
Kamila menangis setelah memberikan ponselnya pada kakeknya itu. Kamila sedih sekali dengan kepergian Ayahnya itu. Kenapa Ayahnya suka dengan dua anak kembar itu "Makan dulu ya kakek suapi, jangan kayak gini dong Kamila kasihan Ayah kamu dia kan lagi kerja bukan lakuin apa-apa, seharusnya kamu semangati Ayah kerja "
"Engga ayah itu ga kerja ayah itu mau sama anak-anak kembar itu. Ayah itu lagi deketin mereka Ayah pengen mereka, Ayah nggak mau lagi sama Kamila. Ayah udah ga sayang sama Kamila lagi. Ayah jahat banget "
"Nanti akan kakak antar kamu ke sana, asalkan kamu mau makan gimana. Tapi kamu harus sembuh dulu nanti baru Kakek bawa kamu ke sana mau ga "
Kamila langsung berhenti menangis dan menatap Kakeknya dengan mata yang berbinar "Beneran Kakek mau bawa Kamila ke Ayah, Kakek ga bohong kan. Kakek ga lagi bikin Kamila seneng aja kan. Kita benar-benar akan ketemu sama Ayah kan "
"Engga, buat apa kakek bohong kalau Kamila mau makan dan Kamila sembuh dengan cepat nanti kita pergi ke sana. Kita susul Ayah kita ketemu sama ayah. Gimana setuju ga "
"Baiklah Kamila setuju tapi kakek jangan berbohong ya. Kamila ingin bertemu dengan ayah Kamila ingin bersama ayah saja, Kamila lebih suka dengan Ayah"
"Iya sekarang ayo makan, kakek suapi "
Kamila menganggukkan kepalanya, Papinya Fira yang melihat cucunya akan makan tersenyum semang. Meski harus nanti dia mengantarkan Kamila pada Adnan, padahal dirinya ingin menjauhkan cucunya ini kamilah dengan Adnan.
Karena Kamila bukan anak Adnan mau bagaimanapun tidak ada darah Adnan di tubuh Kamila. Ini semua gara-gara anaknya Fira malah jadi rumit kan sekarang harus bagaimana juga menjelaskan pada Kamila yang begitu tergantung pada Adnan.
...---------------...
Ayana yang melihat anak-anaknya keluar dari dalam kelas langsung memeluknya dengan erat. Ayana dari tadi terus saja menengok ke arah jendela saat baru datang, dia melihat anaknya ada di dalam kelas dan hatinya tenang saat anak-anak yang keluar Ayana tentu saja langsung memeluknya.
"Mama sudah ada di sini kita jadi makan di luar kan, kita akan makan apa Mama " tanya Melinda dengan senang sekali.
"Untuk hari ini kita pulang dulu ke rumah ya. Mama ingin istirahat ga papa kan nggak jadi makan di luar"
__ADS_1
Melisa langsung mengusap pipi Mamanya "Ga apa-apa Mamah, kita pulang aja kita makan di rumah aja. Mama pasti masak makanan yang enak kan kita pulang sekarang yuk Mama, Melisa juga lagi ga mau kemana-mana Melisa lagi pengen di rumah aja sama Mama dan juga Melinda. Bukannya kita juga harus menyusun rumah boneka itu kan belum selesai rumahnya Mama "
Ayana tersenyum pada Melisa dan menganggukkan kepalanya, mereka berjalan pulang. Selama perjalanan Ayana terus saja melihat ke kiri dan ke kanan. Melinda sangat bingung dengan tingkah mamahnya ingin bertanya, baru saja membuka mulutnya tapi kakaknya Melisa langsung menyimpan jari telunjuknya di bibir supaya adiknya diam dan tak berbicara apa-apa.
Melinda yang mengerti akhirnya diam, dia tidak akan bertanya apa-apa pada Mamanya. Melinda hanya mengikuti apa kata-kata Kakaknya saja takut nanti salah bicara dan kakaknya akan marah pastinya. Kakaknya galak sekali.
Setelah sampai di rumah Ayana langsung mengunci pintunya. Ayana juga langsung ke arah dapur untuk memasak sedangkan Melinda dan Melisa mengganti pakaiannya, meskipun sangat lambat mereka mengganti pakaian tapi mereka bisa dan tidak mau dibantu Mamanya.
"Kakak sebenarnya ada apa dengan Mama, sepertinya Mama sangat ketakutan sekali. Apakah ada yang terjadi dengan Mama, tidak biasanya juga kan Mama menunggu di depan kelas, biasanya Mama akan menunggu di luar saja "
"Sudah aku bilang kan kamu jangan terlalu dekat dengan orang asing, paman yang tadi itu orang jahat. Kamu jangan dekat-dekat dengannya. Jauhi dia kalau kamu dekat lagi dengan paman tadi Mama akan sedih"
"Oh makanya kakak tadi akan memukul Paman ya. Aku kira Kakak membencinya, aku kaget saat Kakak melakukan hal tadi "
"Ya intinya kamu ga boleh dekat sama orang asing. Nanti mama malah akan sedih kalau kamu bantah. Kita tidak boleh bertanya apa-apa pada Mama kita harus selalu tersenyum di depan Mama. Ingat jangan membuat Mama khawatir "
Mereka keluar dari dalam kamar dan melihat Mamanya yang sedang sibuk di dapur. Mereka berdua duduk menunggu Mamanya menyelesaikan masakannya. Tidak butuh waktu lama Mamanya sudah selesai dan menyajikan makanan sederhana itu di meja lipat yang biasa mereka pakai.
"Maaf ya Mama hanya bisa memasak ini saja Mama belum belanja. Ga apa-apa kan sayang "
"Tidak masalah Mama, yang terpenting kita makan sama-sama kan kita selalu bersama-sama "sambil memegang tangannya Mamanya. Melisa juga memberikan senyum manisnya pada Mamanya.
Mereka bertiga segera makan apa yang Mama masak, meskipun saat makan juga Ayana tidak terlalu berselera tapi dia tidak ingin memperlihatkan kesedihannya pada anaknya tidak mau memperlihatkan kekhawatirannya pada anaknya juga.
...----------------...
__ADS_1
Adnan yang memang sudah cukup lama di sana, duduk di pasir itu segera bangkit dan pergi dari sana. Adnan harus menenangkan dirinya dulu membiarkan Ayana untuk memikirkan semuanya dulu. Nanti Adnan akan kembali lagi. Tentu saja Adnan akan kembali lagi. Tidak mungkin Adnan menyerah begitu saja. Sebentar lagi Ayana akan menjadi miliknya.
Adnan sudah memulainya maka dia harus menyelesaikan semuanya "Pak apakah kita tidak akan pulang pekerjaan di kantor sangat menumpuk, kalau kita terus di sini yang ada perusahaan malah akan terganggu "
"Ya sudah kamu saja yang pulang ke sana urus semuanya dan aku tetap di sini. Aku tidak bisa pulang begitu saja. Aku tidak mau kehilangan lagi "
"Tapi di perusahaan membutuhkan Bapak"
"Aku tidak akan bisa pulang. Aku sudah bilang kan kamu saja yang pulang ke sana dan aku akan mengawasi di sini. Semuanya akan baik-baik saja. Kamu urus semuanya, aku akan naikan gajih mu "
"Baiklah Pak. Untuk tes DNA Nona Kamila sudah keluar dan aku juga sudah mendapatkan hasilnya"
"Lalu apa hasilnya, aku ingin tahu beritahu aku "
"99% nona Kamila memang bukan anak Bapak"
Adnan mengusap wajahnya ternyata benar kalau Kamila bukan anaknya, waktu itu Adnan berharap kalau kata-kata dari Fira itu bohong, tapi sekarang setelah tes DNA ternyata benar Kamila bukan anaknya.
Sekarang keputusan apa yang harus Adnan ambil, melepaskan Kamila dengan perlahan atau tetap mengurusnya dan menganggap Kamila adalah anak kandungnya.
Kamila sudah dia urus sejak kecil, bahkan Kamila yang selalu menemaninya. Tapi Kamila tidak mau menerima anak-anaknya bingung sekarang Adnan. Adnan juga mau mengurus anak-anaknya dari Ayana. Harus dengan kata apa berbicara dengan Kamila.
"Menurutmu aku harus bagaimana Marco, apakah aku harus melepaskan Kamila atau aku tetap merahasiakan semua ini dari Kamila"
"Kalau menurutku, mau bagaimanapun nona Kamila harus tahu yang sebenarnya. Nona Kamila tidak bisa terus dibohongi seperti ini. Kalau Nona Kamila tidak diberi tahu saat nanti dewasa malah akan rumit Pak, itu sih pendapatku tapi terserah Bapak saja semua keputusan ada di tangan Bapak, kalau untuk mengurus Nona Kamila mungkin silakan karena Nona Kamila dari dulu sudah bersama Bapak. Tapi Bapak juga harus memberi tahu siapa Ayah nona Kamila sebenarnya, jangan sampai nanti di kemudian hari menjadi masalah dengan anak-anak Bapak yang sesungguhnya"
__ADS_1
Adnan mencerna semuanya. Ada benarnya yang dikatakan oleh Marco. Mau bagaimana pun Adnan tak mau anaknya nanti kesusahan dikemudian hari.