan tidak pernah keberatan sama sekali. Tangan Adnan yang satunya lagi menggenggam tangan istrinya, sedangkan Melisa dia sudah berlari dari tadi meninggalkan mereka.
Memang Melisa ini aktif sekali dan dia juga sangat cerewet sekali. Adnan kira waktu itu Melinda yang akan cerewet tapi ternyata Melisa, mungkin waktu itu Melisa masih marah padanya makannya dia dihadapan Adnan menjadi pendiam.
Kembali lagi saat mereka keluar banyak karyawan yang menatap mereka, mereka sangat kagum dengan anak-anak yang begitu ceria. Apalagi Melisa yang berlari, tapi mereka tidak berani untuk mendekatinya. Meskipun mereka mengenal Ayana ibu mereka.
Mereka tidak pernah menyangka kalau bosnya itu akan memiliki anak kembar, mereka kira waktu itu hanya satu saja tapi ternyata ada satu lagi. Dan mereka begitu mengemaskan sekali, yang satu berlari-lari dan satu lagi digendong oleh ayahnya.
Sungguh mereka ingin mencubit pipinya, tapi mereka harus tahan bisa-bisa kalau mereka melakukan itu akan dipecat. Mereka hanya bisa melihat dari kejauhan saja sikap bosnya yang sudah berubah drastis membuat mereka semua menjadi takut dan enggan untuk mendekatinya.
Setelah mencet tombolnya Melinda begitu senang, sampai-sampai dia bertepuk tangan karena berhasil melakukan apa yang kakaknya lakukan tadi.
Mereka seperti melihat bosnya yang dulu, yang dulu pernah berpacaran dengan Ayana berbeda sekali saat bosnya menikah dengan Nyonya Fira, tidak pernah terlihat bosnya itu membukakan pintu untuk istrinya, tapi sekarang saat kembali lagi dengan Ayana kehangatan itu datang kembali.
sungguh sesuatu yang begitu lama mereka tunggu. Semua karyawan berdoa agar bosnya kembali seperti semula lagi menjadi baik, tidak suka marah-marah, tidak memutuskan hal dengan cepat. Satu lagi tidak gegabah dan langsung memecat karyawannya dengan alasan yang tidak tentu hanya karena masalah sepele saja.
Ayana tersenyum pada suaminya "Jangan terlalu manis seperti itu, nanti aku malah makin makin jatuh cinta padamu"
Adnan mencium kening istrinya "Tidak masalah, malahan aku senang kamu makin mencintaiku"
Adnan menutup pintu dengan perlahan dan mengitari mobil. Adnan masuk dan mobil pun melaju dengan cepat meninggalkan kantor.
"Semoga saja Pak Adnan bisa berubah ya ga kayak sekarang yang nyebelin dan bikin kita tegang terus, aku ingin seperti dulu lagi "celetuk salah satu karyawan yang memang dari tadi melihat Adnan yang begitu manis pada istrinya dan juga kedua putrinya.
"Iya aku juga berdoa seperti itu, aku merasa kedatangan Ayana itu adalah sebuah berkah untuk kita. Bos kita akan kembali lagi seperti dulu royal dan tidak akan marah-marah lagi tanpa sebab "
__ADS_1
"Iya iya benar. Ayo pulang ini sudah waktunya pulang kita tinggal tunggu saja perubahan bos kita itu, pasti dengan cepat akan berubah"
Temannya itu menganggukkan kepalanya, mereka segera mengambil kendaraan mereka masing-masing dan pergi dari kantor.
...----------------...
Melisa penyuapan satu coklat ke mulut adiknya, tadi mereka sudah mampir dulu ke sebuah toko dan ayahnya membelikan mereka banyak makanan.
"Bagaimana enakan"
Melinda mengangkat kedua jempolnya "Selalu enak, coklat itu sangat enak Kakak, aku mau lagi"
Melisa langsung menyembunyikan coklat itu agar adiknya tidak memakannya lagi "Kamu itu tadi di sekolah sudah makan coklat dan juga lolipop, maka sekarang jatahnya hanya satu. Memangnya kamu mau gigi kamu nanti berlubang atau mungkin gigi kamu menjadi hitam atau nanti kamu sakit gigi mau"
Melinda menggelengkan kepalanya. Melinda sudah pernah sakit gigi dan tidak mau terulang lagi. Tapi tetap saja Melinda itu sangat suka dengan makanan manis, rasanya tidak bisa dipisahkan saja dengan makanan manis.
"Ya makanya kamu jangan terlalu banyak makan makanan manis, harus ada waktunya. Ini makan ini saja "memberikan sebuah camilan lainnya.
"Aku tidak terlalu suka keripik kakak"
"Makan dulu saja, nanti juga kamu akan suka Ayah sudah membelikannya banyak masa tidak akan dimakan lihat aku juga memakannya, dan ini sangat enak sekali"
Melinda menyimpan keripik itu, dan memilih makanan yang lain lagi-lagi yang manis-manis lagi.
Melinda mengacungkan makanan gitu ke arah kakaknya "Aku ingin ininya saja"
"Ya sudah kalau nanti kamu sakit gigi jangan merengek pada aku ya"
Melinda langsung menyimpan kembali makanan manis itu dan mengambil keripik yang kakaknya berikan tadi. Daripada nanti sakit gigi, sudahlah lebih baik makan keripik dulu besok pagi kan Melinda masih bisa memakan coklat.
Adnan dan juga Ayana yang ada di depan hanya mendengarkan celotehan anak-anaknya itu, mereka sekarang sedang saling menyuapi.
__ADS_1