
Adnan apakah masih ada dalam kamar, apa kamu bisa bantu aku "Ayana keluar dari walk in closet menghampiri suaminya yang ternyata sedang membuka celana panjangnya.
Mereka tadi habis menghadiri acara dari temannya Adnan, anak-anak tidak dibawa mereka tadi masih bersama nenek tapi sekarang sudah di pulangkan oleh nenek. Sepertinya Adnan dan juga nenek sudah tak bermusuhan lagi.
"Kenapa sayang, apakah kamu membutuhkan sesuatu"
"Sepertinya ada benang yang tersangkut di resletingnya jadi macet, aku tak bisa membukannya sulit sekali "Ayana segera membelakangi suaminya dan menyuruh suaminya itu untuk melihatnya.
Ternyata yang tersangkut itu bukan benang, rambut Ayana yang menyangkut "Kamu salah sayang apakah kamu tidak kesakitan rambutmu yang menyangkut di sini, ya ampun sayang kenapa bisa menyangkut seperti ini rambutnya "
"Benarkah, aku tidak tahu tolong lepaskannya tapi aku tidak merasakan sakit sedikitpun. Mungkin kalau ini sakit aku akan bicara dari tadi sama kamu "
Adnan dengan teliti segera melepaskannya Adnan tidak mau menyakiti istrinya ini. Rambut itu dilepaskan dengan perlahan istrinya diam saja berarti Adnan tidak menyakitinya kan.
"Sejak kapan seperti ini ya"
"Aku juga baru sadar saat tadi mau membuka resletingnya karena macet. Aku kira ya ada benang yang tersangkut ternyata malah rambutku sendiri"
"Aku pikir kamu sedang ingin menggoda aku, makanya kamu langsung memperlihatkan punggungmu ini padaku "
Ayana malah tertawa "Kamu itu tidak digoda saja sudah tergoda, aku diam saja kamu sudah tergoda. Ayo bantu aku dulu aku sama sekali tak menggoda kamu"
Adnan hanya bisa tersenyum saja, memang kenyataannya seperti itu. Adnan melihat luka dipunggung istrinya masih ada luka, saat pertama kali mereka menikah Ayana pernah bercerita kalau dia pernah dipukul oleh ibunya ini sampai berbekas dan di punggungnya ini.
Adnan sebenarnya ingin menghilangkan luka di punggung Ayana ini, tapi Ayana selalu saja menolak katanya biarkan saja luka itu ada di punggungnya agar selalu mengingatkan ibunya kalau ibunya pernah melukainya sedalam ini. Itulah jawaban dari Ayana waktu itu Adnan juga tidak bisa memaksa Ayana. Adnan akan menunggu sampai Ayana mau.
Bukannya Adnan tak suka dengan luka itu, tapi Adnan sangat sakit hati melihatnya. Luka itu selalu saja membuatnya kesal dan marah pada ibunya Ayana. Adnan ingin melakukan hal yang sama pada ibunya Ayana, agar dia bisa merasakan luka itu ada di punggungnya.
Ayana membalikan badannya dan menatap suami yang sedang melamun "Kamu ini kenapa sih, sudah selesai kan"
"Sudah selesai"
"Baiklah terima kasih "Ayana kembali berbalik dan berjalan ke walk in closet lagi berganti pakaian, Adnan yang memang ingin ganti baju juga langsung mengikuti istirnya. Biar sekalian saja kan.
__ADS_1
"Oh ya sayang nanti kita sebelum tidur ke kamar anak-anak dulu ya aku belum lihat anak-anak, aku ingin memeluk mereka terlebih dahulu "
"Iya aku juga mau melihat anak-anak"
Ayana segera mengambil pakaian tidurnya, Ayana mencari pakaian yang paling nyaman untuk digunakan karena pakaian tidurnya ini sangat banyak sekali. Suaminya benar-benar membelikannya dengan berbagai macam kain dan merek sebenarnya Ayana tidak perlu itu tapi mau dibantah juga sudah dibeli jadi Ayana tak bisa memprotes.
Adnan yang melihat punggung dari istrinya itu langsung memeluknya dari belakang dan menciumnya.
"Adnan jangan macam-macam, baru saja kamu tadi berbicara padaku kalau ingin bertemu dengan anak-anak jangan mulai ya nanti yang ada kita tak akan menemui anak-anak Adnan "
Adnan tidak menggubris apa kata-kata dari istrinya, dengan perlahan Adnan membuka gaun istrinya itu sampai gaunnya terjatuh ke lantai. Adnan menciumi bahu istrinya sesekali juga menggigitnya kecil-kecil.
Ayana memejamkan kedua bola matanya. Ayana meraba tangan suaminya yang masih memeluknya dengan erat "Adnan jangan seperti ini, sudah nanti saja Adnan "
Adnan dengan perlahan membalikan tubuh istrinya, lalu menyatukan bibir mereka Ayana sendiri langsung mengalungkan tangannya ke leher suaminya. Ayana membalas setiap yang suaminya lakukan, Ayana benar-benar tak bisa menolak sama sekali.
Adnan membelai tubuh istrinya itu. Ayana sendiri hanya bisa pasrah menerima setiap sentuhan yang diberikan suaminya, karena Ayana juga menikmatinya, sentuhan suaminya itu selalu saja membuatnya terlena.
Adnan yang sedang menciumnya leher istrinya langsung berhenti, baru ingat anak-anak padahal Adnan sendiri kan yang mau bertemu dengan anak-anak, tapi malah dia yang keenakan seperti ini tadinya hanya ingin mencium bahu istrinya saja tapi malah kebablasan seperti ini.
Memang anak-anak sudah mandiri bisa tidur sendiri, tapi Adnan juga Ayana menerapkan rutinitas kalau mereka harus setiap malam mengucapkan selamat malam pada mereka.
Agar anak-anak tidak merasa kalau mereka diabaikan oleh orang tuanya, kalau misalnya Ayana sudah tertidur terlebih dahulu Adnan sendiri yang akan datang ke kamar anak-anaknya.
Pokoknya setiap hari Adnan akan melakukan itu tidak akan ada yang terlewat, Adnan harus lebih banyak menghabiskan waktu dengan anak-anaknya. Adnan tak mau terlewat sedikitpun pertumbuhan anak-anaknya.
Adnan langsung melepaskan pelukannya, Adnan mengambil pakaian tidurnya juga yang senada dengan istrinya, lalu memakainya. Ayana juga segera memakai pakaian tidurnya Adnan meraih pinggang istrinya dan berjalan keluar.
Bahkan Ayana masih mengencingi pakaiannya, tapi Adnan sudah membawanya untuk pergi ke kamar anak-anak, suaminya ini sangat terburu-buru sekali seperti akan kemana saja mereka padahal kamarnya ada disebelah.
Adnan membuka pintunya dengan perlahan ternyata anak-anak belum tidur, mereka masih memegang sebuah buku cerita sepertinya Melisa sedang membacakan sebuah dongeng pada adiknya yang sedang berbaring.
"Kalian berdua belum tidur "tanya Ayana dengan sangat lembut sekali.
__ADS_1
"Kami penasaran dengan cerita ini makanya kami ingin membacanya dulu Mama, sekarang sedang giliranku untuk membacakan cerita ini nanti Melinda akan ada gilirannya juga "
"Anak Mama sekarang menjadi suka membaca buku ya. Apakah kalian sudah minum susu"
"Sudah mama kami berdua tadi sudah minum susu dan kami juga sudah gosok gigi, cuci muka, cuci kaki juga sudah "
"Bagus, sekarang waktunya tidur nanti baca buku lagi besok ya"
"Tapi mama kami belum selesai kami masih penasaran dengan buku ini,kami akan terus ingat dengan cerita ini dan ingin tahu akhirnya akan seperti apa "
Adnan langsung duduk di samping anaknya itu, dengan perlahan Adnan mengambil buku itu dan menandainya "Ayah sudah menandainya dan besok kalian masih bisa membacanya. Ini sudah sangat malam besok juga kalian masih harus sekolah kan, masih ada hari esok dan kalian masih bisa membaca buku ini dengan sepuasnya setelah pulang sekolah tapi"
"Hemm. Baiklah kami akan tidur sekarang ayah "
Melisa juga Melinda segera membaringkan kembali tubuhnya. Ayana dan juga Adnan mengecup kening mereka bergantian. Melisa dan juga Melinda memejamkan ke dua bola matanya.
Adnan juga Ayana sudah mengucapkan selamat malam pada anak-anaknya ini, mereka diam terlebih dahulu cukup lama di kamar anak-anaknya untuk melihat apakah anak-anaknya akan tertidur atau akan membaca buku lagi.
Takutnya mereka nanti tiba-tiba bangun lagi kalau mereka berdua pergi dengan cepat.
...----------------...
Fira pulang dengan tubuh yang begitu lelah dan pegal, Fira langsung saja duduk di ruang tamu. Fira menyandarkan tubuhnya dengan sambil menutup kedua bola matanya.
Hari ini pelanggan begitu banyak apalagi Fira bekerja di dua tempat sekaligus, tubuhnya ini rasanya remuk sekali tapi Fira senang saat bekerja di sana, teman-temannya ramah-ramah dan mereka juga sesekali bercanda.
Fira merentangkan tubuhnya terlebih dahulu, Fira menatap sekitar rumah yang sepi sekali. Ternyata seram juga ya tinggal sendiri seperti ini.
"Ternyata begini ya tinggal sendirian sepi sekali tak ada yang menemani, biasanya ada Papi yang menungguku pulang tapi sekarang tidak ada. Sepi sekali rumah ini "
"Mungkin ini hanya awal saja, nanti kedepannya tak akan begini aku harus bisa, aku harus membuktikan pada papih kalau aku disini baik-baik saja dan bisa menjalani hidupku dengan baik"
Fira segera bangkit dan masuk kedalam kamar. Fira tak mau makan dulu nanti pagi saja. Sekarang Fira hanya ingin tidur dengan nyenyak dan tak memikirkan apa-apa dulu.
__ADS_1