
Dokter itu tersenyum saat mendengar pertanyaan dari Adnan dan juga tersenyum ekspresi dari Ayana "Tentu saja boleh Pak, tapi harus lebih hati-hati dan juga posisi yang aman untuk perut dari ibu Ayana"
Kembali Ayana mencubit paha suaminya, Ayana benar-benar kesal suaminya itu malah tersenyum senang saat mendengar jawaban dari dokter.
"Seharusnya kamu tidak perlu menanyakan hal seperti itu Adnan"
"Tidak bisa sayang itu adalah untuk kesejahteraan kita berdua dan juga untuk hidup kita juga, jadi aku harus bertanya dari pada aku gegabah kan"
Ayana mendelikan matanya mendengar jawaban itu, memang yah laki-laki ini sama saja. Mereka berbincang-bincang kembali dengan dokter dan setelah semuanya terjawab Ayana juga Adnan segera keluar dari ruangan dokter untuk menebus obat yang sudah diresepkan oleh dokter tadi.
...----------------...
Ayana benar-benar menemani suaminya sampai bekerja juga, karena katanya Adnan tidak mau jauh-jauh darinya padahal kan Ayana ingin berbaring di tempat tidur sambil membaca buku atau mungkin mengecek tokonya lewat ponsel.
Tapi Adnan tidak mau katanya Ayana harus ikut dan menemaninya bekerja, bahkan Adnan sudah menyiapkan tempat tidur semuanya sudah disediakan disini, tapi beda saja kan.
Setelah pekerjaan itu selesai mereka langsung pulang ke rumah anak-anak belum pulang, sekarang yang menjemput mereka adalah Pak sopir karena Adnan takut Ayana kelelahan, Ayana kan sedang mengandung, Adnan ingin selalu menjaga anak yang ada didalam kandungan istrinya ini.
Freya sudah ada di dalam kamar. Adnan menyuruh Ayana untuk istirahat dan mencium kening Ayana lama sekali, lalu menatap wajah istrinya "Kamu istirahat tidur ya jangan banyak bergerak, aku akan kerjakan pekerjaanku di rumah saja agar aku bisa menemanimu juga di sini, kalau ada apa-apa kamu langsung teriak sama aku ya. Aku akan langsung datang atau tidak kamu telfon aku"
"Padahal nggak apa-apa kalau kamu mau kerjain pekerjaan kamu di kantor agar lebih memudahkan pekerjaan yang lain, kalau kamu di rumah nanti mereka harus ke sini kasihan mereka pasti akan kesusahan "
__ADS_1
Adnan mengusap kening istrinya "Sudah tidak usah dipikirkan, di sana kan ada asistenku yang akan mengecek dan nanti dia yang akan datang kemari, sudah ya kamu tidak usah memikirkan hal itu lebih baik sekarang istirahat kamu harus banyak istirahat harus banyak tidur juga sayang "
Akhirnya Ayana mengikuti apa kemauan dari suaminya. Ayana juga mengantuk dia ingin segera tidur Ayana menutup kedua bola matanya. Adnan suaminya masih ada di sana menunggunya untuk tertidur dengan lelap.
Adnan begitu bahagia saat mendengar Ayana mengandung, Adnan tidak sabar untuk menyambut keluarga barunya, untuk menyambut anaknya Adnan tidak masalah anaknya mau kembar atau tidak yang terpenting sehat. Selamat beserta ibunya juga.
Adnan ingin mendampingi Ayana sampai melahirkan nanti, Adnan tidak mau menyesal untuk kedua kalinya dan tidak akan pernah membuat istrinya ini kecewa lagi.
Adnan akan menebusnya sekarang mungkin dulu dia tidak bisa melihat Melisa dan juga Melinda lahir, bahkan tidak bisa mendampingi Ayana tapi sekarang kemanapun Ayana pergi Adnan akan ikut dan akan mengikutinya.
Adnan segera keluar dari dalam kamarnya dan menutup pintunya dengan perlahan saat berbalik anak-anaknya sudah ada di hadapannya "Ayah kamu ada di rumah. Kenapa tidak menjemput kami lalu Mamah mana" tanya Melinda dengan kesal.
Melisa dan juga Melinda yang memang penasaran langsung mengikuti ayahnya, mereka tidak akan mengganggu mamanya yang istirahat, mereka tahu dulu Mamanya itu bekerja banting tulang untuk mereka berdua, untuk bisa membeli makanan untuk mereka dan sekarang saat sudah ada ayahnya mamanya harus banyak istirahat, mamanya tidak boleh capek-capek lagi dan tidak boleh ke sana kemari lagi.
Mereka sekarang ada di dalam kamar, kamar anak-anak Adnan juga tadi menunggu anak-anak untuk mengganti pakaiannya, mereka seperti biasa tidak mau dibantu katanya mereka sudah bisa meskipun perlahan.
Adnan mengeluarkan hasil USG tadi, dan memperlihatkannya pada anak-anak mereka berdua tentu saja bingung melihat itu.
"Ini gambar apa Ayah, kenapa hitam-hitam ini juga apa, kenapa ayah memperlihatkan gambar seperti ini pada kami" tanya Melisa yang bingung dengan ayahnya perlihatkan.
Melinda juga mengamati gambar itu "Iya Ayah ini gambar apa, ini hitam-hitam apa. Kami bingung jelaskan Ayah jangan membuat kami pusing seperti ini"
__ADS_1
"Selama ini kan kalian sangat ingin mempunyai adik dan Ayah juga ingin sama kita sama-sama ingin mempunyai keluarga baru, dan ini adalah gambar adik kalian Mama sedang mengandung apakah kalian senang dengan kabar ini"Adnan menunjuk titik kecil yang ada di tengah-tengah pada anak-anaknya.
Melisa langsung menggelengkan kepalanya "Tidak ayah ini bukan adik bayi yang kita minta Bukan ini bukan adik bayi"
Adnan mengusap kepala Melisa, Adnan sudah siap dengan segala penjelasannya. Adnan sudah menyiapkannya karena Adnan tahu pasti anak-anak akan bertanya-tanya, mungkin mereka berpikir kalau seorang adik itu akan langsung keluar dan besar.
"Begini biar ayah jelaskan, setiap makhluk hidup itu butuh tumbuh termasuk adik bayi juga sama dia juga harus tumbuh dengan perlahan, tidak bisa tiba-tiba langsung besar, adik bayi yang ada dalam perut Mama akan berkembang secara perlahan seperti tanaman, tanaman juga dari biji sebelum jadi tanaman besar mereka juga kecil sangat kecil sekali, kalian pernah kan melihatnya"
Melisa dan juga Melinda menganggukan kepalanya "Iya kami juga pernah menanam bunga dan itu bijinya sangat kecil. Mama kan punya toko bunga jadi kami sering membantu Mama menanam bunga kadang-kadang"
"Iya betul seperti itu adik bayi juga sama dia dari kecil seperti ini dan nanti akan tumbuh, jadi tidak bisa langsung buru-buru seperti yang kalian inginkan"
Melinda yang memang belum percaya kembali menunjuk gambar itu "Itu benar-benar adik bayi kan"
"Benar dia akan sekecil ini dulu, nanti kalau mama makan banyak, mama bahagia, mama sering tersenyum adik bayi akan tumbuh seperti apa yang kalian mau, jadi kalian berdua harus selalu membuat mama senang jangan sampai mama sedih ya"
Adnan menjelaskannya dengan sangat perlahan dan hati-hati, Adnan juga baru tahu kalau bayi akan sekecil ini dulu Adnan berfikir seperti Melisa dan juga Melinda, ya memang karena dirinya awam sekali.
Saat Fira dulu hamil Adnan benar-benar lepas tangan, dia tidak memperdulikan bagaimana keadaan Fira yang sedang mengandung seperti apa. Adnan hanya fokus bekerja bekerja dan mengurus dirinya sendiri.
Karena Fira pun dulu saat mengandung dia tidak pernah ada di rumah, dia banyak keluar rumah jalan-jalan bersama teman-temannya meskipun perutnya sedang besar seperti itu.
__ADS_1