Aku Bawa Mereka

Aku Bawa Mereka
Bab 95


__ADS_3

Adnan sudah datang, dia melihat anak-anaknya yang sudah menunggunya di luar rumah. Adnan mendekati mereka dan juga membantu mereka berdua untuk masuk ke dalam mobil. Ayana duduk di depan bersama Adnan karena tadi Adnan langsung menutup pintunya dan membuka pintu depan untuk Ayana duduk di sana.


Ayana yang tak mau ambil pusing mengikuti apa yang Adnan mau saja. Dari pada nanti anak-anaknya telat kan pergi kesekolah. Hanya duduk saja tak melakukan apa-apa.


"Apa kalian sudah siap, kita akan pergi sekarang apa sudah tak ada yang tertinggal juga "


"Siap paman Adnan, kami semua sudah siap ayo kita pergi kesekolah "jawab Melinda dengan semangat sekali.


Adnan melajukan mobilnya dengan sangat pelan sekali, Adnan tidak mau anak-anaknya tidak nyaman saat dirinya menyetir seperti ini. Adnan juga sesekali melihat kearah Ayana. Ayana diam seperti ini saja cantik.


Adnan jadi mengingat kembali tentang masa-masa dulu dia selalu berdua bersama Ayana, mengantar jemput Ayana ke kantor, lalu jalan-jalan bersamanya dan liburan bersama juga. Adnan ingin mengulang semua itu.


"Paman kenapa paman selalu saja melihat Mamaku, apa paman suka dengannya " ucap Melisa yang baru mau berbicara dengan Adnan.


"Hey "Adnan langsung memelototi Melisa dari kaca spion depan, anak itu spontan sekali kenapa bisa ketahuan. Adnan padahal sudah curi-curi pandang.


Ayana yang dari tadi fokus ke depan melihat Adnan, lalu membuang tatapannya keluar jendela. Melisa ini bicaranya itu selalu saja asal bicara, mana mungkin Adnan suka dengannya pasti anak ini hanya ingin menggoda Adnan saja. Ayana tahu kalau anaknya ini suka sekali mencari masalah dengan Adnan.


"Paman kenapa juga kamu menjalankan mobilnya sangat pelan seperti ini. Apa kamu tidak mengantuk aku saja yang ada di belakang mengantuk Paman Melinda rasanya ingin tidur lagi"


"Baiklah Paman akan sedikit melajukan mobilnya dengan cepat, paman hanya takut saja nanti kalian tak nyaman kalau paman menjalankan mobilnya dengan kencang. Paman juga ingin lama bersama kalian "


Ayana melihat kedua putrinya "Jangan tidur kita sebentar lagi akan sampai di sekolah, masa mau sekolah tiba-tiba tertidur seperti itu. Mama tak akan tega nanti untuk membangunkan kalian berdua. Tahan ya sebentar lagi kita akan sampai "


Melinda dan juga Melisa menganggukan kepalanya, kedua bocah itu akhirnya berbicara berdua saja supaya mereka tidak mengantuk, padahal kalau mereka berjalan kaki ke sekolah itu akan cepat, tapi saat naik mobil seperti ini kenapa sangat lambat sekali ya. Apa karena paman Adnan terlalu pelan saja menjalankan mobilnya ini.


"Ayana apa kamu bersedia untuk datang ke rumah nenek, kita harus pergi kesana Ayana ada sesuatu yang terjadi "


Pandangan Ayana langsung beralih pada Adnan, Ayana kaget mendengar semua itu "Kenapa tiba-tiba, apa yang terjadi dengan nenek, nenek tidak meneleponku"


Sebenarnya baru tadi pagi Adnan membuat sebuah rencana, dia akan membawa anak-anaknya ke rumah neneknya yang jauh itu, supaya bisa menghabiskan waktu dengan mereka apalagi dengan Ayana.


Ya meskipun harus berbohong, tapi ini demi kebaikan hubungan mereka juga kan. Adnan ingin terus bersama mereka, semoga saja setelah pulang dari rumah nenek Ayana akan luluh.


"Iya tadi nenek menelponku, katanya dia tidak sempat untuk menghubungimu makanya langsung pada aku dan menyuruhku untuk mengajakmu, dan juga anak-anak pergi ke sana. Entah ada hal apa yang ingin dia bicarakan dan entah kenapa juga kita harus ke sana, kamu mau kan Ayana, kamu tak akan membuat nenek kecewakan dengan menolaknya"


Ayana langsung mengeluarkan ponselnya untuk menelepon nenek, tapi Adnan menurunkan ponsel itu, kalau Ayana menelfon neneknya malah jadi masalahkan gawat.


"Jangan ganggu nenek, nenek sedang sibuk saat aku menelponnya lagi malah asistennya yang mengangkatnya, katanya Nenek sedang sibuk sekali kita hanya disuruh untuk pergi ke sana bagaimana. Apakah kamu mau Ayana tolong jangan menolaknya ini demi nenek "


Adnan memasang wajah khawatir agar Ayana percaya juga, sebenarnya Adnan tak bisa tapi sebisa mungkin dia harus melakukan itu, agar Ayana percaya dengan kebohongannya ini.


Ayana menyimpan kembali ponselnya, Ayana sungguh khawatir dengan keadaan nenek. Ada apa tiba-tiba Nenek menyuruh mereka semua untuk datang ke rumahnya. Ayana takut Nenek sedang sakit atau ada masalah besar.


"Baiklah kita akan datang ke sana, tapi aku harus melihat dulu toko aku harus melihat dulu stok barang dan juga membereskan pakaian anak-anak, aku juga khawatir dengan keadaan nenek takut terjadi apa-apa. Aku benar-benar tak tenang sekarang memikirkan keadaan nenek "


Adnan tersenyum, akhirnya rencananya berhasil juga. Ya hitung-hitung liburan anggap saja mereka keluarga yang akan liburan, meskipun ada sedikit kebohongan yang Adnan lakukan.


Tapi Adnan nanti akan menelpon neneknya untuk bekerja sama. Adnan ingin seperti keluarga-keluarga lain, liburan sama-sama dengan anak-anak. Lalu tertawa sama-sama dan juga tidur bersama kalau bisa itu pun, tapi Adnan yakin itu semua tak akan pernah terjadi.


"Adnan aku bicara denganmu. Kenapa kamu tidak menjawabnya malah senyum-senyum seperti itu, kamu jangan melamun Adnan "


"Hah apa kamu bicara apa tadi Ayana, maaf "


"Sudahlah kamu fokus saja menyetir. Aku tidak mau ya terjadi sesuatu dengan kita, apalagi ada anak-anak kenapa kamu malah melamun kalau kamu memang tidak bisa menyetir dengan fokus ya sudah tidak usah menjemput kami tadi pagi. Ini sangat bahaya sekali tahu "


"Maaf Ayana, aku benar-benar minta maaf "


"Aku tidak suka kalau kamu seperti ini lagi, kalau hanya kamu saja aku tak masalah tapi ini ada anak-anak "


"Iya aku minta maaf, mungkin kita di sana akan sedikit lama apa tidak masalah" Adnan segera mengalihkan membicarakannya.


"Iya tidak masalah, aku hanya ingin melihat keadaan nenek aku tidak mau sampai nenek kenapa-napa, kasihan dia seharusnya aku waktu itu tidak mengizinkannya pulang saja "


"Nenek banyak pekerjaan Ayana jadi dia pasti akan langsung pulang"


Akhirnya mereka sampai juga di sekolah, Adnan membukakan pintu untuk anak-anaknya dan menurunkan mereka berdua juga. Ayana sudah turun dari tadi dan menunggu anak-anaknya untuk diturunkan oleh Adnan.


Kedua putrinya itu sangat bahagia sekali, mereka memeluk Ayana dan juga beralih kepada Adnan tapi Melisa tidak memeluk Adnan dia masih menatap Adnan dari jarak dekat.


Anaknya yang satu ini memang tinggi sekali egonya hanya memeluk saja dia tak mau. Malah diam mematung seperti itu. Adnan rasannya ingin langsung memeluknya tapi akhirnya pasti akan bertengkar saja kan.


"Melisa tidak mau memeluk paman, apa paman bau sampai-sampai Melisa tak mau memeluk Paman"


Melisa hanya mengangkat bahunya saja, lalu Melisa menggandeng adiknya untuk masuk ke dalam sekolah. Melinda menatap ke arah Mamanya lagi lalu melambaikan tangannya.

__ADS_1


Setelah jauh dari mamanya Melinda menatap Kakaknya "Kakak ada yang ingin aku bicarakan, ini sangat penting sekali. Aku sudah sangat penasaran sekali sejak pertama kali Paman Adnan datang kemari"


"Bicara apa, biasanya kamu tidak bisa bicara hal penting. Ayo aku akan mendengarkan apa yang ingin kamu bicarakan, sebelum bel berbunyi "


"Apakah Paman Adnan itu Ayah kita. Mama pernah bilang kan akan datang Ayah apakah dia, apakah Paman Adnan yang dimaksud oleh Mama Kakak "


"Entahlah aku juga tidak tahu, Paman Adnan waktu itu bilang kalau dia Ayah kita tapi aku tidak mau, mama juga sama waktu itu bicara kalau Paman Adnan adalah Ayah kita "


"Lalu kenapa kita tidak memanggilnya ayah saja. Kenapa juga Kakak tidak mau memanggil Paman Adnan sebagai Ayah kan dia baik, dia juga perhatian lihat mama selalu tersenyum kan kalau ada di samping Paman Adnan. Aku diam-diam selalu menatap mereka berdua "


"Aku belum percaya 100% padanya, aku takut tiba-tiba nanti mama menangis lagi oleh Paman Adnan. Aku masih ragu saja dengannya " Melisa mengutarakan apa yang ada didalam hatinya ini.


"Memangnya Mama pernah menangis ya oleh Paman kapan kakak, aku belum pernah melihatnya. Mama selalu saja tersenyum dan tak pernah menangis "


"Ada deh pokoknya pernah kamu aja yang nggak pernah tahu, kamu sih tidur terus jadi ga pernah tahu apa yang terjadi"


"Lalu kita harus bagaimana. Apakah kita harus memanggil Paman Adnan dengan sebutan ayah saja"


"Entahlah aku tidak tahu, kalau kamu ingin memanggilnya Ayah silakan saja aku tidak mau. Aku akan terus memangilnya paman Adnan saja tak akan memangilnya Ayah "


"Aku sangat ingin mempunyai ayah, dia sangat baik sekali. Bahkan dia sangat perhatian sekali. Aku senang kalau ada paman Adnan "


"Ya sudah kalau kamu mau memanggilnya Ayah, panggil saja Ayah tidak akan ada yang melarangnya juga dan sepertinya Mama juga tidak akan melarangnya. Mama juga tak akan marah saat kamu memangil paman Adnan dengan sebutan Ayah "


"Benarkah, kakak tidak akan marah kan padaku. Kakak tak akan menyesal telah mengizinkan aku memangil paman Adnan dengan sebutan Ayah "


"Yah katakan saja aku tidak keberatan, aku tahu kamu ingin punya Ayah kan. Maka panggil saja paman Adnan dengan sebutan Ayah "


Melinda yang mendengar itu sungguh sangat senang sekali, nanti saat bertemu Paman Adnan lagi Melinda akan memanggilnya dengan sebutan Ayah. Melinda rasanya tak sabar ingin memanggilnya Ayah. Melinda takut kakaknya ini berubah fikiran.


Ini adalah bahagianya Melinda senang sekali akhirnya punya Ayah juga seperti teman-temannya. Jadi Melinda tak akan binggung lagi saat ditanya tentang Ayahnya oleh teman-temannya.


Melinda bisa dengan lantang mengatakan kalau Paman Adnan adalah Ayahnya. Kalau Melinda sekarang sudah punya Ayah.


...----------------...


Adnan mengambil ponselnya ingin menghubungi Ayana. Sekarang Adnan sedang mengerjakan pekerjaannya yang cukup menumpuk, tapi dia ingin selalu makan siang, makan malam bersama anak dan istrinya. Adnan harus meluangkan waktu banyak sekali untuk mereka bertiga.


"Adnan"


"Aku sekarang akan keluar Ayana, aku akan membeli makan siang untuk kita sama-sama. Apakah boleh sekalian aku menjemput anak-anak saja, bolehkan Ayana nanti aku akan membawanya langsung ketoko bunga kamu "


"Kamu akan pergi bersama siapa Ayana "


"Kenapa kamu ingin tahu"Ayana yang ada di seberang sana mengernyitkan keningnya memikirkan kenapa Adnan ingin tahu segala hal tentang apa yang akan dia lakukan, seolah-olah Adnan harus selalu izin dan Adnan harus selalu tahu, Ayana pergi dengan siapa.


Adnan kan hanya ingin mendekati anak-anaknya saja, bukan ikut campur tentang kehidupan Ayana, keseharian Ayana aneh sekalian ini. Ayana malah jadi mulai curiga dengan Adnan.


"Maaf kamu ingin makan siang apa, mungkin ada sesuatu yang kamu inginkan. Aku akan membelinya nanti "


"Aku apa saja, lebih baik kamu tanya anak-anak saja mau makan apa. Mereka pasti ingin makanan yang berbeda "


"Baiklah apakah ada yang ingin kamu titip, mungkin camilan atau yang lainnya Ayana "


"Tidak ada, aku tutup aku akan pergi sekarang. Aku tak punya banyak waktu "


Belum juga Adnan menjawab, sambungannya sudah terputus. Adnan menatap ponselnya lalu menyimpannya kembali, ya sudahlah Adnan akan bersiap-siap untuk menjemput anaknya dulu.


Adnan sudah sampai di sekolah, dia melihat jam tangannya masih ada waktu 1 jam. Memang terlalu terburu-buru sih tapi Adnan akan mengerjakan pekerjaannya di mobil saja, sambil menelpon neneknya untuk memberitahu hal penting ini kalau dia dan juga Ayana akan pergi ke rumahnya.


"Ada apa kamu menelpon nenek, tidak seperti biasanya"


"Nenek aku dan juga Ayana akan pergi ke sana beserta anak-anak tidak lupa. Aku ingin nenek menjaga rahasia, aku berkata kalau nenek yang menyuruh kami ke sana jangan sampai Ayana tahu kalau aku yang ingin ke sana. Aku ingin menghabiskan waktu dengan mereka nek tolong bantu aku untuk sekali ini saja, nenek mengerti kan apa yang akan Adnan lakukan "


"Kamu ini mengorbankan nenek ya. Kenapa juga tidak berbicara dulu pada nenek, kamu ini gegabah sekali Adnan "


"Ya karena rencana itu spontan saja terpikirkan dari kepalaku, bagaimana caranya aku bisa menghabiskan waktu dengan Ayana juga anak-anak itu saja nek. Aku tidak akan melakukan apa-apa, aku akan datang ke rumah nenek juga aku ingin jalan-jalan berlibur dengan mereka nek. Sekalian titip anak-anak ke nenek kalau aku tiba-tiba pergi dengan Ayana "


"Ya siapa tahu Ayana ingin jalan-jalan bersamaku kan nek "


"Itu sih kamu nya aja yang pengen deketin Ayana bukan emang mau bener-bener deketin anak-anak, kamu ini sebenarnya cuman ingin ibunya saja kan "


"Ya enggaklah nek aku juga mau anak-anak, ya aku juga harus deketin ibunya juga kan. Masa aku dapetin anak-anak doang ibunya enggak. Aku akan mencoba untuk meluluhkan hati Ayana lagi nek. Aku ingin semuanya baik-baik lagi seperti semula, aku akan menebus semuanya, aku janji tidak akan melakukan hal yang bodoh seperti dulu lagi "


"Rencanaku ini jangan nenek bongkar ya. Aku tidak mau Ayana marah dan nanti membawa anak-anak pergi lagi, aku tak mau sampai itu terjadi nenek. Nenek bisa kan diajak kerja sama olehku "

__ADS_1


"Baiklah untuk kali ini nenek akan setuju, awas aja kalau kamu buat rencana tanpa memberitahu nenek dulu. Nenek di sini sedang sibuk menyiapkan sesuatu untuk Ayana tapi kamu malah sudah mau membawanya kapan kalian akan datang kemari, nenek akan siapkan segalanya untuk kalian "


"Mungkin dalam waktu dekat ini, aku sedang menunggu Ayana dulu untuk mempersiapkan semuanya Nek. Nenek sabar ya kami pasti akan pergi kesana dengan cepat "


"Baiklah baiklah langsung kabarin nenek, pokoknya kamu tidak boleh tidak mengabari nenek awas saja ya"


"Iya nek terima kasih nek "


Setelah menelpon dengan neneknya Adnan kembali fokus pada laptopnya, semuanya sudah aman. Adnan akan mengerjakan tugasnya sebagian agar nanti saat di rumah neneknya di hanya fokus berlibur dan bermain bersama anak-anak, jangan lupakan bermain dengan ibunya juga.


Adnan juga tidak bisa terus mengandalkan Marco, seperti apa yang dikatakan oleh Ayana ada benarnya juga. Marco harus istirahat dia juga harus banyak tidur. Marco juga harus mencari pasangan dia belum menikah juga kasian.


Adnan melihat gerbang yang mulai dibuka dan ada beberapa anak juga yang sudah keluar, berarti sudah mulai bubar. Adnan keluar dari dalam mobil ternyata waktu berjalan dengan cepat sekali ya. Tak terasa waktu cepat sekali.


Sudah ada beberapa anak yang menghampiri orang tuanya, tadi juga Adnan mendapatkan pesan dari Ayana kalau Ayana sudah berbicara pada gurunya, kalau hari ini yang menjemput anak-anak adalah Adnan. Jadi ibu gurunya itu tidak menahan anak-anaknya tapi mereka belum datang ke mana kedua putrinya itu.


Adnan malah jadi khawatirkan takut terjadi apa-apa dengan anaknya ini. Kemana ya mereka berdua ini, tak datang-datang sedangkan anak-anak yang lain sudah pada keluar.


Akhirnya Adnan bisa melihat anak-anaknya sedang berjalan sambil mengobrol. Tadinya Adnan ingin masuk dan mencari keberadaan anak-anaknya tapi keburu datang.


Tatapan Melinda langsung bertabrakan dengan Adnan, Melinda langsung berlari dan memeluk kaki Adnan dengan cukup erat sekali "Ayah kamu menjemput kami kemari, aku senang sekali Ayah menjemput kamu berdua "


Adnan mematung mendengar Melinda memanggilnya Ayah, apa dia tidak salah dengar. Apa semua ini nyata "Ayah ayah kenapa kamu melamun ayah halo ayah, apakah ayah baik-baik saja" teriak Melinda dengan suara melengking nya.


Adnan langsung tersadar dia merasa sangat lemas sekali, jantungnya berdebar-debar ini untuk pertama kalinya anaknya memanggilnya dengan sebutan ayah. Adnan begitu bahagia sekali jangan sampai dia meninggal di saat yang tidak tepat seperti ini.


Jantungnya berdebar dengan sangat kencang sekali, Adnan sampai memegang dadanya itu. Adnan tak menyangka hari yang dia tunggu akhirnya terjadi juga.


Melinda merentangkan tangannya untuk dipangku oleh Andan, Adnan langsung menggendongnya "Kenapa Ayah malah melamun aku dari tadi memanggilmu, apakah ayah sedang sakit "


"Paman tidak salah dengarkan Melinda, Paman tidak sedang bermimpi juga ga kan. Coba kamu cubit pipi paman "


"Kamu salah dengar Paman, pendengaran kamu sudah rusak "celetuk Melisa yang baru datang dan mendekati mobil ayahnya itu, dia masuk terlebih dahulu sekarang ayahnya membawa mobil yang tidak terlalu tinggi jadi Melisa bisa masuk sendiri. Tanpa harus minta bantuan ini lebih baguskan.


Adnan tidak memperdulikannya Melisa yang menyebalkan, dia menatap Melinda anaknya yang masih ada dalam gendongannya. Dan mengecup pipinya yang gembul "Kamu tadi memangil apa, coba Paman ingin dengar sekali lagi"


"Ayah, Apakah Ayah mulai tidak bisa mendengar mau diantar ke rumah sakit. Aku akan mengabari mama kalau begitu "


Adnan langsung memeluk Melinda dengan erat, rasanya Adnan ingin guling-guling tapi masa iya dia harus mengguling-gulingkan tubuhnya ini di atas aspal. Itu akan sangat memalukan sekali.


"Kenapa tiba-tiba kamu panggil paman Ayah, ayah sampai kaget tahu "


"Kata kakak aku boleh memanggil Paman dengan sebutan Ayah, katanya Paman itu Ayah kami ya, apakah benar semua itu apakah kami berdua tidak salah kan. Paman benar-benar Ayah kami berdua kan"


"Melisa benar, Ayah ini adalah Ayah kalian. Dia tak salah "


"Yey melinda punya ayah. Melinda senang sekali, Melinda akhirnya bisa bercerita banyak pada Ayah nanti "


"Oh ya ayah ada yang ingin Melinda tanyakan satu hal dengan ayah. Kenapa Ayah baru datang sekarang, kenapa ayah tidak datang dari dulu saja kenapa hanya Paman Fabian yang selalu datang. Lalu Ayah ke mana Ayah pergi ke mana. Kenapa meninggalkan kami berdua dan juga Mama, apa kami punya salah dengan ayah sampai-sampai ayah meninggalkan kami dan baru datang lagi setelah lama sekali"


Hati Adnan langsung mencelos mendengar itu, benar-benar menyesal dengan apa yang dia lakukan anaknya selama ini menunggunya tapi Adnan bersyukur anaknya tidak membencinya.


Melinda tidak membencinya dia masih mau memanggilnya dengan sebutan ayah kan. Adnan langsung masuk ke dalam mobil, dia mungkin akan menjelaskan di dalam mobil saja tidak mungkin kan menjelaskan di luar seperti ini tidak enak dan juga Melissa pasti akan marah-marah karena lama menunggu mereka masuk.


"Maafkan ayah tiba-tiba pergi begitu saja, Ayah banyak pekerjaan dan ayah malah meninggalkan kalian "jelas Adnan sambil melajukan mobilnya. Dia tidak mungkin kan menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya pada anak-anaknya.


"Lalu apakah ayah akan pergi lagi meninggalkan Melisa, Melinda dan juga Mama. Apakah ayah akan pergi lagi untuk meninggalkan kami bertiga" tanya Melinda dengan wajah yang sedih.


"Tidak akan Ayah tidak akan pernah pergi kemana-mana lagi, kita akan selalu bersama-sama. Kemanapun Ayah pergi kalian akan selalu ikut bersama ayah, maafkan ayah yang telah meninggalkan kalian lama sekali tapi sekarang ayah sudah ada kan Ayah sudah datang. Kita tak akan berpisah lagi sayang"


"Janji tidak akan pernah meninggalkan kami semua lagi, Ayah akan terus bersama kami kan "


Adnan melihat Melisa dan juga Melinda dari kaca spion depan dan menganggukan kepalanya sebenarnya Adnan ingin menangis, rasanya dia gagal menjadi seorang ayah. Seharusnya dari dulu Adnan mencari Ayana mungkin semua ini tidak akan kejadian. Mungkin anak-anaknya tak akan bertanya seperti ini.


Adnan segera mengalihkan pembicaraan mereka, Adnan takut keceplosan mengatakan hal yang sesungguhnya dan membuat anak-anaknya malah makin benci padanya. Adnan menatap ke arah Melisa "Melisa kamu ingin makan apa"


"Kalau mama sendiri ingin makan apa, aku akan memakan apa yang Mama mau saja. Lalu kenapa Paman yang datang kemari bukan Mamaku. Aku lebih suka dijemput oleh Mama "


"Kata mamamu apapun yang ingin kalian mau, mamamu akan makan jadi Ayah harus membeli apa. Mama mau harus membeli bunga sama saja dijemput oleh ku atau oleh Mamamu Melisa, kami sama sama orang tua kalian kan "


"Emm, makanan yang enak saja terserah Paman saja mau membeli apapun itu "ucap Melisa dengan ketus.


"Yakin"


"Tentu yakin"

__ADS_1


"Baiklah nanti kita akan berhenti di sebuah restoran, kalian boleh memilih apapun yang kalian mau sekalian untuk mamamu juga ya pilihkan untuknya"


Melinda dan juga Melisa lagi-lagi menganggukan kepalanya dengan semangat, mereka selalu saja berbarengan seperti itu lucu sekali.


__ADS_2