Aku Bawa Mereka

Aku Bawa Mereka
Bab 49


__ADS_3

Mama Linda sudah pulang, dia duduk di kursi roda dengan wajah yang begitu sedih. Bahkan Mama Linda terus saja menangis sambil menatap anaknya Adnan. Ingin mengatakan sesuatu tapi sulit sekali hanya air matanya saja yang mengalir.


"Mama harus makan dari kemarin Mama tuh ga mau makan terus. Mama pengen sembuhkan, ga mungkin kan Mama kayak gini terus. Ayo Adnan suapi ya"


Mama Linda terus saja mencoba untuk bicara, tapi tidak bisa Mama Linda ingin mengungkapkan semuanya. Ternyata selama ini pilihannya salah, ternyata dengan menjebak Ayana tidak membuat hidupnya bahagia.


Tidak membuat dirinya senang kalau Fira menjadi menantunya yang ada dia menyesal, karena telah melakukan itu. Membuat Fira menjadi menantunya adalah sebuah kebodohan yang pernah dirinya lakukan. Fira ternyata perempuan licik dan juga tidak bisa diatur.


Mama Linda berfikir dulu kalau Fira ini akan bisa diatur, akan bisa menjadi menantu yang baik, yang mau mengikuti aturannya. Tapi nyatanya apa malah sebaliknya. Fira lebih parah dari Ayana. Bahkan mungkin lebih baik Ayana dari pada Fira.


Adnan mengusap air mata Mamanya "Kalau Mama nangis kayak gini Adnan bingung. Mama harus sembuh jadi Mama nanti bisa bicara apapun sama Adnan ya jangan kayak gini terus dong. Sekarang lebih baik Mama fokus buat kesembuhan Mama dulu ya. Adnan yakin Mama akan kembali sehat seperti dulu lagi "


Adnan kembali mencoba untuk menyuapi Mamanya lagi, hanya makan sedikit-sedikit. Fira yang memang ingin mencari muka di hadapan Adnan segera menghampiri Ibu mertuanya dan juga suaminya. Jangan sampai Adnan nanti benci padannya.


"Sayang kamu belum pergi, lebih baik kamu pergi aja biar Mama sama aku. Mama aku yang ngurus kamu tenang aja aku ga akan tinggalin Mama kok, aku akan urus Mama dengan baik sekali. Aku tidak akan melukai Mama, kamu tahu sendiri kan aku deket bangat sama Mama dari dulu "


Adnan sedikit ragu, tapi mau bagaimana lagi sekarang ada meeting. Semoga saja Fira menepati janjinya dan tak melukai Mamanya. "Baiklah aku titip Mamaku. Tolong jangan kasar padanya. Kalau kamu tidak sanggup untuk mengurus Mama biar Bibi saja yang mengurusnya. Jangan saat dihadapan ku saja kamu baik tapi di belakangku kamu malah kasar pada Mama"


"Iya aku mengerti, aku pasti akan sanggup mengurus Mamaku ini. Kamu tenang saja tidak usah khawatir aku akan mengurus semuanya. Mama akan baik-baik saja di tanganku, aku ini kan perempuan pintar pasti aku akan bisa mengurus Mama dengan sangat baik lebih dari siapapun "


Adnan menganggukan kepalanya, pergi begitu saja memang pernikahan mereka ini sudah tidak baik-baik saja. Bahkan untuk bermesraan saja rasanya tidak mungkin. Adnan juga dari pertama menikah enggan untuk bersentuhan dengan Fira, aneh saja rasannya. Toh Fira pun tak pernah protes kan.


Fira menatap makanan Mama mertuanya, lalu melihat keadaan Mama mertuanya juga yang sangat mengenaskan. Sungguh Fira senang Mama mertuanya seperti ini, harapannya sih Mama mertuanya ini mati saja agar hidupnya lebih tenang dan leluasa juga. .


"Ya ampun kasihan sekali ingin membongkar semuanya tapi kenyataannya kamu malah seperti ini, malah lumpuh tidak bisa bicara ini adalah sesuatu yang seharusnya aku rayakan. Bagaimana rasanya menjadi orang tidak berguna. Apa kamu senang, apa kamu bahagia "


"Jangan hanya menangis saja, aku ini sedang bertanya denganmu nenek tua. Ayo jawab aku jangan diam saja. Aku tidak suka didiamkan "


"Ya ampun aku lupa kalau kamu ga bisa bicara ya, sudah buka mulutnya yang besar biar aku suapin. Ayo makan yang banyak sekali, agar anakmu itu senang"


Fira menjejalkan makanan itu ke mulut Mama mertuanya, bukannya masuk malah makanan itu keluar karena Ibu mertuanya itu tidak bisa membuka mulutnya dengan lebar. Fira bahkan menyuapinya dengan kasar sekali.


"Kalau terus menyuapi mu seperti ini kapan selesainya, lebih baik ini kamu makan sendiri saja aku banyak pekerjaan aku tidak sudi menyuapimu. Melelahkan sekali menyuapi perempuan seperti dirimu ini. Aku sampai kesal sendiri nenek tua "


Fira menyimpan piringnya di pangkuan Ibu mertuanya, lalu meninggalkannya begitu saja di taman, tidak peduli nanti Ibu mertuanya kepanasan atau kehujanan atau sampai jatuh tidak peduli Fira. Melelahkan sekali kalau harus mengurus orang tua seperti ini.


"Ibu "rengek Kamila.


"Apa sih Kamila, jangan manja ya. Aku tidak suka kamu manja padaku, sana ah awas jangan merengek padaku "


"Mau susu Mama, aku haus ingin susu Mama "


"Buat aja sendiri Kamila, kamu punya tangan kan. Sana ah awas jangan ganggu ibu. Atau tidak minta saja pada Bibi repot banget sih kamu ini. Dasar anak manja, nyebelin kamu ini ah, awas-awas sana " sambil mendorong Kamila.


"Mau dibuatin sama ibu, tolong ibu "


"Ribet banget sih, sana ah jangan ganggu Ibu. Sama aja kok sama bibi juga ga ada bedanya. Kamu ini jangan jadi anak manja ya. Aku suka pusing tahu ga sih kalau dengar kamu yang merengek terus"


Fira masuk kedalam kamarnya, Kamila hanya diam didepan pintu kamar ibunya itu. Kamila berjalan dengan lesu, untuk mencari bibi. Kepala Kamila begitu pusing sekali, tapi kalau Kamila berbicara pada ibunya apakah ibunya akan mendengarnya ?


Tentu saja tidak, yang ada ibunya itu akan marah lagi pada Kamila. Kamila ingin sekali dekat dengan ibunya, tapi kenapa ibunya itu selalu menjauh. Kamila ingin seperti teman-temanya yang selalu ditemani ibunya.


...----------------...


"Anak-anak kita mau makan apa, Mama pusing mau masak apa. Mungkin kalian berdua punya ide "tanya Ayana dengan semangat. Mereka sekarang sedang berjalan untuk pulang, Melisa dan juga Melinda digandeng oleh Ayana disini kiri dan disini kanannya.


Kalau tidak digandeng seperti ini, mereka akan loncat-loncat dan berlari. Ayana takut kalau anak-anaknya ini terjatuh jadi dipegang saja seperti ini.


"Melisa ingin minum air kelapa Mama, kita ke pantai bagaimana. Bukannya itu ide yang bagus kan" ucap Melisa memberikan ide pada Mama nya.


"Iya benar Mama apa kata Kakak, kita mendingan ke pantai dulu saja. Aku ingin udang goreng yang besar aku juga ingin kepiting banyak lagi yang aku inginkan Mama " timpal sang adik Melinda dengan semangat juga.


"Aku juga Mama "ucap Melisa sambil mengangkat tangannya yang tak dipegang oleh Ayana " Aku juga ingin main pasir sebentar saja Mama, rumah kita kan tidak jauh dari pantai jadi tidak akan takut kalau kita pulang agak sedikit sore kan Mama. Kami berdua sudah lama tak membuat istana pasir"


"Baiklah kita ke pantai makan apa yang kalian mau, tapi jangan terlalu banyak ya"

__ADS_1


"Iya Mama Melinda juga ingin kerang, Melinda sudah lama tidak makan kerang"


Ayana tersenyum dengan tingkah anaknya ini"Baiklah sekarang kita makan apa yang kalian mau, Mama akan membelikannya "


"Yey terimakasih Mama "ucap mereka berdua kompak.


"Sama-sama sayang"


Melisa menatap Mamanya yang terus saja tersenyum. Melisa senang dengan Mamahnya yang selalu tersenyum, tidak seperti dulu Mamanya selalu menangis dan melihat sebuah foto laki-laki, tapi Melisa tidak tahu siapa itu. Mamanya selalu menangis kalau melihat foto itu.


Melisa tak pernah bertanya, Melisa takut Mamanya akan makin sedih. Jadi Melisa hanya diam saja dan cukup tahu saja. Melisa ingin selalu Mamanya tersenyum, tak mau kalau sampai Mamanya sedih.


Kalau misalnya nanti Melisa bertemu dengan laki-laki itu lihat saja, Melisa akan menendang kakinya dan juga menonjok wajahnya. Berani-beraninya sekali laki-laki itu telah membuat Mamanya sedih, bukannya Melissa lancang atau bagaimana kadang Melisa itu sering ingin pipis malam-malam dan tidak sengaja mendengar isak tangis Mamanya.


Makanya Melisa selalu mengintip dan melihat Mamanya sedang melihat sebuah foto dan sampai sekarang Melisa masih mengingat wajah dari laki-laki itu, tak bisa Melisa lupakan wajah itu karena Melisa dengan tekad yang kuat akan terus mengingat-ingat terus wajahnya dan nanti suatu saat kalau bertemu Melisa akan melakukan apa yang sudah tadi dirinya ucapkan.


Pernah sekali juga Melisa melihat laki-laki itu ada ditelevisi, apa dia seorang aktris ? Tapi tak lama sih melihatnya, karena Mamanya langsung mematikan televisinya. Melisa yang mengerti tak bertanya hanya memeluk Mamanya dengan erat sekali.


...----------------...


"Aduh bau sekali Mama ini ya, buang air besar di celana. Mama ini jorok sekali kenapa sih baung air besar di celana. Bibi bibi kemarin cepat aku tidak kuat, ini bau sekali dasar nenek tua jorok "


"Ada apa Bu"


"Lihatlah nenek tua ini buang air besar di celananya, aku tidak kuat. Cepat kamu ganti sprei nya tempat tidurnya semuanya ganti, kalau tidak akan bau terus atau perlu kamu pakaian pampers saja, aku tidak kuat sekali dengan baunya ini, dasar nenek tua tak tahu diri tak tahu diuntung kamu ini ya membuat aku marah saja, kesal aku padamu nenek tua "


Fira keluar dari dalam kamar. Fira tadi memang sengaja masuk ke dalam kamar Mama mertuanya karena suaminya akan segera pulang. Fira ingin terlihat kalau dia benar-benar menjaga Mamanya dan mengurusnya dengan baik.


Tapi malah disuguhkan dengan bau yang tak sedap seperti ini. Sungguh Fira ingin muntah, menjijikan sekali rasannya. Kalau bukan karena ingin terlihat baik didepan Adnan tak sudi Fira masuk kedalam kamar Nenek tua itu.


"Baik bu akan saya ganti semuanya, akan saya gunakan pampers "


"Cepatlah aku tidak punya waktu lama. Aku tidak mau menunggu ya. Lakukan dengan cepat sekali "


"Iya Bu "


Apa mungkin kemari Fira kemarin dorongnya kurang kencang ya, makannya Mama mertuanya ini masih hidup, seharusnya kemarin sekalian Fira pukul saja ya sebelum Adnan datang, pasti sekarang disini sedang berduka dan Fira akan bahagia sekali.


"Mama ayo temani Kamila untuk bermain boneka, Kamila ingin bermain bersama Mama, sekali saja ya Ma"


"Ini lagi anak satu, cuman bisa nyusahin aja banyak maunya banget sih jadi anak. main-main sendiri aja ngapain juga ajak-ajak ibu. Ibu ini bukan anak kecil. jadi kalau mau main boneka ya main sendiri aja, sana ah nyebelin banget deh punya anak kayak Kamila ga bisa mandiri banget sih ni anak "


"Tapi aku lihat teman-teman aku selalu main bersama ibunya, bermain boneka main sepeda bermain di taman. Pokoknys mereka selalu bermain dengan ibunya. Tapi kenapa ibu ga mau main sama Kamila, apa Kamila nakal makannya ibu ga mau main sama Kamila "


"Ya sudah kamu cari Ibu yang lain saja,aku tidak sudi melakukan itu jangan rewel jadi anak itu. Jadilah anak yang mandiri sana-sana jangan dekati aku "


Kamila sudah berkaca-kaca, tapi dia menahan untuk tidak menangis di hadapan ibunya. Kamila tidak mau membuat ibunya terus marah padanya. Kamila juga ingin disayang seperti anak lain oleh ibunya.


Memang Ayahnya sangat menyayanginya, tapi tetap saja Kamila juga ingin kasih sayang Mamanya. Kamila ingin sekali ditemani tidur oleh Mamanya, disuapi dan dibacakan dongeng juga.


...----------------...


Adnan yang akan masuk ke dalam rumah tidak jadi, karena mendapatkan telepon dari orang yang tidak dia kenal. Adnan menatap nomor itu tapi karena Adnan penasaran segera mengangkatnya takutnya itu adalah teman lamanya, atau ada hal penting yang ingin disampaikan.


"Halo dengan siapa aku bicara "


"Jika kamu ingin tahu kebenaran tentang apa yang terjadi pada Ayana, mantan istrimu kamu bisa menemuiku di sebuah hotel. Aku akan menceritakan semuanya dari awal sampai akhir apa yang terjadi pada Ayana. Aku tahu tentang kejadian itu, aku tahu semuanya "


Adnan mengerutkan keningnya "Jangan main-main denganku aku tidak suka ya"


"Aku tidak main-main, aku berkata jujur aku akan memberitahu semuanya tentang kejadian sebenarnya. Tentang jebakan yang dilakukan pada Ayana, sebenarnya di sini Ayana tidak salah, hanya kamu saja tidak percaya pada mantan istrimu. Kamu selalu terbawa emosi dan pada akhirnya meninggalkan perempuan yang benar-benar mencintaimu dan menikahi perempuan yang salah. Jika kamu memang ingin mengetahuinya maka datanglah aku akan menunggunya. Jika kamu tidak mau tahu akan aku simpan semua cerita ini untuk hari tuaku nanti"


Sambungan itu langsung dimatikan. Adnan kembali menelpon nomor itu tapi sudah tidak aktif "Sialan siapa sebenarnya dia, kenapa dia tahu tentang kejadian yang menimpa Ayana "


Adnan mengecek pesan di ponselnya, sudah ada alamat hotel dan itu sudah terkirim beberapa jam yang lalu Adnan dari tadi belum mengecek ponselnya. Adnan harus masuk dulu ke dalam rumah dan tidak boleh membuat orang-orang yang ada di rumah curiga.

__ADS_1


Apalagi Fira, pasti semua kejadian ini ada sangkut pautnya dengan Fira kan, dari awal Adnan sudah curiga dengannya saat dia ingin mencari keberadaan Ayana dan mencari tahu tentang apa yang terjadi dengan Ayana, tiba-tiba saja kepalanya berpikir kalau Fira ada sangkut pautnya dalam masalah ini dan juga ibunya sendiri.


Adnan terlebih dahulu masuk ke dalam kamar Ibunya. Di sana sudah ada anaknya Kamila dan juga Fira yang duduk di sana sambil menyuapi Ibunya. Kamila memeluk bonekanya dan langsung mendekati ayahnya "Lihat Ayah aku membuka boneka yang ayah berikan ini, bonekanya bagus sekali Ayah, nanti belikan yang lebih besar ya Ayah "


"Cantik ya seperti dirimu bonekanya. Ya sudah kamu main ya. Ayah mau melihat dengan nenek dulu "sambil mengusap rambut Kamila dengan sayang.


Kamila mengganggukan kepalanya, sambil kembali duduk di samping neneknya. Adnan melihat Mamanya yang juga menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca, apakah Mamahnya ingin mengungkapkan semuanya ingin bercerita tentang apa yang terjadi pada Ayana.


"Lihatlah Adnan aku benar-benar mengurus Mamamu kan. Aku menyuapinya bahkan aku mengganti celananya segalanya, aku yang melakukannya. Sudah aku bilangkan kalau aku ini bisa melakukan apa saja dan mengurus Mama juga "


"Terima kasih karena kamu sudah mau membantu ibuku" jawab Adnan seadanya saja.


"Tentu saja, ini adalah tugasku aku tidak mungkin tidak melakukannya. Aku akan mengurus ibumu seperti aku mengurus orang tuaku sendiri. Aku begitu menyayanginya sekali "


"Bisa kamu buatkan aku kopi Fira. Aku ingin sekali minum kopi, sudah lama kan kamu tak melayani aku"


"Tentu aku akan buatkan kopi itu, aku akan dengan cepat kembali lagi "


Setelah Fira pergi, Adnan menatap Mamanya, akan Adnan tanyakan semuanya yang ada didalam kepalanya ini " Sebenarnya apa yang mau mama katakan apa ini tentang Ayana"


Namanya mengangguk dengan lemah "Selama ini apakah Ayana tidak salah Ma, apakah Ayana berkata jujur pada saat itu "


Mamanya kembali mengangguk seperti mengiyakan kalau Ayana tidak salah "Kenapa Mama selama ini tidak pernah memberitahu ku, kenapa Mama juga tega membuat Ayana pergi dari samping Adnan, membuat Adnan malah menceraikan Ayana dan mengusirnya. Lalu tentang pemerkosaan itu, jadi Ayahnya diperkosa Ma, Ayana dilecehkan Ma oleh laki-laki itu "


"Kembali Mamanya mengangguk kan kepalanya "


Adnan tersenyum sumbang, tak menyangka selama ini apa yang Adnan simpulkan ternyata salah, kalau Ayana itu tidak salah. Seharusnya dari awal Adnan harusnya mendengarkan dulu penjelasan Ayana, tidak gegabah dengan mengusir Ayana begitu saja dan membiarkan Ayana pergi. Sekarang Ayana pergi kemana Adnan tidak tahu harus mencari Ayana kemana.


Penyesalan langsung masuk ke dalam hati Adnan "Kenapa Mama lakuin ini sama Adnan, kenapa Mama harus pisahkan Adnan sama Ayana, kenapa Mama begitu benci sama Ayana. Mama udah hancurin kehidupan Adnan. Mama udah buat Adnan jadi kayak gini. Mama udah buat Adnan pilih perempuan yang salah dengan menikahi Fira untuk membalas semua rasa sakit Adnan pada Ayana, tapi kenyataannya Ayana tidak salah Ma "


"Ayana disini korban, tapi aku saat itu terjadi sama sekali tak membela istriku, aku malah percaya dengan permainan kalian. Kenapa Mama tega sama Adnan Ma kenapa "


Mama Linda menangis mendengar perkataan anaknya, Mama Linda juga menyesal dengan apa yang dia lakukan. Rasanya ingin sekali Mama Linda sekarang memeluk anaknya Adnan, tapi rasanya sulit sekali.


"Apa Ayana bisa maafin Adnan Ma, Adnan udah jadi suami yang ga becus, Adnan udah kecewain Ayana Ma, udah buat Ayana sakit. Seharusnya waktu itu Adnan ada disamping Ayana bukannya seperti ini. Apakah sekarang kalau Adnan minta maaf Ayana akan maafin Adnan Ma ? "


Adnan mengatur emosinya dan mengusap air matanya yang tiba-tiba saja mengalir. Adnan akan bersiap dan menemui orang itu. Adnan ingin mengetahui semuanya, semua yang terjadi dan ingin jawaban yang pasti. Adnan tidak peduli dengan Mamanya yang menangis dan juga seperti ingin Adnan kembali padanya.


Sekarang yang Adnan inginkan adalah sebuah kebenaran. Hati Adnan begitu sakit, apalagi. Ayana kan pasti Ayana lebih sakit lagi, tidak dipercaya oleh Adnan, lalu diusir dari rumah dan banyak lagi penderitaan Ayana itu.


Kamila berlari menghampiri Ayahnya "Ayah mau ke mana, Kamila mau ikut aja sama ayah. Jangan tinggalin Kamila Ayah "


"Ayah ada urusan Kamila diam dulu saja di rumah ya bersama ibu dan nenek. Ayah tidak akan lama, ayah janji akan kembali dengan cepat. Sekarang Kamila bersama nenek saja ya main boneka "


"Tapi Kamila ingin bersama ayah saja, Kamila kesepian Ayah, Kamila ingin bersama Ayah saja"


Adnan mensejajarkan tumbuhnya dengan Kamila lalu mengusap rambut anaknya "Ini udah malam. Kamu harus istirahat Kamila, ayah akan bertemu dengan rekan kerja Ayah dulu jadi Kamila jangan ikut ya. Ayah janji tak akan lama. Nanti Ayah akan tidur bersama Kamila ya "


"Ayah kenapa nangis"


"Ga kok Ayah ga nangis. Udah kamu masuk lagi ke kamar nenek, kasian nenek sendirian pasti dia ingin ditemenin sama cucunya ini "


Setelah melihat anaknya masuk lagi, Adnan langsung berjalan keluar, tak sengaja dia berpapasan dengan Fira yang akan naik ke lantai atas "Adnan kamu mau ke mana, ini aku udah buatin kopinya. Adnan kamu mau kemana ih "


Adnan menatap Fira sekilas cukup lama, dia menatap istrinya itu. Lalu tanpa banyak bicara lagi Adnan langsung pergi saja, kalau dia bicara dengan Fira bisa-bisa emosinya akan sangat meluap-luap.


"Ada apa dengan Adnan itu, tiba-tiba seperti itu katanya mau kopi udah aku buatin tapi malah pergi gitu aja. Aneh banget dia udah susah payah aku buat kopi tapi malah ga diminum kayak gini. Ga tahu manis ga tahu asin ini, entah apa yang tadi aku masukkan entah garam entah gula. Kenapa garam dan gula harus sama warnanya, aku jadi pusing sendiri kan"


Fira menyimpan kopi itu sembarangan dan kembali naik ke atas, tentu saja untuk masuk ke dalam kamarnya Adnan sudah tidak ada kan untuk apa lagi dirinya diam di kamar mertuanya. Biarkan saja mertuanya itu sendiri kalau ingin ke kamar mandi ya biarkan saja dia berjuang sendiri.


Fira lelah ingin istirahat, tak mau berurusan dengan Mama mertuanya itu. Biarkan saja dia mandiri, biasanya juga serba sendiri kan tak dibantu siapa-siapa.


Fira membaringkan tubuhnya dan memainkan ponselnya. Ada yang memberinya pesan. Siapa lagi kalau bukan orang yang dulu dia suruh untuk memperkosa Ayana.


'Aku sudah lelah menyimpan semua ini, aku kasian dengan Ayana, aku merasa bersalah dengannya. Dia adalah perempuan baik-baik '

__ADS_1


"Menyebalkan sekali orang ini, sudah ah biarkan saja aku tidak peduli. Yang terpenting aku sudah menyingkirkan Ayana yang tidak tahu diri itu "


Fira kembali membuat aplikasi lainnya, menonton fidio dan tak menghiraukan pesan itu sama sekali. Dia yang menyesalkan lalu kenapa Ayana harus memikirkannya. Biarkan saja.


__ADS_2